Diskusi Afternoon Tea #35

13.05.16

Diskusi Afternoon Tea #35

by Ken Jenie

 

Diskusi Afternoon Tea #35: Cerita Sebuah Ruang. Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang Mes 56

Pembicara:
Akiq A.W. (Ruang Mes 56)
Agung Hujatnikajennong (Kurator seni rupa dan pengajar seni rupa FSRD ITB)

Moderator:
Chabib Duta Hapsoro (Selasar Sunaryo Art Space)

Pustaka Selasar bekerjasama dengan Ruang Mes 56, mengundang Anda menghadiri program diskusi Afternoon Tea #35: Cerita Sebuah Ruang. Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang Mes 56

Pada akhir 90an dan awal 2000an, di Yogyakarta bermunculan kelompok-kelompok anak muda yang mengelola kegiatan, terbitan dan ruang diskusi/pameran yang kala itu disebut dengan ruang alternatif. Dalam ranah seni rupa, kemunculan ruang alternatif ini menandai generasi baru seniman Indonesia yang memiliki kesadaran untuk tidak lagi melihat arus utama sebagai kiblat dan lebih memfokuskan diri pada bentuk-bentuk kesenian yang personal sekaligus memilih aktivisme sebagai jalan keluar.

Ruang MES 56 sebagai eksponen generasi ini merupakan salah satu yang masih bertahan hidup hingga sekarang. Sebagai kolektif seni yang fokus pada fotografi, mereka menyaksikan transisi dari era fotografi analog ke digital, mengalami masa ketika fotografi dipertanyakan status ‘seninya’ hingga diundang ke biennale seni rupa. Perjalanan kolektif ini tentu saja menorehkan bekas dalam sejarah seni dan fotografi di Indonesia, yang sedikit banyak membentuk kondisi saat ini, dimana fotografi sebagai praktek populer begitu berkembang secara masif sedangkan disisi lain fotografi sebagai medium kesenian begitu stagnan. Disini peran kolektif sebagai agen pengetahuan dan pengembangan kapasitas masyarakat diuji dan secara terus-menerus dipertanyakan.

Melalui buku “Cerita Sebuah Ruang. Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang MES 56” ini, kolektif MES 56 melakukan semacam self critics atas peran atau kiprah mereka selama lebih dari 10 tahun terakhir. Ikhtiar terlihat dengan metode dan struktur buku ini, dimana mereka mengundang 6 penulis untuk memberikan pandangannya atas sepak terjang MES 56 dari perspektif kompetensi masing-masing. Sedangkan dari segi struktur, buku ini disusun menjadi tiga pokok bahasan, yaitu sejarah fotografi di Indonesia, selanjutnya fotografi dalam konteks seni rupa di Indonesia dan diakhiri oleh upaya reflektif yang bergerak ulang-alik melihat sejarah dan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang muncul dari perjalanan MES 56 sendiri. Dua pokok bahasan di awal menjadi latar bagi keberadaan MES 56 yang berpijak di dua ranah visual: fotografi dan senirupa, dan bagian terakhir merupakan upaya menghadirkan kembali beragam peristiwa yang menyusun MES 56 hingga mencapai formasinya kini, guna membayangkan ke depan.

Buku ini mengisi celah menganga atas literatur fotografi di Indonesia baik dari perspektif kesejarahan maupun wacana.

Penulis:
Akiq AW, Alia Swastika, Brigitta Isabella, Ferdiansyah Thajib, Nuraini Juliastuti, Puthut EA, Yudhi Soerjoatmodjo

Buku Cerita Sebuah Ruang
Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang Mes 56 bisa didapatkan di Cinderamata Selasar Sunaryo Art Space dengan harga:
Rp 250.000,- (umum)
Rp 200.000,- (mahasiswa)

————————————————
SELASAR SUNARYO ART SPACE
Jalan Bukit Pakar Timur No.100
Bandung 40198
Tel: +62 22 2507939 Fax: +62 22 2516508
E-mail: selasar@bdg.centrin.net.id
Website: www.selasarsunaryo.comwhiteboardjournal, logo