Musik Bisa Dipasarkan

Column
10.08.17

Musik Bisa Dipasarkan

Melihat Lebih Jauh dari Industri, Menemukan Percik Potensi

by Muhammad Hilmi

 

Belakangan sering terdengar berita tak menyenangkan dari musik. Mulai dari kebangkitan vinyl yang justru membahayakan industri, generasi terkini yang menjauhi musik rock, hingga gitar sebagai instrumen yang semakin dijauhi pembeli. Belum lagi mengenai pola streaming musik seperti Spotify dan iTunes yang belum terlalu jelas potensi monetisasinya. Kebanyakan diantaranya berupa kutukan pada generasi baru yang “merusak” industri dengan selera musik mereka yang tak biasa juga dengan pola konsumsinya yang aneh. Lama-lama, ini terdengar seperti keluhan orang tua kolot pada “polah” anak muda, semata karena mereka mempunyai cara baru dan berbeda dalam beraktivitas.

Padahal sejatinya, justru banyak hal terjadi jika kita mau sejenak mengalihkan pandangan di luar kacamata industri. Lima tahun terakhir, muncul berbagai inisiatif baru yang alih-alih mendekatan akhiran pada takdir perkembangan musik, justru membuka pintu pada kemungkinan-kemungkinan baru yang tak terbayangkan sebelumnya. Beberapa diawali oleh para senior, beberapa yang lain diinisiasi oleh anak-anak muda. Membuktikan bahwa adalah gegabah dan bebal bagi kita untuk mensemayamkan musik pada pusaranya.

Band Tak Lagi Cuma Bisa Menunggu Bola
Hari Kamis, 10 Agustus 2017, Thursday Noise sampai pada edisi ke-12nya. Ini menandai empat tahun eksistensi Thursday Nouse sebagai gig reguler. Digelar sejak 2013 oleh Jimi Multhazam dan kawan-kawannya di Morfem, Thursday Noise adalah bentuk paling nyata tentang bagaimana band tak lagi hanya bisa duduk tenang menunggu panggilan bermain, mereka juga bisa menciptakan peluang sendiri dengan gigs DIY. Tak perlu besar, yang penting konsisten dan tetap dilakukan sembari bersenang-senang. Salah satu hal penting lain yang bisa dipelajari dari Thursday Noise adalah bagaimana Morfem bisa sering bermain sembari berbagi sorot lampu pada band muda lain – juga seniman muda yang ia undang untuk mengerjakan artwork acara.

Jejak inilah yang kemudian dilanjutkan oleh Kelompok Penerbang Roket (KPR) melalui “Huru-Hara”. Di Huru-Hara, Kelompok Penerbang Roket menggelar acara dimana mereka bisa bermain, sekaligus berinteraksi dengan band tamu dan penonton. Dan melalui Huru-Hara, KPR juga memberi makna lebih pada interaksi, dimana pada setiap edisinya mereka mengundang musisi lain untuk saling merespon lagu. Di salah satu episode, mereka mengundang Mooner untuk bernyanyi bersama, dan di episode sebelumnya, mereka bergoyang bersama Pengantar Minum Racun.

Format-Format Baru
Sulit untuk membantah fakta bahwa White Shoes and the Couples Company adalah salah satu band terbesar di Indonesia sekarang ini. Dan yang menyenangkan adalah predikat ini tak menghentikan geliat mereka. Kali ini nama geliat itu adalah Open Studio, sebuah cara yang menarik untuk memberi nafas kehidupan di markas band yang biasanya cuma diisi oleh alat, kru dan personil. Melalui Open Studio, Indra Ameng beserta White Shoes and the Couples mengingatkan bahwa band bisa bersenang-senang tanpa harus memainkan instrumen, dimana pada acara open studionya publik bisa berinteraksi secara langsung di atas obrolan santai dan musik dari piringan hitam – mengaburkan konsep usang tentang jarak antara seniman dan fans. Sesekali, mereka juga menggelar mini konser di studio untuk pengalaman yang lebih intim dan personal.

Mendekatkan Diri pada Seni
Yang ini jelas bukan hal yang baru. Seni dan desain telah lama menjadi elemen penting bagi musik. Terlihat dari semakin banyak band yang dengan bangga berkolaborasi dengan seniman untuk mengerjakan artworknya. Banyak yang berhasil, tapi tak sedikit pula yang kesannya hanya tempelan semata. Polka Wars – perwakilan generasi terkini – dalam hal ini melakukannya dalam skala yang lebih mendalam. Untuk meluncurkan single bagi EP-nya, Polka Wars berkolaborasi dengan studio desain, Table Six untuk membuat eksibisi karya interaktif. Ini agak mengingatkan pada bagaimana The National yang berkolaborasi dengan studio desain legendaris, Pentagram untuk identitas desain album terbarunya. Di skala yang lebih besar, ada Tulus yang juga menggelar pameran untuk promo single terbarunya, “Manusia Kuat”.

Tak berhenti di situ, Polka Wars juga melengkapi momentum rilis “Rangkum” ini dengan video yang juga digarap sepenuh hati. Hasilnya pun menyenangkan, dan kalau diukur dengan perhitungan zaman sekarang, video ini sukses karena banyak diperbincangkan di media sosial. Mengingatkan kembali betapa video musik – jika dibuat dan dikerjakan dengan benar – akan selalu menjadi senjata yang relevan bagi band untuk mempromosikan materinya. Kapanpun ia dirilis, bahkan di era Spotify seperti sekarang ini.

Jika ada garis besar yang bisa ditarik dari berbagai pergerakan di atas adalah tentang bagaimana semua aktivitas tadi mendekatkan musisi sebagai pembuat karya, pada semua elemen yang hidup di sekitarnya. Tentang bagaimana menjadi musisi bukan lagi berarti hidup di posisi suci yang disakralkan. Dan dengan begitu, mereka juga harus liat dan ulet untuk menciptakan interaksi dengan publik melalui gigs, karya dan kolaborasi. Baru dari situ, identitas sang musisi akan jadi relevan di benak pendengarnya. Dan saat sebuah band bisa menemukan titik relevansi ini, rasanya kita tak perlu lagi khawatir dengan kalimat-kalimat semacam “kiamat industri musik”, hingga “senjakala musik kita”.

Supaya suatu hari kita sadar bahwa tak ada gunanya mengutuki pemerintah yang selalu salah arah dalam menyalurkan bantuan dalam hal “kreatif”. Sekaligus membuktikan bahwa paranoia orang-orang tua di atas sana itu tak benar adanya. Karena musik bisa dipasarkan.whiteboardjournal, logo