Seni Multimedia bersama Henry Foundation

Ideas
30.03.16

Seni Multimedia bersama Henry Foundation

Muhammad Hilmi (H) berbincang dengan Henry “Betmen” Foundation (B).

by Ken Jenie

 

H

Bagaimana pertama kali Betmen kenal dengan seni dan apa yang membuat akhirnya Betmen berkeputusan untuk hidup sebagai seniman?

B

Dari kecil memang saya senang menggambar dan doodling. Kalau kebanyakan anak-anak kecil bermain bola atau lari-larian di luar, saya malah didalam rumah – mungkin saya lebih “indoor guy” yang senang menggambar. Keluarga saya memperhatikan bahwa saya senang menggambar meskipun gambar-gambar saya jelek. Karena keluarga saya berkomentar bahwa saya senang dan punya bakat menggambar, saya jadi merasa berbakat dan semakin intens dalam berseni.

Saat saya SMP dan SMA, orang tua saya berkata bahwa kalau saya memang senang menggambar lebih baik saya sekolah seni. Sebenarnya mereka ingin saya berprofesi dokter… standar lah. Meskipun mereka menggiring saya untuk mengambil sekolah seni, tetapi mereka berkata bahwa tidak ada salah untuk mengikuti UMPTN. Jadi saya coba mengambil arkeologi di Universitas Indonesia dan astronomi di ITB – jelas saya tidak masuk (tertawa) dan akhirnya saya di Institut Kesenian Jakarta.

H

Apakah saat di IKJ Betmen langsung menemukan dunia yang dicari?

B

Tidak juga sih. Dulu pikiran saya cukup standar, bahwa karena saya suka mencorat-coret jurusan komersil yang sesuai adalah desain grafis. Saat saya masuk IKJ saya tidak tahu mau mendalami seni apa dan sempat kepikiran mau mengambil jurusan apa. Di semester pertama dan kedua masih pendidikan dasar dan belum ada penjurusan. Di semester ketiga kita bisa memilih antar jurusan seni murni, desain, atau kriya.

Ternyata setelah selesai pendidikan dasar saya dijurusin oleh kampus untuk mengambil seni murni. Saya sebenarnya ingin desain grafis karena mengikuti teman-teman kampus, tetapi memang tidak bisa semua orang masuk jurusan ini, dan karena saya desainnya tidak bagus akhirnya saya dibuang ke seni murni yang bukan pilihan pertama saya (tertawa).

Di seni murni ada pilihan seni lukis, seni patung dan seni grafis. Menurut saya seni lukis membutuhkan skill yang tinggi, saya tidak tertarik dengan seni patung, jadi pada akhirnya saya mengambil seni grafis. Seni desain adalah seni cetak, jadi saya belajar mencetak dengan linocut, silkscreen, kayu.

H

Tetapi ketika Betmen mulai berkarya sebagai seniman, mediumnya bermacam-macam. Sepertinya tidak ada satu medium yang tetap.

B

Di seni murni murid-murid diajarin untuk mengenal berbagai macam teknik dan media. Teknik dasar seni cetak adalah seni datar seperti kayu atau karet, berikutnya adalah etsa yang memakai berbagai macam plat dan kimia, sampai ada lithography dan silkscreen. Di seni grafis saya terbiasa dengan berbagai macam media, saya tidak terpaku kepada satu. Setelah lulus saya terbiasa dengan berbagai macam media untuk berekspresi – saya bertemu dengan ruangrupa dimana saya mulai belajar dengan software digital. Saya malah tidak memakai apa yang saya pelajari di seni grafis, saya malah menggunakan media lain seperti video.

Kalau dilihat, ruangrupa sebenarnya terdiri dari lulusan seni grafis. Presidennya seni grafis di ISI, Havis juga dari seni grafis, dan banyak seniman yang berkarya adalah lulusan seni grafis. Mungkin karena kita terbiasa dengan media macam-macam, kita bebas dalam berekspresi menggunakan medium apa saja – kita malah melakukan hal-hal yang eksploratif.

H

Bagaimana Betmen mulai mengenal seni video?

B

Sebenarnya sejak saya SMA saya menggemari musik dan video klip – setiap kali ada video klip baru saya akan menonton. Saat saya baru mulai bermain di ruangrupa, tidak banyak orang yang mengenal software seperti Photoshop dan software editing video. Kebetulan ruangrupa memiliki software-software tersebut, jadi saya belajar secara otodidak. Saya belajar Photoshop, Freehand, ya software editing. Ruangrupa juga memliki video kamera yang saya pakai untuk mengambil gambar. Jadi saat saya di ruangrupa saya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari medium video.

Saya senang banget saat saya menghasilkan karya video yang pertama. Dulu ruangrupa diundang ke acara party dan diminta untuk bikin visual, saya membuat video-video tersebut, dan pada akhirnya saya membuat video klip.

H

Apakah Betmen memperlakukan video sebagai sebuah karya?

B

Saya menganggap video musik sebagai sebuah karya. Saat saya masuk kedalam industri dan bekerja dengan klien, saya anggap sebagai mata pencaharian. Pada intinya ada karya yang dari klien, dan ada hasil karya kreativitas sendiri.

H

Sebagai musisi, apakah Goodnight Electric band pertama Betmen?

B

Band pertama saya adalah Be Quiet, saat saya kuliah. Saat saya di kampus orang yang saya pertama ketemu adalah Jimi – impresi saya dia musisi banget bentuknya (tertawa). Jiwanya Jimi musik banget, meskipun dia mengambil seni dia memang passion-nya di musik. Saat saya kuliah sebenarnya saya tidak sering nge-band, tapi Jimi mengajak saya untuk menjadi personil Be Quiet. Saya awalnya menjadi penyanyi, dan lama-lama main bass. Be Quiet bisa dibilang band saya yang pertama rekaman dan menjual musiknya.

H

Bagaimana awalnya Goodnight Electric? Apa dasar Betmen ketika menciptakan lagu untuk Goodnight Electric?

B

Saya tidak berpikir dua kali saat ingin berkarya. Kalau tiba-tiba saya ingin berekspresi melalui video, saya buat video, dan saat saya ingin berekspresi melalui musik saya buat musik. Saat saya selesai kuliah Be Quiet sedang vakum dan Jimi sedang bermusik dengan The Upstairs. Saya iseng membuat musik dengan software – saya memotong mp3 lagu orang dan merangkainya ulang. Sebenarnya musik tersebut adalah karya yang tidak dimaksudkan untuk dipublish.

Saya sempat main di acara ruangrupa sebagai Yayasan Henry dimana saya bernyanyi sambil memainkan mp3 yang saya sudah potong-potong. Jimi berkata bahwa saya harusnya seriusin saja musiknya. Saya menemukan software seperti Rebirth, Reason dan Fruity Loops. Sebenarnya pengetahuan saya mengenai musik digital sedikit sekali tetapi saya mencobanya saja. Saya iseng merekam lagu di waktu kosong, dan hasil-hasilnya saya rilis sebagai Goodnight Electric. Saya rekam di Rooftop Sound bersama Aghi Narotama – saya barter rekaman Goodnight Electric dengan membuat video klip untuk Ape on the Roof. Saya saat merilis album Goodnight Electric niatnya iseng saja – saya tidak berpikir bahwa orang akan suka.

Ternyata pendengar senang dengan musiknya, saya tidak sangka ini akan terjadi. Teman-teman memaksa saya memainkan lagunya di atas panggung, tapi sebenarnya saya tidak tahu cara memainkan lagu-lagunya secara live karena saya tidak ada niat untuk bawa lagu ini manggung (tertawa). Saya merekrut teman-teman untuk manggung, mencari tahu bagaimana kita bisa mementaskan musik-musiknya, dan akhirnya kita bermain musiknya secara live. Ternyata demandnya semakin banyak dan saya semakin bingung (tertawa).

Saat saya merilis album Goodnight Electric saya berpikir jika balik modal sudah cukup, tetapi ternyata proyeknya sangat menguntungkan. Menurut saya Goodnight Electric muncul di saat yang tepat. Saat saya dan Anggun Priambodo sedang membangun The Jadugar, nama-nama seperti The Upstairs, Seringai dan The Brandals sedang mulai dikenal. Makanya kami membuat video klip untuk band-band seperti The Brandals dan The Upstairs.

H

Jadi bisa dibilang bahwa Goodnight Electric berutang juga kepada The Jadugar juga karena namanya ikut diangkat?

B

Bisa jadi sih, tetapi menurut saya memang skena musiknya saat itu sangat supportive. Setelah BBs selesai, ada pensi jadi platform untuk berpentas selalu ada. Di saat itu kami bisa berpentas 3 kali seminggu dan dibayar dengan harga yang kita tawarkan. Di saat itu saya bisa hidup dari Goodnight Electric. Band setaraf kita saja bisa hidup dari berpentas di kota-kota besar, apalagi band seperti Peterpan yang manggung dimana-mana.

H

Ketika segala keriaan aktivitas Goodnight Electric berhenti di medio 2000an, apakah sekarang Betmen merasa kehilangan akan momen-momen itu?

B

Tidak terlalu sebenarnya. Sebagai seniman pasti ada keinginan untuk hidup dari karya seni. Standar sih. Tapi saya melihat agak sulit untuk mewujudkan gaya demikian di Jakarta. Kalau di Jogja masih lebih mungkin. Mungkin, nanti suatu saat ingin bisa hidup seperti itu.
Tapi untungnya, latar belakang saya di seni grafis mengajarkan saya untuk bisa berkarya di berbagai medium. Jadi selama ini saya melihat musik, video dan segala macam pendekatan berkarya hanya sebagai media saja. Ketika saya ingin berkarya dalam bentuk musik saya membuat musik, ketika saya ingin membuat video saya membuat video. Begitu saja. Ketika berkarya pun saya sadar bahwa kualitas yang saya hasilkan tidak paripurna, tabrak lari saja. Saya banyak memakai kenekatan saya untuk berkarya. Bikin video modalnya nekat, sama juga ketika bikin musik, gak pernah ada skill. Sekarang ini juga saya sedang nekat-nekat aja bikin video dokumenter (tertawa). Ini kenekatan baru yang saya sedang kerjakan, ya walaupun ngerjainnya jadi pusing juga (tertawa).

H

Darimana asalnya ide untuk membuat video dokumenter WSATCC di Cikini lahir?

B

Awalnya diajakin Ameng. Kaget juga pas ditawarin, karena banyak teman sering konser, tapi baru kali ini diajak ngerjain video buat konser itu. Jadi sempat bingung di awal, mau bikin apa. Tapi saya sama sekali tidak tertarik untuk reportase video biasa. Jadilah saya membungkusnya dengan kemasan film dokumenter, dengan selingan interview di dalamnya. Setelah memperkaya referensi film dokumenter, saya lalu memfokuskan film ini nantinya bukan merupakan film biografi WSATCC yang penuh dari awal karir hingga usai, tapi lebih ke WSATCC di Cikini. Karena konser tersebut ternyata juga momen homecoming bagi mereka. Setelah sekian tahun WSATCC tidak bermain di Cikini, malam itu mereka kembali ke tempat yang membesarkan mereka.

Lagu-lagu di album 1 WSATCC itu sebenarnya kalau pendengarnya paham dengan IKJ dan kompleks Cikini, akan sangat terasa nuansanya hidup dari energi disana. Hampir semua lagu ada ceritanya di kampus Cikini. Inilah sisi WSATCC yang saya coba ceritakan di film ini. Semoga bisa menawarkan hal baru yang selama ini belum pernah diketahui oleh umum.

H

Film ini nantinya akan ditayangkan perdana di acara Film Musik Makan 2016, bagaimana awal ceritanya? Dan bagaimana Betmen melihat peran acara seperti FMM ini pada perkembangan sinema lokal?

B

Kebetulan saya kenal dengan salah satu inisiatornya, Dede Meiske yang sedang mencari pengalaman untuk menayangkan film dokumenter musik di acaranya, jadi pas ketemunya. Agak beruntung juga bisa bermain di acara seperti ini. Film Musik Makan bagi saya sangat bagus, bisa mewadahi film-film non bioskop untuk menemukan penontonnya. Kalau dilihat tahun lalu, hampir semua film yang tayang perdana di acara tersebut sukses dan meraih banyak pujian, ada “Siti” dan “The Fox Tiger..” disana. Gila saja datang ke acara seperti itu, kita bisa melihat banyak sekali sineas berbakat yang sedang memperjuangkan gairah mereka. Bagi saya yang sebenarnya bukan sineas tulen, acara Film Musik Makan seperti salah satu jalan keluar yang bisa dicapai bagi pelakunya, analoginya seperti Efek Rumah Kaca, dan band-band indie sudah menemukan pasarnya, acara seperti Film Musik Makan adalah titik temu di dunia film non bioskop ini. Karena kalau film sebenarnya perjuangannya agak lebih berat dari musik. Khususnya pada konteks film arthouse, atau dokumenter, agak susah untuk mempopulerkan genre ini.

H

Kalau Jakarta Wasted Artist, itu apakah gagasan Betmen juga?

B

Sebenarnya itu proyek tidak sengaja yang lahir dari obrolan seniman yang suka nongkrong di Ruangrupa. Jadi ide JWA ini lahir ketika kami merasa bahwa sekarang seniman udah tertelan definisi baru seni, seperti new media art, konseptual dan semacamnya dan kami ingin mengembalikan semangat karya yang konvensional seperti lukisan, ya lukisan saja, semacam itu ke permukaan. Akhirnya kita bikin pameran dengan judul Jakarta Wasted Artist dan di dalamnya hanya memajang lukisan konvensional. Tapi ternyata semakin kesini, proyek JWA juga akhirnya tidak lagi konvensional, jadi sama saja ada new media dan lain-lain (tertawa). Jadi tidak berhasil sebenarnya secara misi. Tapi kolektif ini masih berjalan hingga sekarang, terakhir kami ikut berpartisipasi di Jakarta Biennale 2015 kemarin. Berkembangnya sekarang lebih sebagai kolektif yang karyanya berkembang secara natural saja.

H

Beberapa orang yang saya ajak ngobrol mengenai Betmen berkata bahwa karya Betmen memiliki unsur pop yang kuat. Menurut Betmen unsur Pop ini datang dari mana?

B

Saat saya kuliah saya sangat tertarik dengan pop art – referensi saya dari situ. Andy Warhol juga mendalami seni cetak, jadi saat murid seni grafis mempelajari silkscreen pasti acuannya Andy Warhol. Menurut saya memang ada unsur pop art yang saya pelajari saat saya kuliah – walaupun setelah itu saya tidak pernah pikiran genre. Saya tidak pernah kepikiran genre spesifik saat berkarya video atau bermusik – apapun yang saya sedang gemari saya lakukan saja. Seniman seperti Marisha Soekarna intense menggambar jadi dia memiliki ciri khas saat menggambar. Saya tidak berkarya melalui media tertentu, mau itu kanvas, video, pelsin, bulpen – semua hanya sebuah media untuk saya. Sepertinya saya tidak mengenal genre – mengkotak-kotakkan is a crime (tertawa).

H

Proyek-proyek apa yang sedang Betmen kerjain?

B

Tahun ini saya sedang sering terlibat dalam proyek video. Yang pertama adalah film dokumenter White Shoes and the Couples Company. Ruangrupa juga sedang mengerjakan film panjang fiksi, saya menjadi sutradaranya dan kami sudah shooting tetapi belum selesai karena yang nulis naskahnya Oomleo – ini sepertinya filmnya jelek banget tetapi diperlukan sih sih (tertawa). Saya belum pernah mengerjakan film panjang, dan saat bekerja dengan Oomleo… saat kami shooting naskahnya belum selesai (tertawa). Cara kerjanya keren sih – tidak proper tetapi ini film yang dibuat oleh seniman, jadi saat filmnya jadi… kalau tidak jelek ya jelek banget (tertawa). The Jadugar juga sedang merencanakan sesuatu. Sebenarnya saya ingin merilis musik lagi, tetapi saya tidak tahu apakah rilisan itu Goodnight Electric, Friggi Friggi, atau album solo.whiteboardjournal, logo