YAY/NAY : Pantaskah Kita Mendukung Season Terbaru “Master of None” Setelah Tuduhan Pelecehan Seksual Aziz Ansari?

Film
31.07.18

YAY/NAY : Pantaskah Kita Mendukung Season Terbaru “Master of None” Setelah Tuduhan Pelecehan Seksual Aziz Ansari?

Bagaimana seseorang yang sadar akan isu gender, masih bisa melakukan kesalahan yang sama dari orang lain yang tidak memperdulikan isu tersebut?

by Emma Primastiwi

 

Foto: Oxfam

Eksekutif program Netflix, Cindy Holland menyatakan bahwa Netflix akan menerima kembali season “Master of None” dengan senang hati meski penulis sekaligus aktor utamanya, Aziz Ansari mendapat tuduhan pelecehan seksual. Pembicaraan season terbaru “Master of None” yang telah memenangkan Emmy ini telah di jeda sejak tuduhan pelecehan seksual terhadap Ansari.

Tuduhan ini pertama muncul di bulan Januari dari munculnya blog post di situs “Babe”, dimana Ansari dituduh mengabaikan ketidaknyamanan dan kesukaran wanita tersebut dalam kencan mereka. Wanita ini terpicu untuk menceritakan kejadian ini untuk mendukung gerakan #MeToo yang membongkar pelecehan seksual dalam industri film.

Ansari menyatakan bahwa ia kaget dan prihatin bahwa wanita tersebut merasa dilecehkan, dan membela dirinya dengan menyatakan bahwa tindakan seksual tersebut bersifat konsensual. Dalam pernyataannya setelah alegasi tersebut muncul, Ansari telah merespon tuduhan ini secara pribadi dan mengatakan bahwa ia mendukung gerakan #MeToo dan menekankan kepentingannya.

Tetapi, dengan ini, muncul sebuah pertanyaan, dimana sebagai penonton dan pembaca, apakah mendukung karya seseorang yang mempunyai tuduhan pelecehan seksual itu pantas? Ansari menyatakan bahwa ia tidak menyadari bahwa tindakan seksual tersebut tidak bersifat konsensual, meski telah diberi tahu bahwa pasangannya tidak merasa nyaman. Selain itu, salah satu episode di musim pertama “Master of None” yang berjudul “Ladies and Gentlemen” menyorot isu yang dihadapi wanita dalam interaksi sehari-hari dengan pria, dimana seorang wanita diikuti oleh pria yang ia temui di bar, dan juga menerima pesan-pesan tidak pantas dan tidak hormat di media sosial. Bagaimana seseorang yang sadar akan isu gender, masih bisa melakukan kesalahan yang sama dari orang lain yang tidak memperdulikan isu tersebut?

Sebagai seseorang yang mencoba untuk menyorot isu-isu gender dan kesenjangan sosial dan ternyata telah melakukan pelecehan seksual secara tidak sadar merupakan suatu hal yang ironis sekaligus membuka mata. Kasus Ansari wajib membuka percakapan tentang interaksi seksual antara pria dan wanita, dan juga komunikasi yang harus lebih jelas, transparan dan pengertian. Walau Ansari menyatakan bahwa ia tidak mempunyai niat jahat akan pasangannya dan menyesali hal tersebut, wanita ini tetap terluka oleh tindakannya. Maka dari itu, pantaskah kita memberi Aziz Ansari kesempatan kedua jika ia kembali dengan season terbaru untuk “Master of None”? Tuliskan opini kalian di comment section. whiteboardjournal, logo