Pembuktian Pusha T Sebagai Rapper Lewat “Daytona”

Music
26.06.18

Pembuktian Pusha T Sebagai Rapper Lewat “Daytona”

Alasan kenapa “Daytona” adalah album terbaik Pusha T.

by Ghina Sabrina

 

Foto: Pusha T

Di akhir bulan Mei lalu, Pusha T mengeluarkan album ketiga berjudul “Daytona” dengan Kanye West sebagai produsernya. Pada awalnya, album ini direncanakan menjadi kelanjutan dari album sebelumnya “King Push – Darkest Before Dawn: The Prelude”, namun semuanya berubah saat West mengajaknya untuk berkolaborasi dan menjadikan album tersebut menjadi “the most concise, strongest project ever”. Selain West, album ini memiliki beberapa guest appearances dari musisi lain seperti Rick Ross, Tony Williams dan 070 Shake sebagai tambahan vokal. Tapi, hal yang membuat album ini menonjol bukan hanya karena features yang ada, namun akumulasi dari berbagai aspek yang berbeda seperti durasi, kualitas lirik, dan juga sentuhan Kanye West. Berikut adalah alasan kenapa “Daytona” adalah album terbaik dari Pusha T.

Durasi singkat
“Daytona” lebih terasa seperti sebuah EP karena durasinya yang cukup pendek, yaitu 21 menit. Namun, dengan hanya 7 lagu, Pusha T dan produser Kanye West memastikan bahwa tidak ada momen yang terbuang dari setiap trek yang dibawakan. Setiap lagu memiliki daya tarik tersendiri yang membuat pendengar ingin menangkap setiap verse yang dikeluarkan oleh Pusha T. Dengan tidak memasukkan elemen-elemen yang tidak perlu ke dalam album ini, “Daytona” dapat dianggap sebagai sebuah artistic statement yang tajam dengan storytelling yang penuh pertimbangan.

Menyajikan cerita personal untuk para penggemar
Ada pesan tersendiri yang ingin disampaikan Pusha T di setiap trek yang ada di album ini. Dari trek pembuka “If You Know You Know” yang dituju kepada fanbase-nya yang telah mengikuti karirnya sejak day one, “Hard Piano” yang menggambarkan suka dan duka dari kesuksesannya, “Santeria” yang bercerita tentang pembunuhan tragis teman sekaligus road manager-nya De’Von Pickett, hingga “Infrared” yang merupakan respon dari diss track Drake berjudul “Two Birds One Stone” di mana ia mengkritik rapper asal Kanada tersebut karena diketahui menggunakan ghostwriter untuk lagu-lagunya.

Kolaborasi dengan Kanye West
Ini bukan kali pertama Pusha T dan Kanye West berkolaborasi untuk sebuah proyek musik. Sebelumnya West pernah menjadi produser untuk single Pusha berjudul “Numbers on the Board” di tahun 2013, dan Pusha menjadi feature di single “Runaway” untuk album kelima West. Kali ini, “Daytona” merupakan album pertama yang diproduksi oleh Kanye West di Jackson Hole, Wyoming, sebagai bagian dari “Wyoming Sessions” yang akan merilis satu album setiap minggunya. Secara keseluruhan, setiap trek yang diproduseri oleh West terkesan lebih minimalis dan bertolak belakang dengan lagu-lagunya yang dikenal megah.

Koleksi sample yang inovatif
7 lagu yang disajikan di “Daytona” berhasil memperlihatkan sentuhan tangan West dengan kurasi sample yang lintas genre yang dipadu dengan beats inovatif. Dibandingkan dengan album Pusha T sebelumnya, terlihat bahwa West berhasil mendorong sekaligus memaksimalkan potensi Pusha T dalam bermusik dalam sebuah album solo.  Di lagu “Come Back Baby”, West menempatkan sample dari trek “The Truth Shall Make You Free” dari The Mighty Hannibal di awal trek untuk mendukung pesan dari lagu tersebut yang menceritakan kecintaan Pusha T dengan narkotika. Selain itu, di trek “Infrared” West menghidupkan kembali single 24 Carat “I Want to Make Up” sebagai intro dan base untuk lagu tersebut.

Pembuktian Pusha T atas talenta musiknya
Jumlah trek yang sedikit membuat “Daytona” terasa claustrophobic, ditambah dengan setiap momennya yang tidak terbuang. Namun di sini Pusha T berhasil membuktikan talenta rap-nya lewat kemampuannya menyanyikan hal-hal yang dianggap tabu dan buruk dengan skill yang apik. Sebelum “Daytona” Pusha T mungkin lebih dianggap sebagai rapper yang hanya bisa menjadi featuring artist. Tapi ia seakan sudah melewati fase tersebut dan ingin menunjukan keseriusan dan talentanya dalam bermusik. Untuknya, “Daytona” adalah sebuah magnum opus yang mengingatkan para pendengar bahwa ia juga seorang rapper yang patut dipertimbangkan.whiteboardjournal, logo