Jodoh dan Ironi

Column
05.10.17

Jodoh dan Ironi

Di Antara Pertemuan dan Kemungkinan

by Muhammad Hilmi

 

Belakangan, saya melihat makin banyak campaign atau dakwah bagi para perempuan dan laki-laki lajang untuk menikah muda. Ya walaupun sebenarnya sudah ada dari dulu, tapi keberadaan media sosial makin menggencarkan dakwah itu. Setelah membaca-baca, ada satu kata kunci yang pasti selalu hadir di sana, “jodoh.” Saya heran kenapa kata ini melulu dikaitkan dengan pernikahan atau hubungan heteroseksual. Suatu hari saya berbincang dengan seorang teman, ia bertanya, “Kayaknya gue sama dia [pacarnya] jodoh deh. Menurut lu gimana?” Saya menjawab singkat, “Mungkin.”

Dulu, waktu kecil, saya dan mungkin sebagian besar orang masih menganggap konsep jodoh adalah konsep yang ‘udah dari sananya.’ Sebuah konsep di mana perempuan dan laki-laki diikat dalam ikrar suci pernikahan. Maka, orang-orang tua zaman dulu pasti sering berkata, “mereka itu emang jodoh” yang maksudnya si laki-laki dan perempuan sudah menjalani pernikahan dan menjadi suami istri. Konsep ini masih saya terima hingga suatu ketika saya memikirkan tentang adanya perceraian. Pikir saya saat itu kalau jodoh diartikan sebagai laku pernikahan, maka apakah mereka hanya berjodoh sebelum bercerai? Jadi kalau bercerai, berarti sudah tidak berjodoh lagi? Dan konsep jodoh pasti dikaitkan dengan satu perempuan dengan satu laki-laki. Jodoh berarti: tunggal. Tidak mungkin ada jodoh yang jamak. Saya kemudian berpikir lagi, kalau setelah bercerai dan menikah lagi, apakah berarti jodoh dia ada dua? Yang mana yang benar-benar jodoh? Pernikahan sebelum bercerai atau setelahnya?

Pertanyaan ini akhirnya memaksa saya untuk merenung. Saya ingin mendapatkan jodoh dalam artian sesungguhnya. Kebetulan waktu membuka-buka Al Qur’an – kebetulan saya beragama Islam – saya temukan sebuah ayat yang intinya kira-kira berbunyi, “Dialah yang menciptakan langit dan bumi, siang dan malam.” Setelah itu saya merenung lagi, memikirkan bintang-bintang, galaksi, pejalan kaki di lampu merah, penjual es kelapa, gedung-gedung tinggi, semut-semut yang mengerubungi gula, denyut jantung, sel-sel tubuh dan lalu tiba-tiba terpikirkan,

“Gila! Luas betul alam semesta ini”

Dari sanalah saya mendapat pencerahan tentang jodoh ini. Saya yakin semuanya pasti berjodoh, mulai dari yang paling mikro sampai paling makro. Orang tua-orang tua kita juga sering mengatakan ini, “Ya kalau emang jodoh, rezeki pasti dateng ke kita.” Ya, rezeki pun juga jodoh. Artinya, jodoh adalah saat di mana A bertemu B. Sebuah Pertemuan. Ah, itu dia: Pertemuan!

Pertemuan artinya bukan sekadar bertemu, tatap muka, atau bercengkerama. Tapi Pertemuan (dengan P besar) buat saya terkait erat dengan satu hal: Waktu. Di sini kita perlu berterima kasih banyak kepada Einstein yang menemukan konsep relativitas waktu. Dengan penemuannya ini, Einstein mematahkan teori Newton sebelumnya mengenai kemutlakan ruang dan waktu. Berbeda dengan pendahulunya itu, Einstein bilang ruang dan waktu itu relatif dan tak terpisah. Dari sana, ia berkesimpulan bahwa alam semesta ini terus mengembang. Karena terus mengembang, suatu saat pasti akan sampai pada titik keterhinggaannya.

‘Kesatuan ruang dan waktu’ ini mengantarkan kita pada Heidegger, si filosof Jerman itu. Pokok pemikirannya berkisar mengenai “ada” (being). Berkaitan dengan “ada”, Heidegger bilang “ada” tak bisa lepas dari waktu (sein und zeit). Manusia – atau dasein dalam istilahnya – adalah kesatuan antata masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Bagi Heidegger, waktu adalah rentangan di mana semua potensi kemungkinan bermunculan. Dalam setiap kemungkinan inilah akan muncul, pertemuan-pertemuan. Artinya, pertemuan ini tidak dapat dimutlakkan menjadi satu entitas absolut dalam sebuah rentangan waktu. Ia hanya menjadi kemungkinan atau potensi. Dan nantinya, kemungkinan atau potensi ini tidak akan pernah berhenti selama manusia hidup, ia berhenti saat manusia mati. Dalam kematian itulah manusia – dengan alam yang membersamainya – akan mencapai keterhinggaannya. Sejalan dengan pemikiran Einstein.

Jadi, saya berkesimpulan bahwa jodoh atau pertemuan adalah segala hal yang sedang berlangsung di alam semesta ini. Dan manusia sebagai makhluk yang berkesadaran-akan-dirinya harus melihat konsep jodoh dalam bingkai yang lebih luas, tak hanya urusan pernikahan: ekonomi, sosial, politik, budaya, kehidupan, kematian, dan lain-lain.

Lantas, bisakah pertemuan-pertemuan ini diabadikan? Atau ia hanya kesementaraan yang permanen?

Marcel Proust, penulis Prancis itu, mengangkat konsep waktu yang dapat abadi melalui seni. Dalam seni – umpamanya lukisan – warna, tekstur, atau bentuk yang dibuat pelukisnya berabad silam masih dapat kita rasakan secara intens. Karya-karya Affandi, Basuki Abdullah, van Gogh, Picasso, atau Leonardo da Vinci, misalnya, masih dapat kita maknai hari ini meski mungkin akan sedikit berbeda dari tujuan awal yang pelukis buat. Ya, begitulah seni. Batas-batas masa lalu, masa ini, dan masa depan seakan runtuh dalam sebuah karya. Dari sini seniman berhasil mencipta setiap jodoh atau pertemuan atau momen dalam waktu yang transenden.

Kita bisa saja menganggap dia jodoh kita, atau pekerjaan ini jodoh kita, atau kota ini jodoh kita, tapi tak ada pertemuan yang berlangsung selamanya; tak ada jodoh yang abadi. Entah nanti kita mati atau ia yang mati. Pada akhirnya keduanya akan sama-sama mati. Dan kita bisa saja mengabadikan jodoh atau pertemuan itu melalui seni, tapi sayang itu hanya citra. Hanya memorilah yang senantiasa hidup, ia sendiri tak lagi ada di pelupuk mata. Kita hanya bisa menganggap abadi, padahal ia pastilah selalu bersifat sementara. Ironi.

“Jodoh dan Ironi” dari Arlandy Ghiffari disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.whiteboardjournal, logo