Musik Kota Kenangan bersama Silampukau

20.01.16

Musik Kota Kenangan bersama Silampukau

Whiteboard Journal (W) berbincang dengan musisi Silampukau (S).

by Ken Jenie

 

W

Kalian telah cukup lama berada di sekitar scene musik sebelum lahirnya Silampukau, apa yang mendasari terbentuknya duo ini?

S

Gagasan dasar terbentuknya format duo ini karena kami bosan dengan format band. Di tahun 2009, band yang dibentuk Kharis mengalami kebuntuan, dan Eki, yang sebelumnya mengawali karir per-skena-an sebagai manajer band, memutuskan untuk menjajal kemampuan olah vokal sekaligus kekenesannya merayu gadis-gadis lewat suara bariton.

W

Sebagai musisi yang dianggap memiliki lirik yang bagus baik dari konten dan penulisan, bagaimana proses Silampukau dalam penulisan lirik, dan bagi Silampukau lirik seperti apa yang dianggap baik?

S

Sebuah lirik yang baik, tentu saja adalah lirik yang memiliki perspektif multi-dimensi terhadap satu tema, dan mengandung tesis sekaligus anti-tesis dalam dirinya sendiri. Terlalu mudah untuk menghardik, menjadi didaktis, atau menyanyikan manifesto tentang sikap kita akan sesuatu. Selama perspektif yang dipakai dalam lirik adalah perspektif tunggal nan absolut, dan tidak berendah hati untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan kebenaran lainnya, lirik-lirik yang seperti itu hanya akan jatuh pada taraf kitsch belaka. Sebab, kebenaran tidak tunggal, bukan? Tapi, karena menulis lirik semacam itu akan sangat susah sekali untuk dilakukan, dan sepertinya mustahil bagi kadar kecerdasan kami saat ini, kami sama sekali belum merasa sebagai penulis lirik yang baik. Kami merasa sungguh beruntung beberapa orang bersedia mendengarkan kitsch yang kami nyanyikan.

W

Yang paling menonjol dari Silampukau adalah lirik kalian yang mampu membahas permasalahan kota dengan gamblang namun tetap sederhana. Bagaimana proses penulisan lirik yang kalian lakukan? Apakah ada semacam riset?

S

Di Surabaya, pada warung-warung kopi, koreng-koreng kehidupan dari luka yang ditorehkan kota dikelupas dan dipamerkan dengan jumawa. Siapa saja bisa nongkrong di sana dan menyadap cerita-cerita yang berlimpah itu untuk kepentingannya masing-masing. Mengolah cerita itu menjadi nyanyian adalah urusan yang lain lagi. Di awal penulisan tiap lagu di album Desa, Kota, Kenangan, kami selalu memulainya dengan tema dasar lagu, memilah poin-poin untuk diungkapkan. Dan, yang terpenting, untuk merancang tema musical dan struktur puitika tiap baitnya. Sebenarnya ini terlalu membosankan untuk dijabarkan, karena nanti kami pasti tidak bias menghindar dari uraian bertele-tele dan teknikal tentang pentingnya asonansi dan aliterasi sebagai struktur terkuat pembentukan rima. Jadi singkatnya, lagu-lagu kami hanyalah sekedar ekses dari kebanyakan nongkrong di warung kopi dan menguping cerita orang-orang di sana.

W

Genre musik folk cukup populer disini, tapi kebanyakan terjebak dengan tren, apa yang menurut kalian bisa dilakukan untuk menghindari jebakan tersebut?

S

Sejujurnya, kami tidak terlalu paham dengan tren yang dimaksudkan. Jika seseorang mengambil gitar akustik dan mulai memainkan lagu-lagu tentang cinta atau obrolan tentang ikan paus dan daun-daun yang berguguran, rasanya sama sekali tidak ada yang salah dengan hal itu. Barangkali, yang benar-benar harus dirumuskan kembali adalah pengertian folk yang dibentuk oleh para jurnalis musik yang terhormat. Karena jika terjadi pergeseran dalam definisi sebuah genre, biasanya yang bertanggung jawab adalah media. Kami sendiri juga tidak paham mengapa demikian yang terjadi.

W

Bagaimana menurut kalian posisi musisi yang menyanyikan lirik lagu kritis, apakah posisi seniman tersebut berhenti disitu atau haruskah mereka ikut bertindak?

S

Menulis dan menyanyikan lagu kritik itu tentunya sudah bisa kita lihat sebagai keterlibatan aktif dalam aktivitas mengkritik. Kita melakukan apa yang kita bisa. Beberapa orang menulis lagu, beberapa orang menuliskan buku panduan revolusi, beberapa orang mendedikasikan hidupnya untuk menemukan energy dan pangan alternatif. Sebagaimana tentunya akan susah sekali membayangkan Gandhi bikin lagu country dan bernyanyi tentang Satyagraha, sepertinya kita juga rasanya bakal kesusahan untuk membayangkan Iwan Fals menjadi salah satu pimpinan KPK.

W

Lirik kalian banyak mengambil cerita dari kisah yang terjadi di sekitar, bagaimana kalian memposisikan diri supaya bisa menjadi bagian dari cerita itu?

S

Rasanya pertanyaan ini sudah menyediakan jawabannya sendiri. Justru karena cerita-cerita itu memang ada di sekitar, maka kami tidak perlu bersusah-payah untuk menjadi bagian dari cerita-cerita itu, kami tinggal mengamati dan menyanyikannya.Tapi jika secara implicit Anda mempertanyakan kesalehan personal kami (tertawa), maka mari kita ambil lagu “Si Pelanggan” sebagai contoh. Diam-diam kita tahu bahwa tiap kota memiliki prostitusinya sendiri, walaupun konon, Dolly kala itu ditahbiskan sebagai yang terbesar se-Asia Tenggara. Tinggal di sebuah kota yang kala itu terang-terangan mempunyai predikat sebagai destinasi plesir kelamin, membuat kami secara tak terelakkan mendengar berbagai cerita gelap, rumor-rumor aduhai, hingga kejangakan akan mistik afrodisiak dari empedu kobra, tanpa perlu susah-susah menjadi konsumen langsung.

Fakta bahwa kita jarang mendengar lagu populer –jika popularitas lagu-lagu orkes pantura diperhitungkan, kami akan dengan senang hati mengoreksi pernyataan ini di masa mendatang – yang membahas persoalan ini, tentunya berkaitan dengan persoalan moral dan penyangkalan gila-gilaan atas perayaan sisi erotis dari kebudayaan urban yang kala itu nyatanya terjadi tiap malam, sepanjang tahun. Kami di album D.K.K memang justru sengaja berusaha untuk menyanyikan tabu kebahasaan-dalam perspektif estetik, bukan moral yang ada dalam lagu-lagu berbahasa Indonesia.

W

Meski kalian memakai Surabaya sebagai setting dari lagu-lagu di album Dosa, Kota, Kenangan, ternyata album tersebut bisa relate dengan banyak orang di banyak kota, apakah dampak yang demikian terbayangkan ketika proses membuat album ini? Dan aspek apa yang menurut kalian membuat album ini bisa menembus dimensi geografis?

S

Tentu saja kami tidak membayangkan sebelumnya bahwa album kami akan memiliki dampak apapun. Ini bukan sok-sokan rendah hati. Ijinkan kami bercerita sedikit. Dalam proses penggarapan, kami terlalu asyik sendiri, dan konsentrasi kami tersita sepenuhnya ke hal-hal teknis. Maksud kami begini, album ini dibuat secara home recording, dengan satu mic condenser bagi seluruh instrumen, termasuk vokal dan soundcard murahan pinjaman seorang teman. Karena kami tidak memiliki kompetensi apapun sebagai sound engineer, kami menghabiskan banyak waktu untuk berdiskusi, bertanya, browsing, dan bereksperimen tentang metode terbaik untuk mengoptimalkan satu mic dan memanipulasi akustik ruangan untuk tiap-tiap instrumen yang akan kami rekam, hanya karena kami terlalu enggan untuk sekedar “menggambar” nada secara digital. Lalu, ketika proses mastering akhirnya selesai, jelas tidak memuaskan, tapi itu yang terbaik yang bisa kami lakukan dari sumber daya minimal yang kami punya, kami—secara tidak sabaran—langsung merilis album ini tanpa mempersiapkan gimmick dan tetek-bengek promosi lainnya, tanpa pengharapan dan tendensi berlebihan, kecuali perasaan lega yang memabukkan, yang senantiasa menyertai akhir dari tiap kerja keras.

Maka, jika ternyata benar bahwa “album tersebut bisa relate dengan banyak orang di banyak kota,” seperti yang Anda sarankan, barangkali itu berarti bahwa ternyata kebudayaan urban di kota-kota di Indonesia memiliki pola yang identik, menghasilkan kemuakan dan frustasi yang tipikal, membuat usaha-usaha kecil untuk meromantisasikan sisi mekanis dari kehidupan di Surabaya – walaupun masih juga disertai keluhan dan rutukan di sana-sini – masih mungkin untuk bisa diapresiasi oleh orang-orang di kota lain.

W

Kesederhanaan menjadi salah satu karakter yang kuat muncul di lirik kalian, dengan kota Surabaya yang semakin mengarah ke kota modern, apakah ini berarti kisah-kisah yang menjadi landasan musik kalian akan hilang? Dan dimana posisi musik folk seperti kalian di society modern ini?

S

Sebetulnya kami belum merasa kehabisan cerita untuk dinyanyikan. Entah karena kami kelewat cerewet, entah karena kami terlalu bebal untuk tetap percaya bahwa instrumen-instrumen akustik, yang memang merupakan produk dari jaman lampau, mempunyai keterbatasan yang mengibakan dalam dirinya sendiri, dan mustahil untuk mampu menghadirkan chaos-nya ritme dan hingar-bingar kehidupan jaman ini secara musikal; tapi tidak seperti yang dibayangkan, kisah-kisah kecil perkotaan yang kami nyanyikan di Dosa, Kota, & Kenangan, justru merupakan kisah-kisah yang terjadi di masa kini, dan ditulis untuk orang-orang di masa kini. Musik dan musisi folk—jika mereka mempunyai pemahaman yang cukup tentang tradisi dan menolak untuk terjebak dalam nostalgia belaka—rasanya akan tetap menemukan perannya di jaman apapun, sebab musik folk adalah narasi pinggiran bagi tiap narasi besar yang disemburkan dari dubur para elite kebudayaan. Begitulah, “all art is quite useless,” kata Oscar Wilde.

W

Sebagai band Surabaya, bagaimana kalian melihat perkembangan musik yang masih terlalu Jakarta/Bandung-sentris, hingga band daerah seolah harus ke Jakarta dulu untuk memasarkan nama mereka?

S

“Seolah” mungkin adalah ungkapan yang pretensius, karena “nyatanya”, pembangunan yang terpusat di Jakarta, sebagai warisan orde baru, memang terjadi di berbagai bidang. Industri musik, sayangnya, bukan perkecualian dalam hal ini. Mungkin internet cukup membantu untuk melemahkan warisan ini. Tapi sejauh apa sumbangsih internet akan benar-benar membantu, kami masih tidak terlalu yakin. Barangkali, sampai beberapa waktu ke depan, keterpusatan Jakarta masih akan terus menguasai imajinasi banyak orang di Indonesia. Semoga kami segera terbukti salah dalam hal ini.

W

Kalian mendapatkan ketenaran dalam skena independen cukup cepat dengan jaringan yang cukup luas. Bagaimana, menurut kalian, cara bagi musisi-musisi independen untuk memperkenalkan musik dan nama mereka di skena musik independen Indonesia?

S

Distribusi musik independen memang sangat-sangat bergantung pada jejaring yang dimiliki sebuah band. Persoalan mungkin timbul jika musisi – yang biasanya bertindak sebagai produser/promotor/distributor sekaligus- tidak aktif mencari dan atau membentuk jejaring baru secara terus-menerus. Berada hanya dalam satu skena yang sama dalam jangka waktu yang lama akan berdampak pada keengganan dalam melakukan oto-kritik, bisa juga berujung pada kemandegan berkarya. Kesadaran dan kecemasan akan stagnansi inilah yang membuat kami melakukan tour sepanjang tahun 2015, untuk berkenalan dengan orang-orang ramah di skena lain di luar Surabaya yang kami yakini mempunyai visi dan ideal yang sama, sembari berharap kami bisa menemukan hal-hal baru untuk dipelajari. Selain melalui tur, distribusi karya dalam format fisik dan digital adalah penting. Distribusi CD D.K.K sangat dibantu oleh toko offline dan online di sejumlah kota di Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra, mereka sangat membantu dalam menjual sekaligus mempromosikan LP perdana kami.

W

Setelah menulis tentang Surabaya di album pertama, apakah mungkin bagi Silampukau untuk menulis lagu tentang kota lain di album yang akan datang?

S

Mungkin-mungkin saja.Bisa jadi. Kami tergoda untuk itu.Tapi, entahlah…whiteboardjournal, logo