Mengenal Ferry Dermawan, Sosok Di Balik Proyek Djakarta Artmosphere

Ahead
22.08.18

Mengenal Ferry Dermawan, Sosok Di Balik Proyek Djakarta Artmosphere

Kami berbincang dengan sosok di balik kesuksesan Djakarta Artmosphere untuk menceritakan masa kejayaan dan visi misinya saat membuat festival tersebut.

by Amelia Vindy

 

Foto: Ferry Dermawan

Berangkat dari ketertarikan di dunia musik, bersama G Production, Ferry Dermawan tidak hanya menyalurkan hobinya namun juga mencoba peruntungan untuk menghadirkan sesuatu yang dapat menghasilkan lewat ketertarikannya tersebut. Sempat populer di tahun 2009, selama 4 tahun, Djakarta Artmosphere hadir sebagai opsi alternatif bagi para pecinta musik Tanah Air. Tidak hanya menghadirkan sajian spesial berupa kolaborasi lintas usia, namun Djakarta Artmosphere juga menjadi saksi kejayaan industri musik lokal saat itu. Kali ini kami berkesempatan untuk berbincang dengan Ferry selaku sosok di balik kesuksesan Djakarta Artmosphere untuk menceritakan masa kejayaan dan visi misinya saat membuat festival tersebut.

Anda sempat berkecimpung di dunia bisnis musik dan menginisiasi sebuah festival bertajuk Djakarta Artmosphere. Seperti apakah pengalaman yang Anda dapatkan dari bisnis tersebut?

Singkat cerita, saat itu sedang eranya dimana banyak rilisan album keren dengan karakter yang beragam dan kebetulan sedang aktif semua. Contoh Tika & the Dissidents, Efek Rumah Kaca, wsatcc, dll. Selain itu, saya pun punya ketertarikan terhadap musik Indonesia lama. Waktu itu momennya juga pas untuk mengisi kekosongan konser tematik/spesial yang belum mewakili ketertarikan pribadi. Butuh 1 hingga 2 tahun sebelum akhirnya, Djakarta Artmosphere seri pertama hadir di akhir tahun 2009. Saat itu pengalamannya seru dan menyenangkan, dari segi bisnis juga selalu aman, walau kurang sehat juga karena semua biaya produksi harus ditanggung oleh sponsor.

Kolaborasi menjadi fokus utama diadakannya Djakarta Artmosphere. Sebagai inisiator, kala itu, apa yang membuat Anda tertarik untuk menjadikan hal tersebut sebagai nilai jual dari gelaran itu?

Musik seharusnya bisa membuka pandangan-pandangan baru, saya masih ingat sekali waktu itu bagaimana antusias atau pandangan dari musisi ‘sekarang’ kalau menceritakan musisi senior Indonesia, juga sebaliknya bagaimana musisi senior memandang musisi-musisi hari ini yang tentu beda sekali dengan era beliau-beliau dengan banyak faktor-faktor penilainya. Saat itu, seperti ada gap yang mungkin kami pikir kalau mereka bertemu, justru bisa menghasilkan gagasan-gagasan baru (paling tidak membuka wacana baru) yang menarik. Paling tidak, menarik buat saya sendiri.

Beberapa yang secara frekuensi senada, ternyata bermula dari pertemuan untuk kebutuhan pertunjukan bisa berlanjut jadi buat karya bersama. Contoh seperti album Pure Saturday dengan Yockie Suryoprayogo, juga WSATCC dengan Fariz RM & Oele Pattiselano, dan beberapa lainnya. Usai Djakarta Artmosphere sempat saya lihat satu panggung bareng lagi untuk acara lain, seru melihatnya.

Berbekal pengalaman Anda di dunia bisnis musik, sekarang ini sudah banyak sekali bermunculan festival musik, baik berskala kecil maupun besar, bagaimana Anda melihat progresinya, apakah stagnan atau justru semakin segar?

Banyak gagasan-gagasan menarik malah biasanya ditemukan dari pertunjukan-pertunjukan kecil, dan sayangnya kita masih sangat kekurangan festival musik.

Anda merupakan salah satu kurator untuk Soundrenaline tahun ini. Terkait hal itu, nilai-nilai apa saja yang menjadi pertimbangan Anda saat menentukan unit musik yang terlibat pada perhelatan ini?

Di Soundrenaline 2018 ini saya kerja kolektif dengan banyak orang dari berbagai latar belakang yang kompeten. Ada banyak sekali faktor penilaian untuk pemilihan band, apakah akan memuaskan semua orang? Mustahil. Tapi yang kita lakukan adalah berusaha untuk menyerap gagasan-gagasan bermusik yang menarik dari banyak kota di Indonesia, dan menjadikan Soundrenaline menjadi sebuah tontonan yang menarik juga. Semoga saja membuat optimis.

Apakah ada rencana menggelar festival lagi?

Ada. whiteboardjournal, logo