Masa Depan Skena Musik Hari Ini

Ahead
09.07.18

Masa Depan Skena Musik Hari Ini

Deretan musisi lokal masa kini yang menawarkan suguhan suguhan segar dalam skena musik Indonesia

by Whiteboard Journal

 

Teks: Carla Thurmanita
Foto: The Crafters

Meski di dalam industri musik sendiri telah mengalami pergeseran yang cukup signifikan dengan masuknya era digital yang merambah ke dalamnya, bukan berarti perkembangan di dalamnya pun harus tertahankan. Di bawah ini terdapat nama-nama musisi lokal yang meskipun jarang mendapatkan porsi perhatian oleh telinga awam, tetapi dengan keragaman latar belakang musik mereka, semakin hari kian membawa industri musik Indonesia ke arah kualitas yang jauh lebih baik sehingga patut untuk diperhitungkan hingga ke depannya.

Jason Ranti
Solois asal Tangerang yang akrab dipanggil Jeje ini sudah memikat banyak pendengar dengan lagu-lagu folk miliknya yang tidak biasa. Layaknya musik folk pada umumnya yang bersifat sebagai medium bercerita, Jason Ranti melakukan hal yang sama di dalam lagu-lagunya tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Secara konteks, liriknya tidak mudah dipahami begitu saja. Pun hal ini tidak membuat orang mau menghindari musiknya, dikarenakan ke-khas-an miliknya yang dapat bercerita suatu isu dengan cara yang jenaka – membicarakan persoalan politik hingga sosial dengan kata-kata yang terkesan ‘ngasal’. Ditambah dengan penampilan panggungnya yang seringkali slengean namun tetap berkualitas, Jason Ranti menjadi salah satu musisi masa sekarang ini yang sulit untuk tidak dinikmati.

Rayssa Dynta
Berawal karir dari modelling tidak menghalangi Rayssa Dynta untuk membuktikan bakat lainnya yang tersimpan, “Something About Us” tersebar luas di berbagai platform digital. Meski lagunya berangkat dari bebunyian pop yang mudah dicerna secara umum, nyatanya kelebihan musik Rayssa berada di luar itu. Melainkan eksplorasi pop yang dihasilkan dari paduan bersama musik produsernya, Ario yang memiliki fokus pada musik elektronika, serta lirik-lirik gubahan Rayssa yang membicarakan perihal refleksi diri, menjadikan lagu-lagu Rayssa yang dikemas dalam satu EP, “Prolog” menjadi satu kreasi pop baru yang menarik dan relatable bagi publik.

Wake Up Iris!
Di antara maraknya kehadiran musisi folk di Indonesia, duo asal Kota Malang ini muncul di tengah-tengahnya dengan membawa jenis musik sejenis namun dengan nuansa yang lebih baru. Tidak hanya bermodalkan petikan gitar saja, tetapi duo beranggotakan Vania Marisca dan Bie Paksi ini juga menggabungkan jenis musik lainnya ke dalam gubahan lagu mereka. Ketika sedang menikmati album debut mereka yang berjudul “A U R O L E”, siapapun dapat mendengar notasi klasik, blues, sekaligus etnik di masing-masing track di dalamnya – menjadikan musik yang dihadirkan oleh Wake Up Iris! Lebih berwarna dengan folk inovatifnya.

Jogja Hip Hop Foundation (JHF) 
Hingga sampai saat ini, Jogja Hip Hop Foundation (JHF) dianggap sebagai salah satu kolektif hip hop paling penting di skena lokal, hingga region Asia Tenggara. Kolektif yang berawal dari perkumpulan para rapper dan pecinta musik hip hop di Yogyakarta ini dikenal dengan identitas musik hip hop mereka yang kental dengan budaya lokal yang mereka miliki. Kombinasi antara irama hip hop yang cenderung kontemporer dan kultur Jawa yang diperlihatkan melalui lirik-liriknya yang kerap mengkritik perihal ketidakadilan dalam politik, hingga notasi instrumen tradisional yang disisipkannya membuat kolektif satu ini berhasil menunjukkan bahwa proses akulturasi dalam bermusik masih bisa dilakukan secara tepat tanpa harus menggeser identitas milik sendiri.

Zat Kimia
Bicara mengenai musik alternative rock ala 90-an dan lirik berbahasa Indonesia yang tidak cheesy – bahkan beberapa mengandung sarkasme – bisa dikatakan menjadi kekuatan utama dari unit lokal satu ini. Adalah Zat Kimia, sebuah kuartet rock asal Pulau Dewata, Bali. Seperti halnya nama album pertama mereka yaitu “Candu Baru”, lagu-lagu Zat Kimia seakan dapat bereaksi layaknya candu bagi mereka yang memang menggemari jenis musik satu ini maupun yang baru saja mengenali. Melalui vokal milik Ian Stevenson yang memikat dan diiringi oleh musik rock berisikan hentakan gitar dan drum yang solid, serta twist ketukan yang unik dan berbeda di tiap lagunya, membuat lagu-lagu mereka terdengar ganas namun tidak berisik sama sekali. Pun penampilan live yang kerap kali apik di atas panggung. Zat Kimia menunjukkan bahwa jenis musik satu ini sebenarnya bisa saja dinikmati secara maksimal oleh khalayak umum.

Semiotika
Sebagai salah satu perwakilan dari kota asalnya, Semiotika seringkali disebut sebagai wajah baru dari Jambi. Di mana yang awalnya gaung musik Jambi kurang terdengar di telinga masyarakat lalu mulai naik perlahan-lahan. Hal ini tidak mengherankan jika melihat pembaruan musik yang menjadi nafas baru bagi industri musik di daerahnya sendiri hingga secara lokal. Melalui intensitas lagu-lagu instrumental post-rock yang ada di dalam album perdana yang bertajuk “Ruang”, Semiotika dapat menjadi pilihan unit baru dari area musik post rock ini, sekaligus membuka ruang bagi pelaku musik lainnya dari tempat yang sama untuk mulai muncul kembali ke permukaan.whiteboardjournal, logo