Seleksi Karya: Interview Pilihan Pembaca

15.01.18

Seleksi Karya: Interview Pilihan Pembaca

Sastra, Seni, Hingga Tradisi

by Febrina Anindita

 

huawesmall

Seno Gumira Ajidarma
Di balik keberaniannya dalam membeberkan fakta dan dosa pemerintahan Orde Baru, ada romantisme tersendiri dalam tulisan Seno Gumira Ajidarma. Ia memiliki cita-cita yang berbeda dari remaja pada umumnya, yakni menjadi seorang penulis. Berbekal kenekatan dan ketekunan dalam menyampaikan idenya ke publik, namanya kini tidak asing di kuping para jurnalis maupun penikmat sastra. Dengan sastra ia menantang publik untuk melihat kebenaran yang ditutupi penguasa pada zamannya dan di sisi lain ia ingin menghancurkan mitos sastra yang dikenal memiliki romantisisme mendayu-dayu.

huawesmall

Joko Pinurbo
Di pikir dan tulisan Joko Pinurbo, kesederhanaan menjadi senjata. Sang penyair menggunakan kesehariannya untuk dijadikan deretan tulisan yang mengajak pembaca untuk merenungi kehidupan. Lewat bukunya “Celana” ia belajar menulis puisi penuh makna konotatif sekaligus membuka jalan untuk membuatnya menikmati hidup absurd dengan humor. Menggunakan Alkitab untuk menggali inspirasi, tak jarang pembaca dapat menemui referensi spiritualitas dalam tulisannya.

huawesmall

Martin Suryajaya
Ia mengenal tulisan Karl Marx sejak SMA dan mulai melayangkan protes di saat yang bersamaan. Mengenal filsafat sejak usia dini, Martin Suryajaya kemudian ia dikenal sebagai salah satu filsuf muda yang tak hanya gigih mengkritisi segala hal, tapi di lain sisi juga ikut menjadi bagian dari solusi dengan bekerja di salah satu instansi negara. Bersamanya, kami berbincang mengenai ideologi kiri, elitisme yang menjamah di antara orang-orang yang mendalami filsafat, hingga kritiknya terhadap sastra Indonesia.

huawesmall

Rahung Nasution
Mudah untuk mengenali Rahung Nasution, ia adalah koki dan videografer dengan rajah di wajahnya plus kamera yang tak pernah lepas dari tangannya. Dengan sigap ia selalu merekam momen penting atau menarik untuk kemudian diolah menjadi sebuah video tak terduga. Kecintaannya dengan kuliner dan travel tidak sebatas rasa atau eksotisme semata. Lewat kuliner dan rempah, ia menelusuri sejarah dan isu yang terjadi di pelosok Indonesia dan membawanya ke meja makan dan piring agar bisa publik bisa ‘mencernanya.’

huawesmall

Melati Suryodarmo
Kurator Hendro Wiyanto menyebut Melati Suryodarmo sebagai buldoser Jerman dengan kepekaan Jawa. Dikenal sebagai performance artist Indonesia yang dikenal secara internasional, Melati memiliki kedua orang tua yang merupakan seorang penari sehingga sudah lazim jika ia memaknai tubuh sebagai medium utama dalam berekspresi. Kami menemui beliau pada saat ia menjadi Artistic Director untuk Jakarta Biennale “Jiwa” untuk membahas mengapa “Jiwa” dipilih menjadi tema biennale di tahun 2017 dan bagaimana tubuh selalu bersifat kontemporer di mata beliau.

huawesmall

Yongky Safanayong
Bagi beliau, desain terkait erat dengan spiritualitas. Yongky Safanayong sebagai pengajar dan praktisi tak hanya ingin mengajarkan desain sebagai edukasi tapi juga sebagai jembatan bagi individu untuk memahami ruang dan komunikasi. Optimismenya dalam menyampaikan visi membuat dirinya sebagai salah satu guru desain yang diamini oleh para desainer grafis. Bersamanya kami membahas bagaimana pendidikan desain di Indonesia hadir dengan pendekatan berbeda serta mendefinisikan desain yang baik dan tepat.

huawesmall

Yusi Avianto Pareanom
Lugas, sederhana serta nyinyir dan humoris adalah kesan pertama yang didapat dari tulisan Yusi Avianto Pareanom. Tak banyak yang tahu namanya maupun karyanya, namun sekali membaca, orang-orang berani bersumpah bahwa tulisan beliau mampu membuat siapapun terhanyut dalam ceritanya. Walau berpendidikan Teknik Geodesi, karir jurnalistik beliau di salah satu media terdepan di Indonesia membawanya ke ranah sastra hingga akhirnya memiliki penerbit sendiri. Kami menemui Yusi di kedai kopi coffeewar untuk membahas bagaimana penulis berani menantang gaya tulis untuk terus menampilkan karya segar hingga peletakan logika dalam fiksi.

huawesmall

Butet Manurung
Lewat inisiatifnya untuk mengenalkan kekayaan masyarakat adat ke dunia tanpa mengusik ekosistem yang ada, Butet Manurung menciptakan Sokola Rimba. Lewat Sokola Rimba, ia memperkenalkan literasi dan advokasi kepada masyarakat adat di Indonesia guna mengembangkan kemampuan bertahan secara ekonomi dan membela hak mereka. Usaha Butet berbuah hasil dan mampu membuat publik di luar masyarakat adat bisa melihat kehidupan di balik eksotisme tarian maupun baju adat yang seringkali disorot media. Bersama beliau, kami membahas nilai adat, pendidikan serta kepentingan dan implementasi ajaran kebhinekaan pada masyarakat adat.whiteboardjournal, logo