Yang Layak Tunggu di 2016

Column
21.01.16

Yang Layak Tunggu di 2016

6 Musisi/Band yang karyanya dinantikan di tahun ini.

by Muhammad Hilmi

 

Tahun 2016 dibuka dengan indah melalui rentetan konser berkualitas di bulan Januari, ada Konser Sinestesia Efek Rumah Kaca yang sampai sekarang pukaunya masih lekat dalam ingatan, juga ada Konser Tentang Rasa dari Frau yang cemerlangnya datang dari kesederhanan Lani dan Oskar. Ada pula pekik talenta dari nama-nama baru yang menawarkan tak hanya nuansa baru dalam perkembangan musik lokal, tetapi juga semangat yang membawa penyegaran. Berikut adalah beberapa musisi yang menarik untuk ditunggu karyanya pada tahun ini. Diantaranya terdapat nama lama dengan unit baru, ada nama lama yang memainkan konsep baru, namun ada juga nama yang benar-benar baru. Dari enam nama di bawah, teriring harapan semoga yang ditunggu bisa segera menelorkan materi baru.

Bing
Dikenal melalui isian bass dan gerak-geriknya yang menambah syahdu penampilan live Efek Rumah Kaca selepas Adrian absen karena alasan kesehatan, sebenarnya Airil “Poppie” Nur Abadiansyah sama sekali bukan nama yang tiba-tiba muncul di musik lokal. Di awal 2000an, Poppie telah memamerkan karyanya di unit dance-rock underrated Bogor, Douets Maoets, dan setelah itu sempat ikut meramaikan semesta buatan Haris Khaseli di Zeke and The Wrong Planeteer, Poppie kembali menghasilkan musik yang sangat menarik atas nama Bing. Bermain sendiri, pada project ini, Poppie bermain lebih sederhana dibanding apa yang telah ia ciptakan di masa lalu. Meski begitu, justru di proyek ini, cemerlang talentanya terpijar lebih terang dengan permainan akustik gitarnya yang playful juga mengundang aroma Tropicana di beberapa bagian. Satu lagu yang ia ciptakan untuk Kompilasi Cindera Telinga (dibagikan sebagai souvenir pernikahan Dimas Ario & Natasha Abigail), menunjukkan bahwa jika tahun ini Bing mengeluarkan materi, akan ada jaminan mutu disitu. Kabarnya bahkan, Poppie telah menyiapkan album konsep yang akan bersambung dan berhubungan pada setiap serinya.

Collapse
Beberapa tahun terakhir, cukup sering terdengar fenomena metalheads-turns-indie, terutama di skena internasional. Sebuah persilangan yang ternyata cukup menyenangkan dan bahkan menghasilkan beberapa album dengan sudut menarik pada area baru yang dijelajahi oleh musisi yang bertransformasi (masih ingat bagaimana Nothing yang diisi mantan personil band hardcore punk menjadi nama penting di scene shoegaze melalui album Guilty of Everything, juga bagaimana Title Fight dan Turnover menjadi semakin matang setelah menukar gairah pop punk dengan kegelisahan indie rock di album terakhir?). Sepertinya, Collapse mengambil angle yang sama dari fenomena ini, datang dari Bandung dan lahir dari inisiatif Andika Surya yang dikenal melalui deru gitarnya di unit hardcore/punk/metal Bandung, ALICE, Collapse yang kini kabarnya sedang rekaman memainkan musik yang sedikit berjarak dengan kebiasaan Andika di ALICE. Ada aroma indie rock yang cukup menjanjikan pada sebuah teaser yang diunggah oleh Royalyawns, label yang nantinya akan merilis debut Collapse. Semoga tidak mengecewakan.

Mallaka
Bisakah membayangkan lagu anak-anak legendaris “Balonku” diolah menjadi nada sendu yang kontemplatif? Kesusahan untuk melakukannya? Coba putar “Wheresoever She Was, There Was Eden” Part One milik Mallaka. Rendisi yang cukup mengejutkan ini hanya merupakan cuilan dari kualitas yang dimilikinya. Dingin dan lamun mungkin menjadi dua kata yang bisa menggaris bawahi karakter musikal Mallaka. Jika boleh menganalogikan, musik Mallaka terkadang terdengar seperti musik Nils Frahm yang dibuat di sempitnya kamar apartemen di tengah malam dengan gitar pinjaman. Menariknya, Mallaka muncul beriringan dengan naiknya antusiasme anak-anak muda terhadap dunia sastra, akan sangat memikat sepertinya untuk membayangkan jika suatu saat nanti Mallaka lebih bereksperimentasi bersama naskah aksara lokal.

Hara
Siapapun yang merindukan musik dari unit potensial yang layu sebelum berkembang, Swimming Elephants akan memahami kenapa Hara ada di list ini. Project solo Rizki Yogaswara, yang bernyanyi dan bermain gitar di Swimming Elephants, berada pada ranah yang tak jauh dengan band lamanya tersebut. Meski demikian, ada pendekatan yang cukup berbeda, ambience lebih kental di tiap lagunya, sebelum kemudian dijahit dengan vokal Yogas yang cukup khas. Bagi yang belum terlalu familiar dengan proyek lamanya, Hara akan menjadi rekomendasi utama bagi mereka yang menggemari tenang dan hangatnya nuansa bebunyi. Tapi jika boleh sedikit memberi masukan, sebenarnya nama “Samiun” yang menjadi nama awal proyek solo Yogas sebelum berubah menjadi Hara terdengar lebih kohesif dengan konsep musik secara keseluruhan.

Seahoarse
Ingat, ada dua huruf “a” di nama band Jogja ini, jadi lebih baik sedikit minggirkan imaji kuda laut ketika akan memutar lagu mereka. Walau tentu, musik Seahoarse ini bisa saja jadi musik yang pas untuk menikmati sore di tepi laut. Tapi tak hanya disitu, Seahoarse bisa juga menambah nuansa di berbagai suasana yang membutuhkan sensasi dingin tapi ramah yang datang dari ruang gema pada suara dan denting gitarnya yang berjalan-jalan santai itu. Telah ada beberapa lagu yang diunggah pada etalase maya mereka; satu single yang direkam secara proper, juga beberapa lagu yang direkam secara live (hey, ada satu lagu cover Deerhunter disitu) menjadi bukti pamer potensi yang mereka miliki.

Ardneks
Mendengar beberapa lagu yang diunggah di soundcloud dengan nama Ardneks, kita seperti kemudian diajak untuk menyelami (dan kemudian memahami) darimana asal garis tipis, warna-warni palet warna khas, juga surealisme pada artwork Kendra Ahimsa yang kini telah menjadi visual bagi berbagai acara, maupun sebagai karya grafis itu sendiri. Inspirasi dari negara tirai bambu yang diaduk pelan bersama psikedelia ringan menjadi sebuah padu padan yang sangat menarik dan menyegarkan. Isian gitarnya yang efisien-sedikit saja namun cukup berarti-pula warna vokalnya yang cukup berbeda membuat penungguan untuk album solo Kendra terasa semakin memburu.

“Yang Layak Tunggu di 2016” ditulis oleh:

Muhammad Hilmi
Managing editor and ace journalist at Whiteboard Journal. His passion in music and the arts inspired him to be involved in multiple creative projects, including his own publication and record labelwhiteboardjournal, logo