BRIN Tegaskan Indonesia Berisiko Rendah Terdampak Aktivitas Matahari

Human Interest
13.08.22

BRIN Tegaskan Indonesia Berisiko Rendah Terdampak Aktivitas Matahari

Ini adalah bentuk himbauan pada masyarakat agar tidak mudah panik apalagi termakan hoaks yang beredar tentang badai Matahari.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Adinda R. Syam
Foto: SHUTTERSTOCK/Lia Koltyrina

Peneliti Pusat Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Johan Muhammad, mengatakan bahwa Indonesia berisiko rendah terdampak aktivitas atau badai Matahari. Hal ini dikarenakan letak Indonesia yang berada di khatulistiwa.

Matahari melewati siklus setiap 11 tahun atau lebih. Sementara saat ini, Matahari sedang memulai siklus ke-25, yang diperkirakan akan mencapai puncaknya sekitar tahun 2024–2025 nanti.

Aktivitas Matahari secara langsung dapat mengubah kerapatan dan tekanan plasma di medium antarplanet dan ionosfer, serta meningkatkan tekanan magnetik pada magnetosfer Bumi. Hal inilah yang dapat menyebabkan berbagai sinyal gelombang elektromagnetik yang biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk keperluan komunikasi dan navigasi dapat terganggu saat terjadi aktivitas Matahari yang ekstrem.

Selain meningkatkan tekanan magnet di magnetosfer Bumi, energi matahari secara langsung dapat mengubah kerapatan dan tekanan plasma di medium antarplanet dan ionosfer. Selama periode aktivitas matahari yang drastis akan menyebabkan gangguan dalam berbagai sinyal gelombang elektromagnetik yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan navigasi.

Johan juga menekankan bahwa Matahari juga adalah sumber energi utama di tata surya memiliki pengaruh terhadap cuaca di antariksa. 

Cuaca antariksa merupakan keadaan di lingkungan antariksa, khususnya antara Matahari dan Bumi, yang meliputi kondisi Matahari, medium antarplanet, atmosfer atas Bumi (ionosfer), dan selubung magnet Bumi (magnetosfer).

Interferensi dengan transmisi radio frekuensi tinggi (HF) dan navigasi berbasis satelit akan sangat dipengaruhi oleh cuaca luar angkasa. Akibat aktivitas matahari, cuaca antariksa di Indonesia akan mengganggu komunikasi radio HF dan menurunkan presisi sistem navigasi berbasis satelit seperti Global Positioning System (GPS).

Sementara itu, diperkirakan bahwa Indonesia hanya akan terkena dampak yang rendah akibat aktivitas ini. Paling tidak terletak pada masalah terkait tingginya ketergantungan masyarakat di Indonesia terhadap teknologi satelit dan jaringan ekonomi global. Gangguan pada satelit dan jaringan kelistrikan di wilayah lintang tinggi seperti di kutub (akibat cuaca antariksa) memang akan dapat berpengaruh terhadap kehidupan manusia di Indonesia secara tidak langsung.

Ini adalah bentuk himbauan pada masyarakat agar tidak mudah panik apalagi termakan hoaks yang beredar tentang badai Matahari. “Dampak (aktivitas Matahari) yang didapat tidak sebesar daerah yang berada di lintang tinggi seperti di sekitar kutub Bumi. Hal ini dikarenakan letak Indonesia yang berada di khatulistiwa,” tegasnya.whiteboardjournal, logo