Sendu Pagi Itu

Column
27.04.17

Sendu Pagi Itu

Melankoli di Antara Bergelas Kopi

by Muhammad Hilmi

 

Aku akan berbicara tentang kenangan juga sebuah tempat yang walaupun hanya sekali kukunjungi, tapi abadi dalam ingatan. Aku memutuskan untuk datang ke kota ini dan mengunjungi kafe ini. Aku datang ke kafe ini untuk meneguk kenangan pelan-pelan.

Waktu membuat kita lupa dengan kenangan, tapi waktu tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka di antaranya. Kenangan. Itulah yang membuatku kembali ke kafe yang tak banyak berubah sejak saat itu. Meja kursi yang hanya disediakan untuk sepasang orang, derit suara yang selalu berbunyi saat pintu dibuka, dan perempuan pelayan yang tak pernah kehabisan senyumnya.

Aku memesan segelas cappuccino dan segera duduk di kursi pojok dekat jendela kaca yang mempertontonkan jalanan yang dipenuhi oleh kendaraan yang melaju. Itu sudut yang aku suka. Kafe masih sepi, hanya ada diriku bersama dengan dua orang yang duduk di belakang buffet kaca menunggu sebelum membuka pintu dan melangkah masuk. Lalu, perempuan itu langsung berdiri dan menyapa “Selamat datang, mari silakan.”

Di pagi hari yang muram ini, jalanan cukup ramai. Motor, mobil, dan bajaj saling mendahului demi tanggung jawab mengantar penumpangnya tak terlambat sampai tujuan. Datang di kepala satu kalimat dari sebuah film lama,
“Remember me. Try your best.”

Bukan itu yang terjadi padaku. Kamu tak perlu memintaku mengingatmu. Karena kelebatmu selalu tercatat dengan rinci baik di ingatan maupun mimpi. Bahkan kata-kata dan kalimat-kalimatmu terasa semakin nyata hari demi hari.

Segelas cappuccino diantarkan ke mejaku.

Ada kereta di ingatanku, dengan aku berada di dalam gerbongnya. Kereta malam dari arah timur untuk pulang ke kampung halaman. Tiba-tiba ia berhenti. Cukup lama. Keluh mulai datang dari penumpang, dan yang bisa aku lakukan adalah membaca buku yang sudah aku bawa. Kamu yang duduk di bangku sebelahku tiba-tiba bilang bahwa kamu kasihan dengan tokoh utama novelku. Aku menjawab dengan sedikit nyengir, ia memang tokoh yang sangat kasihan karena dianggap gila oleh masyarakatnya, padahal yang ia hidup dalam masyarakat yang gila. Ah, ironis sekali ucapmu. Obrolan selanjutnya adalah perkenalan. Lalu aku tahu, kita belajar di kota yang sama.

Kereta berhenti di stasiun tujuanmu. Kamu bertanya berapa nomor ponselku, jika berkunjung ke kotaku, aku bisa membantu, ucapmu. Entah apa yang mendorongku untuk memberikannya padamu, padahal aku bukan perempuan yang mudah memberikan nomor kepada orang yang belum aku kenal apalagi orang asing yang baru beberapa jam lalu bertemu. Kamu pamit dengan meninggalkan senyuman khas itu.

Di ingatanku, setelah satu bulan pertemuan itu, kamu menghubungiku dan mengajakku makan siang. Tempat makan itu lalu jadi tempat favorit yang sering kukunjungi. Beberapa hari yang lalu, aku dengan sengaja melewati rumah makan itu. Masih utuh, masih seperti dulu. Hanya catnya yang diperbaharui dengan dominan warna biru. Mbak-mbak yang sering kamu bilang ramah masih ada, dan masih terlihat ramah kepada para pembelinya. Di rumah makan ini pula, beberapa bulan yang lewat sebelum perpisahan itu, aku ngambek karena kamu lupa janji makan siang denganku. Kemudian, kamu merayuku dengan kalimat yang tidak bisa kuhindari. Aku ingat kamu bilang: aku suka lihat matamu kalau sudah membicarakan sesuatu yang kamu sukai. Kamu tersenyum puas merayakan kemenangan, aku kau buat lupa dengan kemarahanku.

Ada satu tempat yang sebenarnya sangat lekat dalam kukenang, tapi sepertinya aku tidak akan pernah bisa memasukinya lagi. Kamar tidurmu. Aku masih mengingatnya dengan baik. Lemari kayu dua pintu berisi baju-bajumu. Di sebelahnya ada rak buku yang penuh dengan buku-buku kesukaanmu. Di sana juga terselip beberapa buku-bukuku. Di samping rak buku ada meja dan kursi yang di atasnya ada beberapa buku dan alat tulis serta fotomu dengan orangtuamu. Tepat di samping tempat tidurmu, ada jendela, tempat ku suka berdiam diri, sekadar untuk merasakan dinginnya semilir angin. Terakhir saat aku ke sana, ada laptop di atas kasurmu dan juga tugas akhirmu.

Beberapa purnama sebelumnya. Beberapa tanggal ke belakang. Di kafe ini.

“Aku kangen.” Katamu dengan menampilkan senyumu yang menggemaskan itu. Ah, kata-kata itu kini terdengar sendu. Lebih sendu dari lagu yang melantun di kafe ini, “I miss you everyday. I miss you but you’re away…”

Setelah dua tahun berlalu, apa yang tertinggal di ingatanmu tentangku? Mungkin tidak ada. Kamu sudah telah jauh dewasa. Pergi pagi, pulang malam, dari lima hari setiap minggu. Jadwalmu pulang 16.00, tapi kamu baru beranjak selepas Maghrib, untuk menghindari macet, katamu. Senin hingga Jumat bekerja, Sabtu dan Minggu kamu istirahat atau menonton film di rumah. Sudah jarang kamu mengajakku keluar, apalagi saat malam. Kamu beralasan tidak mau pulang larut karena takut telat kerja. Iya. Lagipula kamu bukan orang yang suka begadang kecuali untuk hal-hal yang mendesak seperti lembur, misalnya.

Aku dan kamu mengobrol cukup lama di kafe itu. Sebenarnya lebih banyak cerita yang keluar dariku, seperti biasa, kamu lebih memilih mendengarkanku. Tanpa pernah menyelaku saat aku belum selesai berbicara.

“Sudah malam. Pulang yuk!” Kamu bersuara mengisi keheningan beberapa menit sebelumnya. Dan jam baru menunjukkan pukul 20.07. Tandas, segelas cappuccino dalam tegukanku.

“Aku tidak bisa lagi denganmu karena aku tahu, aku tidak bisa terus berada di sampingmu saat aku selalu sibuk dengan pekerjaanku.” Ada getar dari ucap bibirmu. Seperti ada paksa di yang belum bisa kamu terima. Tapi getar ternyata lebih besar di rongga dadaku. Rasanya sedang terjadi badai di sana. Mencabik-cabik, mengoyak, menorehkan luka di sana-sini. Hingga hanya ada pedih yang tersisa.

Lalu, kamu bangkit, berjalan mendekatiku dan kubiarkan tubuhku tenggelam di tubuhmu ketika kamu melingkarkan kedua tangan dan menumpukannya di punggungku. Kamu mengusap mengusap air mataku dan mencium lembut tanganku. Lama.

Barangkali semuanya akan lebih mudah jika kita mengakhiri hubungan dengan berkelahi sehingga menyisakan rasa benci. Misal aku menyiramkan air yang ada di depanku ke mukamu, lalu memakimu, “Dasar brengsek”, dan menamparmu sebelum aku meninggalkanmu. Bukan dengan sebuah pelukan dan ciuman yang tak mungkin terlupakan.

Langit begitu kelabu. Air lantas turun, seolah iba kepadaku.

Dan aku masih duduk di sini seorang diri, hanya untuk mengulang kembali kenangan itu. Aku tahu ini menyedihkan. Tapi aku harus menghadapinya, bukan lari darinya. Karena semakin mecoba melupakannya, semakin sering ia hadir dalam ingatan. Ini adalah caraku untuk menghadapinya.
Gelas cappuccino kedua.

Ah, bagaimana bisa aku melupakan seseorang yang pernah cukup lama ada dalam hidupku. Seseorang yang dulu pernah mengatakan cinta kepadaku. Seseorang yang matanya tajam nan meneduhkan. Seseorang yang senyumnya menggemaskan. Seseorang yang selalu menitipkan rindu di pelupuk mata. Seseorang yang bisa menghapus luka, tapi hari itu justru menitipkan luka. Apakah ini terlalu pagi untuk bermelankoli?

Gelas cappuccino ketiga.

Aku beranjak. Meninggalkan pagi yang muram, pergi untuk sekali lagi mengejar gerbong kereta itu.

“Sendu Pagi Itu” dari Shofi Ayudiana disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.whiteboardjournal, logo