Mengupas Singkat Sejarah Seni Rupa Lokal

Ahead
03.05.18

Mengupas Singkat Sejarah Seni Rupa Lokal

Berikut adalah perjalanan seni rupa lokal dari waktu ke waktu yang perlu diketahui oleh tiap sosok kreatif yang bergerak di dalamnya.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Livina Veneralda

Foto: Komikazer

Dunia kreatif Indonesia sangat luas dan dipenuhi oleh beragam talenta-talenta menarik dan unik yang tersebar dalam berbagai skena, baik fashion, fotografi, musik maupun seni rupa. Pendekatan tiap subkultur ini pun bervariasi, ada yang progresif, inovatif, atau mungkin mengadaptasi tren yang sudah ada sebelumnya. Berikut ini adalah perjalanan seni rupa lokal dari waktu ke waktu yang perlu diketahui oleh tiap sosok kreatif yang bergerak di dalamnya.

Tidak banyak yang tahu bahwa Indonesia dinyatakan sebagai tempat lahirnya karya seni pertama di dunia. Cetakan telapak tangan pada dinding gua Maros, Sulawesi Selatan yang berusia sekitar 40.000 tahun diduga sebagai karya seni pertama tersebut. Beberapa temuan lainnya juga dimuat di jurnal “Nature”, edisi 9 Oktober 2014, yang merupakan hasil kolaborasi peneliti Indonesia dan Australia. Dalam antropologi, kesenian atau lukisan di atas batu adalah permulaan dari cara berpikir yang abstrak yang mencerminkan kemampuan makhluk hidup (manusia) untuk merefleksikan gagasannya akan suatu peristiwa. Yang perlu digaris bawahi di sini adalah kesenian tidak lahir di Eropa seperti yang kebanyakan orang percayai, tapi ia lahir di Asia, di Indonesia sendiri.

Setelah kesenian zaman pra sejarah tersebut, seni beralih ke zaman modernnya. Adalah Raden Saleh, Syarif Bustaman, dan Affandi Koesoema yang menjadi penggiat seni pada era ini. Meski menghadirkan tema besar yang mengusung sentuhan romantisme, eksekusi tiap seniman berbeda-beda. Sebut saja Raden Saleh yang hadir dengan gaya lukisan yang dipengaruhi oleh negara Eropa, sementara Affandi dikenal lewat gaya abstraknya. Lewat lukisan, sang seniman menunjukkan perspektif mereka terhadap peristiwa yang terjadi di zaman penjajahan kala itu. Dari sanalah, banyak seniman muda yang akhirnya terinspirasi dan mulai berkarya lewat medium yang lebih luas untuk menyuarakan pesan mereka.

Masuk ke era seni rupa kontemporer, GSRB (Gerakan Seni Rupa Baru) hadir sebagai sebuah usaha dari sekelompok akademisi atau mahasiswa seni rupa untuk menentang monopoli seni oleh kelompok seniman tertentu. Manifesto GSRB kemudian menegaskan dan meruntuhkan definisi seni rupa waktu itu, yang hanya berkutat seputar seni lukis, patung dan grafis saja. Pada saat seni kontemporer sedang membentuk diri, lahirlahl sebuah inisiatif bernama Rumah Seni Cemeti (1988), dengan fokusnya dalam seni rupa kontemporer. Hingga saat ini Rumah Seni Cemeti terus berperan penting pada perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Kedatangan Cemeti sepertinya menjadi pengganti GSRB yang tutup pada tahun 1989.

Salah satu seniman kontemporer yang karyanya dikenal dengan baik adalah Eko Nugroho. Seniman asal Yogyakarta ini selalu menghadirkan kritik terhadap dinamika sosial, ekonomi dan politik di lingkungan sekitarnya. Proses kreatifnya banyak terpengaruh oleh street art, graffiti, dan komik, yang kemudian tercermin dalam karakter khas yang ada pada karyanya.

Di Jakarta sendiri, seni rupa kontemporer menjadi salah satu aliran yang menjadi sorotan. Salah satu representatifnya adalah artist initiative yang diberi nama ruangrupa. Pada tahun 2016, ruangrupa kemudian memutuskan untuk bekerja di bawah satu naungan bersama Serrum, Forum Lenteng, dan Grafis Huru Hara. Melalui ide untuk mengolah gudang kosong bernama Gudang Sarinah, mereka memberikan ruang baru sebagai tempat menampun ide-ide segar dari para penggiat seni. Tidak hanya itu, Jakarta juga memiliki sebuah program rutin tahunan untuk menyokong kesenian dalam kota ini, yakni Exist. Program diselenggarakan oleh Dia.Lo.Gue Art Space yang berkolaborasi dengan para emerging artists untuk menggali potensi seni, dan acara utamanya adalah dialog kritis antar para praktisi seni.

Sebelumnya, karya seni fokus terhadap seni lukis, patung, dan grafis saja. Sekarang, seni rupa semakin berkembang dengan pendekatan yang makin beragam. Muncul karya seni dalam bentuk yang lain, di antaranya adalah instalasi seni, performing art, dan experimental art. Isu yang diangkat pun semakin berani, seperti konflik yang menjadi kegelisahan sang seniman itu sendiri. Hal ini didukung dengan semakin banyak masyarakat yang tertarik dan aware akan festival seni rupa, seperti Art Jog dan Jakarta Biennale yang tidak pernah sepi pengunjung. Kemudian dapat disimpulkan bahwa apresiasi akan seni rupa pun semakin meningkat.

Era masa kini merupakan waktu di mana internet dan dunia maya menjadi tempat pertemuan seniman dengan para penikmat seni. Media sosial lalu dijadikan ruang pameran karya bagi para senimannya. Sebut saja Reza Mustar dengan komikazer-nya. Media sosial juga menjadi residensi seni alternatif yang dinilai efektif mengingat seniman dapat melihat secara langsung respon publik terhadap karyanya. Masyarakat pun dinilai lebih vokal dan kritis di media sosial. Hal ini menjadikan dunia maya sebagai ruang yang menarik bagi interaksi antara para seniman dan publik, tanpa keduanya harus berada di tempat yang sama.whiteboardjournal, logo