Bam Mastro Berbagi Cerita Di Balik Proses Berkarya

Ahead
30.07.18

Bam Mastro Berbagi Cerita Di Balik Proses Berkarya

Kami berbincang dengan Bam untuk membahas tentang proses kreatifnya saat berkarya, komentarnya tentang variasi musik di Indonesia hingga peran sample pada sebuah karya.

by Amelia Vindy

 

Foto: Pophariini

Melalui Elephant Kind dan proyek solonya, Bam Mastro tidak hanya sekedar membuat musik, namun juga menjadikannya sebagai sebuah ruang untuk berbagi cerita mengenai perjalanan hidupnya. Hal tersebut sangat terlihat contohnya lewat mini album teranyarnya berjudul “I’m An Albino Polar Bear Living In Captivity and I Know Aliens Don’t Exist” yang banyak mengangkat tentang kegelisahan dan perasaannya terhadap berbagai macam hal. Kami berkesempatan untuk berbincang dengan Bam untuk membahas tentang proses kreatifnya saat berkarya, komentarnya tentang variasi musik di Indonesia hingga peran sample pada sebuah karya.

Seperti apa proses kreatif yang Anda lewati ketika berkarya, baik proyek solo maupun Elephant Kind?

Saya; entah bagaimana, menemukan cara untuk membuat musik lebih efisien. Saya sudah memproduksi musik selama 16 tahun, dan saya menjadi lebih baik setiap hari nya. Saya senang membuat musik. Saya bangun setiap hari memikirkan tentang musik yang ingin saya buat. Selebihnya, proses kreatif datang secara alami.

Anda banyak menuliskan lagu yang terinspirasi dari perjalanan dan pengalaman hidup pribadi. Apakah menurut Anda dengan begitu, pendengar dapat merasa relatable dengan perjalanan Anda?
My stories are real and more than an artist, I’m a real person. Orang-orang yang mendengarkan musik saya juga orang-orang real. Hal itu beresonansi.

Anda menggilai musikalitas Kanye West dalam berkarya dan ia merupakan salah satu artis yang mampu menyelipkan sample lagu lama serta mengolahnya jadi cathy. Menurut Anda, apakah teknik sampling menjadi esensial dalam produksi lagu?

Sampling sudah ada selama berpuluhan tahun, walau sangat langka di Indonesia. Saya tidak yakin pernah mendengar musisi Indonesia yang sukses untuk menggunakan sample musisi lain. Sampling memang bukan budayanya di sini, atau mungkin belum. Saya harap lebih banyak orang yang melakukan hal itu di masa depan. Yang saya lakukan di lagu “Hilang” itu institusional.

Pada penggarapan proyek solo, Anda turut menggunakan sample, yakni Black Brothers untuk lagu “Hilang”. Bagaimana Anda menentukan lagu yang pas untuk di-sample?

Semua lagu bisa di sample dan pas untuk di sample. Semua kembali ke kreativitas dan taste level artisnya.

Setelah sekian tahun berkarya, bagaimana Anda melihat variasi musik yang ada di industri maupun skena lokal? Apakah progresif?

Menurut saya keberadaan saya di skena lokal sangat penting. Saya adalah salah satu contoh free Indonesian artist. Berhentilah menggunakan kata ‘komersil’, berhentilah membuat musik untuk diputar. Setidaknya 95% musik yang dimainkan di radio dan TV mainstream itu bukan musik yang paling bagus di luar sana. Biasanya hal tersebut ada di internet. Saya sudah melihat lebih banyak band yang membuat musik yang memang mereka suka, itu hal yang baik. Kita sudah berkembang, tetapi masih banyak yang harus dikembangkan. Sangat banyak.

Proyek apa yang sedang Anda persiapkan?

Album kedua Elephant Kind dan 2 proyek mendatang. Exciting stuffs.whiteboardjournal, logo