Seni yang Menjadi Barang Produksi

Column
23.03.17

Seni yang Menjadi Barang Produksi

Potensi yang Menjembatani Seniman dan Publik

by Muhammad Hilmi

 

Bila kita pernah masuk ke dalam suatu museum atau galeri seni, kita dapat menemukan berbagai macam lukisan, dari yang terlihat begitu cantik sampai yang terlihat begitu aneh. Setiap lukisan–lukisan tersebut diatur sedemikian rupa sehingga banyak pengunjung dapat datang dan menikmati setiap karya yang dipamerkan di galeri atau museum tersebut. Lukisan–lukisan yang dipamerkan itu biasanya telah melalui proses yang panjang, sehingga di dalam setiap lukisan itu banyak mengandung cerita dan pesan yang ingin disampaikan oleh sang seniman.

Setiap Pelukis biasanya memilki cara dan teknik yang berbeda–beda dalam menghasilkan sebuah karya lukis, hal ini bisa dipengaruhi oleh latar belakang pelukis dan teknik yang digunakan oleh pelukisnya. Di dalam karya Sudjojono misalnya, kita dapat melihat sapuan kuas yang besar dan tebal, arahnya tidak beraturan dan muncul tekstur dari goresan kuas dan sebagainya di dalam lukisannya, ini terjadi karena ada latar belakang dari Sudjojono sehingga dalam berkaryanya memilih menggunakan teknik tersebut.

Semakin berkembangnya kegiatan berkesenian di Indonesia semakin banyak juga karya yang lahir, bahkan komunitas–komunitas seni pun bermunculan untuk mengutarakan aspirasi mereka. Karya dalam bentuk mural juga semakin banyak dan menghiasi setiap kota, sehingga di dalam melihat karya seni juga tidak harus lagi masuk ke dalam galeri dan museum seni. Dengan berjalan–jalan di alun–alun kota pun kita sudah dapat menikmati setiap karya seni para seniman.

Perkembangan ini tidak semata–mata membuat penikmat seni pun menjadi lebih memahami seni atau mengapresiasi karya, karena sebagian penikmat seni kebanyakan mengapresiasi hasil karya seni para seniman dengan cara selfie dan menguploadnya ke dalam media sosial. Tidak banyak para penikmat seni yang mau menggali atau mencari tahu pesan dan makna karya dari si seniman. Kesenjangan pengetahuan seni dengan karya yang lahir tidak pernah berbanding lurus dan selalu berlawanan.

Adanya pemisahan pengetahuan antara penikmat seni dan seniman membuat karya tersebut menjadi seolah–olah tidak dapat menyampaikan pesannya, seperti manusia berdosa yang membutuhkan juru selamat agar dapat mengenal Tuhan yang benar. Karena adanya kesenjangan ini maka seni juga harus berinkarnasi atau menjadi barang keseharian agar penikmatnya juga dapat menikmati dan mengerti pesan dari si seniman.

Di dalam proses ‘inkarnasi’ seni ini maka karya seni menjadi suatu benda yang umum digunakan dalam keseharian, sehingga penikmat seni dapat mengenal seni melalui benda keseharian yang umum bagi mereka. Seperti halnya inkarnasi Allah menjadi manusia agar Allah dapat menebus dosa umatnya dan umatnya pun juga dapat mengenal Allah-Nya.

Proses perubahan seni yang menjadi barang produksi atau barang keseharian yang biasa dipakai sehari–hari ini memiliki dua natur, yaitu natur seninya yang memilki sifat kekal dan natur kebendaannya yang memiliki sifat usang karena memiliki batas waktu pakai. Saat seni menjadi barang produksi, maka dua natur ini tidak bisa lagi dipisahkan dan menyatu di dalam seni yang menjadi barang produksi. Hal ini membuat penikmat seni menjadi lebih mengenal karya seni ini dikarenakan dua naturnya tersebut, bisa mengenal lewat natur kebendaanya saja atau natur seninya saja tetapi bisa juga mengenal dari kedua naturnya.

Seni yang menjadi barang produksi ini dapat kita temukan dalam perwujudan kaos ataupun barang–barang merchandise, dan seniman. Yang mungkin menurut saya menggambarkan ini salah satunya adalah The POPO, bila kita lihat karyanya di dalam bentuk kaos ataupun merchandise lainnya, kita dapat menemukan dua natur tersebut di mana ada natur seni dan natur kebendaannya yang bisa usang karena berwujud benda pakai.

Dan, dengan semakin banyaknya seniman yang mulai melakukan karyanya dalam bentuk seperti ini, maka banyak pemilik modal yang ingin berkolaborasi dengan para seniman untuk menaikan omzet penjualan dan membuat usahanya menjadi lebih terkenal dan lebih maju karena berkolaborasi dengan seniman tertentu. Kita berharap kolaborasi ini bukan hanya omzet semata tetapi juga untuk kepentingan banyak orang yang hidup di dalamnya dari buruh, seniman dan penikmat seninya.

Seni yang menjadi barang produksi ini bukanlah membuat nilai dari karya seni tersebut menjadi hilang, tetapi justru bertambah karena memilki nilai kebendaan dan membuat karya seni dapat menjadi benda keseharian yang tidak asing bagi masyarakat. Hal ini bukan berarti membuat penikmat seni menjadi tidak perlu belajar mengenai seni tetapi mebuat penikmat seni harus lebih belajar dalam melihat karya seni dan mengapresiasinya.

Referensi :
Estetika Seni Rupa , Stanislaus Yangni

Seni Yang Menjadi Barang Produksi dari Mika Sudiro disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.whiteboardjournal, logo