Tentang Pasar

Column
15.03.18

Tentang Pasar

Antara Identifikasi dan Interaksi Manusianya

by Muhammad Hilmi

 

Suatu waktu, seorang teman menyodorkan tanya, “Lo tahu enggak, kalau mau nyari barang antik atau lawas gitu, di mana?” Segera saya menyambar, “Di Bayoran (Pasar Kebayoran Lama).”

Waktu itu, teman saya hendak mencari beberapa perlengkapan untuk kebutuhan artistik film. Berbekal pernah ngeluyur di Pasar Kebayoran Lama, maka saya merekomendasikan dia untuk mencarinya di sana.

Pada kolom ini, saya tidak akan membahas tentang drama romantisasi kepiluan manusia pasar, atau porsi keterdesakan pasar dengan swalayan, melainkan sedikit ngobrol perihal pasar dan identifikasinya, serta interaksi manusianya.

Seperti kasus di atas, saya langsung mengidentifikasikan, bahwa jika ingin mencari barang-barang lawas, maka bisa mencarinya di Pasar Kebayoran Lama.
Menggejalanya pasar modern, atau yang akrab di mulut dan telinga kita dengan istilah supermarket, dan sub-subnya: mini market, membuat pasar tradisional kehilangan pamor serta popularitasnya. Masyarakat era modern kini mungkin cenderung akan lebih memilih bertandang ke supermarket, tinggal susur rak, ambil barang yang diingini, antre, lalu bayar di kasir. Ketimbang harus menyusur lorong, menawar, menyambangi kios satu ke kios lain di pasar tradisional. Namun, bagi sebagian, kegiatan terakhir yang disebutkan, masih menjadi pilihan, terlebih bagi masyarakat rural, juga beberapa sebagian masyarakat urban.

Pasar tradisional bagi saya adalah suatu tempat menarik, saat kita bisa menyaksikan, juga merasakan interaksi manusia di dalamnya, hingga pada akhirnya, muncul identifikasi suatu pasar.

Saya sepertinya belum pernah mendengar, “Gue mau beli kerudung, yang banyak pilihan di mana ya?” Lalu dijawab, “Oh, itu di Indomaret Ancol.” Rasanya, orang akan lebih tepat merekomendasikan, “Ke Tanah Abang aja.”

Di saat pasar tradisional harus bersaing dengan menjamurnya mini market, yang bahkan sudah masuk ke dusun-dusun, menarik mencermati identifikasi-identifikasi yang terbentuk terhadap suatu pasar, oleh masyarakat. Jika muncul identifikasi demikian, maka proses terciptanya ‘citra diri’ pasar memiliki perjalanan sejarahnya sendiri. Seperti halnya Tanah Abang, yang akan menjadi top of mind di masyarakat adalah, busana, tekstil, atau oleh-oleh haji.

Atau Pasar Rawa Belong, Jakarta Barat. Kembang atau bunga, sudah menjadi identifikasi bagi pasar yang juga terkenal dengan kue pancongnya ini. seperti yang saya katakan, terbentuknya identifikasi oleh masyarakat atas suatu pasar, pastilah dilatar belakangi oleh interaksi manusia pasarnya, yang sudah menjadi bagian historis pasar tersebut.

Premis ini saya perkuat ketika bertemu dengan Nemun, salah satu penjual bunga tabur di Pasar Rawa Belong. Ia sudah berjualan sejak tahun 1982, saat masih SMP, dan masih ikut orangtuanya. “Dulunya mah ini (pasar) adanya di lampu merah, di pinggir-pinggir jalan, baru sekitar tahun 1999 Pemda bikin di tempat yang sekarang ini,” ceritanya sembari memasukkan bunga tabur ke dalam plastik.

Nemun mulai memiliki kios sendiri pada tahun 2000-2001an, hingga kini. Ia memasok bunga tabur dari kawasan Meruya, Jakarta Barat. Satu plastik, ia hargai Rp 10 ribu. Dalam sehari ia bisa menjual 50 hingga 100 plastik bunga tabur. Nemun juga menceritakan beberapa latar etnis pedagang di Pasar Rawa Belong ini, di antaranya Betawi, dari Jawa, juga Sunda, semuanya membaur.

Pasar memang suatu tempat yang menjadi proses berlangsungnya interaksi manusia dari berbagai latar, termasuk latar geografis. Mereka datang sebagai perantau untuk berdagang. Dalam Selamatkan Pasar Tradisional, Herman Malano menyebutkan, “Dulu kebanyakan orang memilih profesi untuk berdagang dilandasi oleh niat untuk maju dan sukses. Mereka menjadi pedagang karena adanya panggilan jiwa dan tekad yang kuat untuk berniaga. Banyak di antara mereka datang dari daerah lain untuk berdagang di suatu kota. Kaum laki-laki masyarakat Minang misalnya, banyak yang merantau ke daerah lain untuk mengadu kemampuan berniaga di rantau.”

Pasar tradisional, yang juga disebut-sebut modern, karena mungkin salah satu alasannya adalah terletak di Jakarta Selatan, mana lagi kalau bukan Pasar Santa. Boleh jadi, trade mark yang muncul untuk Pasar Santa adalah ‘pasarnya anak muda (gaul) Jakarta.’

Toko buku, kios piringan hitam, kios fesyen ala muda urban berjejer di sana, juga tidak kalah, kedai-kedai kopi. Bahkan, helatan konser. Jadi, wajar saja, kalau Pasar Santa diidentikan dengan Pasarnya anak muda. Meski modern, bukan berarti Santa tidak menyediakan lapak bagi pedagang tradisional. Pasar ini boleh jadi, juga sebagai melting pot modern-tradisional. Masih ada tukang sayur, kios kembang, atau abang cincau mangkal di depan pasar.

Pasar Senen, kadung lekat dengan identifikasi kue subuh serta baju pre loved–istilah keren dari baju bekas. Atau mungkin, Pasar Gembrong di Jakarta Timur, identik dengan boneka dan karpet-karpetnya, Pasar Jitem (Jembatan Item) Jatinegara, juga dengan barang-barang bekas dan antiknya.

Apakah identifikasi khas ini akan kita temukan pada pasar-pasar modern yang berpendingin ruangan serta penuh troli belanja itu?

Interaksi Manusia Pasar
Mengutip Herman Malano, dalam Selamatkan Pasar Tradisional, “Pasar lahir dari keinginan beberapa orang untuk memperoleh bahan kebutuhan. Pada mulanya, transaksi di pasar dilakukan dengan tukar menukar barang yang dimiliki dengan barang yang dikehendaki. Misalnya, antara petani, peternak, dan nelayan terjadi pertukaran hasil produksi mereka masing-masing. Tadinya, pertukaran terjadi di sembarang tempat. Lama kelamaan, terbentuklah kesepakatan untuk menentukan suatu lokasi menjadi semacam pusat barter. Perkembangan berikutnya transaksi dilakukan dengan mata uang dengan nilai tertentu sehingga masyarakat yang tidak memiliki barang pun bisa membeli kebutuhannya.”

Jika menilik apa yang diungkapkan Malano, pasar memang menjadi tempat interaksi antar manusia, yang pada akhirnya menjadi keunikan tersendiri, yang membentuk identifikasi suatu pasar.

Di pasar, masyarakat lebih cair menjalin komunikasi. Bertemu saudara, teman, lalu berhenti sejenak dan ngobrol sebelum lanjut belanja, paling tidak, itu adalah kenangan masa kecil saya saat mengekor ibu ke pasar.

Bahkan, di pasar, kita bisa menemukan saudara baru. Baik sesama pedagang, atau antar pedagang dan pembeli. Kita tidak akan menemui ‘tambahan item belanjaan’ di supermarket, kecuali tertera diskon, beli dua dapat tiga. Tapi di pasar, pedagang terkadang memberikan item tambahan untuk langganan, atau konsumen baru.
Kita juga tidak jarang akan menjumpai, saat pembeli sudah melengos pergi lantaran harga tidak pas, maka si pedagang akan memanggil kembali. Inilah interaksi manusia khas pasar. Interaksi manusia yang lebih manusiawi, yang ketika bertatap muka tidak akan menampakan ekspresi dingin antar orang asing, tapi ragam ekspresi yang menyulut perbincangan. Bukan sekadar bayar dan beli barang.

“Tentang Pasar” dari Fathurrozak disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.whiteboardjournal, logo