Terrassenhaus Berlin Menghadirkan Apartemen dan Gallery Spaces

Design
02.03.19

Terrassenhaus Berlin Menghadirkan Apartemen dan Gallery Spaces

Arsitektur kontemporer yang bertujuan mengatasi pemisahan antara hidup dan bekerja, komersial dan perumahan, serta mempertanyakan norma yang ada.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Vestianty
Foto: Dezeen

Apa jadinya jika tempat tinggal seperti apartemen dan ruang galeri berkumpul dalam satu tempat? Hal inilah yang tampak pada gedung bertajuk Terrassenhaus di Berlin yang tampil dengan blok serbaguna beton buatan arsitek Brandlhuber+ Emde, Burlon serta Muck Petzet. Dua tangga besar menghubungkan gedung beton lima lantai menampung apartemen dan ruang galeri yang bagian atasnya juga tersedia teras atap umum. Dibangun di lahan scrapyard pada distrik bernama Wedding, Terrassenhaus merupakan respons terhadap kenaikan harga properti di Berlin hingga mencakup pada biaya konstruksi tinggi.

Brandlhuber + Emde, Burlon, dan Muck Petzet Architekten merasa bahwa keadaan yang sedang terjadi di Jerman ini telah banyak mendorong arsitek dan pembangun untuk menciptakan ruang lebih kecil hingga pada akhirnya berdampak pada minimnya ruang sosial. “Daripada menyerah pada tekanan ini, proyek ini menukar manfaat ekonomi dengan ruang kolektif,” papar mereka. Berbagai fungsi berbeda dapat terjadi dalam satu bangunan, sehingga penghuni dan pemilik galeri dapat bersama-sama memaksimalkan penggunaan tempat.

Dengan mengacu pada rencana zonasi tahun 1958 yang memperbolehkan struktur komersial untuk dibangun hingga lima lantai, hal ini dapat memungkinkan arsitek untuk mengusulkan skema lebih besar dari yang direncanakan semula. Meskipun proyek ini telah memenuhi standar hukum bangunan komersial, proyek ini hadir bertujuan mengatasi pemisahan antara hidup dan bekerja, komersial dan perumahan, serta mempertanyakan norma yang ada.

Dengan kedalaman ruang tiap lantai yang berbeda, keberadaan teras yang dihadirkan pada beberapa lantai telah menciptakan tingkat jarak dan privasi. Sementara pada saat yang sama, tangga eksternal – yang menghubungkan taman umum dengan atap umum – akan menghasilkan berbagai jenis pertemuan. Norma sosial dalam arsitektur diharapkan dapat menjadi solusi dalam hidup bersama dan mengurangi kompleksitas interaksi sosial. Dengan hal tersebut, Terrassenhaus diperkenalkan sebagai model bangunan baru untuk konteks perkotaan.

Proyek ini telah dinobatkan sebagai salah satu dari lima finalis dalam European Union Prize untuk kategori Arsitektur Kontemporer – Mies van der Rohe Award 2019. Dengan hadirnya konsep ini, tentu menjadi ide segar yang bisa diterapkan pada kota-kota urban di Indonesia, seperti Jakarta. Akankah segera bangunan seperti ini bisa hadir di Indonesia?whiteboardjournal, logo