Belajar Fotografi Musik dengan Irockumentary

Ahead
11.07.18

Belajar Fotografi Musik dengan Irockumentary

Kami berbincang dengan salah satu pendiri Irockumentary untuk mengetahui apa saja yang harus diperhatikan dalam memotret sebuah penampilan musik

by Whiteboard Journal

 

Teks: Carla Thurmanita
Foto: Irockumentary

Jika bicara mengenai musik dan fotografi secara terpisah, keduanya merupakan entitas seni yang berbeda. Dan bila dilihat dari permukaannya saja, aspek dari fotografi seperti tidak memiliki hubungan dengan musik – begitu pula sebaliknya. Namun pada kenyataannya dua hal ini masih berkaitan erat satu dengan lainnya. Fotografi, sebagai seni menangkap gambar, turut berperan dalam proses perkembangan musik. Dikarenakan selain bekerja sebagai alat dokumentasi untuk merekam sejarah dan perjalanan musik dari masa ke masa, narasi yang diciptakan oleh hasil gambar suatu pertunjukan musik tertentu seringkali memberikan akses lebih kepada para penikmat musik untuk bisa lebih mengenal proses karya di balik sang musisi sendiri.

Adalah Irockumentary, sebuah kolektif fotografi musik lokal yang mana situs dan karya-karya mereka lainnya telah menjadi salah satu sumber utama dan referensi bagi dokumentasi musik di Indonesia. Kami berbincang dengan Agung Hartamurti, salah satu pendiri Irockumentary, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai apa saja yang harus diperhatikan dalam memotret sebuah penampilan musik. Berikut beberapa tips fotografi musik yang dapat kami ambil dari Irockumentary.

Sesuaikan gear kamera dengan kondisi venue
Agung sendiri mengatakan bahwa tidak ada batasan atau aturan khusus untuk jenis kamera bagi para fotografer musik. Kamera yang digunakan tergantung dengan preferensi dan kenyamanan dari masing-masing fotografer, tetapi memang terdapat perlengkapan kamera khusus yang harus dipersiapkan sedemikian rupa untuk bisa menyesuaikan diri dengan situasi tertentu. Misal dibutuhkannya lensa khusus pada saat harus memotret dari jarak jauh, yaitu lensa telephoto.

Perhatikan posisi ketika memotret
Selain karakter musisi, hal lain yang patut diperhatikan oleh fotografer musik adalah menguasai layout panggung dan venue. Ketika fotografer sudah bisa menelaah bentuk dan suasana panggung, juga perkiraan posisi di mana masing-masing personil band berdiri, baru fotografer dapat memutuskan sendiri yang menurutnya tepat untuk mengambil gambar sesuai dengan output foto yang diinginkan. Agung menambahkan bahwa dalam fotografi musik, memang “posisi menentukan prestasi”.

Kenali momen yang akan terjadi di atas panggung
Salah satu kesulitan dalam memotret pertunjukan musik adalah pergerakan musisi yang dinamis dan bagaimana fotografer tidak bisa mengetahui momen apa saja yang akan terjadi di atas panggung. Namun hal ini dapat diantisipasi dengan cara, salah satunya, dengan mengenali karakter dari musisi yang akan dipotret. Setiap musisi pasti memiliki klimaks tertentu di masing-masing lagu mereka, di mana biasanya pada klimaks tersebut akan terjadi momen-momen khusus baik dari ekspresi maupun gerakan yang muncul dari musisi. Maka dari itu sebelum memotret atau datang ke sebuah acara musik, Agung menyarankan untuk cari tahu lebih dulu mengenai karakter musisi dan karya yang mereka bawakan, juga melakukan research akan penampilan mereka di panggung-panggung yang lalu.

Memotret objek di luar penampilan di atas panggung
Umumnya ketika sedang melakukan fotografi musik, kebanyakan orang cenderung berfokus hanya pada apa yang sedang terjadi di atas panggung. Namun di luar kegiatan panggung itu tadi, masih banyak hal-hal yang bisa dijadikan perspektif seorang fotografer musik ketika sedang mengambil gambar, dari ekspresi penonton di sekitar hingga kegiatan musisi di belakang panggung. Hal ini dikarenakan mengingat adanya unsur kejutan di belakang objek-objek luar tersebut. Seperti salah satu hasil foto Agung yang sempat dijadikan cover untuk album “Sakit Generik” oleh penyanyinya sendiri, Harlan Boer, dan album pertama dari Morfem.

Menjaga kenyamanan penonton
Selain hal-hal teknis dalam pengambilan gambar, terdapat etika-etika lainnya yang harus diikuti dalam proses kegiatan fotografi musik. Salah satunya adalah untuk menjaga kenyamanan penonton. Pada sebagian kesempatan, fotografer musik bisa saja tidak mendapatkan akses untuk bisa mengambil gambar dari photographer pit yang terletak berhadapan langsung dengan panggung, sehingga tidak jarang dari mereka yang harus mengambil gambar dari antara tengah-tengah penonton. Ketika berada di dalam kondisi seperti ini, fotografer musik tetap harus berempati kepada penonton di sekitarnya. Di mana untuk mendapatkan kualitas gambar yang baik, aktivitas yang dilakukan oleh para fotografer di tengah-tengah berjalannya set musik jangan sampai malah membuat penonton merasa terganggu.

Dengan adanya tips-tips fotografi musik dari Irockumentary, bukan hanya fotografer profesional saja, tetapi siapapun juga dapat mencoba untuk terjun ke dalam jenis fotografi satu ini untuk bisa mengabadikan penampilan musisi yang digemari. whiteboardjournal, logo