In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
Dalam submisi Open Column ini, Samantha Dewi Gayatri mengungkap warisan dan logika penindas dan penjajah yang hidup dalam praktik cancelling - dalam konteks diskursus publik yang bersifat ideologis, latar belakang keluarga, atau kekeliruan perilaku personal - yang seperti menutup pintu akan tuntutan kita terhadap pertanggungjawaban orang lain.
In this Open Column submission, Teuku Reza Fadeli writes about witnessing Nusantara Beat, the Amsterdam-based six-piece psychedelic rock and vintage Indo-pop outfit, playing live in Utrecht, which prompted him to write home about the stories and diaspora memories brought to life by the band.
In this Open Column submission, Nadine Sherani clears up the ever-murky proposed solutions of ‘peace’ of those complicit in the complete opposite of said phrase adorned by the Board of Peace, and how Indonesia may be even further from aiding the liberation of Palestine.
In this Open Column submission, Allestisan Citra Derosa brews coffee to show how it can weave together its Aceh and Sumatra origins, science, memory, and landscape that exists in our lived soil (that is often reduced to just ‘dirt’), while also bringing forward the nuances in solutions addressing ecological collapse.
Dalam submisi Open Column ini, Claudia Destianira mengingatkan kembali bagaimana dalih pembangunan kembali yang dijargonkan oleh Dewan "Perdamaian" Dunia tidak menjamin akan selaras dengan kebutuhan dan kehendak orang Palestina, mengingat rekonstruksi tersebut melalaikan warga Palestina.
Dalam submisi Open Column ini, Cinta Marezi memperlihatkan bagaimana ada satu driving force dalam ekonomi dan industri ekstraktif yang, selain merusak ekologi, juga mempersempit ruang hidup perempuan: logika ketidakadilan gender yang berlandaskan patriarki dalam model tersebut.