Bagaimana Tren Fashion akan Beradaptasi dengan Metaverse?

Fashion
15.04.22

Bagaimana Tren Fashion akan Beradaptasi dengan Metaverse?

Dengan semakin maraknya artificial reality dalam konsep fashion, pertanyaan selanjutnya adalah: apakah pendekatan melalui koleksi virtual akan menjadi sebuah keharusan bagi brand fashion?

by Shadia Kansha

 

Teks: Inaya Pananto
Foto: Carlings Carlings

Dalam lanskap fashion modern, batasan antara realita dan virtual kini semakin mengabur. Dengan berlangsungnya Metaverse Fashion Week yang memikat atensi dari publik maupun desainer dan brand-brand besar, fashion secara resmi menetapkan posisinya dalam dunia digital. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah pendekatan melalui koleksi virtual akan menjadi sebuah keharusan bagi brand fashion?

Jawaban dari pertanyaan ini membawa kita menilik kembali seberapa besar pengaruh tren dari dunia virtual yang akan applicable dalam fashion sehari-hari. Jauh sebelum diluncurkannya Metaverse Fashion Week, berbusana seperti karakter game atau film memang telah menjadi fenomena yang memiliki banyak penggemar. Namun sebuah fenomena sosial yang semula paling sering diasosiasikan dengan bermain dress-up, atau cosplay kini menjadi sesuatu yang telah diimplementasikan secara lebih luas dalam lingkup general fashion.

Metaverse Fashion Week di Decentraland. (Foto: MVFW via The Industry Fashion)

Beriringan dengan bertumbuhnya ketertarikan terhadap dunia metaverse, tentunya unsur-unsur tersebut akan teradaptasi dalam tren fashion. Menurut analyst Kayla Marci dari agensi retail intelligence Edited, konsep berbusana seperti karakter dari video game cocok dengan tren fashion seperti Y2K, dan aneka subkultur lain seperti fairycore, cyberpunk, dan gaya dystopian future identik dengan film The Matrix. Dalam fashion sehari-hari unsur ini banyak muncul melalui aksesoris yang bergaya futuristik, warna-warna metalik, neon, hingga jenis-jenis pakaian utilitarian yang sering digunakan oleh karakter virtual.

Unsur sci-fi ––yang juga lekat dengan tema virtual reality–– memang sering membaur dengan fashion, dari “Barbarella” hingga franchise populer seperti “Star Wars”, “Star Trek” yang momen fashionnya banyak memengaruhi tren berpakaian para penggemarnya. Kini konsep-konsep futuristic banyak memasuki pilihan konsep yang lebih high-fashion. Seperti kolaborasi antara Roblox dengan Gucci, koleksi Yeezy Gap Kanye oleh Balenciaga, hingga konsep girl group asal Korea Selatan Aespa, yang mengangkat konsep utama futuristic virtual reality dalam hampir seluruh pakaian penampilan mereka, makin terasa besarnya eksposur virtual reality dalam tren fashion.

Pakaian NFT dapat dibeli di Metaverse Fashion Week. (Foto: Auroboros)

Faktor lain yang turut mempopulerkan tren ini adalah meningkatnya interest pasar terhadap dunia NFT. Di antara komunitas crypto, kepemilikan NFT tertentu merupakan sebuah kebanggan. Dapat dilihat dari banyak media sosial yang menyediakan fitur penggunaan NFT sebagai profile picture hingga banyaknya orang-orang yang mengenakan T-shirt karakter NFT mereka. Sebuah fenomena yang tidak berbeda dengan orang-orang menggunakan pakaian bercetak logo brand luxury

Menurut Ian Rogers yang semula bekerja sebagai kepala bagian digital LVMH, penggunaan T-shirt dengan gambar aset crypto mereka adalah kesempatan untuk menunjukkan identitas mereka. Mengingat fashion adalah industri yang practically bergerak dan mengambil profit dari keinginan natural manusia untuk menunjukkan brand dan identitasnya, tidak aneh jika tren ini cepat merambat masuk ke dunia fashion.

CEO dari Tommy Hilfiger, Martijn Hagman, melihat ini sebagai sebuah ranah yang harus dieksplorasi oleh fashion brand untuk dapat beradaptasi dengan pergerakan pasar dan generational change yang pasti akan terus terjadi. Berpartisipasi dalam perubahan ini menunjukkan komitmen sebuah brand untuk co-exist dengan semua kemajuan teknologi ini.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by MORAL (@studiomoral)


Di Indonesia sendiri, semakin banyak brand fashion atau editorial shoots yang memasukkan unsur virtual melalui grafik-grafik 3D dalam ragam kampanye fashion. Menjadi token adaptasi fashion Indonesia dalam mengikuti tren baru dan kemutakhiran teknologi. Melihat masifnya pergerakan tren ini, beradaptasi dengan apa menjadi point of interest target market adalah hal yang cukup krusial bagi fashion brand untuk tetap relevan. Pertanyaan penting berikutnya adalah, bagaimana cara agar sebuah brand tetap dapat mempertahankan DNA uniknya masing-masing ketika melebur dengan AR dan virtual trends?



whiteboardjournal, logo