Berkenalan Dengan Dua Emerging Artist yang Mencuri Perhatian Logic Lost dan toRa

Ideas
31.08.18

Berkenalan Dengan Dua Emerging Artist yang Mencuri Perhatian Logic Lost dan toRa

Wajah perwakilan seperti apa kualitas juga perkembangan industri musik di Indonesia hari ini.

by Amelia Vindy

 

Foto: Logic Lost

Melihat semangat juga geliat para pelaku di scene musik hip hop dan elektronik yang semakin mewabah serta turut mendorong lahirnya ragam talenta baru dengan karya menarik, tidak heran apabila banyak yang berlomba untuk menjadi bagian dari regenerasi yang diakui hari ini. Meskipun terdengar seperti menghadirkan sebuah persaingan, namun hal tersebut justru menjadi bagian penting dalam menghadirkan karya-karya segar di tengah maraknya bermunculan nama-nama emerging artist baru saat ini, contohnya seperti Logic Lost dan toRa.

Logic Lost adalah sebuah proyek elektronik milik Dylan Amirio yang namanya sudah tidak asing lagi dan tengah aktif sejak tahun 2012. Selama perjalanan bermusiknya, bersama Logic Lost, Dylan telah merilis beberapa mini album juga 2 album penuh yakni “Runaway” (2015) dan “Forgive Yourself” (2018). Menariknya, Dylan nampak paham bagaimana caranya untuk menghadirkan opsi alternatif di scene musik elektronik lewat permainan musik ambient, yang selalu berhasil meninggalkan emosi-emosi tertentu di telinga, juga hati para pendengarnya. Secara tidak langsung, Dylan pun terlihat menjadikan Logic Lost sebagai salah satu bentuk eskapismenya terhadap perasaan-perasaan personalnya yang terpendam.

Sedangkan Macan Wigit alias toRa merupakan salah satu emerging artist di scene hip hop lokal yang mulai mencuri perhatian sejak merilis lagu “Empat Dinihari” di awal tahun 2016. Meskipun ada banyak nama-nama pelaku atau kolektif identik yang telah terlebih dahulu menghiasi scene musik hip hop lokal hari ini, seperti Onar, Underground Bizniz Club atau Preach Jakarta, namun melalui karya-karyanya, secara individu toRa bisa menjadi salah satu nama yang patut diperhitungkan.

Lewat sample, lirik dan beat-beat pilihan yang ia sertakan pada karyanya, tidak jarang toRa menghadirkan perasaan nostalgic dengan era klasik hip hop di tahun 90-an, contohnya seperti yang diperdengarkan pada karya teranyarnya “Ani” dan “Feel My Love”. Dua lagu tersebut mampu menjadi bukti progresi dari perjalanan bermusik toRa yang kurang lebihnya dapat memperlihatkan bahwa musik hip hop Indonesia tidak hanya menjadi tren semata, namun akan terus ada dan beregenerasi, baik dari karakter sound hingga pelakunya itu sendiri.

Tidak berhenti sampai di situ, dengan opsi alternatif yang coba dihadirkan melalui karya-karyanya, Logic Lost dan toRa kali ini berkesempatan untuk memperdengarkan musik mereka ke pasar yang lebih luas lewat penampilan perdananya di Soundrenaline 2018. Keterlibatan Logic Lost dan toRa pada festival yang menjadi rumah bagi talenta terbaik di Indonesia ini merupakan hasil dari kemenangan mereka dalam mengikuti kompetisi Go Ahead Challenge “Musik Gues Ekspresi Gue”. Tentunya kehadiran mereka di ajang musik tersebut menjadi salah satu penampilan yang perlu diantisipasi karena tidak hanya akan memperdengarkan karyanya saja namun juga menjadi wajah perwakilan seperti apa kualitas juga perkembangan industri musik di Indonesia hari ini.whiteboardjournal, logo