Feminist

Column
13.04.17

Feminist

Menyetarakan Posisi tanpa Membenci

by Muhammad Hilmi

 

“Gue mau jadi feminist! Serius gue gak bercanda.”

Itu kata salah seorang sahabat saya saat dia menyatakan dirinya ingin menjadi feminis. Akibat berkali-kali patah hati karena ulah para pria tidak bertanggung jawab. Bukan salah para pria yang lahir ke dunia dan akhirnya menyakiti hati sahabat saya atau perempuan lainnya. Namun sebenanya apa arti kata feminist? Apakah menjadi feminis cenderung diartikan saat kita para perempuan membenci para pria karena disakiti dan akhirnya memilih menjadi feminis.

“Feminism is a range of political movements, ideologies, and social movements that share a common goal to define and advance political, economic, personal, and social rights for women. This includes seeking to establish equal opportunities for women in education and employment.” – Wikipedia

Menurut wikipedia, feminisme adalah sebuah ideologi dan sebuah gerakan sosial untuk mencapai kesetaraan hak untuk perempuan dalam berbagai hal. Persamaan hak dalam hal politik, ekonomi, personal, dan sosial dapat diartikan dalam ideologi yang luas. Persamaan hak dengan pria dalam berbagai hal yang seringnya wanita masih didiskriminasi. Namun apa hubungannya dengan semua hal yang akhirnya mengerucut kepada sebuah pemikiran bahwa menjadi feminis berarti membenci pria.

Menuntut persamaan hak atau yang lebih sering disebut kesetaraan gender sering disalahartikan sebagai sebuah kebencian terhadap pria. Padahal bukan kita para perempuan yang membenci para pria, kita hanya ingin dihargai dan diterima sama seperti para pria dalam hal apapun.

“Some people assume that feminism as a fad and I think it’s stupid. We just want all of the people treat human equally woman or man. Don’t rape or abuse women or anyone else.” – Grimes

Masih banyak pria yang memperlakukan perempuan sesuka hatinya tanpa memikirkan bagaimana perasaan perempuan tersebut. Alih-alih introspeksi diri mereka menyalahkan perempuan, entah dari kelakuan si perempuan yang dianggap menggoda atau cara berpakaian yang tidak senonoh. Jika Anda pria baik, maka sebagai pria Anda harus menghargai wanita baik dirinya menggunakan pakaian atau tidak. Perlakukan wanita dengan lembut, jadilah pria gentle karena saat ini hanya ada sedikit yang dapat menghargai perempuan dengan cara yang layak. Sejak para pria yang menghancurkan perempuan di sekitarnya dengan alasan yang kadang tidak masuk akal, ideologi feminisme dijadikan alasan untuk membenarkan sikap perempuan untuk membenci para pria.

Kita para perempuan juga tidak ingin mengesampingkan kodrat sebagai mahluk yang harus dipimpin oleh pria. Namun apabila pria tersebut tidak menghargai keberadaan dan tubuh kita, apakah kita tidak boleh memperjuangkan hak kita untuk dihargai? Dosa para pria yang memperlakukan perempuan dengan cara yang salah mungkin hanya karena mereka tidak mengenal dirinya dan butuh untuk diakui. Pria yang dikenal dengan kuasa yang besar dan memiliki ego untuk menjadi nomor satu, tidak dapat disalahkan. Sejak lahir pria sudah dituntut untuk menjadi pemimpin dan tidak boleh lemah. Namun alih-alih menjadi pemimpin para pria terkadang melakukan pelecehan yang akhirnya merugikan sisi perempuan.

Kembali ke sejarah sebelum lahirnya ideologi feminisme, dimana wanita selalu menjadi makhluk lemah yang selalu ditindas. Pada zaman sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, kelahiran anak perempuan merupakan sebuah aib. Dimana para perempuan hanya untuk melayani nafsu bejat para pria dan diperlakukan tidak manusiawi. Lalu apakah para pejuang hak perempuan atau yang menyebut dirinya feminis sudah dengan sepenuh hati memperjuangkan hak-hak para kolega perempuannya? Atau menyebut diri feminis hanya untuk membenarkan dirinya agar terlihat kuat di mata pria? Atau karena kebencian terhadap pria sehingga menyalurkan kebenciannya dengan menjadi feminis?

Lalu bagaimana dengan kabar para pria di luar sana yang mencemooh para feminis karena dianggap ingin menjatuhkan pria? Para pria yang takut terhadap perempuan yang percaya bahwa persamaan hak harus diberikan kepada seluruh manusia dalam segala aspek. Masih banyak yang bias dengan arti kata feminis dan menganggap memilih menjadi feminis sama seperti pindah ke agama lain. Mungkin pada akhirnya tulisan ini hanya menjadi penyaluran kekesalan saya terhadap ketidakdilan di dunia ini. Bukan karena gender, agama, atau nilai yang dianggap orang lain adalah sebuah hal yang harus dibedakan. Menurut saya semua hal yang ada di dunia ini harus diperlakukan dengan adil tanpa membedakan gender, agama, ataupun status sosial. Semua manusia harus diperlakukan sama tanpa harus merasa dibedakan. Pria atau wanita hanya ingin dicintai dan diterima.

Pada akhirnya para perempuan dan pria harusnya saling menghargai tanpa ada niat untuk menyakiti satu sama lain. Kita manusia harusnya dapat menghargai satu sama lain tanpa ada keinginan untuk menghancurkan. Ideologi feminisme hadir karena perasaan ketidakadilan yang dirasakan oleh para perempuan yang diberlakukan tidak manusiawi. Bukan salah pria yang akhirnya membuat para perempuan menjadi feminis, pria pun bisa mempercayai ideologi feminisme untuk belajar menghargai perempuan dengan cara yang manusiawi.

Memanusiakan para perempuan dengan tindakan yang adil dan penuh cinta, bukan dengan kekerasan ataupun egoisme yang akhirnya menghancurkan kerapuhannya. Perempuan yang akhirnya harus menerima bahwa dirinya merupakan makhluk rapuh juga tidak berdosa untuk memilih menjadi feminis. Saya tidak menyatakan bahwa saya feminis, saya belum tahu pasti. Namun saya selalu menghargai pria ataupun wanita dan menurut saya menjadi feminis bukanlah suatu kejahatan.

“Feminist” dari Siti Hajar disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.whiteboardjournal, logo