Estetika dalam Bising Suara

Column
29.03.18

Estetika dalam Bising Suara

Membahas Feedback dalam Musik

by Febrina Anindita

 

Sebagai seorang musisi, saya sangat senang mencoba dan memainkan segala macam alat musik, bahkan yang bukan merupakan alat musik sekalipun. Saya percaya bahwa semua hal bisa dijadikan medium untuk berkarya. Berbagai macam medium itu bisa berupa bunyi-bunyian sederhana sampai yang paling rumit sekalipun. Sebetulnya, semua alat musik tercipta dari eksperimen dan hasil percobaan manusia pada zamannya yang lalu berkembang seiring kemajuan zaman. Saat ini, industri alat musik sudah menjadi komoditas yang besar.

Tetapi bukan berarti alat musik yang kita kenal (gitar, bass, drum, dll) berhenti fungsinya sampai di situ. Setiap instrumen masih bisa kita eksplorasi dan gali lebih dalam lagi. Bahkan, kita bisa membunyikan instrumen musik itu tanpa harus mengikuti seperti yang tertulis di buku panduan. Dalam hal ini, saya akan memberi contoh suara “Feedback” yang biasa digunakan oleh instrumen gitar. Dalam istilah audio, Feedback adalah suatu signal yang terproses berlipat-lipat sehingga membentuk signal suara yang sama dan terjadi terus menerus.

Kalau digambarkan kira-kira seperti ini :

huawesmall

“Feedback describes the situation when output from (or information about the result of) an event or phenomenon in the past will influence the same event/phenomenon in the present or future. When an event is part of a chain of cause-and-effect that forms a circuit or loop, then the event is said to “feed back” into itself” (Wikipedia).

Feedback adalah suatu suara tidak enak yang dihasilkan oleh pengulangan hingga menghasilkan penumpukan signal suara terus menerus, sehingga volume suara tersebut juga bertambah berkali-kali lipat. Feedback bisa berdampak sangat berbahaya karena kerasnya frekuensi suara yang dihasilkan seperti Tinnitus, pengang, susah mendengar bahkan yang paling parah adalah kerusakan pendengaran permanen. Kalau dalam praktek gampangnya, coba kita ambil microphone di rumah atau di tempat karaoke, lalu dekatkan microphone tersebut ke speaker, akan terjadi suara keras, tajam, berdengung dan melengking yang membuat sakit telinga kita.

Uniknya, ketidaksengajaan itu membuat suara feedback dipakai sebagai salah satu efek suara oleh para musisi karena suara ini bisa memberi efek yang keren. Saat berkembangnya teknologi rekaman dan industri musik komersial, suara feedback sangat dihindari karena dinilai merusak estetika musik dan mengganggu teknis rekaman. Baru pada tahun 1964 suara feedback pertama kali digunakan dalam rekaman komersial yaitu oleh The Beatles pada intro lagu “I Feel Fine.” Sejak itu, suara feedback digunakan oleh banyak musisi (terutama gitaris) sebagai efek suara dalam menambah khazanah estetika musik.

Suara keras yang tidak enak dan bisa membahayakan pendengaran bisa menjadi sesuatu yang positif dan membangun apabila digunakan dengan bijak.

Lalu, bagaimana dengan para wakil rakyat di Indonesia? apakah mereka bisa mendengar “Feedback” dari masyarakat atas kinerja mereka tanpa merusak pendengaran dan menjadikannya hal yang positif? Atau mungkin mereka takut suara feedback akan merusak pendengaran sehingga perlu membuat Undang-undang MD3 agar terhindar dari aspirasi rakyat?whiteboardjournal, logo