Sendiri, Kita Sendiri

Column
06.07.17

Sendiri, Kita Sendiri

Individualitas di Atas Bumi Yang Guyub

by Muhammad Hilmi

 

Jika suatu hari berkunjung ke Kediri, Jawa Timur, silahkan mampir ke rumah saya di Dusun Kolak Wonorejo, lima kilo ke arah selatan dari alun-alun, sekitar 50 meter dari perbatasan kota – kabupatennya. Di sana, Anda akan disambut oleh sepasang bapak – ibu guru madrasah yang kini sibuk mengurusi masjid. Perkenalkan diri sebagai teman saya, maka sajian dan keramahan mereka akan menyambut. Kalau beruntung sedang musimnya, cicipi juga kelengkeng ping-pong yang segar dan manisnya terasa seperti kombinasi rasa durian dan lengkeng. Matoa? Lupakan saja.

Tapi jangan, jangan sampai Anda kehilangan arah sebelum sampai rumah. Karena jika Anda bertanya, “Di mana rumah Hilmi?” kepada warga setempat, rasanya tak akan ada orang yang tahu di mana tempatnya berada. Bukan, bukan karena alasan mistis. Lebih karena nama tersebut nyaris alpa dari denyut kehidupan di desa itu. Keadaan akan berbeda jika Anda tahu nama ayah atau ibu saya. Tapi jika petunjuk jalan hanya nama saya, niscaya akan sesat jalan Anda.

Meski tinggal di desa, semenjak kecil saya tak pernah bermain jauh-jauh dari rumah. Teman akrab pun, saya cuma punya empat, dan mereka adalah tetangga terdekat dari rumah saya. Saat sekolah, saya lebih karib dengan teman sekelas yang rumahnya jauh dari tempat tinggal saya. Kuliah, saya pergi ke tiga jam perjalanan ke Malang, menciptakan jarak yang semakin jauh antara saya dengan tetangga di kampung.

Maju sekian tahun ke depan, pola yang sama sekali lagi hidup saat saya tinggal di Jakarta. Sudah dua tahun lebih saya tinggal di rumah cluster kontrakan daerah Ciganjur – Jagakarsa, tapi sampai sekarang saya tak tahu pasti siapa nama tetangga sebelah rumah saya. Kami saling menyapa, dan kadang bertukar oleh-oleh, tapi tak ada ingatan yang melekat di kepala saya mengenai nama bapak – ibu baik hati yang memelihara beberapa kucing lucu itu. Nama tetangga yang lain jauh lebih buruk, beberapa saya hanya hapal mukanya, namun tak pernah tahu identitas mereka.

Di sini, kasusnya akan sama. Bila ingin mampir ke rumah kontrakan saya, tanpa tahu alamat (dan sedang tak ada pulsa internet untuk menyalakan GPS), maka akan sulit perjalanan. Karena sekali lagi, tak akan ada yang bisa menjawab dengan pasti bila Anda bertanya, “Permisi pak mau tanya, rumah Hilmi di mana?”

Sebelumnya, hal seperti ini tak pernah terlalu mengganggu di dada dan kepala. Toh, saya cuma perantau di Jakarta. Dan bukankah ini pertanda bahwa kita hidup di dunia modern, dimana kita terlalu sibuk dengan aktivitas masing-masing untuk berbasa-basi dalam obrolan bersama tetangga? Tapi pemikiran ini lantas jadi pertanyaan saat pulang kampung. Saya tak mengenali hampir 60% orang yang sholat Ied bersama saya di masjid depan rumah. Saya yakin perasaan ini mutual, mereka hampir pasti juga tak mengenai muka saya. Kalau begitu, lantas di mana sebenarnya eksistensi saya di masyarakat? Bukankah definisi hidup adalah di mana kita bersama-sama menjalin hubungan di suatu daerah melalui interaksi dan komunikasi?

Sedangkan saya, di kota tak kenal tetangga, di desa pun sama saja.

Ada kalimat yang belakangan sering melintas di benak, “tetangga adalah keluarga terdekat kita”. Meskipun ini kalimat lama, namun semakin hari, semakin terasa relevansinya. Sudah tak terlalu banyak orang yang hidup di lingkaran keluarga sendiri. Kebanyakan dari kita hidup di antara orang asing yang kita sebut tetangga, di perumahan, apartemen, rumah susun atau di kampung. Dan orang-orang asing itulah yang akan melihat keseharian kita secara langsung, mereka pulalah bantuan terdekat yang kita punya saat ada kesusahan. Teman dekat dan keluarga jelas bisa memberikan lebih dari apa yang bisa tetangga kita tawarkan, tapi pada saat-saat tertentu – terutama pada saat darurat, pertolongan pertama tak terkalahkan esensinya. Dan orang-orang asing di sekitar kita adalah yang bisa memberikannya.

Dulu kisah manusia tua yang meninggal sendiri di rumahnya tanpa diketahui oleh warga sekitar terasa seperti dongeng seram yang utopis. Kalaupun ada, rasanya hanya mungkin terjadi di luar sana dimana individualisme dijunjung tinggi. Kita adalah bangsa yang bermasyarakat, guyub, hal seperti itu tak akan mungkin terjadi. Namun, melihat apa yang kita – atau setidaknya saya hidupi sekarang ini, kini horor itu semakin nyata ngerinya.

Kalau begini, tampaknya satu-satunya obat untuk mimpi buruk ini adalah mulai membuka obrolan dengan bapak-bapak sebelah rumah. Mungkin besok saya akan memulainya. Mungkin.whiteboardjournal, logo