Vampire Weekend Membuktikan Eksistensinya dengan Rilis “Father Of The Bride”

Music
07.05.19

Vampire Weekend Membuktikan Eksistensinya dengan Rilis “Father Of The Bride”

Mencoba tetap memiliki identitas dan relevan di saat yang bersamaan.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Stefano William A.
Foto: Vampire Weekend

Terbentuk dan lahir pada masa di mana internet meledak, memperkenalkan segelintir grup band indie, dan mempengaruhi begitu banyak pergerakan dalam industri musik di Amerika Serikat bahkan dunia, Vampire Weekend mengambil peran sebagai sebuah anomali. Terdiri dari beberapa anak muda asal New York dengan gaya eksentrik serta membawakan musik campuran rock hingga afro-pop, sejak awal grup ini sudah memecah pendengarnya menjadi dua grup, yang sangat suka dan tidak sama sekali. Melalui 3 album yang diterima baik oleh para kritikus musik, mereka bisa dianggap ikon penanda masa sebagai unit indie.

Setelah absen dari hingar bingar industri selama kurang lebih 6 tahun, kini Ezra Koenig dan kawan-kawan (meski sekarang tanpa multi-instrumentalis Rostam Batmanglij) kembali membuktikan eksistensinya dengan album “Father of The Bride”. Pada Januari lalu lewat media sosial, Koenig sudah mengumumkan akronim judul FOTB dan disusul rilisan sejumlah single hingga beberapa minggu sebelum album dirilis secara penuh. Hal tersebut disambut baik penggemarnya. Semenjak mengeluarkan single pertama, “Harmony Hall”, setiap sudut internet membicarakan kembalinya Vampire Weekend serta bersiap menyambut “Father Of The Bride”.

Total ada 18 lagu di album baru ini. Beberapa musisi diajak ambil bagian untuk proses produksi, antara lain pemain bass Steve Lacy, produser Ludwig Goransson, serta musisi dari grup indie-pop Haim bersaudara, Danielle Haim. Di dalam rancangan megahnya, jiwa unit ini untuk mencampurkan segala kompleksitas dan kesederhanaan pada musiknya tetap ada. Hanya saja, sekarangi mereka terdengar lebih dewasa. Lagu seperti “Harmony Hall” serta “Bambina”, masih membawakan musik riang Vampire Weekend seperti dahulu. Namun, semakin menuju ke dalam album, permainan instrumen sederhana lebih banyak ditemukan. Bahkan dalam trek-trek yang dinyanyikan bersama Danielle Haim, kedua penyanyi seakan adalah pasangan duet ballad untuk band ini. Penulisan lirik Ezra Koenig pada tiap lagu tetap menggunakan berbagai permainan kata simbolis sebagai ekspresinya terhadap dunia dan segala yang terjadi di sekitarnya.

Vampire Weekend telah kembali dengan cara terbaik setelah mencoba untuk tetap memiliki identitas dan relevan di saat yang bersamaan. Mereka telah melewati bermacam-macam fase sebagai grup musik, dan masih mencoba untuk membuat sesuatu yang baru. Jika setelah merilis album kemudian keramaian yang dibawanya hilang dan mereka memutuskan untuk kembali rehat, setidaknya kita tetap bisa menikmati album megah dan dewasa ini.whiteboardjournal, logo