Sanggraha

Column
22.06.17

Sanggraha

Memori dan Ingatan dari Stadion Lebak Bulus

by Muhammad Hilmi

 

Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sanggraha tidak ditemukan. Sebab, kata sanggraha diambil dari bahasa Sansekerta, artinya ‘persediaan, jamuan, hidangan’. Meski begitu, Kamus Besar Bahasa Indonesia memuat kata yang mirip, yaitu pesanggrahan yang berarti ‘rumah peristirahatan atau penginapan, biasanya milik pemerintah’.

Meskipun demikian, pencinta sepak bola Jakarta yang hidup di awal abad ke-21 agaknya pasti akrab dengan kata sanggraha. Sanggraha Pelita Jaya merupakan nama stadion di Lebak Bulus yang menjadi markas Pelita Jaya dari tahun 1987 sampai 1999. Banyak pemain besar pernah membela Pelita Jaya, di antaranya Bambang Nurdiansyah, Roger Milla, dan Mario Kempes. Roger Milla yang berasal dari Kamerun dan Mario Kempes dari Argentina berstatus mantan partisipan Piala Dunia.

Sanggraha juga merupakan judul buku foto saya yang diluncurkan pada 29 April 2017 yang lalu di Gueari Galeri, Pasar Santa, Jakarta. Buku foto Sanggraha berisi tentang detik-detik terakhir Stadion Lebak Bulus sebelum riwayatnya benar-benar tamat. Sanggraha merekam kesunyian, mengabadikan ingatan tentang tempat yang penuh keramaian.

Stadion yang awal dan terakhirnya bernama Stadion Lebak Bulus itu mulai dibangun pada tahun 1979 di masa kepemimpinan Gubernur Tjokropranolo. Pada tahun 1987, PT Sanggraha Pelita Jaya milik grup Bakrie mengembangkan stadion dengan kapasitas penonton lebih banyak. Pemerintah Daerah DKI Jakarta menyetujui pembangunan dengan kontrak Build-Operate-Transfer (BOT) atau bangun-guna-serah selama 20 tahun.

Stadion yang terletak di Jakarta Selatan itu pernah ditempati oleh dua tim, yakni Persija dan Pelita Jaya. Hingga pada akhirnya, Pelita Jaya kurang mendapat dukungan dari warga Jakarta lalu pindah kandang ke Solo.

Banyak kenangan yang sulit dilupakan saat Macan berumah di Sanggraha. Pada 2005, Persib Bandung tak berani turun gelanggang karena penonton membludak sampai ke pinggir lapangan. Keselamatan jadi alasan hingga membuat Persib memutuskan untuk putar balik ke kandang. Persija dinyatakan menang tanpa melawan.

Sebuah gol indah pun pernah jadi memori tersendiri di Sanggraha. Ismed Sofyan, bek kanan yang sudah membela Persija sejak 2002 itu pernah mencetak gol menawan di Lebak Bulus pada musim 2005. Tendangan keras dari jarak 40 meter berhasil mengoyak gawang Persik Kediri yang dikawal Kurnia Sandy.

Kenangan yang termanis adalah saat Persija menggenapi gelar juara kasta tertinggi yang kesepuluh dan memainkan sebagian besar laga kandangnya di Lebak Bulus.

Bicara Lebak Bulus tak hanya melulu tentang sepak bola. Stadion Lebak Bulus pernah jadi panggung band Metallica saat konser pertamanya di Jakarta pada 10 April 1993. Kapasitas stadion yang tak terlalu besar membuat banyak penonton tak kebagian tempat. Kerusuhan pecah di luar stadion. Puluhan mobil terbakar, puluhan orang ditangkap, puluhan lainnya luka-luka. Stadion kena imbasnya, beberapa fasilitas rusak.

Tiba pada tahun 2007, PT Sanggraha Pelita Jaya yang hanya berhak memiliki bangunan selama 20 tahun sejak 1987, akhirnya meninggalkan stadion. Nama stadion pun diubah kembali menjadi Stadion Lebak Bulus.

Sejak tahun itu pula Sanggraha tak mampu lagi menampung banyaknya suporter Persija. Badan Liga Indonesia tak merekomendasikan Stadion Lebak Bulus sebagai kandang Macan Kemayoran seiring dengan dimulainya era Liga Super Indonesia. Persija pun menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai markas sampai sekarang.

Sejak bermarkas di Senayan, Persija seakan kehilangan taring. Masalah demi masalah terus menghampiri tim berjuluk Macan Kemayoran itu, seperti mandeknya prestasi, minimnya pendapatan akibat biaya sewa stadion yang mahal, dan sulitnya kepolisian mengeluarkan izin tanding di Jakarta.

Beratap satu, kotak persegi panjang, dan berdampingan dengan apartemen sekaligus pusat perbelanjaan. Lokasinya yang berimpitan mesra dengan terminal besar membuat daerah sekitarnya ramai meski tiada pertandingan. Empat tiang lampu yang menjulang di setiap sudut membuat stadion yang berkapasitas kira-kira 12.000 penonton itu menjadi obyek mencolok yang menarik mata siapa pun yang melintas. Kapasitas bisa membengkak bila penonton di tribun belakang gawang dipaksa mengimpit.

Kemacetan khas kota metropolitan yang menjangkiti Jakarta sudah semakin kronis. Megaproyek yang diusung pemerintah kota tentang pembangunan transportasi cepat dan massal dianggap mampu mengobatinya. Sayangnya, obat itu memiliki efek samping. Pembangunan lokasi depo Mass Rapid Transit (MRT) menumbalkan Stadion Lebak Bulus yang sudah beberapa tahun ditinggal Persija karena tak cukup mewadahi puluhan ribu Jakmania.

Padahal, belum juga hilang trauma para penggemar sepak bola Jakarta atas penggusuran Stadion Menteng. Kala itu, keberadaan stadion kumuh di tengah permukiman kelas wahid dianggap bagai setitik nila yang merusak susu sebelanga. Gubernur Sutiyoso menyulap lapangan yang biasa dijajaki kaki pemain bola menjadi taman yang jadi tujuan langkah muda-mudi di sabtu malam.

Bukan soal janji calon gubernur –yang kini sudah jadi presiden– soal stadion pengganti yang mungkin tak pernah ditepati itu yang bikin kecewa. Sepuluh stadion pengganti sebesar Gelora Bung Karno pun rasanya tak pernah cukup menutup luka lama yang tak kunjung kering. Obat anti macet berupa MRT itu menimbulkan efek samping yang sakitnya tak kunjung hilang.

Kini, gubernur sudah berganti tiga kali. Janji Sutiyoso mengganti Stadion Menteng dengan yang lebih mentereng belum juga jadi bukti. Alih-alih mengganti, Jakarta justru mencari tumbal lagi. Seperti artinya pada KBBI, rumah sepak bola yang dulu bernama Sanggraha Pelita Jaya itu memang milik pemerintah. Sang pemilik berhak menguasainya, termasuk menghancurkannya sekalipun.

“Sanggraha” dari Nugroho Sejati disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.whiteboardjournal, logo