Dari Desa

Column
23.11.17

Dari Desa

Belajar Makan Secara Bijaksana

by Muhammad Hilmi

 

Jika berkunjung ke rumah Mbak Yah yang terletak di Dusun Kelingan, Temanggung, mungkin kita akan menjumpai ayam yang dibiarkan berkeliaran bebas. Kita akan bisa mencicip aneka masakan dedaunan asing yang ternyata bisa dimakan, sebuah hal yang pastinya tidak akan bisa dilakukan di pasar kota. Kita bisa memetik jeruk peras dari pekarangan rumah atau kelapa dari ladang, kita bisa merasakan nikmatnya nasi yang dinanak dengan tungku, lebih pulen rasanya.

Jika memasuki pawon (dapur) Mbak Yah, kita akan menjumpai bilik dari anyaman bambu tempat perlatan dapur diselipkan di celah-celahnya. Kita akan melihat atraksi masak Mbak Yah bak koki lihai di atas tungku yang terbuat dari bata. Kita bisa mengambil sayur di panci dengan centong yang terbuat dari batok kelapa dan bambu dengan rakitan sederhana tanpa paku. Menjelang sore kamu akan melihat suami Mbah Yah, Pak Min pulang dari tempat kerjanya, sawah, membawakan oleh-oleh kayu bakar untuk persediaan masak dalam jumlah banyak yang ia dapatkan secara gratis, ambil saja dari sisa tebangan pohon yang tidak terpakai. Sehabis makan kita bisa membantu Ambar, anak Mbak Yah, mencuci piring dengan abu sisa tungku yang diambil dari sisa memasak, tak perlu detergen, hasil cucian malah jauh lebih kesat. Mengalahkan slogan iklan sabun cuci piring.

Jika kita tinggal beberapa hari di rumah Mbak Yah, kita mungkin akan diajak nongkrong untuk makan malam sehabis magrib di ruang makan malam, yaitu pawon, sambil gegenih (menghangatkan diri) dekat tungku. Kita bisa mendengarkan suara jangkrik. Bukan ruang makan dengan meja dan kursi kayu yang apik, hanya dengan kursi kayu jongkok, tapi kita bisa merasakan nyata hangatnya kekeluargaan.

Saat kembali ke kota, kita akan berjumpa lagi dengan hidangan ayam tepung krispi yang dijual dengan harga selangit, tapi malah memicu penyakit. Akibat ayam broiler yang dipaksa untuk besar oleh hormon steroid. Makanan yang kita harapkan akan memberimu nutrisi protein, malah Lebih banyak kandungan lemak dan karbohidrat. Daging olahan yang dicampuri tepung roti kemudian diberi pengawet itu misalnya. Atas nama praktis, kita membiarkan perut melahap makanan yang tak layak.

Jika kita sudah mengunjungi rumah Mbak Yah dan kembali ke kota, mungkin kita akan rindu bau asap dari tungku, memori-memori di peralatan dapur dari material-material alam hingga sudut dapur berbilik bambu. Jika kita adalah seorang desainer, kita akan mengaggumi dasyatnya tangan-tangan orang lokal dalam menganyam keranjang untuk wadah sayur. Kita akan mendamba hidup sehat, tubuh terasa lebih bugar karena kita mengkonsumsi sayur-mayur dari sumber terdekat yang masih segar.Pula sehabis makan kita membakar lemak dengan berjalan kaki di sekitar. Seperti saat pergi ke pusat kota, kita harus melewati sawah sebelum bertemu angkutan umum. Kita mungkin juga akan rindu harumnya daun pisang hasil petik sendiri yang kemudian jadi bungkus makanan.

Jika kita tinggal sendirian di kota, mungkin kita akan rindu dengan yang namanya keluarga. Makan bersama dengan orang tua dan saudara. Menikmati malam yang dingin dengan berhangat bersama. Melihat Mbak Yah yang seharian di pawon tiada habis, kita akan belajar lebih menghargai Ibu yang sudah letih memasak. Kita akan ingin merasakannya lagi, kue-kue kampung yang rasanya tidak neko-neko di lidah. Intinya, kita akan rindu dengan dapur Mbak Yah dan apapun yang terjadi di dalamnya.

Kata Pak Gede Kresna dalam bukunya “Revolusi Dapur”, pawon atau dapur tradisional adalah etalase kehidupan agraris. Karena makanan yang kita makan diperoleh menggunakan piranti-piranti agraris seperti sabit, parang, cangkul. Kehidupan agraris adalah kunci kemandirian kita. Karena desa sejatinya komunitas yang mandiri, bukan bergantung. Menikmati hasil lokal, bukan import. Menghasilkan, bukan menghabiskan. Produktif, bukan konsumtif. Cukup, bukan rakus. Sehat, bukan sakit. Dari makanan menjadi energi utama yang digunakan untuk berpikir, bertindak, bertabula rasa.

Kita bisa mendesain masa depan peradaban yang baik dengan belajar makan secara bijaksana dari desa, Mulai untuk mencoba cari tahu dari mana asal-usul makanan yang kita konsumsi. Memilah-milih makanan apa yang akan layak dimasukan ke perut kita, dan mensyukuri nikmatnya hidup sehat.

Terima kasih keluarga Mbak Yah, Pasar Papringan, serta Spedagi atas kesempatannya belajar makan secara bijaksana dari desa.

“Dari Desa Belajar Makan Secara Bijaksana” dari Nadia Maghfira disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.whiteboardjournal, logo