Insya Allah

Column
22.12.16

Insya Allah

Arti dan Pemakaian Sebuah Frase.

by Ken Jenie

 

“Eh, eh ini kan rapatnya udah ditentuin dari minggu kemarin. Coba sekarang pada konfirmasi dong siapa aja yang bisa hadir besok?”

“Gue Insya Allah ya tapi belum tahu juga sih..”

“Udah dikasih tahu sama Nathan dia mau traktir kita makan-makan? Jadinya gimana lo bisa dateng apa enggak?”

“Insya Allah deh gue gimana nanti ya..”

Percakapan di atas mungkin seringkali kita temui di kegiatan sehari-hari. Seharusnya ketika mendengar kata “Insya Allah” kita senang atau bahkan lega, tapi entah kenapa saya merasa tidak suka, dan terkadang agak jengkel hari ini jika mendengar kata “Insya Allah”. Mari kita pahami dulu mengutip dari Wikipedia; In Sya’ Allah (إن شاء الله In šyāʾ Allāh) adalah ucapan seseorang dalam bahasa Arab memiliki arti “Jika Allah mengizinkan” atau “Kehendak Allah”. Istilah ini digunakan untuk menyertai pernyataan akan berbuat sesuatu pada masa yang akan datang. Pada negara-negara yang menggunakan Bahasa Arab, istilah ini digunakan oleh semua umat yang beragama, yang berarti istilah ini tidak menunjukkan sifat suatu agama tertentu, namun hanya memiliki arti “Jika Allah mengizinkan”.

Dalam teori Agama Islam ungkapan in sya’a Allah mengandung nilai keimanan yang sangat besar. Yaitu sebuah pengakuan bahwa pengetahuan dan kemampuan kita sangat terbatas. Kita tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Tahun depan, bulan depan, pekan depan, besok, nanti sore, atau bahkan sedetik setelah ini, adalah hal yang ghaib bagi kita. Sedangkan pengetahuan Allah SWT. meliputi segala sesuatu; baik yang sudah, sedang, akan, bahkan yang tidak akan pernah terjadi; kalau terjadi bagaimana kejadiannya.

Dalam sebuah ayat, Allah SWT. berfirman: “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ tanpa (dengan menyebut), ‘Insya-Allah.’” [Al-Kahfi: 23].

Segala sesuatu dalam kehidupan terjadi karena Allah SWT. menghendakinya, dan segala yang Allah SWT. kehendaki pasti akan terjadi. Demikianlah, kehendak Allah SWT. melingkupi segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang terlepas dari kehendak-Nya.

Kata “Insya Allah” kerap kali digunakan oleh rekan-rekan sebaya saya yang mayoritas beragama Islam, atau orang-orang kebanyakan mungkin dalam hal penentuan janji, atau sekedar konfirmasi kehadiran. Yang jadi masalahnya adalah bukan “Insya Allah diusahakan” namun terjadi pergeseran menjadi “Insya Allah tapi belum tahu juga sih” yang jelas itu berbeda dengan makna sebenarnya. Saya bukan tipikal orang yang fanatik religius, dan terbilang adalah orang biasa-biasa saja dalam hal ketaatan agama. Tapi saya tetap merasa dongkol ketika orang-orang kerap mudah sekali mengatakan “Insya Allah” padahal maksudnya adalah belum tentu, atau masih belum pasti. Kenapa tidak menggunakan “maaf tidak bisa hadir”, “mungkin aku masih tentatif”, dsb. Kata “Insya Allah” tadi menjadi rancu, dan stagnan berada di ambang ketidakpastian.

Kembali ke pokok bahasan, ada beberapa alasan orang menggunakan kata “Insya Allah” dengan konteks yang saya sebutkan tadi. Yang pertama adalah budaya, beberapa orang menggunakan kata “Insya Allah” cenderung karena mereka tidak enak menolak. Mereka yang mengatakan Insya Allah dengan konteks yang saya sebutkan tadi menganggap bahwa Insya Allah adalah kata yang paling “aman” dan tidak menyakitkan dengan kata lain adalah penolakan secara halus dan paling gampang diucapkan karena tidak harus menjelaskan lebih lanjut secara rinci. Mengapa? Karena konteksnya adalah Insya Allah, masih ada satu persen kemungkinan untuk datang. Yang kedua adalah kebiasaan, mereka adalah orang-orang yang biasa memakai kata Insya Allah sebagai basa-basi belaka, ini yang paling parah.

Saya bertanya ke beberapa rekan, senior, dan teman sepermainan tentang kejadian di atas. Mereka orang-orang si “penerima” Insya Allah, cenderung sudah menganggap bahwa dengan keluarnya kata “Insya Allah” pun. Sudah tersirat kata tidak, dan orang-orang “penerima” Insya Allah ini sudah tidak mengharapkan keberadaan atau kehadiran dari mereka si pengumbar Insya Allah. Saya merasa agak miris, atau mungkin hanya saya saja yang terlalu memikirkan sesuatu yang sebenarnya tidak usah dipikirkan.

Apakah “Insya Allah” seseorang bisa ditentukan dari kadar religi yang ada dalam dirinya? Yang saya maksud di sini adalah yang mengucapkan benar-benar Insya Allah pada makna sebenarnya di luar konteks yang saya bahas di atas. Ukurannya adalah orang benar-benar yang taat beragama? Itu bisa menjadi ukuran atau tidak? Karena sekarang nyatanya penggunaan kata “Insya Allah” sudah menjadi sesuatu yang tidak dipikirkan sebelum kata itu dikeluarkan. Semua orang bisa bilang “Insya Allah” dengan mudah dan begitu saja. Kita lupakan konteks dosa karena mempermainkan nama Tuhan (?), dsb. Karena dosa dan agama adalah urusan yang sangat personal.

Namun menurut saya mengapa tidak alangkah baiknya, jika penggunaan kata Insya Allah jika sekiranya masih ragu atau tidak pasti. Kata Insya Allah diganti dengan kata lain yang relevansinya lebih nyata seperti: “Iya sorry banget nih belum tau ya”, atau “Nanti gue kabarin lagi deh ya, masih belum pasti nih”. Akan lebih enak didengar, dan tidak mengingkari makna sebenarnya serta kita tidak perlu harus repot-repot membawa embel-embel menyertakan nama Tuhan yang sangatlah berat (konteksnya berat menurut saya). Hal yang saya tawarkan dan ajak mungkin sangatlah sulit, dan tidak mudah karena saya pribadi juga menyadari pergeseran makna Insya Allah di sini sudah menjadi sesuatu yang lumrah terjadi begitu saja di masyarakat tanpa ada banyak perdebatan, dan pertanyaan mengapa hal ini terjadi.

Insya Allah oleh Intan Zariska Daniyanti disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.
whiteboardjournal, logo