Sebagian ISS Dibuka untuk Publik, NASA Ingin Bawa Publik Ke Angkasa

Human Interest
15.06.19

Sebagian ISS Dibuka untuk Publik, NASA Ingin Bawa Publik Ke Angkasa

Salah satu langkah untuk mengkomersialisasi aset antariksa negara.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Wintang Warastri
Foto: NASA

Sejak awal manusia bisa melakukan perjalanan ke luar angkasa, jalan-jalan di antariksa menjadi impian banyak orang, tidak hanya para astronot saja. Banyak misi ke luar angkasa yang dijalankan oleh berbagai perusahaan swasta untuk mengakomodasi hal ini, dan kali ini NASA pun turut bergabung dalam upaya tersebut. Dijualnya sebagian dari area International Space Station (ISS) oleh NASA, membuka kesempatan bagi macam-macam perusahaan swasta untuk menjual paket perjalanan ke luar angkasa ke publik lebih luas lagi.

Jeff DeWitt, Bill Gerstenmaier dan Robyn Gatens mengumumkan lewat pembukaan pasar saham Nasdaq di New York City Jumat kemarin, bahwa agensi antariksa nasional Amerika tersebut berencana akan menagih 35,000 USD per malam dari mereka yang mengunjungi ISS. Dibukanya sebagian dari area ISS ini memang tidak langsung ditujukan untuk umum, melainkan bagi para perusahaan swasta yang kemudian menjual kepada publik yang berminat untuk mengunjungi langsung stasiun luar angkasa tersebut. Tidak hanya untuk keperluan wisata, dibukanya sebagian dari ISS untuk publik juga dapat mempromosikan kesempatan untuk lokasi tersebut menjadi pusat manufaktur dan bermacam proyek independen inovatif lainnya.

Para pimpinan NASA tersebut juga memaparkan rencana mereka untuk mengurangi pembatasan aktivitas berbagai perusahaan swasta dan lembaga for-profit di dalam ISS, setelah sebelumnya durasi astronot komersial dibatasi sebesar 90 jam dan berat kargo komersial sebesar 175 kg per tahun. Perusahaan-perusahaan akan dapat menugaskan astronot mereka untuk membantu mengiklankan macam-macam produk dan menggunakan fasilitas stasiun internasional tersebut untuk kegiatan manufaktur dan aktivitas komersial lainnya. “We’re trying to knock down all the barriers that have been around for awhile and see what the private sector can do to construct a business plan,” ujar DeWitt yang merupakan Chief Financial Officer dari NASA.

Komersialisasi aset antariksa negara ini bukanlah kali pertama bagi Amerika, setelah sebelumnya pernah diupayakan dalam masa pemerintahan Ronald Reagan. Jika pada waktu itu perkembangan komersialisasi dihambat oleh respon pasar yang lesu dan skeptisisme publik akan NASA yang masih belia, hal tersebut kali ini tampaknya tidak akan terjadi. Banyaknya perusahaan seperti SpaceX, OneWeb dan bahkan Amazon yang sudah lama meluncurkan satelit internet ke luar angkasa menunjukkan adanya minat nyata dari pasar dan publik. Meskipun sebenarnya semangat yang dibawa Mike Pence – wakil presiden Amerika Serikat yang juga memimpin dan mewakili administrasi Trump dalam kebijakan luar angkasa – masih sama dengan yang dibawa Reagan pada era 80-an, yakni mengangkat manfaat pasar bebas dan patriotisme kepemimpinan Amerika dalam inovasi antariksa. “There’s no reason our own federal government should stand in the way of the trailblazing companies that are forging and reforging American leadership in space,” ujar Pence tahun lalu pada pertemuan National Space Council.whiteboardjournal, logo