Selamat Hari Film Nasional!

Film
30.03.18

Selamat Hari Film Nasional!

Kesan dan Harapan Terhadap Perfilman Indonesia

by Febrina Anindita

 

Belakangan ada gejala positif pada perfilman lokal, dan untuk merayakannya tahun ini kami menanyakan beberapa pertanyaan untuk merangkum kondisi perfilman di Indonesia. Mulai dari sutradara film “Turah”, Wicaksono Wisnu Legowo, Program Coordinator Kineforum, Ifan Ismail, hingga Lulu Ratna yang dikenal aktif dalam berinisiatif mengadakan festival film guna memberikan paparan ragam film kepada publik. Bersama beberapa sosok representatif dalam skena film Indonesia ini, kami menemukan besar harapan dan kemungkinan positif yang tumbuh dalam perfilman negeri ini.

huawesmall

WREGAS BHANUTEJA (Sutradara)
Prenjak, Lembusura

Apa yang berkesan dari perfilman Indonesia belakangan ini?
Ada 2 hal yang membuat saya terkesan. Hal pertama adalah pencapaian prestasi internasional. Terbukti dengan masuknya film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” di Director’s Fortnight Cannes Film Festival 2017 dan juga film “The Seen and Unseen” yang mendapatkan penghargaan di section Generation K Plus, untuk Berlin International Film Festival 2018. Hal yang kedua adalah pencapaian jumlah penonton yang luar biasa di dalam negeri. Film “Dilan 1990” yang meraih penonton di atas 6 juta, dan juga film genre horror “Pengabdi Setan” yang meraih penonton di atas 4 juta. Dua perkembangan ini menurut saya sangat positif untuk film Indonesia

Menurut Anda, bagaimana ekosistem perfilman indonesia tahun ini?
Saya melihat kemunculan film-film yang tidak hanya diproduksi dengan Jakarta sebagai pusatnya. Beberapa film mulai muncul dari Makassar seperti : “Maipa, Deapati & Datu Museng” maupun film “Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui”. Mulai muncul juga film-film yang melakukan co-produksi dengan perusahaan internasional seperti film “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” (Mouly Surya) maupun yang masih dalam project development. Project-project film Indonesia sudah masuk ke film market seperti film market di Hong Kong International Film Festival.

Apa harapan Anda terhadap perkembangan perfilman indonesia?
Harapan saya adalah untuk terus berproduksi. Sekarang banyak sekali cara alternatif untuk membiayai film kita sendiri. Ada film fund, project market, film lab, crowdfunding, maupun co-produksi internasional. Sehingga saya berharap semangat generasi muda semakin kuat dalam memproduksi film.

huawesmall

PAUL AGUSTA (Sutradara, Pengajar, Kritikus Film)
Parts of the Heart, Kado Hari Jadi

Apa yang berkesan dari perfilman Indonesia belakangan ini?
The rise of the independents. Independent filmmakers/arthouse filmmakers mulai mendapatkan exposure mainstream. Film Indonesia juga mulai bisa menghasilkan uang di bioskop lokal, bukan hanya berprestasi di festival saja. Ini pertanda selera penonton umum di Indonesia mulai dewasa. Contohnya bisa dilihat mulai dari “Siti”, “A Copy of My Mind”, “Istirahatlah Kata-kata”, “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak”, “Turah”, “Ziarah”, “Sekala Niskala (The Seen and Unseen)”. A long list of arthouse titles that have penetrated the mainstream consciousness.

Menurut Anda, bagaimana ekosistem perfilman indonesia tahun ini?
Sangat sehat. Jumlah produksi meningkat. Jumlah penonton meningkat. Tapi hal tersebut malah menggarisbawahi kekurangan SDM film kita. We need more crew!

Apa harapan Anda terhadap perkembangan perfilman indonesia?
Melanjutkan progresi ini tanpa kemunduran yang signifikan.

TEDDY SOERIAATMADJA (Sutradara)
About A Woman, Lovely Man, Banyu Biru

Apa yang berkesan dari perfilman Indonesia belakangan ini?
Yang berkesan adalah jumlah penonton buat film Indonesia yang semakin meningkat, yang artinya film Indonesia semakin baik dan banyaknya sutradara Indonesia yang talented dengan karya dari berbagai macam genre.

Menurut Anda, bagaimana ekosistem perfilman indonesia tahun ini?
Tahun ini jumlah penonton sudah membaik, tetapi kualitas film harus diperbaiki, mulai dari konten, craftmanship, dsb.

Apa harapan Anda terhadap perkembangan perfilman indonesia?
Harapan saya, lebih banyak layar buat film Indonesia, lebih banyak sutradara yang talented yang mendapat kesempatan. Lalu major studio berani untuk membuat konten yang beda dan berani untuk mencoba sutradara yang memiliki visi dan craftmanship bagus.

huawesmall

KAMILA ANDINI (Sutradara)
Sekala Niskala (The Seen and Unseen), Laut Bercermin, Sendiri Diana Sendiri

Apa yang berkesan dari perfilman Indonesia belakangan ini?
Dari sisi kreatif, film Indonesia semakin seru! Film komersilnya semakin beragam, mulai banyak bermunculan film-film dengan cerita yang tidak biasa, unik, dengan cara bertutur yang asyik. Penonton Indonesia juga lagi suka menonton film Indonesia karena keberagaman ini.

Untuk film alternatifnya juga belakangan ini kita berhasil mendapatkan pencapaian-pencapaian yang tinggi di festival-festival film besar. Film indonesia sudah mulai dilirik dan dibicarakan oleh filmmaker dunia karena sedang ‘terdengar’ dan juga memiliki visi sinema yang baru dan sangat beragam untuk mereka. Filmmaker indonesia juga sedang saling mendukung, pembuat film di wilayah manapun sedang saling menginspirasi untuk berperan dengan caranya sendiri.

Energi yang besar ini sedang muncul, dan harus disambut. Dipanjangkan lagi agar semakin besar, karena sesungguhnya filmmaker tidak bisa sendirian membangun industrinya.

Menurut Anda, bagaimana ekosistem perfilman indonesia tahun ini?
Ekosistemnya semakin baik, meskipun masih banyak sekali PR. Saat ini sebagai kreator saya merasa masih harus melakukan seluruh hal dalam membuat film; financing, membuat film, bahkan publikasi, menjadi distributor untuk film sendiri, mencari penonton sendiri, bahkan kami harus membuat festival film sendiri dan concern pada pendidikan film agar profesi yang kami jalani ini bisa terus hidup, agar industrinya bisa terus berputar.

Terus terang terlalu banyak hal yang menjadi ‘urusan’ filmmaker saat ini jika bicara tentang industri, dan sebetulnya ini tidak sehat untuk kreativitas. Jadi memang kita masih punya banyak PR agar ekosistem kita berjalan utuh, dengan kontribusi banyak pihak lain.

Saat ini saya melihat stakeholder, filmmaker, pemerintah, media yang sangat besar kontribusinya dalam membangun perfilman Indonesia masih berjalan sendiri-sendiri.

Apa harapan Anda terhadap perkembangan perfilman indonesia?
Tentu saja ini dari perspektif saya sebagai seorang sutradara. Harapan saya agar akses terhadap film Indonesia untuk penonton film Indonesia semakin diperbesar, karena meskipun kami membuat film alternatif tapi sesungguhnya kami ingin film kami bertemu dengan penontonnya.

Saya harap pembelaan terhadap film Indonesia dari berbagai sisi semakin diperkuat untuk kemajuan bersama. Regenerasi dan pendidikan film semakin digiatkan, karena untuk memiliki industri yang berkembang kita juga perlu SDM yang berkembang,

Tapi harapan terbesar adalah agar sebagai filmmaker, kami bisa lebih produktif dan konsisten dalam berkarya, bisa menghadirkan film Indonesia di banyaknya festival film di seluruh dunia sepanjang tahun. Semakin besar pencapaiannya di wilayah festival, tapi juga semakin meriah di negeri sendiri. Semoga suatu saat film Indonesia bisa lebih mendominasi bioskop nasional. Amin.

huawesmall

TIMO TJAHJANTO (Sutradara)
Killers, Headshot, Macabre, Dara

Apa yang berkesan dari perfilman Indonesia belakangan ini?
Munculnya film-film yang ambisius, baik dari segi skala atau juga dari segi konsep.

Menurut Anda, bagaimana ekosistem perfilman indonesia tahun ini?
Masih mencari balance. Banyak yang belum bisa menemukan suara masing-masing, misalnya ketika film horror laku kembali, langsung banyak yang membuat film horror. Pertanyaannya apakah mereka membuat horror karena mempunyai visi atau hanya karena mengejar pasar? Pemikiran seperti ini yang bisa bawa kita balik ke jalan buntu.

Tapi di sisi lain ada film seperti “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak”, “The Seen and Unseen” yang semoga juga bisa selamat dan bertahan di industri film ini. Keep it colorful.

Apa harapan Anda terhadap perkembangan perfilman indonesia?
Supaya penonton semakin berani untuk menonton sesuatu yg baru dan juga mawas memilih film.

Improvement terhadap industri film datang dari dua sisi: filmmakers harus bisa menawarkan sesuatu yang lebih atau berbeda, dan penonton yang harus bisa mencoba menonton sesuatu yang baru dengan begitu memperluas wawasan mereka.

IFAN ISMAIL (Program Coordinator Kineforum)

Apa yang berkesan dari perfilman Indonesia belakangan ini?
Yang terasa setahun dua tahun belakangan ini adalah semakin banyaknya muncul film-film panjang Indonesia (feature-length) yang bervariasi dari segi tawaran konten. Sedang ada dobrakan-dobrakan kecil di banyak tempat. Misal satu-dua tahun lalu dengan munculnya film seperti “Ziarah”, “Istirahatlah Kata-Kata”, “Turah”, “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak”, “Posesif”, “Night Bus”, “Pengabdi Setan” sampai “Tengkorak”.

Sedang ada tawaran yang cukup beragam. Tentunya dengan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda. Dan bukan cuma berhasil dari segi komersial saja. Karena bahkan film-film yang tidak cukup mendapat penghasilan pun biasanya akan berumur panjang lewat pemutaran-pemutaran di tempat-tempat alternatif, yang senangnya, juga makin banyak. Intinya, makin semarak. Dan semoga bertahan.

Menurut Anda, bagaimana ekosistem perfilman indonesia tahun ini?
Sekitar tahun 2007 atau 2008 sempat ada harapan dengan melonjaknya jumlah penonton. Tapi berumur pendek karena tidak sustainable. Banyak eksperimen yang tidak berbalas secara finansial sehingga pembuatnya mungkin memilih menyerah. Sekarang eksperimen-eksperimen itu muncul lagi, dan apakah nasib itu akan berulang? Semoga jangan. Sekarang dengan makin seringnya dan pentingnya berjejaring antara stakeholder film, dan makin banyaknya pitching forum, mudah-mudahan pelan-pelan akan tumbuh ekosistem berfilm yang makin sehat, yang tidak “gelap” secara sistem, yang hanya bisa dikuasai segelintir orang/studio besar.

Juga di sisi lain sedang ada kesadaran dari masing-masing profesi dalam filmmaker untuk punya daya tawar secara politis lewat asosiasi-asosiasi. Tentu saja di balik asosiasi-asosiasi ini masih banyak drama dan intriknya. Yang berpengalaman pasti akan tertawa sinis dengan jawaban saya ini. Tapi saya rasa kok itu proses ya. Ada drama yang harus dilalui dan dijalani. Semoga ini proses yang mendewasakan dan bisa dijalani.

Apa harapan Anda terhadap perkembangan perfilman indonesia?
Satu yang saya rasa masih terasa ragu-ragu di balik semaraknya film Indonesia saat ini adalah: keberanian dan kreativitias. Keberanian mendobrak dengan tema yang tabu, tema yang bisa membuat marah sekaligus berpikir, masih menjadi lahan yang menakutkan. Memang ini yang kurang dari iklim secara umumnya: yaitu tidak adanya perlindungan yang sehat atas ekspresi berkarya, sehingga orang cenderung takut dan main aman. Jika dulu sensor dilakukan negara dengan bengis, kini dilakukan oleh masyarakat vigilante, dan sudahlah negara tidak melindungi, kadang-kadang negara malah ikut-ikut mempersekusi.

Perihal kreativitas, saya rasa kok itu persoalan yang terlalu besar untuk dijawab oleh kalangan perfilman sendirian. Itu masalah pendidikan dan iklim yang sehat untuk membiarkan kreativitas tumbuh. Kalau itu, rasanya sudah persoalan sosial.

Saya harap, karena industrinya sendiri sedang tumbuh, setidaknya di dua ganjalan itu, kita bisa lebih berani “melawan”.

huawesmall

YOSEP ANGGI NOEN (Sutradara)
Istirahatlah Kata-Kata, Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya

Apa yang berkesan dari perfilman Indonesia belakangan ini?
Senang sekali saat ini mulai banyak cerita-cerita baru di film-film Indonesia. Penonton juga mulai percaya kepada film Indonesia. Film juga mampu menggerakkan peristiwa-peristiwa di luar layar arus utama, misal dengan banyaknya pemutaran dan diskusi. Ada semangat muncul dari pembuat dan penonton untuk membangun ragam sinema Indonesia. Penonton mulai ‘meminta’ tontonan berkualitas, pembuat mulai tertantang untuk mengeksplorasi ragam cerita dan cara tutur.

Apa harapan Anda terhadap perkembangan perfilman indonesia?
Yang sangat diharapkan adalah tumbuhnya ruang-ruang menonton baru. Bioskop harus dibangun di banyak tempat, merdeka dari mall-mall yang gemerlap. Bioskop harus bisa dijangkau semua kalangan dan bioskop harus memberi perhatian pada film-film alternatif.

WICAKSONO WISNU LEGOWO (Sutradara)
Turah

Apa yang berkesan dari perfilman Indonesia belakangan ini?
Narasi dan bentuk film Indonesia semakin beragam, ruang putar alternatif semakin menjamur. Bukan hanya di ruang domestik, film-film Indonesia juga semakin banyak mendapat tempat di kancah internasional.

Menurut Anda, bagaimana ekosistem perfilman indonesia tahun ini?
Ekosistem perfilman Indonesia semakin sehat. Para pelaku film begitu bergairah. Banyak film, banyak penonton.

Apa harapan Anda terhadap perkembangan perfilman indonesia?
Mudah-mudahan perfilman Indonesia semakin digemari oleh orang Indonesia sendiri, seperti persepakbolaan di Indonesia. Amin.

GIOVANNI RAHMADEVA (Associate Producer)
Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Apa yang berkesan dari perfilman Indonesia belakangan ini?
Variasi tema filmnya lebih luas. Bahkan nilai produksinya juga melonjak alias tidak pas-pasan lagi modalnya. Yang terasa sekali: tentu pembuat dan penikmatnya sedang bergairah. Ada rasa kepercayaan mulai terbangun antara demand dan supply. Ini yang harus dijaga oleh semua, dari hulu ke hilir. Kepercayaan.

Tren film yang pernah seragam; khususnya ketika ada film dengan rumusan baru yang ‘meledak’ di pasar tapi setelah itu diikuti/ditiru habis-habisan hingga terasa ‘kering’ ata menjemukan sudah mulai ditinggalkan. Bahkan tanggal-tanggal tayang keramat pun sudah tak jadi patokan lagi bagi para produser untuk menyerap sebanyak-banyaknya penonton. Intinya semakin ke sini, penonton semakin pintar memilah konten pilihannya. Dan para produser semakin berusaha membuat konten yang sebaik-baiknya. Kita tunggu saja equilibriumnya. Apalagi nanti kalau jumlah layar makin bertumbuh.

Yang menarik soal variasi tadi banyak genre lain yang muncul, ada genre satay western seperti “Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak” yang memberi kesegaran. Bahkan ada yang mistis seperti “Sekala Niskala (The Seen and Unseen)” juga muncul, walaupun dibilang film ‘indie’ (non studio besar) tapi exposure dan apresiasi penontonya terasa. Ada juga film berbahasa daerah yang demand dan apresiasinya baik; dari “Uang Panai”, “Turah” hingga “Yowis Ben”. Film action, fantasi dan horror yang punya harga produksi tinggi pun akan bermunculan di tahun ini. Indonesia tak melulu drama atau drama cinta lagi.

Menurut Anda, bagaimana ekosistem perfilman indonesia tahun ini?
Yang bisa dipetik tentu adalah: penonton sudah tak bisa dibuat dan ditebak lagi polanya, tak bisa diseragamkan. Bukan karena tren selalu berubah atau karena mereka tak bisa digiring, tapi kebutuhan akan hiburan mereka pun bisa disimpulkan semakin beragam karena referensi penonton terhadap produk budaya apa pun juga semakin luas. Banyak ide baru yang sudah siap mereka terima secara perlahan. Banyak juga ekspektasi dari mereka yang selalu menuntut standar yang baru, karena berbagai referensi tadi. Mau tak mau kreator tak melihat konten sebagai produk budaya nasional saja, tapi secara acuan ya menuju internasional, supaya setidaknya jadi yang terdepan di skala nasional.

Dari segi talent pun, beberapa sutradara sudah mampu untuk menjembatani atau bermain di 2 wilayah film dengan segmentasi pasar yang berbeda. Dan kalau pun bermain di wilayah yang agak ‘miring’, beberapa film juga tetap sukses membuat segmen penonton yang mereka targetkan untuk datang ke bioskop.

Rasanya kini batasan antara film komersil dan film festival atau film arthouse atau film indie atau apapun namanya itu semakin kabur. Yang artinya adalah kualitas menjadi yang utama. Dan meminjam kata David Fincher, “You can make movies for certain audience, but you have to market it to them”. Mau main di ceruk yang mana, ya potensi audiens harus kita obok-obok sedalam dan semaksimal mungkin. Dan itu pasti ada (secara ekonomi). Semua harus didesain agar supply dan demand bertemu di titik yang diinginkan.

Apa harapan Anda terhadap perkembangan perfilman indonesia?
Saya senang, sekarang kita tak asal ‘meraba’. Semua bereksperimen sekaligus mencoba merumuskan apa yang dirasa benar/baik/nyaman tentu secara customized di masing-masing film (dalam hal ini produk) sudah lagi sembarangan. Hawanya semakin positif.

huawesmall

LULU RATNA (Film Festival Organizer)

Apa yang berkesan dari perfilman Indonesia belakangan ini?
Yang paling berkesan pada perfilman saat ini adalah semakin beragamnya jenis, bentuk dan gaya film Indonesia di bioskop, dari “Sekala Niskala (The Seen and Unseen)” hingga “Love for Sale”. Selain itu seperti ada kesadaran baru dari pembuat film Indonesia untuk membuat film yang terkait sejarah dan budaya, sesuatu yang membutuhkan riset serius dan keberanian mengambil sikap keberpihakan, misalnya seperti pada film “Istirahatlah Kata-Kata”. Terpenting lagi adalah keberanian mengambil sikap terhadap masalah distribusi film di Indonesia. “Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran”, misalnya, berani hanya mengandalkan ruang putar alternatif dan pemutaran di luar bioskop komersial bersama komunitas film dan kampus.

Menurut Anda, bagaimana ekosistem perfilman indonesia tahun ini?
Ekosistem perfilman Indonesia sudah membaik pada bagian-bagian tertentu, misalnya pendidikan film, dibandingkan dengan sebelum reformasi saat hanya ada 1 sekolah film di Indonesia, kini sudah banyak sekolah film, baik sebagai bagian dari Fakultas Seni, Fakultas Ilmu Komunikasi, maupun Fakultas Ilmu Budaya. Selain itu lahirnya berbagai asosiasi profesi, telah memperkuat pembuat film dalam melindungi hak-haknya. Namun masih banyak PR yang harus dikerjakan agar dapat berwujud ke depannya karena ekosistem perfilman luas sifatnya, seperti: infrastruktur produksi film, pengarsipan film hingga sistem distrbusi dan eksebisi yang masih hanya menjangkau kota-kota besar saja.

Apa harapan Anda terhadap perkembangan perfilman indonesia?
Harapan saya sebagai penggiat film pendek tentu semakin terbukanya akses dan bertambahnya platform bagi film pendek Indonesia agar dapat diakses publik. Jika selama ini hanya bertumpu pada festival film dan pemutaran ruang putar alternatif, selain pemutaran online yang masih terbatas, saya berharap film pendek dapat masuk ke ruang yang lebih umum dan komersial agar mendapatkan penghasilan bagi pembuatnya, misalnya seperti pada jalur bioskop dan TV. Sebab telah terbukti bahwa pembuat film pendek dapat menjadi generasi pembuat film (panjang) berkualitas di masa depan. Contohnya Hanung Bramantyo, Angga D. Sasongko, Ifa Isfansyah, Eddie Cahyono hingga Yosep Anggie Noen, Ismail Basbeth, Edwin dan Lucky Kuswandi, yang mengawali karir mereka di dunia film dengan membuat film pendek. Harapan penting lain yang saya punya adalah semakin banyaknya pembuat film perempuan di Indonesia agar menambah keberagaman sudut pandang dalam film-film yang beredar di Indonesia.whiteboardjournal, logo

Tags