/ 2
Exclusive Stream: Rekah – Belajar Tenggelam
03/17/17 · 21,669 Views · Muhammad Hilmi

Dalam sebuah kesempatan, dimana Rekah menjadi salah satu pembuka bagi musisi eksperimental senior asal Jepang Kazuhisa Uchihasi, Kazu menyampaikan pujian bagi drummer dari Rekah yang dianggapnya memiliki permainan yang menarik. Mungkin itu adalah salah satu alasan bagaimana Rekah yang masih seumur jagung langsung menjadi nama yang diperhatikan di skena musik lokal. Mencampurkan berbagai gaya dalam musiknya, Rekah yang berisikan Tomo, Marvin, Faiz, Junior, dan Yohan sebelumnya telah merilis “Untuk Seorang Gadis yang Selalu Memakai Malam” untuk menunjukkan kualitasnya. Kabarnya mereka sedang mempersiapkan album pendek yang akan dirilis pertengahan tahun. Whiteboard Journal kali ini berkesempatan untuk menyajikan salah satu single dari rilisan yang akan mereka namai “Berbagi Kamar” tersebut. Dengarkan “Belajar Tenggelam” berikut:

Sembari mendengarkan, berikut adalah interview kami bersama Tomo Hartono, gitaris/vokalis sekaligus penulis lirik dari Rekah. Tentang campuran musik post-hardcore revival yang mulai usang, Chairil Anwar dan masalah di skena hardcore/metal.

Ada percampuran beberapa gaya dalam musik Rekah, bagaimana karakter ini timbul dan darimana saja influence tersebut datang?

Percampuran berbagai macam gaya ini kami rasa muncul secara natural saja karena masing-masing dari kami mendengarkan musik yang berbeda-beda dari post-hardcore 90s, black metal kaskadian, shoegaze, math-rock, sampai hiphop. Kami sama sekali tak membatasi referensi ketika menulis lagu. Kami memang sengaja membiarkan akumulasi dari semua yang kami dengarkan menyatu dalam aransemen yang kami tulis. Apapun akan kami baurkan selama gaya tersebut selaras dengan narasi yang kami tulis dalam lirik-lirik kami.

Secara lirik, rekah bernyanyi dalam Bahasa Indonesia dengan pengaruh sastrawi yang kuat, di saat banyak band terkini mengaku kesulitan dalam menciptakan lagu berbahasa Indonesia, apa yang ingin coba disampaikan dengan gaya yang demikian?

Jujur saja: saya tak pernah berpikir bahwa Rekah adalah grup yang akan selalu menulis dalam Bahasa Indonesia. Kebetulan saja saat ini Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling nyaman saya gunakan saat ini. Tidak ada proses khusus dalam proses penulisan. Rasanya saya tak punya kepercayaan diri atau pemahaman teknik yang cukup untuk menyebut apa yang saya tulis sebagai sastra. Buat saya menulis lirik untuk Rekah itu sesederhana berdarah di atas kibor—mengalir begitu saja.

Walau begitu, tak bisa dipungkiri bahwa saya dibesarkan oleh buku – dan mungkin suatu hari akan ditemukan mati di tengah buku-buku juga. Pendekatan saya dalam menulis lagu adalah bercerita. Saya tak peduli pada konvensi verse-chorus-verse-chorus. Saya hanya memikirkan bagaimana musik yang saya tulis dapat mengalir dan menggerakkan plot. Mungkin di bagian ini saya banyak berhutang budi pada sastra dan film, tentunya.

Siapa penulis lokal yang mempengaruhi musik dan lirik Rekah?

Bila menyimak beberapa nukilan lirik yang pernah kami unggah beberapa kali di jejaring sosial nampaknya saya akan berdosa bila tidak menyebut Chairil Anwar. Beliau adalah yang pertama berjasa memperkenalkan saya pada puisi di kala SMP. Kalau saya tak pernah membaca “Aku” dan “Pemberian Tahu” mungkin saya hanya akan tetap menganggap bahwa puisi harus selalu indah dan picisan. Menurut saya, sajak-sajak Bung Chairil tak akan canggung apabila dibacakan dengan lantang di panggung-panggung hardcore punk sekalipun.

Penulis kedua yang menurut saya lumayan banyak meresap pada tulisan saya adalah Subagio Sastrowardoyo. Rasanya sajak-sajak beliau lumayan mewakili kegetiran yang saya rasakan di usia pertengahan 20 ini. Saya punya ambisi pribadi untuk menginterpretasikan ulang salah satu karya beliau, “Juga Waktu” ke dalam medium musik suatu hari nanti. Sayang sekali buku-bukunya sulit sekali ditemukan saat ini.

Skena hardcore/metal adalah salah satu bentuk ekosistem yang paling hidup di sini, sejak dahulu hingga sekarang, sebagai pendatang baru, bagaimana kalian melihat dan memposisikan diri di skena musik yang demikian?

Sebagai seorang bocah yang dibesarkan oleh acara-acara metal di Bulungan, Blok M Jakarta Selatan, saya merasa bahwa skena hardcore/punk sebagai skena yang paling menyenangkan di Indonesia. Ada camaraderie dan comradeship yang rasanya tak akan saya temukan di acara musik pada umumnya.

Tentu skena ini juga bukan tanpa masalah. Seksisme, homofobia, serta eksklusivisme masih menghantui, baik di gig maupun forum-forum internet. Sebagai sebuah subkultur yang bangga dengan identitasnya sebagai counterculture, saya rasa fenomena ini lumayan ironis. Sebagai seseorang yang tak terlalu berminat dengan machismo dan slogan-slogan politik dengan narasi besar, saya merasa lirik musik keras kadang takut untuk membicarakan hal yang sebenarnya sangat politis: perasaan. Padahal untuk saya pribadi, politik adalah perihal empati dan perasaan dalam kehidupan sehari-hari—perihal afinitas. Saya memprediksi akan ada yang komentar bahwa musik seharusnya apolitis. Saya sama sekali tidak percaya bahwa musik bisa apolitis. Sebagai sebuah produk kebudayaan, musik tidak akan pernah bisa lepas dari konteks sosiopolitis yang membentuk baik sang pemusik maupun musik itu sendiri. Dengan atau tanpa mereka sadari, seni yang mereka buat bisa membantu melanggengkan atau justru meruntuhkan kekuasaan. Tanggung jawab itu ada, mau kita peduli atau pun abai.

Nah, musik agresif macam hardcore punk atau metal identik dengan lirik-lirik sloganeering buat menggiring kerumunan menuju sebuah entitas tunggal bernama mosh pit. Rekah tidak berminat menulis musik seperti itu. Buat kita, lirik seperti itu udah jadi standar industrinya musik-musik seperti ini. Kita lebih tertarik menulis tentang hal-hal yang lebih personal. Mengutip Carol Hanisch, “the personal is political”. Revolusi hanya akan menjadi keniscayaan kalau hanya membicarakan narasi-narasi besar dan langitan. Bawa cerita kalian ke dalam hal-hal pribadi dan keseharian, baru deh kita ngobrol.

Untuk penulisan lagu, kita lebih banyak terinspirasi dari manusia dengan segala cerita dan kompleksitasnya. Soalnya sebenernya, manusia itu menarik—tidak hanya terdiri dari dua dimensi: baik atau buruk. Selalu ada cerita kenapa mereka melakukan sesuatu. Bahkan mungkin pelacur-pelacur dan ojek yang setia nemenin mereka ketika mangkal di belakang Blok M pun punya cerita yang bisa kita tulis kalau kita mau melihat lebih dekat.

Menelaah motif-motif yang menggerakkan seseorang lewat cerita-cerita mereka menurut kita adalah langkah penting yang seringkali lupa dijalani orang-orang sebelum membicarakan hal-hal besar. Maka dari itu, kita memulai dari cerita-cerita seperti ini; cerita orang-orang yang dilupakan; cerita orang-orang yang menderita sendirian di malam hari; cerita orang-orang yang pergulatannya tidak pernah terliput televisi; cerita penderitaan orang-orang yang tak akan pernah didongengkan ibu-ibu kalian karena mereka terlalu kotor, terlalu nista.

Scene musik lokal telah jauh berkembang dengan semakin banyak band berkualitas yang muncul, sehingga agak sulit untuk membayangkan bahwa akan ada nama-nama besar yang muncul setelah White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca dan Seringai, bagaimana kalian melihat perkembangan yang demikian?

Nama besar mereka bukan muncul secara instan. Walaupun ada privilese sebagai pionir, namun mereka banyak berjasa membuka kemungkinan bahwa kalian tidak harus menulis apa yang industri mau untuk bisa bertahan hidup. Nama besar adalah hadiah dari keberanian menantang status quo industri saat itu dan kami tak melihat ada perlunya menggantikan nama-nama besar tersebut sebagai pelaku sejarah yang perlu diingat.

Menurut kami, nama-nama besar yang layak diingat berikutnya adalah mereka yang berani menantang batas-batas konvensi genre dan merayakan eksperimentasi dalam penulisan musik. Di era di mana akses internet sudah sangat mudah seperti sekarang, para pelaku di dalam jagad permusikan ini mempunyai tanggung jawab lebih untuk lebih dari sekedar menduplikasi wujud-wujud musik yang sudah ada—seperti apa yang Ornette Coleman lakukan terhadap jazz.

Bagaimana akhirnya rekah memutuskan untuk bekerja sama dengan Royal Yawns untuk rilisan ini?

Sebenarnya tidak ada kisah dramatis yang melatarbelakangi hal ini. Kami adalah grup baru yang tak memiliki banyak koneksi di kancah musik Indonesia. Oleh karena itu, kami melakukan hal yang layaknya dilakukan grup-grup baru lainnya: mengirimkan email berisikan demo lagu dan perkenalan ke beberapa label yang menurut kami selaras dengan musik yang kami mainkan. Setelah beberapa kali berbalas surel dan sedikit bertukar referensi film, akhirnya kami pun memutuskan untuk bekerja sama dengan Royal Yawns.

Salah satu masalah di skena hardcore/metal adalah attitude anti-sellout yang tak jarang membuat sebuah band tak berkembang, bagaimana kalian melihat perspektif yang demikian?

Kami tak melihat korelasi antara sellout dengan perkembangan sebuah band. Sellout adalah perihal strategi dalam akumulasi modal, sedangkan perkembangan sebuah band adalah perihal bagaimana menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru dalam menulis musik. Apabila kalian merasa musik kalian susah dijual maka yang perlu kalian simak adalah buku-buku pemasaran. Revolusi saja bisa dijual, kenapa tidak dengan musik kan?

Sikap kami mengenai hal ini sederhana saja: kami akan memikirkan semua kemungkinan yang dapat membantu kami terus menulis musik tanpa mengkompromikan kebebasan kami dan orang-orang di sekitar kami sebagai manusia, termasuk di dalamnya kebebasan dalam eksplorasi dan eksperimentasi menulis musik.

Sebagai salah satu bagian dari post-hardcore revival, bagaimana rekah melihat tren tersebut berkembang?

Rasanya malah trennya sudah mulai mati dilibas waktu ya? Kebanyakan hanya merilis 1-2 rilisan sebelum redup. Sedari awal kami tak begitu tertarik dengan istilah “revival”. Kami melihat bahwa semua yang masih bertahan rata-rata adalah mereka yang berusaha mengembangkan gaya yang menginspirasi mereka ke dalam bentuk baru. Mereka yang hanya bertujuan menghidupkan kembali gaya ini sepertinya banyak yang sudah move on ke proyek dengan gaya musik yang berbeda. Bukan hal yang buruk, tentu saja.

Ceritakan mengenai materi yang akan kalian rilis nanti.

Kalau ada salah seorang di antara kalian yang mengikuti salah satu akun jejaring sosial kita pasti sudah pernah memergoki kami beberapa kali memampang judul rilisan yang sedang kami kerjakan ini. Iya, kami memang tak pernah pandai menyimpan rahasia. Mini-album berdurasi sekitar 30 menit ini akan kami rilis dengan judul “Berbagi Kamar.” Plotnya cukup sederhana: pertemuan, perpisahan, dan hal-hal di antaranya. Namun, di dalamnya kami banyak memasukkan diskursus tentang bagaimana berdamai dengan absurditas. Selain itu, kami juga banyak bercerita tentang gangguan mental—suatu hal yang kerap dirayakan sebagai sesuatu yang keren oleh mereka yang gemar terlalu banyak posting kutipan tanpa konteks di jejaring sosial. Tidak, gangguan mental yang kami potret dalam mini-album ini adalah sesuatu yang perih, menyakitkan, dan akan membuat berjengit. Tidak ada yang keren dalam penderitaan yang disebabkan oleh gangguan mental.

Dari segi aransemen, mungkin akan agak mengernyitkan dahi karena kami banyak melakukan eksperimentasi terhadap struktur dan tekstur. Kami tidak tahu apakah ini hal yang baik atau buruk tapi kami bisa bilang bahwa kami sedang mencoba untuk memainkan musik yang sulit dirangkum dalam sebuah penjara genre. Eksperimentasi selalu mengerikan tapi sejauh dari apa yang sudah kami dengar sih hasilnya cukup menarik.

Siapa band yang Rekah rekomendasikan untuk didengar?

Pertanyaan yang super sulit karena menurut kami musik Indonesia sedang memasuki era yang menyenangkan. Banyak grup baru dengan musik yang segar bermunculan. Di kancah punk rock ada TaRRkam dengan nuansa post-punk Jepang 80s yang mencengangkan. Di metal ada Vallendusk, supergroup black metal dengan produktivitas yang mencengangkan. Di skena pop ada Moonbeams, yang menurut selentingan tongkrongan akan segera merilis sesuatu setelah sekian lama mati suri. Hiphop altenatif lokal pun akhirnya berhasil keluar dari bayang-bayang Homicide dengan mulai tereksposnya talenta-talenta seperti Joe Millions, Senartogok, Yosugi, serta Matter.

Sosial Media Rekah
Tags: Music
Related Articles
view all
Little Shop of Horrors Footurama
01/16/17 · 32,019 Views
Karen Dalton – 1966
01/31/13 · 29,297 Views
Kreasi Melayang di Tanah Lombok
08/09/17 · 14,120 Views
Emansipasi Visual Perempuan
04/17/17 · 17,851 Views
Self Explanatory
11/21/17 · 23,051 Views
Chomeur
09/21/17 · 12,113 Views
Subscribe to Our Newsletter