Meletakkan Angan di Pulau Harapan

Column
17.08.17

Meletakkan Angan di Pulau Harapan

Pulau Harapan dari Masa ke Masa

by Muhammad Hilmi

 

Ada cerita tentang sebuah pulau yang bernama Pulau Harapan. Dahulu kala pada zaman nenek moyang, pulau nan indah ini belum banyak yang menghuni. Begitu pula pulau-pulau di sekitarnya. Banyak yang tak berpenghuni dan belum di klaim kepemilikannya oleh pihak-pihak tertentu. Makan dan hidup dari hasil laut yang mudah didapat serta belum terpapar oleh budaya modern yang dibawa oleh wisatawan. Sebuah kisah yang dilanturkan oleh Bu Hasanah, seorang penjaga TBM Harapan, taman baca yang terletak di ujung Pulau Harapan, Kepulauan Seribu.

Duduk di sebuah perpustakaan kecil yang dikelolanya, beliau menyambut kami tim Dreamdelion yang mampir berkunjung siang itu. Tak ada pengunjung lain pada saat itu, walaupun koleksi bukunya cukup banyak dan ruangan yang cukup berwarna dengan gambar-gambar untuk menarik anak-anak agar mau berkunjung. Nyatanya anak-anak lebih senang bermain di luar dan murid SMP-SMA yang ada di sana pun juga masih belum banyak yang berkunjung ketika jam istirahat sekolah. Mungkin juga karena bahan bacaan yang cukup berat jika dilihat dari judul-judulnya, sehingga belum mampu menarik minat anak-anak dan remaja. Meskipun begitu, ada beberapa buku cerita bergambar yang menjadi favorit jika sedang ramai pengunjung. Di sela-sela perbincangan, Bu Hasanah menjelaskan bahwa warga pulau memiliki masa nya masing-masing bagaimana cara mendapatkan penghasilan untuk menyambung hidup.

Dulu, mutiara di lautan menjadi lahan untuk memperoleh uang dengan menjualnya untuk dijadikan perhiasan. Pada zaman nenek moyang, mereka menyelam untuk mencari mutiara di kedalaman dan berada di dalam cangkang. Harga jualnya cukup tinggi dan mampu menjadi pekerjaan yang hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dulu, rumput laut adalah komoditas utama yang dihasilkan oleh Pulau Harapan. Dengan semangat dan raut wajah bahagia, Bu Hasanah bercerita bahwa dulu ia sangat senang ikut merangkai bibit rumput laut yang akan ditanam di laut. Belum lagi ketika panen, rumput laut yang jumlahnya menggendut dan semakin banyak, akan dijual ataupun diolah lebih lanjut untuk dikonsumsi. Pada masa itu, ia pernah menjadi primadona dan sumber penghidupan warga pulau.

Dulu, penyu adalah hewan yang diperjualbelikan dan itu bukan hal yang salah. Ketika aturan tentang hewan unyu satu itu belum dibuat untuk melindungi hidupnya. Telur penyu adalah makanan yang dikonsumsi sehari-hari dan bisa dijual pula. Penyu pernah menjadi tumpuan hidup yang padanya warga bergantung akan sumber penghasilan.

Dulu, pulau-pulau tak berpenghuni milik nenek moyang bebas dilihat dan dimasuki untuk tempat bermain. Hanya ada beberapa pulau yang di klaim milik pribadi, salah satunya adalah milik mantan presiden Soeharto. Di mana beliau sering memancing atau sekedar menjamu tamunya. Penjaga pulau tersebut pun adalah salah satu warga pulau. Hingga banyak nenek moyang yang menjual pulaunya untuk biaya pergi Haji. Sejak itu, pulau-pulau itu tak lagi bebas dimasuki.

Kini, homestay menjadi usaha yang digeluti sebagian besar warga pulau. Manisnya penghasilan yang didapat dari menyewakan kamar atau rumah untuk wisatawan telah mampu menjadi jaminan mengepul nya dapur mereka. Meskipun untuk membangun homestay itu harus menyicil atau berhutang pada bank, harapan akan keuntungan yang bisa didapat sanggup membuat pulau itu sekarang penuh dengan bangunan rumah penginapan.

Kini, lahan yang semakin sempit membuat pulau semakin panas. Tanaman pun ditanam secara hidroponik di depan rumah-rumah warga. Tumbuhan mangrove dibudiyakan untuk selanjutnya dijual ke taman nasional dan ditanam di sepanjang garis pantai mengelilingi pulau untuk mencegah abrasi.

Kini, ikan laut hasil tangkapan nelayan dijual untuk usaha catering atau diolah menjadi kerupuk ikan. Rumput laut diolah untuk dijadikan jelly yang lezat rasanya. Penyu memiliki tempat untuk pemeliharaan dan pengembang biakan. Pulau-pulau tak berpenghuni itu sudah menjadi milik para konglomerat atau perusahaan-perusahaan besar. Tak lagi bebas bisa dimasuki karena ada monyet dan anjing penjaga yang ditugaskan di pulau tersebut.

Sore menjelang dan kami berpamitan pada Bu Hasanah. Besoknya, pagi hari kami mengadakan FGD dengan ibu-ibu Pulau Harapan. Mereka juga mengisahkan tentang beberapa hal unik yang menjadi budaya di tempat tinggal nya, termasuk pergeseran budaya yang terjadi seiring berjalannya waktu.
Bu Chandra bercerita bahwa dulu ketika ia pertama kali datang ke Pulau Harapan pada tahun 1988 merasa kagum dengan budaya gerhana bulan. Ketika ada gerhana bulan, maka orang-orang akan bersembunyi di kolong dan perempuan yang sedang hamil akan disiram air tujuh sumur. Walaupun hanya mitos namun menurutnya budaya ini patut dipertahankan karena sekarang sudah mulai hilang. Budaya yang masih bertahan hingga sekarang adalah ngarak tujuh, yaitu ketika anak laki-laki yang setelah di sunat maka akan diarak keliling pulau. Begitu pula dengan pengantin baru yang sudah sah menikah, diarak keliling pulau.

Budaya anak muda yang memperkenalkan pacarnya kepada orang tua dan teman-temannya dengan adanya selipan di meja untuk mengklaim kekasihnya agar tidak diganggu oleh orang lain karena sudah ada yang punya. Ketika ada yang mempunyai hajatan dan mengundang tetangga menggunakan daun suji atau daun pandan yang polos dan tidak ada tulisan apa pun. Jadi, ketika mendapatkan dedaunan sejenis tersebut artinya diundang untuk datang ke rumah pemberi daun. Selain itu, warga Pulau Harapan juga cukup religius dengan budaya di setiap rumah akan ditemui anak-anak yang didampingi orang yang lebih tua sedang mengaji setelah maghrib.

Dulu, pada dekade 90-an anak-anak kecil dan remaja muda masih menggunakan kain sebagai pakaian. Belum ada yang menggunakan rok atau pun celana. Dulu, wisatawan belum sebanyak sekarang. Musafir yang berkunjung ke pulau bisa menginap di rumah Pak RT secara gratis.
Kini, Wisatawan semakin banyak yang berkunjung ke Pulau Harapan dan membawa masuk budaya baru. Anak-anak tak lagi memakai kain, namun rok atau pun celana pendek. Wisatawan pun ada yang berpakaian kurang sopan serta ketika menginap belum tentu memperlihatkan KTP. Musafir tak lagi mendapat tumpangan gratis karena per malam ada rate harga menginap.

Bagaimana dengan esok? Akankah Pulau Harapan tetap mampu menjadi tempat tinggal yang baik dan tempat singgah yang menyenangkan? Dapatkah nanti ketika kini telah menjadi dulu, anak cucu warga pulau bisa bercerita dengan bahagia tentang kisah indah pulau mereka.

Nanti, Pulau harapan bisa menjadi pulau percontohan. Dalam skala nasional maupun internasional. Bisa jadi pulau yang terintegrasi dan ramah lingkungan. Dua hari di sana, saya melihat bahwa warga pulau memiliki jiwa bertahan hidup yang kuat. Hidup dari laut, mereka bisa untuk cepat menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Mereka cukup terbuka dan mau menerima masukan. Akan jadi apa dan dikenal sebagai apa di masa mendatang, itu yang kini perlu direncanakan dan dilaksanakan untuk Pulau Harapan yang menjadi harapan bersama banyak orang.

“Meletakkan Angan di Pulau Harapan” dari Putri Wulandari disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.whiteboardjournal, logo