Kepada Puisi

Column
22.03.18

Kepada Puisi

Tentang Hidup dan Diskusi yang Ada di Dalam Budaya Puisi

by Muhammad Hilmi

 

Aku lihat orang-orang menjadi gila karena puisi. Sebenarnya aku tidak melihat bahwa aku hidup di era penyair berjaya seperti berjayanya Awkarin dan Younglex, tapi aku lihat orang-orang biasa dibuat mabuk oleh puisi. Aku mencari sebuah informasi mengenai fenomena ini di internet, kudapati beberapa penyair-penyair muda pendatang baru yang menghiasi Pulau Jawa dengan kisah-kisah mereka hidup dengan puisi.

Astrajingga, mabuk puisi hingga lupa mencukur rambutnya, entah memang tidak peduli atau ada alasan lain, mungkin ia ingin mendengar irama puisi dari rambutnya setiap kali angin berhembus menyapa rambutnya. Ada pula Gilang Perdana, berpuisi telah meningkatkan nafsu makannya. Ada lagi nama seperti Muh. Dandy, aktivitasnya berpuisi membuatnya lupa menyelesaikan kuliahnya, mungkin ia sudah tidak butuh kelulusan karena sudah merasa hidup berkecukupan dengan karya-karya puitiknya. Memey, satu-satunya penyair perempuan pendatang baru, ia bertutur di sebuah majalah online remaja terkenal, bahwa dirinya hanya ingin dilamar oleh puisi, itupun bukan puisi kacangan dari penyair gadungan. Ia sangat selektif dalam memilah puisi yang hendak meminangnya, bahkan ia berujar bahwa seseungguhnya ia ingin menikahi puisinya, bukan laki-lakinya. Penyair-penyair pendatang baru ini benar-benar memiliki kisah aneh dengan puisi.

Pernah aku mendengar cerita dari temanku, ia bercerita bahwa pernah mendapati berita di sebuah surat kabar memberitakan tentang kematian konyol seorang remaja yang membacakan puisi dengan penuh retorika di tengah jalan raya saat tengah malam. Ketika remaja itu tiba di bait ketiga tiba-tiba saja mobil melintas dengan sangat cepat hingga menabrak remaja itu dan tewas di tempat. Begitu ujar saksi mata yang tak lain teman remaja itu.

Beberapa hari kemudian, aku melihat postingan instagram milik temanku, poster tentang Malam Puisi Jakarta yang akan diadakan sabtu dua minggu lagi, nama Astrajingga tertera di sana sebagai narahubung. Dari situ aku menyeting jadwalku agar aku bisa menghadari Malam Puisi Jakarta. Disela-sela menanti acara Malam Puisi Jakarta, aku terus mengikuti postingan blog keempat penyair muda pendatang baru itu; Astrajingga, Gilang Perdana, Muh. Dandy dan Memey. Meski aku tidak terlalu mengerti tentang puisi, tapi aku bisa menikmati puisi-puisi mereka. Seperti aku makan di restoran mahal, aku tidak perlu tahu proses pembuatan makanan itu tersaji, aku cukup melahap untuk menikmatinya.

Tepat tiga hari sebelum acara Malam Puisi Jakarta digelar, Gilang Perdana membuat pengumuman di blognya mengenai writer project-nya, ia ingin menerbitkan antologi puisi bagi siapapun yang mengirimkan karyanya ke alamat emailnya, tentu dengan seleksi. Aku sama sekali tidak berkeinginan mengirimkan puisi, bukan karena aku minder dengan ketidakpahamanku tentang puisi, tapi aku menempatkan diriku sebagai penikmat puisi, bukan penulis puisi. Aku tidak ingin menjadi penyair.

Sabtu pun tiba, acara Malam Puisi Jakarta digelar di Taman Menteng. Aku tiba di lokasi tepat pukul 20.25 saat Muh. Dandy membacakan puisi karyanya. Aku duduk di antara kerumunan orang-orang yang tidak terlalu ramai, asumsiku sekitar 15 orang. Kupikir acaranya akan ada panggung, ternyata tidak, acaranya cukup sederhana. Orang-orang datang, duduk dan jika mereka mau mereka bisa membaca puisi di depan, entah puisi mereka sendiri atau dari penyair beken. Aku datang tanpa membawa satupun buku kumpulan puisi, sedangkan pengunjung lainnya yang datang setidaknya membawa satu buah buku kumpulan puisi.

Tepat pukul 21.15, acara Malam Puisi Jakarta usai, tak terasa 50 menit aku duduk manis mendengarkan orang-orang berpuisi. Aku berdiri dari dudukku hendak ke toilet untuk sebuah ritual pelepasan air seniku. Setelah selesai dengan ritualku, di toilet aku bertemu dengan Astrajingga. Kulihat dirinya dari dekat, terlihat jelas bahwa ia seperti tidak mengurus rambut gondrongnya, tapi yang membuatku heran, tubuhnya memancarkan semerbak wewangian sederhana, aku curiga bahwa ia menyirami tubuhnya dengan puisi sebelum datang ke sini. Langsung kusapa ia, “Astrajingga”. Ia menoleh ke arahku dengan sedikit menyimpan keraguan dari gerakkan kepalanya. “Ya, saya” ucap Astrajingga. Kukatakan bahwa aku adalah pembaca puisi-puisinya yang ia tulis di blognya. Ia pun tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Kukatakan padanya bahwa aku ingin mengobrol dengannya tapi tidak bisa malam ini, karena aku sudah ada janji lagi pukul 22.00. Dengan ramah ia pun mengundangku esok hari pada sore hari untuk datang ke rumahnya. Kuingat-ingat jadwal hari mingguku, minggu sore kosong, tak ada janji ataupun kegiatan di waktu itu. Kukatakan aku akan datang besok sore. Kami pun saling tukar nomor handphone dan ia tuliskan alamat tempat ia tinggal di note handphoneku. Setelah selesai, aku pun pergi.

Esok harinya aku bertamu ke kediaman Astrajingga. Setibanya di sana, ia tinggal di kontrakan sederhana, di depan pintu yang datar tanpa ornamen, aku dikagetkan dengan puisi-puisi yang tertulis dengan tulisan tangan di pintu kediamannya, ada beberapa puisi yang kutahu itu tulisannya, sedang puisi lainnya kutak tahu. Sebelum kuketuk pintunya, ia pun keluar dengan menggunakan kaos oblong dan sarung bermotif kotak-kotak. “Sudah kuduga kamu yang berdiri di depan pintu.” ucapnya. Ia pun mempersilakan kumasuk. Begitu aku masuk, kulihat dinding kontrakannya pun penuh dengan puisi-puisi bertuliskan tangan. Lalu ia pun menjamuku dengan teh hangat dan beberapa gorengan yang ia letakkan di atas tiker yang tergelar di ruangan depan kontrakannya. Aku dan ia pun duduk bersama. “Apakah kamu tertarik dengan puisi?” Ucapnya, membuka obrolan. “Apakah setiap orang yang datang ke sini selalu membicarakan puisi?” Tanyaku balik. Ia pun tersenyum, lalu menjelaskan bahwa biasanya orang yang baru ia kenal kemudian mengajaknya bicara intim seperti ini ingin membicarakan puisi.

Kujelaskan maksud tujuanku bertamu. Bahwa benar aku ingin membicarakan puisi, walau kujelaskan pula bahwa aku tidak tertarik menjadi penyair. Selain itu aku ingin menambah daftar temanku dengan berkenalan dengannya. Aku bertanya mengapa orang-orang bisa gila karena puisi? Ada yang rela hidup melarat hanya karena inging menjadi penyair, lalu mati dalam kemelaratan. “Karena itu kamu tidak tertarik menjadi penyair?” Tanyanya. Kukatakan bahwa hal itu ada benarnya, tapi kujelaskan pula bahwa aku memang tidak ada minat lebih terhadap puisi, minatku terhadap puisi pun sebatas penikmat, itu pun kubatasi lagi hanya beberapa puisi saja yang kunikmati. “Akan kujelaskan sebisaku.” Ucapnya.

Puisi memang tidak menjanjikan kekayaan, bahkan ilmu pengetahuan manapun tidak pernah menjanjikan kekayaan. Para filsuf besar sekalipun tidak pernah berkata bahwa dengan ilmu maka kita akan kaya harta. Nabi manapun jua begitu, tak pernah berpesan bahwa dengan ilmu pengetahuan umum ataupun agama akan menjadikannya kaya harta. Jika ada orang yang belajar hanya untuk mengejar kekayaan, maka logika orang itulah yang keliru. Lain halnya dengan takdir, hidup dan mati itu sepenuhnya kendali Tuhan. Bukan karena puisi atau karena ia seorang penyair. Orang yang bergelimang harta pun bisa saja ia mati karena kecelakaan atau penyebab lainnya. Lalu apakah kita harus membenci takdir? Tentu tidak. Puisi tidak pernah mengajariku untuk membenci takdir ataupun membenci kematian. Puisi juga tidak mengajarkanku untuk menjadi abadi.

Kucukupkan penjelasan dari Astrajingga dengan mengatakan bahwa penjelasannya sudah membuatku puas, nalarku menerima penjelasannya. Logikaku yang keliru, mungkin ada baiknya aku belajar berpuisi untuk menata kembali logikaku. Kuberitahu ia bahwa penyair yang mati karena kemelaratannya adalah ayahku sendiri. Almarhum ayahku meninggal saat aku masih kanak-kanak. Ayah meninggal terkena penyakit keras, karena tak memiliki uang, penyakit ayah tak bisa ditolong lalu hidupnya pun terhenti saat itu. Kujelaskan juga bahwa aku melihat fenomena orang-orang yang gila puisi akhir-akhir ini menjadikanku mengingat kembali ingatanku tentang kematian ayah 20 tahun yang lalu. “Siapa nama ayahmu?” Tanyanya. “Harun Cahya.” Jawabku. Kutanyakan padanya apakah ia mengenal nama yang kusebutkan tadi, ia pun mengangguk. “Puisi Harun Cahya banyak mengangkat kehidupan orang-orang pinggiran.” Jelasnya.

“Sepertinya kamu masih hidup sendiri, belum punya pasangan?” Tanyaku. Ia mengangguk. Kutanyakan lagi, “Mengapa tidak kamu coba saja melamar Memey dengan puisimu? Tentu puisimu bukan puisi kacangan dan kamu pun bukan penyair gadungan.” Ia menjelaskan bahwa, “Aku tidak ingin dibuat kecewa oleh puisi, seandainya aku ikut menjadi daftar pelamar Memey dengan puisiku, lalu puisiku ditolak, berarti cintaku ditolak, kemudian aku dibuat gundah gulana oleh penolakan itu, bisa saja saat itu juga aku menjadi membenci puisi, lalu berhenti menulis ataupun membacakan puisi. Aku tidak ingin seperti itu. Di luar sana masih banyak perempuan yang tak kalah menarik dari Memey yang bersedia dilamar tanpa mempertaruhkan kecintaanku pada puisi.” Jelasnya.
Orang yang duduk dihadapanku benar-benar sudah gila puisi.

“Kepada Puisi” dari Aditya Septian Pamungkas disubmit melalui program Open Column. Jika ingin menjadi bagian dari program ini, klik tautan berikut: Whiteboard Journal Open Column Program.whiteboardjournal, logo