Reimagining JKT: SKRG

13.02.17

Reimagining JKT: SKRG

Musik Jakarta Era Sekarang

by Muhammad Hilmi

 

Entah sudah berapa tulisan yang mengirimkan puja dan puji bagi album JKT: SKRG. Beberapa menyematkan label “monumental”, beberapa yang lain menyatakan bahwa album ini telah mengubah hidup mereka, namun satu hal sepertinya bisa disepakati, bahwa album ini memiliki posisi yang penting dalam peta musik lokal. Selain merupakan dokumentasi mengenai musik yang muncul di era itu – sebuah usaha yang sampai kapanpun harus terus dilakukan – album ini teramat penting karena mampu menjadi pemetaan yang visioner mengenai arahan baru dari musik lokal.

Pada saat dirilisnya, line up pengisi kompilasi ini masih hanya diketahui segelintir kalangan: para pengunjung BB’s dan mungkin beberapa anak kampus IKJ. Tahun 2004, Ricky, Mela dan John baru saja bergabung dengan White Shoes and The Couples Company yang saat itu baru berisi Sari, Rio dan Ale, The Upstairs baru saja merilis album debut, “Matraman”, dan album masterpiece Sore, “Centralismo” baru dirilis setahun setelahnya. Memang nama-nama tersebut adalah besar sekarang ini, tapi saat JKT: SKRG dirilis, posisi mereka masih jauh dari pencapaian yang telah mereka raih hari ini. Dan itulah yang membuat esensi JKT: SKRG tak terelakkan, David Tarigan, Aksara Records beserta tim yang terlibat dengan jeli memilih nama-nama yang dikemudian hari mendefinisikan musik independen Jakarta (jika bukan Indonesia).

Lebih dari satu dekade berselang, album JKT: SKRG masih menjadi referensi penting, entah sudah berapa band metal lokal yang terinspirasi dari Seringai, dan mungkin hampir semua band indie-pop lokal menggilai musik White Shoes and The Couples Company. Tapi semenjak itu pula, peta musik lokal berkembang, dari referensi yang dikumpulkan dari para seniornya, muncul berbagai warna baru yang tak kalah menariknya. Jika dulu JKT: SKRG dikumpulkan dari gig yang terpusat di satu tempat, sekarang setiap minggunya ada gig di berbagai tempat, dan masing-masing diantaranya punya jagoan masing-masing.

Sudah saatnya ada album penerus yang melanjutkan semangat JKT: SKRG dalam hal dokumentasi, juga dalam hal scouting mengenai nama-nama baru yang sekiranya bisa menandai zaman, juga memetakan arah musik lokal ke depan. Karena soal talenta di bumi kita, mungkin hanya langit batasnya. Dan jika boleh membayangkan kalau suatu saat ada proyek serupa, berikut adalah beberapa diantaranya yang bisa merepresentasikan musik Jakarta, Sekarang.

B. C. Marcukundha

Sejatinya B. C. Marcukundha bukanlah nama baru di scene musik lokal, ia merupakan otak dari salah satu Jakarta’s best kept secret, Voyagers of Icarie. Tapi rasanya sayang jika musik yang ia bikin atas namanya sendiri (kadang juga atas nama Urokere Singers) ini kemudian jadi rahasia juga, karena kekayaan nuansa yang dimilikinya. Di “Jalan Kembali” misalnya, kita akan dibawa pada suasana musik OST. Badai Pasti Berlalu yang hangat. Jika publik kini mengenal dan menggemari musik dari Sore atau Mondo Gascaro, rasanya B. C. Marcukunda bisa menjadi nama ketiga yang tak kalah secara kualitas.

The Stocker

Nama The Stocker mungkin masih sedikit asing di telinga, namun seketika setelah menonton perform live mereka, musik The Stocker akan terasa dekat dengan jiwa-jiwa yang pernah merasakan kerasnya jalanan Jakarta. Punk rock yang mereka nyanyikan terasa diambil langsung dari gang sempit berbau selokan, dengan lirik yang menyerukan pergerakan, tanpa harus terdengar seperti pidato aktivis kesiangan. Malah, mereka kadang menyanyikannya dengan beat-beat yang memancing dansa, seolah berkata bahwa saat kehidupan mengekang, salah satu perlawanan yang bisa dilakukan adalah dengan menari diatasnya.

Vira Talisa

Selain keras, Jakarta terkadang juga terasa hangat pada saat-saat dimana percakapan dan gagasan baru kemudian muncul dan berkembang. Dan pada saat-saat seperti itu, musik dari Vira Talisa adalah lagu tema yang yang paling akurat. Vira membuktikan bahwa ada hal lebih yang bisa dilakukan daripada sekedar pamer cover akustik dari musik populer di soundcloud. Ia melangkah jauh darisitu, lagu baru diciptakan, dan saat rilis, EP sudah jadi dambaan banyak orang. Potensinya juga masih sangat luas untuk dikembangkan. Dengan produser yang tepat, bukan tak mungkin ia bisa menjadi nama yang jauh lebih besar dari sekarang, dan kompilasi ini bisa menjadi jalan menuju kesana.


Sharesprings

Cukup disayangkan saat label indie-pop seminal HeyHo memutuskan untuk menghentikan aktivitas mereka. Untungnya, berhentinya langkah Heyho tak berarti bahwa langkah musisi yang pernah merilis materi bersama mereka harus berakhir pula. Salah satu diantaranya yang semoga berumur panjang adalah Sharesprings. Menggabungkan shoegaze dengan indie rock yang jangly, Shareprings seolah merekam berbagai macam subkultur musik indie dalam satu kesatuan yang tepat guna. Tak akan ada roster Kolibri disini, tapi sepertinya Bedchamber dan kawan-kawan akan paham dengan alasannya saat membaca Sharespings di line-up kompilasi.

Logic Lost

Salah satu hal yang membuat JKT: SKRG menarik adalah keberaniannya untuk memasukkan ruanghampa – proyek solo dari Leonardo Ringo di akhir kompilasi. Berdurasi 10 menit, “Meter” dari ruanghampa yang terdengar seperti balada di awal, dan bising nan repetitif di akhiran, adalah pengalaman yang menarik bagi pendengar musik saat itu. Logic Lost mungkin adalah salah satu personifikasi keliaran semacam di era generasi z ini. Sekaligus merupakan potret bagaimana musik elektronik menjadi warna utama malam-malam Jakarta. Dylan Amirio, otak dari Logic Lost yang banyak bermain di warna musik rilisan Warp Records tentu akan memperkaya kompilasi ini. Akan menarik bila misalnya Logic Lost berkolaborasi dengan seniornya, Space System atau Maverick untuk membuat album ini makin spesial.

Jason Ranti

Tak lengkap rasanya jika sebuah album kompilasi lintas genre tak memasukkan folk di dalamnya. Dan, hanya cukup sekali dengar “Bahaya Komunis” dari Jason Ranti, terasa seberapa penting lagu ini untuk diabadikan dalam kompilasi musik yang merekam zaman. Jason tak terjebak dalam tren neo-folk yang memainkan versi mendayu dari genre ini, ia mengambil versi paling dasar yang sederhana, tapi dengan pesan yang penuh makna. Pembawaannya pun juga riang, membuat liriknya yang sinikal (salah satu lirik terbaik tahun 2016) terasa lebih real.

Vague

Vague mungkin adalah salah satu hal terbaik yang muncul dari tren post-hardcore revival yang marak belakangan. Mereka menjadi bukti bagaimana post-hardcore (sering juga disebut dengan namanya yang lebih populer, namun kurang disukai, emo) juga memiliki kualitas. Lirik mereka yang introspektif adalah keistimewaan, tapi kemauan mereka untuk terus mengembangkan arahan musik adalah kualitas terbaik mereka. Sebuah hal yang sangat terasa di single baru mereka yang akan segera dirilis awal tahun ini.

Sugarkane

Jika saja Sugarkane keluar di saat yang sama dengan Teenage Death Star, mungkin Sir Dandy dan kawan-kawan tak akan mengambil dua jatah track di album JKT: SKRG, karena Sugarkane jelas memiliki potensi yang sama – atau bahkan lebih dari grup yang mengkampanyekan semangat zonder-skill itu. Sugarkane memainkan musik yang sama minimalisnya – dengan intensitas yang berkali lipat dalam nuansa yang sangat mentah, namun justru disitulah kekuatan utama mereka. Jika masih ragu, silahkan buru penampilan unit riot grrl ini, dan lihat bagaimana mereka mendobrak dan menghancurkan ragu itu.

Matter

Suka atau tidak, jika tak ada kegaduhan dari Rich Chigga dan terutamanya Young Lex, mungkin scene hip-hop lokal tak akan sehidup sekarang. Matter, adalah salah satu yang menyeruak diantaranya. Mengawali karir sebagai vokalis unit screamo Jacobs in The Trunk dan lalu post-hardcore Forever/Always, sebenarnya arah baru yang meninggalkan teriakan dan menggantinya dengan dentuman ini telah terlihat pada presence Fadil McGee saat di panggung yang in your face dan hidup. Sebuah hal yang kemudian sangat terasa bekasnya di musik Matter, moniker barunya. Ia memiliki flow yang enak, dan versatility yang luas, dengarkan saja berbagai hal yang ia jelajahi pada belasan track di akun soundcloudnya. Akan menarik jika salah satunya kemudian dibuat abadi pada kompilasi ini.whiteboardjournal, logo

Tags