Melalui Inisiasi “Justice At Spotify”, Spotify Didesak Untuk Terapkan “Penny Per Stream” Bagi Para Musisinya

Music
19.11.20

Melalui Inisiasi “Justice At Spotify”, Spotify Didesak Untuk Terapkan “Penny Per Stream” Bagi Para Musisinya

Mulai dari Robert Smith hingga DIIV, “Justice at Spotify” telah didukung oleh lebih dari 18,000 musisi.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Rifqi Ramadhan
Foto: Instagram/weareumaw

Hadirnya Spotify sebagai DSP (Digital Streaming Platform) paling populer, menjadikan aplikasi satu ini sukar untuk di hindari dalam kehidupan sehari-hari. dari menemani dijalan, bekerja hingga waktu sebelum tidur, Spotify menjadi salah satu kawan kita setiap harinya. Tidak hanya memperluas akses pengguna akan berbagai macam musik baru maupun lawas, Spotify juga memudahkan musisi untuk mencapai pasar yang lebih luas dan memudahkan akses untuk materi kreatif musisi tersebut. Namun, dibalik berbagai keuntungan yang bisa didapatkan musisi melalui Spotify, apakah platform ini sudah bersikap adil terhadap musisi terutama musisi kualitas kamaran yang masih bermusik tanpa sokongan dana sama sekali?  

Tercatat sampai saat ini, platform tersebut membayar musisi yang menaruh materi di dalam nya hanya sebanyak $0.0032 atau sekitar Rp 50 per stream, hal ini dinilai akan sangat membuat buntung musisi independen yang sulit untuk bersaing dengan musisi besar yang sudah memiliki pasar sangat luas. dari ketimpangan yang terjadi dalam platform ini, munculah inisiatif yang bernama “Justice at Spotify”. Inisiatif ini sendiri di prakarsai oleh perserikatan musisi di amerika yang bernama UMAW (Union of Musicians and Allied Workers). beberapa poin penting yang didesak oleh UMAW antara lain:

1. Spotify membayar artist sebanyak 1 sen per stream.
2. Spotify menjadi lebih memiliki transparansi finansial, termasuk perihal kontrak mereka terhadap Major label, distributor dan perusahaan management.
3. Spotify menghentikan perseteruan hukum mereka soal royalty.

Sejauh ini, inisiasi yang diharapkan dapat lebih mensejahterakan musisi ini sudah mendapatkan lebih dari 18,000 dukungan dari berbagai kalangan musisi yang makin sulit memenuhi kebutuhan hidup karena situasi pandemi. Sebagian besar pemasukan yang dapat diandalkan musisi-musisi tersebut datang dari hasil touring dan konser live, bukan dari income per stream. Namun, industri live music masih belum ada tanda-tanda untuk bangkit kembali. Melihat keadaan tersebut, wajar bagi mereka untuk meminta Spotify untuk mendukung lebih lanjut para musisi yang telah memperkaya dan menghidupi platform mereka. 

Walau inisiasi “Justice at Spotify” merupakan upaya positif untuk memberikan bantuan kepada musisi independen, inisiasi ini tetap mendapat kritik karena model bisnis Spotify dianggap belum mampu menyanggupi beberapa poin yang didesak. Damon Krukowski selaku co-founder juga mantan personil dari band Galaxie 500 menyatakan bahwa, “Spotify juga harus tetap memikirkan cara untuk membenahi sistem mereka, karena mereka merupakan pemain terbesar di pasar, namun cara mereka memperlakukan artist masih yang terburuk”. Ditambah dengan pernyataan CEO Spotify, Daniel Ek yang berkata bahwa musisi harus lebih sering mengeluarkan materi agar dapat tetap relevan di era ini, sebuah statement yang dikritik banyak musisi independen. 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by UMAW (@weareumaw)


Gerakan yang dimulai oleh UMAW terasa seperti wake up call untuk musisi dan penggemar musik, terutama yang berada dalam negeri untuk dapat saling membantu di waktu yang sulit ini. Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah membeli rilisan fisik atau merchandise secara langsung dari band, atau memilih DSP yang memiliki pembagian hasil yang adil. Contohnya dapat kita lihat dari Bandcamp yang memungkinkan untuk penggemar membeli secara langsung materi sang artist dan hanya mengambil 15% dari pemasukan nya dan menghilangkan kan pembagian hasil saat event Bandcamp Friday serta memberikan pemasukan sepenuhnya kepada artist. Selain itu, di dalam negeri sendiri, kolektif asal ibukota, Noisewhore juga ikut membuat inisiasi yang diharapkan dapat membantu musisi lokal. Membuat online store bertajuk Storefront yang memungkinkan para musisi untuk mendapatkan 90% dari hasil penjualan dan memiliki transparansi untuk tiap hasil penjualan yang kita beli di platform tersebut. Upaya-upaya kecil seperti ini lah yang diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membantu banyak musisi lokal yang belum bisa mengandalkan hasil dari DSP seperti Spotify. 

Jika inisiasi ini berhasil, kiranya “Justice at Spotify” dapat berperan sebagai katalis. Tidak hanya untuk membantu para musisi di Amerika untuk mendapatkan pembagian hasil yang adil, juga sebagai contoh untuk DSP lain untuk terus mendukung jerih payah musisi-musisi yang menghidupi platform mereka. whiteboardjournal, logo