Oscar Lolang dan Folk Americana

11.09.17

Oscar Lolang dan Folk Americana

Exclusive Stream Album “Drowning in A Shallow Water”

by Muhammad Hilmi

 

Ada getir yang nyata pada nyanyi Oscar Lolang. Getir yang menjadi percik api saat ia bernyanyi tentang Jakarta hingga Papua, dan getir yang sama mengindahkan saat ia melagukan melankolia. Mengaku terinspirasi Nick Drake, sederhana adalah hal yang Oscar rayakan melalui musiknya. Dan kesederhanaan itu pula yang membuat kejujuran Oscar tampil di muka.

Belakangan di skena lokal, folk menjadi semakin populer dengan kemunculan berbagai band folk dan acara yang mengangkat folk sebagai tema utama. Bagaimana Oscar melihat fenomena ini?

Sejujurnya saya senang sekali dengan ramainya orang menamakan event serta musik mereka dengan label folk. Terutama karena memang saya penggemar genre tersebut. Banyaknya band dan penyanyi folk baru yang terus bermunculan pun justru makin asik, karena piihannya pun semakin beragam. Lagipula musik folk itu relatif lebih simpel dan mudah dicerna banyak orang dari berbagai usia juga preferensi musik, jadi fenomena ini tetap banyak sisi positifnya.

Tapi di era yang serba cepat seperti sekarang ini, segala ihwal yang terlalu berlimpah, berlebihan, dan jor-jor-an juga cenderung cepat jadi membosankan. Karena kita sekarang ini, masyarakat urban memiliki keberagaman preferensi musik yang juga tinggi. Kalau tiap minggu kita lihat instagram isinya poster event-event folk terus, orang bisa cepat meninggalkan genre ini juga.

Folk lokal identik dengan musik sendu yang melulu bernyanyi tentang kegalauan, atau pemujaan berlebih terhadap suasana senja, sebagai musisi folk yang mengambil arahan yang cukup berbeda, bagaimana Oscar menanggapi hal ini? Bagaimana seharusnya posisi musik folk bagi Oscar?

Bagi saya sebenarnya tidak ada yang salah dengan folk yang berujung identik pada musik sendu dan senja. Karena itu yang sedang terjadi di luar negeri juga. Coba aja kalo putar playlist indie folk di spotify isinya pun begitu. Tetapi bukan berarti musik-musik seperti itu tidak bagus, saya sejujurnya banyak mengidolakan musik folk lokal bertemakan seperti itu. Deugalih And Folks, Bandaneira, Float, Nada Fiksi, Teman Sebangku, Alvin & I, Rusa Militan (era-era Senandung Senja dulu). Kadang kalau memang rasa kita kesana, tidak bisa dipaksakan ke yang lain juga.

Contoh saja, kalau mendengar permainan gitar Doly Harahap (Teman Sebangku), agaknya berat kalau tidak diiringi lirik yang personal, kontemplatif, menggambarkan keindahan senja. Permainan gitar begitu adem namun bisa sendu, terkadang terdengar riang. Banda Neira pun begitu, hampir pasti kita berubah lembut kala mendengarkan “Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti”. Coba tengok lirik-lirik mereka, memang membicarakan senja, tapi ada hal lain yang dibicarakan dan itu sungguh kuat, berani dan indah. Andai tidak ada senja disitu mungkin lirik tersebut tidak sedahsyat itu. Itu adalah karya salah satu penulis lirik favorit saya pula, Ananda Badudu. Namun begitu, seperti yang saya katakan sebelumnya, seringkali segala hal akan membosankan jika berlebihan dan terlalu berlimpah.

Sebenarnya musik folk adalah genre musik yang asik untuk dikembangkan. Jethro Tull membawakan folk dengan gaya progresif, Gogol Bordello, The Pogues, Violent Femmes dengan Punk yang urakan, Beck mencampur-campur dengan entah apa itu sampai Nick Drake yang pernah menggabungkan folk Americana dan Inggris dengan cocktail jazz yang ringan. Jadi sejatinya folk, sebagaimana genre lainnya, bisa dimainkan gimana saja. Kalau kembali ke selera, saya sangat senang dengan folk bergaya lama (mengacu ke American Folk Revival dulu, Pete Seeger, Dylan dan kawan-kawannya). Musik akustik yang tidak muluk-muluk, sederhana tetapi kaya. Disitulah lirik berperan sangat penting. Ditengah kesederhanaan melodinya, lirik dan cara menyanyikannya akan jauh memperkaya musiknya. Saya tidak ingin munafik, tetapi saya ingin pula mencoba gaya-gaya folk yang lebih baru seperti yang saya sebutkan tadi.

Apakah ada pendewasaan secara materi dan lirik yang membedakan materi di album “Drowning ..” ini dengan EP “Epilogue”?

Untuk itu sebenarnya saya kurang tahu, karena lagu-lagu di “Epilogue” dan “Drowning In A Shallow Water” itu diciptakan dalam kurun waktu yang sama. Sebenarnya bahkan, lagu-lagu di “Epilogue” itu dulu direkam untuk dimasukan kedalam full album sekarang ini. Desember 2016 itu target awal kami untuk merilis “Drowning”, lalu ternyata harus mundur. Selain karena alasan initial release date album yang di-delay, dua lagu di Epilogue itu pula bisa dikatakan lagu-lagu yang tidak lolos kurasi karena sangat belang secara tema maupun musik. Di dua lagu “Epilogue” tersebut, saya lebih manis dan lembut juga membicarakan tentang kehadiran perempuan, lirik-liriknya pun tidak kasar, penuh bumbu-bumbu bertemakan cinta didalamnya. Sedangkan di album ini saya jauh lebih kasar, marah, nyinyir, mengeluh juga sedih. Perbedaan pasti ada, hanya saja untuk hal pendewasaan, mungkin pendengar yang lebih bisa menilai. Saya bahkan juga penasaran.

Ada banyak isu yang Oscar angkat melalui lagu-lagunya, kenapa memutuskan untuk bernyanyi dalam Bahasa Inggris, ketimbang dalam Bahasa Indonesia yang mungkin bisa lebih komunikatif?

Hmm mungkin jawaban itu sesederhana, sekarang-sekarang ini saya lebih nyaman menulis lirik dengan Bahasa Inggris. Sebelumnya saya selalu menulis lirik dengan Bahasa Indonesia, tetapi saya kurang percaya diri, karena menulis lirik berbahasa indonesia itu sangat susah. Sampai sekarang ini saya menemui kenyamanan dengan lirik Berbahasa Inggris, saya pun merasa lebih ekspresif dengan itu. Memang Bahasa Indonesia – terutama di Negara sendiri lebih komunikatif, tetapi dengan Bahasa Inggris, saya percaya, cerita saya bisa sampai di telinga berbagai orang yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Meskipun begitu, saya sekarang ini sedang belajar-belajar kembali dan coba-coba nulis dengan Bahasa Indonesia. Alangkah enaknya jika saya berhasil pula bahkan bisa eksplorasi lebih dalam seperti penulis-penulis lirik favorit saya.

Siapa musisi folk lokal yang Oscar rekomendasikan dan siapa pula yang ingin diajak berkolaborasi

Kalo yang sekarang-sekarang ini, jawabannya adalah Jason Ranti, Bin Idris dan Senartogok. Saya senang sekali dengan gaya musik genre folk lama. Tiga nama yang saya sebutkan tadi punya gaya ini dan sangat kuat pula karakternya (meskipun Senartogok sekarang lebih aktif di hip hop, dan Bin Idris banyak mencampur unsur psikedelik di dalamnya). Sekarang lagi mendengarkan Adrian Yunan dan Sisir Tanah. Ohiya sekarang ini juga baru muncul Curly & Me dan The Girl With The Hair, mereka asik banget. Saya pernah berkolaborasi dengan nama terakhir itu tetapi di band orang (Feast, RED). Ada satu nama yang penting banget untuk dinanti, beliau kebetulan sering membantu saya di backing vokal, namanya Jon Kastella. Banyak sekali sih sebenarnya, karena tahun ini musik Folk sudah semakin eksploratif. Kalau musisi folk zaman dulu banyak juga. Iwan Fals wajib sih ya, ada Iwan Abdurrachman, Ary Juliant, Zulkarnaen, Bimbo, Franky And Jane, Gordon Tobing.

Kalau untuk yang saya ingin sekali ajak berkolaborasi, Vira Talisa, Sandrayati Fay, Ananda Badudu dan Bin Idris. Dan ada satu lagi, namanya Made Mawut, pengusung delta blues dari Bali. Kalau yang di luar musisi folk kayaknya lebih banyak lagi nama yang bisa muncul.

Apa rencana mendatang bagi Oscar Lolang?

Mungkin sampai akhir tahun masih seputar album, entah akan ada single baru lagi beserta videoklip atau akan ada tur. Nantikan saja. Kalo rencana dan target personal yang pasti secepatnya lulus kuliah.

whiteboardjournal, logo

Tags