Mimpi Seorang Penyamun

Column
19.01.17

Mimpi Seorang Penyamun

Sebuah Puisi

by Febrina Anindita

 

Ada malam-malam yang tak jelas rupanya,
malam-malam yang hanya bisa ditafsir
oleh para pendosa dan penyembah rembulan.
Namun baginya malam-malam adalah sama.
Apalagi pilu tak bisa ditawar.
Tak sekali ia pernah menerka tentang harap.
Dunia terlalu tak mungkin untuk ia percaya.

Aku lelah, Tuhan. Tuhanku, Tuhan Yang Maha Baik.
Menyambung hidup bukan dosa. Keserakahanlah.

Dalam gelap jemarinya kebas, lebar merentang.
Matanya membelalak menantang, nanar.

Hanya ini yang bisa ku perbuat— dengan tulang dan nyawa saja.
Betapa aku ingin surga sekarang!

Dari surga anaknya turun: memeluknya.
Bahunya retak memikul harta.
Air mata si penyamun panas berpijar, melelehkan benteng kesadaran.
Lalu—ia dikejar! Setakut itu:
tangannya yang borok payah mengeruk-ngeruk sisi dipan.
Ia harus lari, sembunyi dari segala kesulitan dunia,
dari hantu di kanan-kirinya.

Aku takut, Tuhan. Tuhanku, Tuhan Yang Maha Baik!

Si penyamun lalu mempertanyakan segala:
Tentang ia yang selalu kelaparan. Hampir mati
dan sering meradang, dan kesempatan miliknya
begitu jahat tak terelakkan.

Yang ku rampas bukan milik Tuhan.

Tapi mengapa yang mengejarnya adalah malaikat dan nuraninya?
Dan yang berlari bersamanya:
siluman-siluman, dan perutnya yang selalu kelaparan.
Si penyamun selalu enggan peduli pada realita,
pada dosa, pada kenyataan.

Tuhan Yang Maha Baik masih izinkanku melihat matahari terbit lagi.

Si penyamun dikhianati hidupnya sendiri.
Air liurnya masih asam seperti tanah.
Mata nanarnya masih tak bisa menangis.

(Bandung, Mei 2015)

Mimpi Seorang Penyamun oleh Nadya Hari Putri disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.
whiteboardjournal, logo