Multitude Films yang Dipimpin oleh Komunitas LGBTQ Menggali Permasalahan yang Cenderung Diabaikan Orang Lain

Film
03.10.21

Multitude Films yang Dipimpin oleh Komunitas LGBTQ Menggali Permasalahan yang Cenderung Diabaikan Orang Lain

Membantu menerapkan kampanye keadilan sosial pada proyek-proyek tertentu.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Nada Salsabila
Foto: Multitude Films

Masalah rasial dan gerakan #MeToo telah memaksa banyak orang dalam bisnis hiburan untuk menganggap serius soal keberagaman dan inklusivitas. Walaupun, pendiri dan presiden dari Multitude Films, Jess Devaney, sudah lama menggali soal permasalahan tersebut. Pada tahun 2016 ia sudah fokus memberikan platform kepada komunitas  LGBTQ untuk bercerita mengenai suara-suara yang kurang terwakili.

Film-film tersebut termasuk “Praw Away”, yang memiliki hubungan dengan trauma dari terapi konversi gay, “Call Center Blues” yang menceritakan tentang orang-orang Amerika Serikat yang dideportasi di Tijuana, serta dokumentasi Indigo Girls yang akan datang serta seri HBO Max “Through Our Eyes: Apart” yang mengikuti kisah anak-anak dari orang tua yang dipenjara. Dari situ Multitude Films bekerja sama dengan produser yang memiliki pikiran yang sama, seperti Chicken & Egg, Ryan Murphy, dan Jason Blum. Selain itu mereka juga membantu menerapkan kampanye keadilan sosial pada proyek-proyek tertentu.

Devaney mengatakan bahwa film “Pray Away” yang bekerja sama dengan Jason Blum, Ryan Murphy, serta Netflix ingin dirilis secara komersial. Alasan dari hal itu karena mereka ingin membawa strategi perubahan budaya ke gerakan dalam terapi konversi. “Jadi mitra kami di NCLR (Pusat Nasional untuk Hak Lesbian), Born Perfect, GLAAD, Trevor Project, dan PFLAG semuanya bekerja untuk mengakhiri terapi konversi,” jelas Devaney.

Kedepannya, Devaney melihat pentingnya bagi Multitude Films untuk tetap didorong oleh nilai-nilai. “Hal utama yang ingin saya lihat terjadi dalam lima tahun ke depan adalah bahwa reputasi kami untuk mengkurasi dan menggiring suara-suara yang muncul dan kurang terwakili ke film-film jadi lebih berseni dan kuat, hingga memungkinkan distributor untuk berinvestasi dalam visi pembuat film tersebut,” tambah Devaney. Ia menganggap apabila bisa membawa suara yang muncul ke distributor besar dan menjamin visi serta proses tersebut, serta memiliki track record yang nyata dalam melakukannya, mereka bisa mengisi kesenjangan antara program bimbingan yang panjang dan pasar.whiteboardjournal, logo