Delapan yang Memancing Penasaran

25.01.18

Delapan yang Memancing Penasaran

Panduan Laneway Festival Singapore 2018

by Febrina Anindita

 

ANDERSON .PAAK AND THE FREE NATIONALS
Album “Malibu” adalah puncak prestasi bagi pemilik nama asli Brandon Anderson Paak atau yang lebih dikenal sebagai Anderson. Paak di sepanjang karir bermusiknya. Di bawah naungan Dr. Dre dan Aftermath Entertainment, album ketiganya tersebut berhasil menuai berbagai sanjungan dan respon positif yang membuat nama penyanyi R&B asal California ini patut diberi perhatian lebih. “Malibu” mendapatkan nominasi untuk kategori best urban contemporary album oleh Grammy Awards dan juga dinobatkan sebagai salah satu best album of the year oleh banyak media contohnya seperti NME, Pitchfork, hingga Billboard pada tahun 2016. Seperti halnya Kendrick Lamar, Paak menuliskan perjalanan hidup yang mencakup kisah-kisah personal yang ia sampaikan lebih mendalam melalui beat-beat yang didominasi oleh alunan musik soul, yang juga banyak terinspirasi oleh musik-musik lain seperti indie rock, eletronik, hingga dance. Akan seru untuk melihat bagaimana album ini dimainkan secara langsung di panggung Laneway nanti.

What to expect: Panggung penuh energi, chemistry kuat antar personil dan musicianship yang prima

BONOBO
Bonobo lebih dari sekadar menciptakan dan memainkan lagu-lagu easy listening. Hal tersebut terlihat dari bagaimana musik yang Simon Green mainkan di awal karirnya mampu beradaptasi dari jazz dengan upbeat tempo menjadi musik downtempo electronica bernuansa chillout dengan beat bass yang khas dan synth yang mendominasi. Pendewasaan yang dilakukan oleh Bonobo pada 2 album terakhirnya yakni “The North Border” (2013) dan “Migration” (2017) telah mengukir banyak prestasi dan membuat penampilannya menjadi salah satu yang banyak ditunggu oleh para penikmat musik dunia. Yang menarik, Bonobo memiliki set panggung khusus yang akan menambahkan instrumen-instrumen lain seperti string section, terompet, dan beberapa instrumen pendukung lainnya yang mampu membuat penampilannya semakin memukau.

What to expect: Set megah, serta musik elektronik yang dibawakan dengan dinamis dan organik

FATHER JOHN MISTY
Jika sebelumnya Josh Tillman sudah terlebih dulu memperkenalkan diri lewat 8 album penuhnya sejak tahun 2003, pada tahun 2012 ia mengubah nama panggungnya dengan moniker Father John Misty. Kemampuan songwriting musisi yang satu ini patut mendapatkan perhatian khusus, terutama pada penulisan liriknya yang witty, di album “Pure Comedy” (2017) yang sangat relevan pada era Trump seperti sekarang ini. Selain itu album “Pure Comedy” juga mendapatkan 2 nominasi Grammy Awards untuk Best Alternative Music Album dan Best Recording Package pada tahun 2017. Mungkin kita juga bisa berharap dia akan membawakan beberapa materi baru untuk album yang ia akan rilis di tahun 2018 nanti.

What to expect: Penampilan karismatik dari ikon musik Amerika masa depan, Josh Tillman

AMATEUR TAKES CONTROL
Akan menarik untuk melihat bagaimana urban legend post-rock Singapura, Amateur Takes Control menjalani salah satu panggung comeback-nya di Laneway nanti. Setelah merilis album seminal You, Me and The Things Unsaid di tahun 2008 yang definitif dan disebut-sebut meletakkan pondasi bagi genrenya bersama I Am David Sparkle di scene lokal, band ini sempat vakum dan baru aktif kembali di tahun 2017. Cukup banyak testimoni tentang kualitas band ini dari band-band lokal, tentang bagaimana mereka bisa menciptakan musik yang ahead of their time, di usia yang sangat belia (album pertama mereka dirilis saat para personil berusia 16 tahun). Konser perpisahan mereka, “Sayonara, Superboy” dianggap salah satu momen emosional bagi penggemar post-rock Singapura. Kini mereka kembali dengan tambahan beberapa personil baru, dan telah mengeluarkan album yang menunjukkan kualitas serta pendewasaan.

What to expect: Perpaduan post-rock dan math-rock yang pas dengan sedikit pengaruh post-hardcore di beberapa lagunya.

MOSES SUMNEY
Album penuh “Aromanticism” (2017) berhasil mencuri hati banyak pendengar. Kemampuan Moses Sumney dalam menciptakan nada-nada intim yang didukung dengan vokal falsetto yang sempurna, mampu menciptakan keindahan – baik saat ia bercerita tentang melankolia ataupun euforia. Musisi yang banyak terinspirasi oleh musik R&B-pop dan jazz ini, sebelum akhirnya merilis debut album, telah terlebih dahulu membantu banyak nama-nama musisi besar seperti Beck, Sufjan Stevens, St. Vincent hingga Solange namun enggan untuk mencantumkan nama-nama tersebut untuk terlibat pada debut albumnya. Hal itu dilakukannya, agar para fansnya dapat fokus mendengarkan hasil karyanya sendiri tanpa adanya obligasi dari nama-nama tersebut.

What to expect: Setlist intim dna magis yang menunjukkan bagaimana falsetto bisa menjadi senjata jika dieksekusi dengan sempurna.

SLOWDIVE
Sebagai salah satu nama penting dalam sejarah musik shoegaze, kabar kembalinya Slowdive di tahun 2014 cukup mengejutkan. Kembali aktifnya band asal Inggris ini serontak menambahkan daftar band-band shoegaze di era 90-an yang kembali aktif di tahun 2000-an, menyusul My Bloody Valentine, Ride, Swervedriver, hingga Lush. Pada tahun 2017 mereka kemudian merilis sebuah album penuh bertajuk “Slowdive” yang berhasil memperlihatkan bagaimana perjalanan mereka selama 22 tahun yang telah membentuk karakteristik baru dan menawarkan pengalaman dengan sound yang lebih matang. “Offers maximum-volume shoegaze too, better than the band ever has before” ujar Pitchfork pada ulasan album terbaru mereka. Rasanya, ini adalah set yang wajib tonton bagi penggemar shoegaze, sembari berharap My Bloody Valentine bermain di Laneway suatu hari nanti.

What to expect: Perpaduan album klasik mereka dengan lagu-lagu baru yang mengundang nostalgia dan sekaligus menunjukkan arahan baru yang tak kalah menariknya.

OBEDIENT WIVES CLUB
Tak ada yang lebih hangat dari pengalaman menonton band indie-pop pada sebuah festival musik. Obedient Wives Club akan mengisi peran ini dalam gelaran Laneway Festival Singapore 2018 ini. Musik mereka yang mengalun tenang, akan menjadi salah satu pembuka yang sempurna untuk menikmati musik dan Singapura di sore hari. Terakhir, di EP yang dirilis tahun lalu, mereka bekerja sama dengan Brad Woods, produser yang telah menangani karya Smashing Pumpkins, serta melibatkan Hans DeKline, mastering engineer yang telah berkarya bersama Pixies dan Snoop Dog.

What to expect: Kehangatan dari salah satu band indie pop terbaik Singapura.

THE WAR ON DRUGS
Album “A Deeper Understanding” (2017) mengantarkan band rock asal Amerika ini pada titik keemasaannya. Lewat kesuksesan album tersebut, The War On The Drugs diperhitungkan sebagai “best American rock band” menurut The New Yorker. Adam Granduciel tahu bagaimana cara untuk menceritakan pengalaman personalnya dan mengolahnya menjadi sebuah karya yang dapat disukai oleh banyak orang. Bisa dibilang album ini merupakan obsesi Granduciel karena hampir setengah dari produksi pada pengerjaan album ini dilakukan oleh dirinya sendiri, mulai dari membuat lagu hingga take instrumen. Tidak heran bila, tiap trek pada album ini terasa hingga ke setiap detailnya karena Granduciel paham betul ke mana karyanya tersebut akan dibawanya.

What to expect: Panggung terbaik untuk membuka 2018 dengan musik Americana.

Nama-nama di atas merupakan 8 dari 23 musisi/band yang dapat disaksikan penampilannya pada gelaran Laneway Festival Singapore 2018. Tahun ini menandai, 13 tahun konsistensi Laneway Festival dalam menyediakan pertunjukan musik alternatif untuk para pencinta musik, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Sebagai salah satu internasional festival musik yang lokasinya cukup dekat dengan letak negara kita, tentu saja kesempatan untuk mengunjungi Laneway Festival Singapore akan memberikan pengalaman baru ketika datang ke sebuah acara musik.

whiteboardjournal, logo

Tags