Bagaimana Seni Rupa Bekerja

Column
29.06.17

Bagaimana Seni Rupa Bekerja

Tentang Seni dan Apresiasi

by Muhammad Hilmi

 

Seni rupa kerap diketahui atau dipahami secara sempit, hanya sebatas segala sesuatu yang indah, seperti lukisan pemandangan, guci porselain, atau gambar sketsa wajah. Mungkin hal itu tidak sama sekali salah, akan tetapi apakah hanya mengetahui itu sudah cukup?

Secara umum seni rupa merupakan suatu bentuk usaha seorang perupa atau seniman menampakkan ide, pemikiran, pemahaman, ataupun suatu pendapat yang kemudian diwujudkan ke dalam suatu karya rupa, karya yang dapat dirasakan oleh indera. Tentu saja, proses manifestasi ke dalam suatu wujud karya pertama-tama dihadapkan pada berbagai macam pertimbangan, salah satunya pertimbangan estetik. Apakah ia ingin menampilkan idenya ke dalam bentuk lukisan, patung, atau keramik? Apakah ia harus menggambarkan figur, bunga, atau hanya bentuk-bentuk geometris? Dan sebagainya, hingga ia memutuskan dan menyelesaikan karyanya dengan memanfaatkan pengetahuan dan kemampuan yang ia miliki.

Seni rupa merupakan sebuah instrumen untuk menjelaskan sebuah gagasan. Selayaknya seorang matematikawan ketika akan menjelaskan gagasannya mengenai sebuah problem matematika maka ia akan menjelaskannya kedalam bentuk rumus matematis, dengan ‘bahasa’ matematika atau Seorang peneliti biologi ketika ingin menyampaikan gagasan nya mengenai sebuah asumsi, maka ia akan melakukan penelitian dan percobaan, dan hasilnya berupa teori yang terkerangka dalam rasio biologi, tentu saja menggunakan istilah biologi yang sudah disepakati.

Seorang perupa akhirnya ditantang untuk menyampaikan gagasan nya ke dalam bentuk-bentuk rupa, sehingga karya yang dia buat mampu memuat gagasannya dan dapat dinikmati atau dirasakan secara inderawi oleh publik yang memandang dan dipahami oleh publik yang mengapresiasinya.

Apakah seni rupa harus indah?

Iya dan tidak. Seni rupa sangat erat hubungannya dengan estetika – yang berarti seni tidak sama dengan estetika, karena estetika adalah salah satu cabang filsafat. Estetika memang pada awalnya merupakan sebuah cabang filsafat yang mencoba untuk memahami keindahan. Namun dalam perkembangannya, estetika akhirnya tidak lagi mempertanyakan soal keindahan. Karena kiranya soal apa yang indah dan tidak indah adalah hal yang sifatya subjektif. Bisa jadi satu orang menganggap bahwa kamar yang tertata rapih adalah hal yang indah, dan satu orang lain justru menganggap kamar yang susunan barangnya tidak beraturan lebih indah dibandingkan yang rapih. Di dalam seni rupa, seorang perupa pada akhirnya berupaya untuk menciptakan karya yang menurutnya adalah sebuah karya yang “indah” dan melalui karya itu pula ia mencoba meyakinkannya.

Sebagai contoh, karya-karya oleh seniman Affandi – yang saya pilih karena mungkin akan lebih terbayang oleh banyak pembaca sekalian – yang pada perkembangan termutakhirnya menciptakan lukisan-lukisan yang menampilkan guratan dan gumpalan-gumpalan cat yang terasa acak-acakan, membentuk figur dan objek yang notabene tidak sempurna. Di dalam lukisannya Affandi tidak sedang menggambarkan hal yang absolut indah, ia menampilkan persepsi nya terhadap keindahan, tidak hanya keindahan visual belaka, melainkan banyak hal yang berlapis-lapis lagi, bisa jadi Affandi pula ingin merujuk pada manifestasinya terhadap ekspresi dan emosi, suatu hal yang tidak bisa kita lihat dalam keseharian secara kasat mata.

Satu hal yang harus kita yakini dalam menghadapi karya seni ialah seorang seniman pastilah mencoba untuk menyampaikan sebuah gagasannya. Yang menjadi pertimbangan kita sebagai seorang yang mengapresiasi karya seni ialah, apakah gagasan yang dibawa seorang seniman di dalam karyanya adalah gagasan yang besar atau kecil, penting atau tidak, menggugah atau tidak, menyenangkan atau mengganggu.

Lalu, bagaimanakah kita bisa mengapresiasi karya seni?

Kita mungkin sesekali pernah berhadapan dengan karya seni, setidaknya di sebuah rumah, hotel, atau galeri ketika ada perhelatan pameran seni. Beruntung lagi kalau kita berkesempatan melihat karya seni di museum seni rupa yang mapan. Walaupun, pada akhirnya khalayak kerap dibuat kebingungan, bingung karena tidak tahu harus merespon apa, bingung harus mulai dari mana, agar kita bisa “benar” di hadapan sebuah karya.
Ketika berhadapan dengan karya seni, publik kerap tidak tahu harus memulai dari mana agar ia bisa memahami karya seni. Gregg Bordowitz, seorang seniman dan juga profesor seni di School of the Arts Institute of Chicago, memaparkan bahwa setidaknya ada tiga lapisan apresiasi dalam karya seni rupa. Pertama ialah lapisan perhatian. Bagaimana sebuah karya akhirnya mampu menangkap perhatian kita. Bagaimana kita akhirnya diajak untuk perlahan-lahan menelusuri apa yang ada dihadapan kita.

Lapisan kedua ialah sensasi, ini adalah tahapan awal ketika berhadapan dengan sebuah karya atau objek seni. Sensasi disini ialah menyoal bagaimana indera (Sense) kita merespon karya seni rupa tersebut, tentu saja umumnya ialah indera penglihatan, namun tidak jarang beberapa karya seni rupa juga bersamaan menyentuh indera-indera lain. Apakah indera kita merasakan sesuatu dari karya yang kita hadapi. Apakah setelah melihat karya itu indera penglihatan kita menghantarkan informasi ke pikiran bahwa apa yang kita lihat adalah sesuatu yang berwarna, atau suram, atau mungkin meriah atau sepi. Jika kita meresapi betul sebuah objek seni, maka akan banyak informasi inderawi yang mampu kita tangkap. Dari respon inderawi, kesemuanya akan berasosiasi dengan mood, ingatan, selera, pengetahuan, dan aksi kita ketika kita berhadapan dengan karya tersebut.

Pada lapisan apresiasi ketiga, kita dihadapkan pada persoalan persepsi, setelah perhatian kita tertuju pada karya seni, indera kita merespon, dan pikiran kita memberikan timbal balik, maka tahapan selanjutnya persepsi kita akan bermain. Sebuah karya seni rupa yang baik kiranya sebuah karya yang akhirnya mengajak kita untuk bisa bermain di ranah persepsi.

Persepsi memuat persoalan gagasan yang berfokus pada hubungan antara subjek dan objek. Bagaimana subjek ialah kita yang mengamati dan objek adalah karya seni yang memuat persepsi. Disinilah kita akan menemukan sebuah inti yang ingin disampaikan seorang seniman, karena beberapa seniman akan mencoba untuk menyampaikan sebuah persepsi yang akan disetujui dan disepakati secara luas oleh pemirsanya. Sebagian lagi akan mencoba untuk menanamkan persepsi baru kepada pemirsanya, sehingga kita akan dihadapkan pada sebuah pengalaman dan pengetahuan yang sama sekali baru. Sebagian lagi seniman melalui karya akan mencoba memelintir atau bahkan memutar balikkan persepsi kita, sehingga kita dibuat berpikir keras, atau bahkan merasa dipermainkan.

Persepsi, singkatnya, merupakan sebuah pemahaman kita terhadap apa kita inderakan, sehingga sangat mungkin kita akan memiliki persepsi yang baik terhadap sebuah karya seni dikarenakan pengetahuan kita terhadap seniman yang membuat karya tersebut. Semisal, kita bisa jadi akan mengapresiasi tinggi ketika melihat segala macam karya, apapun bentuknya, asalkan ia dibuat oleh Pablo Picasso, karena sebelumnya kita diberikan pengetahuan bahwa picasso merupakan seorang maestro, karyanya berharga selangit, atau ia telah berpameran di banyak penjuru dunia, dan sebagainya. Dalam karya seni rupa pula, sangat memungkinkan jika karya tersebut banyak memuat persepsi yang bersifat multi atau interdisiplin, karena seni rupa pada akhirnya banyak bersentuhan dengan ilmu filsafat, sains, budaya populer, dan sebagainya.

Bagi penulis sendiri, pemahaman tiga lapisan apresiasi ini adalah salah satu rumusan yang paling sederhana untuk menjelaskan bagaimana sebuah karya seni rupa bekerja dan kita sebagai apresiator mampu terhubung. Tidak jarang kita tidak terundang untuk memperhatikan karya seni, atau kita akhirnya hanya sebatas mampu mengapresiasi visual atau nilai indrawi dari karya seni saja. Menurut saya hal itu adalah wajar. Karena seni rupa pada akhirnya terbangun dari konstruksi yang terbangun dari selera, pemahaman, pengetahuan, dan pengalaman kita, khususnya pada hal yang bersifat visual.

Sehingga semakin kita sering mengakrabkan diri dengan seni rupa maka pengetahuan dan pengalaman visual kita akan bertambah. Sehingga kita bisa mengapresiasi karya seni dan mengambil nilai-nilai yang termuat dalam tiap karya seni. Akan tetapi pula, ada beragam cara sebuah karya seni rupa bekerja, penulis hanya memberikan sebuah tawaran pengetahuan mengenai alur apresiasi karya seni, karena masih ada kemungkinan apresiasi karya seni dapat terjadi, seperti “jatuh cinta” begitu saja pada sebuah karya, tanpa kaada satu penjelasan yang bisa terucap atau terpikirkan. Mungkin saja.

Setelah kita mengapresiasi karya seni rupa, setidaknya kita telah mengalami sebuah pengalaman estetik, terlepas dari apapun nilai yang kita tangkap dari karya seni itu. Pengalaman inilah yang akhirnya perlahan-lahan membentuk pandangan kita terhadap nilai-nilai yang lain. Mungkin setelah pengalaman estetik kita menumpuk, kita tidak lagi melihat tumpukan barang-barang di toko bangunan sebagai hal yang biasa saja. Kita mungkin tidak lagi menganggap bahwa dandanan kita harus seperti selebritis di televisi. Apapun bisa terbentuk, kecil atau besar, berdampak atau tidak terasa sama sekali.

Jadi, mari kita menikmati karya seni.

“Bagaimana Seni Rupa Bekerja” dari Azizi Al Majid disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.whiteboardjournal, logo