Boogarins: Psych-rock ala Brazil

26.07.17

Boogarins: Psych-rock ala Brazil

by Febrina Anindita

 

Teks: Muhammad Faisal
Foto:Bandcamp

Bagaimana jadinya apabila komposisi psychedelic dimainkan oleh sekelompok pemuda yang menolak tunduk pada takdir memainkan bola sepak di negara terbesar Amerika Selatan? Satu kata yang mampu menggambarkannya; menggairahkan.

Secara pondasi, psychedelic sendiri sudah menyediakan tingkat adiksi luar biasa tatkala telinga perlahan mendengarkannya. Lantas, lewat tangan keempat pemuda yang menamakan dirinya sebagai Boogarins ini, psychedelic dipoles dengan aroma tropis khas Samba. Sensual sekaligus memberi efek tak terkira.

Boogarins pertama kali dikenal saat meramaikan Big Ears Festival di Knoxville, Tennessee. Publik langsung dibuat terpana oleh kemampuan mereka meramu musik yang langka dan penyampaian bahasa di luar kewajaran (Boogarins menggunakan bahasa Portugis di setiap lagunya).

Hingga tiba masanya, euforia penggemarnya tetap terjaga dengan kabar rilisnya album mereka yang berjudul La Vem a Morte pada 9 Juni lalu. Corak musik mereka tetap berada di bawah orbit keaslian. Meski sempat membuat lagu berbahasa universal melalui “A Pattern Repeated On,” namun Boogarins kembali berpijar di akar rumput nenek moyang; Portugis.

Walaupun demikian, keputusan Boogarins untuk bernyanyi dalam bahasa ibu bukan tanpa sebab. Boogarins ingin menegaskan bahwasanya di dalam semesta yang luas kita terkadang dihadapkan pada realita membingungkan. Termasuk ketika harapan tak jadi kenyataan. Oleh karena itu, lewat lagu-lagunya Boogarins mengajak kita untuk melihat cakrawala dalam perspektif luas seraya berkata; dunia tak sesempit itu.whiteboardjournal, logo

Tags