Aksi Animasi bersama Tromarama

14.10.15

Aksi Animasi bersama Tromarama

Muhammad Hilmi (H) berbincang dengan Tromarama (T).

by Ken Jenie

 

H

Apa yang mendasari ketertarikan kolektif Tromarama terhadap teknik stop motion?

T

Awalnya tahun 2006 kita nyoba teknik stop-motion karena keterbatasan skill komputer (kita kurang piawai mengoperasikan software editing khususnya untuk motion graphic) dan keterbatasan alat. Akhirnya kita ngeliat teknik stop-motion ini relatif terjangkau dari segi produksi dan logika ilusi geraknya cukup sederhana.

H

Bagaimana Tromarama menyiasati ego-ego personal dalam berkarya?

T

Selalu ingat kalau yang kita lakukan ini adalah proses kerja kolektif. Dalam perjalanannya memang akan selalu ada perspektif lain yang kemungkinan besar kontra antara yang satu dengan yang lain. Tapi intinya adalah bagaimana kontra gagasan/perspektif itu mampu memperluas horizon kita dan menciptakan kesadaran-kesadaran baru dalam berkarya.

H

Salah satu yang paling menarik dari karya-karya Tromarama adalah pemilihan medium yang selalu selaras dengan nuansa video secara keseluruhan, bagaimana proses yang dilakukan oleh Tromarama dalam memilih medium?

T

Pemilihan medium selalu mengikuti gagasan berkaryanya. Dalam prosesnya juga banyak improvisasi yang dilakukan ketika eksekusi. Yang penting bagaimana pemilihan medium tersebut tidak keluar dari gagasan berkaryanya. Selama proses diskusi dan eksekusi karya, kita selalu berusaha mencari irisan dari tiga pandangan yang ada. Pembacaan masing-masing individu terhadap satu tema/ide karya selalu jadi fokus utama. Dan kita semua selalu berusaha fleksibel dalam setiap proses berkarya.

H

Berawal dari musik video, sekarang Tromarama mulai banyak terlibat di eksibisi seni, apakah memang dunia seni adalah tujuan dari kolektif Tromarama ini?

T

Tromarama terbentuk ketika kita mengikuti workshop video after school #1 yang diadakan oleh rumah produksi Cerahati di Bandung. Dari workshop itu kita membuat video musik judulnya Serigala Militia dari band Seringai. Idenya bikin video animasi dari teknik cukil kayu. Dari karya video pertama itulah awalnya kita di undang pameran seni rupa. Akhirnya sampai sekarang kita lebih fokus berkarya seni sebagai kolektif.

H

Apakah ada perbedaan pada proses penemuan ide dan pengerjaan antara video musik/proyek komersil dengan karya video seni?

T

Selama ini band yang kerja bareng kita selalu memberikan kebebasan ke kita mau bikin video musik seperti apa. Perbedaannya ketika menggarap video musik, materi seperti lirik, ritme, nada dan lagu itu sendiri selalu menjadi pertimbangan ketika mengolah ide lalu mengeksekusi visualnya. Sedangkan ketika kita mengerjakan karya personal, semuanya dari nol dan titik berangkatnya dari fenomena-fenomena yang ada di sekitar kita.

H

Belakangan, berbagai macam artefak dari proses pengerjaan video Tromarama menjadi bagian tersendiri pada display karya, apakah ada misi khusus dari ditampilkannya step-by-step dibalik karya ini?

T

Di periode awal kita berkarya, kesadaran menampilkan artefak dari video ini dilakukan karena kita ingin menghadirkan pengalaman ruang secara fisik. Artefak ini memberikan pengalaman ruang dan menonton yang berbeda dengan pengalaman ruang maya yang dihasilkan oleh video proyektor atau televisi.

Di periode selanjutnya artefak dari video berdiri sebagai sebuah teks baru. Artefak bukan hanya menghadirkan teks sebagai ruang fisik tetapi teks dari ide karya itu sendiri yang tidak bisa dihadirkan lewat video. Sifatnya lebih komplementer antara posisi artefak dan video dalam karya.

H

Bagaimana melihat perkembangan seni video di Indonesia? Terutama tentang dunia animasi lokal?

T

Dengan adanya festival OK Video yang diadakan secara reguler oleh ruangrupa menurut kita ikut mendorong berkembangnya seni video di Indonesia. Karena festival ini membuka kesempatan bagi setiap orang untuk mempresentasikan karyanya sekaligus bertukar gagasan dengan seniman lain yang punya fokus dengan medium video. Meskipun belakangan parameter festivalnya diperluas menjadi festival seni media. Kalau animasi lokal berkembang pesat tapi dalam ranah industri. Kalau animasi sebagai medium seni, rasanya baru sedikit seniman yang mengolah.

H

Teknik stop motion sendiri sebenarnya bisa dikembangkan menjadi medium berkarya yang bisa digunakan oleh khalayak umum, bagaimana pendapat kalian mengenai hal ini? Dan apakah karya Tromarama di Melbourne adalah usaha untuk membawa stop motion ke ranah publik?

T

Teknik stop-motion sebenarnya adalah salah satu teknik animasi klasik yang memiliki sejarah yang panjang. Di dunia seni rupa internasional sudah banyak seniman yang menggunakan medium ini sebagai medium berkarya. Untuk khalayak umum sudah jelas sangat mudah untuk mengaplikasikan teknik animasi ini. Ditambah sekarang sudah banyak apps untuk smart phone dan tablet yang menyediakan aplikasinya. Sekarang tinggal bagaimana kesadaran dari kreatornya ketika memilih teknik atau medium tertentu dalam berkarya.

Pameran OPEN HOUSE di NGV, Melbourne dibuat untuk memberi pengalaman kepada publik tentang kekaryaan Tromarama. Ruang galeri kita rubah menjadi sebuah rumah dimana setiap ruangannya mempresentasikan karya video Tromarama. “Rumah” ini akan membawa penonton masuk ke dalam dunia Tromarama. Bagaimana kita memaknai keseharian lewat karya-karya kita. Sebagai bagian dari membagi pengamalan berkarya Tromarama, di salah satu ruangan pengunjung bisa mempraktekkan teknik stop-motion dengan mengembangkan narasinya sendiri.

H

Apakah Tromarama akan terus mengeksplor teknik animasi stop motion? Ataukah ada teknik lain yang ingin dicoba?

T

Sejauh ini kita masih mau eksplor teknik animasi. Untuk sekarang yang mau kita ulik lebih jauh adalah mengeksekusi karya dengan menginterpretasi ulang logika stop-motion. Selama ini yang kita lakukan adalah memindahkan objek dari titik A ke titik B. Terciptalah ilusi gerak dalam satu dimensi yang sama. Bagaimana kalau logika sederhana ini kita terjemahkan ke dalam konteks ruang dan waktu yang berbeda.

H

Apa proyek ke depan dari Tromarama?

T

Saat ini kita sedang menyiapkan karya untuk pameran grup di Frankfurt, Jakarta Biennale 2015 dan pameran tunggal di Hong Kong bulan Desember nanti.whiteboardjournal, logo