Sounds From The Corner

Column
16.03.17

Sounds From The Corner

Sebuah Narasi Sinoptik Untuk Musik Lokal

by Ken Jenie

 

Era globalisasi telah memberikan banyak kemudahan. Hal-hal yang terjadi di daerah yang jauh secara geografis, kini bisa diakses dengan sangat cepat. Zaman kini bergerak menuju waktu dimana setiap orang bisa merekam momen-momen keseharian secara audio visual dengan kamera dan mengunggahnya ke publik lewat internet. Dan Sounds From The Corner (STFC) adalah salah satu diantara keramaian yang berusaha menangkap momen pentas musik yang ada di Indonesia.

Musim dingin tahun lalu, secara tidak sengaja saya kembali menonton kanal SFTC di Youtube. Dan video yang saya simak adalah collaboration #1 Efek Rumah Kaca x Barasuara. Saat itu juga adalah pertama kali saya mengenal kelompok musik Barasuara yang kini telah merilis album penuh, Taifun. Sebenarnya, jauh sebelum menonton video tersebut, ada satu video yang mengenalkan saya dengan SFTC yaitu live concert #2 Seringai. Kesan pertama ketika menyimaknya, tentu saja sangat senang. Meskipun dalam video tersebut Arian 13 dan kawan-kawan hanya membawakan tiga lagu saja (Fett, Sang Pemburu, Amplifier, Tragedi), Untuk beberapa orang rasanya tayangan tersebut cukup membayar pengalaman menonton Seringai. Dengan panggung yang kecil dan crowd yang secara langsung bisa berinteraksi bersama musisi adalah momen yang dirindukan oleh mereka yang dulunya menapaki musik secara underground.

Dalam laman websitenya, SFTC mendeskripsikan sebagai sebuah proyek kolektif yang berusaha menyajikan kejujuran melalui pertunjukan live music. Selain itu dengan cara tersebut mereka juga berusaha menunjukkan sebuah rasa hormat kepada para musisi lokal yang telah berkarya dengan wujud rilisan lagu kepada para penggemar. http://www.soundsfromthecorner.com.

Jika tidak keliru, ada beberapa kategori video yang disajikan oleh SFTC. Pertama adalah Session dan kedua adalah Live. Sejauh ini, video Session sudah ada sebanyak #26 buah. Sedangkan video Live sebanyak #25 buah.

Dan hari ini (24 Februari 2017), saat langit Istanbul sangat cerah secara tidak sengaja saya menonton video terbaru session #26 yang menampilkan Elephant Kind. Dengan kualitas sound yang menurut saya sangat bagus, rasanya tidak menyesal untuk menghabiskan waktu 16 menit 48 detik untuk video ini. Meskipun akhirnya saya harus sedikit telat menuju ke kampus. Untuk jumlah viewers, kurang dari sejam dari dirilisnya sudah seribu kali ditonton. Statistik dari beberapa video lainnya bisa langsung disimak dan dicermati sendiri.

Beberapa komentar yang selalu hadir pada setiap video yang diunggah selalu menghadirkan suasana yang menarik. Betapa tidak, ada yang cukup jeli mengamati kualitas suara yang dihasilkan, cara mengambil gambar dan tentu saja yang lebih menarik adalah mereka yang berharap band favoritnya segera didokukemtasikan oleh SFTC, baik dalam #Session maupun #Live.

Kecermatan melihat peluang dan memaksimalkan kemampuan dalam mengambil gambar adalah sebuah hal yang harus diapresiasi kepada SFTC. Dengan ragamnya era digital dan menghadirkan kemudahan, SFTC telah memutuskan untuk berada di jalur pengarsipan musik lokal dan (berharap berlanjut pada level) internasional. Pastinya sudah cukup banyak kanal yang mungkin saja serupa dengan SFTC. Saya sendiri tidak terlalu banyak mengetahui, selain hanya mengikuti beberapa diantaranya. Dan kanal Sorge Magazine adalah salah satunya. Bagi saya, keduanya sangat menarik dan memberikan kepuasa menonton musik dan mendapatkan informasi dan pengetahuan baru. Khusus untuk Sorge Magazine, saya lebih mengikuti beberapa kegiatan diskusi dan dokumetansi sosialnya. Tidak menutup kemungkinan ke depannya, SFTC akan mengarsipkan kegiatan serupa yang memiliki irisan dengan musik. Misalnya saja peluncuran album terbaru ataupun diskusi tentang musik, bedah buku dan pergerakan komunitas lokal di Indonesia. Rasanya juga SFTC sudah mendapatkan respons yang beragam dan positif perihal apa yang telah mereka kerjakan. Juga peluang untuk diajak dalam proyek video musik (atau film dokumenter) adalah hal yang sangat mungkin mereka peroleh.

Jika pada tahun 1923 keluarga Felix Weil mendanai dibentuknya IFS (Institut Fur Sozial Forschung) di Jerman; lengkapnya adalah Johann Wolfgang Goethe-Universitaet Frankfurt yang kemudian lebih dikenal dengan Madzhab Frankurt (Die Frankfurter Schule). Kemudian pada dekade setelahnya, tepatnya pada 1950-an IFS mengembangkan dua area riset terbaru yakni sosiologi-industri dan sosiologi-pendikan. Khusus untuk sosiologi-pendidikan tujuannya adalah untuk memfokuskan koneksi antara universitas dan masyarakat. Maka mungkin saja yang dilakukan oleh Dimas Wisnuwardono dan kawan-kawannya di kolektif SFTC yang telah terbentuk sejak 2012 adalah sebuah alternatif untuk menjembatani antara penggemar musik dengan musisi. Dan pada sisi yang lain, ada banyak harapan yang mungkin muncul dalam benak penikmat karya SFTC. Bagi saya, SFTC pada masa yang akan datang mungkin saja bisa berkolaborasi dengan musisi lain dengan menghasilkan karya terbitan atau rilisan fisik. Baik berupa kompilasi video maupun hal lainnya yang berhubungan dengan musik. Kalau saja harus meniru Jurgen Habermas yang terinsipirasi dari lahirnya Madzhab Frankfurt dan menghasilkan buku “Mahasiswa & Politik” (Student und Politik, 1961) lewat kerja riset tentang efektivitas pendidikan-politik, peluang SFTC untuk melakukan hal yang sama sangat besar. Tentu saja dengan terma musik sebagai pilihannya.

Narasi Sinoptik
Realitas sosial selalu menyajikan narasi yang mampu membuka nalar dan membangun pola berpikir. Dengan berusaha mencari tahu, mengasah kepekaan dan mencoba memaksimalkan pengorganisasian yang ada di dalamnya, rasanya perubahan sosial yang positif bisa tercapai. Dan mungkin musik adalah alternatifnya. Beberapa orang (mungkin) meyakini musik akan bisa membawa perubahan. Tentu saja dalam ruang aplikasi yang lain, misalnya pengorganisasian komunitas. Seperti yang telah tersebut di atas, beberapa diskusi yang tersaji di kanal Sorge Magazine sangat menyenangkan. Banyak informasi yang menarik dan bisa diperoleh. Namun, pada sisi lainnya terkadang saya harus berusaha mencari beberapa video yang diunggah oleh orang lain, misalnya saja perihal diskusi buku yang pernah dilaksanakan di Kineruku Bandung ataupun Post Santa Jakarta. Dan sebagai penikmat SFTC, berharap mungkin saja ke depannya melakukan hal yang serupa meskipun bukan pertunjukan musik.

Tiga sinoptik selain Session dan Live yang menyenangkan dari kanal SFTC adalah 88Sec, Collaboration, dan TasteTest. Konten ketiganya tentu saja berbeda. Meski tersaji dengan durasi yang cukup singkat (88Sec dan TasteTest) tetap mampu memberikan suasana yang lain untuk menikmati musik. Sedangkan untuk Collaboration, menjadi sangat istimewa karena dua band beraksi secara bersamaan dalam satu panggung.

Jika harus memilih dari beberapa video yang telah dipublikasikan oleh SFTC, rasanya semua yang tersaji sangat seru dan bisa membuat berdendang di depan layar komputer. Seringai, Efek Rumah Kaca, Pandai Besi, Navicula, Scaller dan Mata Jiwa sejauh ini adalah favorit. Secara personal, saya sangat mengagumi yang tersebut pertama dan kedua Dan jika harus meminta, Session atau Live dari band apa selanjutnya, rasanya ingin sekali menonton Banda Neira (sayangnya telah bubar), Senyawa, Melancholic Bitch dan FSTVLST. Bars of Death??! Permintaan yang sangat ditunggu, tentunya.

Good luck SFTC!
Istanbul, 24 Februari 2017

Sounds From The Corner: Sebuah Narasi Sinoptik Untuk Musik Lokal
oleh Didid Haryadi disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.whiteboardjournal, logo