Karya Sastra bersama Yusi Avianto Pareanom

27.01.16

Karya Sastra bersama Yusi Avianto Pareanom

Muhammad Hilmi (H) berbincang dengan sastrawan Yusi Avianto Pareanom (Y).

by Ken Jenie

 

H

Bagaimana perjalanan Mas Yusi dalam mengenali dunia sastra?

Y

Saya terpapar banyak bacaan sejak masih kecil karena almarhum Ibu dan Ayah memberikan anaknya buku komik, berlangganan koran, majalah, dan lain-lain. Sekalipun belum terlalu paham tentang tulis-menulis dan sastra, saya sudah tahu bahwa ada dunia menarik di situ. Seiring bertambahnya pemahaman tentang apa yang dibaca, pengetahuan juga meluas.

Kebetulan saya lahir di Semarang. Sewaktu saya belajar di SMP 3 Semarang, perpustakaan kami bagus dan kami punya klub baca sesama teman sebelum kami tahu bahwa aktivitasnya adalah klub baca – satu buku kami baca ramai-ramai dan kemudian kami berdiskusi mengenai pengalaman membaca tadi.

Semarang juga punya perpustakaan wilayah yang bagus. Segala macam buku yang mungkin disediakan di perpustakaan daerah ada di situ – dari buku komik sampai buku sastra. SMA saya, SMA 3 juga punya perpustakaan yang oke, dan kebetulan juga bertemu dengan teman-teman yang suka membaca.

Jadi awalnya sebenarnya membaca dulu.

H

Akan tetapi ketika kuliah Mas Yusi justru mengambil jurusan Teknik Geodesi di UGM?

Y

Sebetulnya anak baru lulus SMA itu cenderung memilih jurusan dengan informasi yang terbatas. Waktu itu alasan saya cukup sederhana, Teknik Geodesi banyak aktivitas outdoor-nya dan di zaman itu saya sedang senang-senangnya naik gunung. Ternyata perjalanannya tidak seasyik yang saya pikirikan, tetapi saya berhasil lulus (tertawa).

H

Kalau pengalaman Mas Yusi menulis seperti apa?

Y

Saya mulai menulis cerpen sejak SMP. Waktu kuliah lebih sering menulis untuk beberapa majalah remaja dan media daerah. Saat itu, saya juga membaca buku lebih banyak lagi.

H

Bagaimana ceritanya dari mahasiswa teknik jadi bisa menulis untuk majalah Tempo?

Y

Minat saya terhadap kegiatan tulis-menulis tetap tinggal di diri saya. Di sisi lain, saya sampai sekarang masih suka matematika – saya menikmati beberapa materi kuliah, tetapi saya juga suka ilmu humaniora, dan juga dulu sempat suka ilmu tasawuf, mabok juga (tertawa). Dan ini bukan sesuatu yang unik, banyak penulis datang dari berbagai disiplin ilmu.

H

Jadi pengalaman Mas Yusi di Teknik Geodesi tidak terpakai sama sekali?

Y

Kalau dalam praktik untuk mencari uang mungkin tidak. Tapi, dengan kuliah di fakultas teknik saya merasa beruntung karena di sana saya belajar berpikir runtut. Saya juga mendapat banyak teman. Banana saya dirikan bersama teman dari Teknik Mesin UGM, Heri Wihartoyo. Anak fakultas teknik menulis sastra bukan hal yang baru dan tidak perlu diherankan.

H

Menurut Mas Yusi, apakah pengalaman menulis untuk Tempo mempengaruhi karya Mas Yusi sebagai penulis?

Y

Setiap pengalaman dalam periode apa pun akan mempengaruhi karya penulisan seseorang. Di Tempo ada tradisi reportase yang bagus, ada tugas di mana penulisnya diminta mengajukan tulisan yang penuh deskripsi dan segala macam. Itu adalah bekal yang bisa dikembangkan tergantung sang penulis mau mengembangkan tulisannya dari sudut mana – kita memiliki bekal itu dan mau dibawa ke mana. Misalnya, pelatihan dan kesulitan kerja kurang lebih sama dengan tempat lain, tetapi dari sekian wartawan Tempo yang menulis fiksi hanya beberapa orang. Biasanya yang menulis fiksi memang pada dasarnya sebelum masuk kerja di sana sudah menulis fiksi. Jangan heran pula jika ada anak Tempo yang tidak membaca fiksi. Ini bukan masalah, minat orang masing-masing.

H

Apakah pengalaman Mas Yusi sebagai jurnalis di Tempo bisa dilihat dampaknya di gaya bahasa dan penulisan karya? Buku Mas Yusi yang saya baca, “Rumah Kopi Singa Tertawa”, sangat observatif.

Y

Kalau reportase kan memang menggunakan panca indera, tidak hanya mata dan telinga. Itu adalah materi pelatihan dasar sebagai seorang wartawan. Tetapi lagi-lagi, tidak hanya periode itu yang membentuk gaya kepengarangan saya.

Setiap penulis pasti mencari terus suara kepengarangannya. Begitu dia menemukannya dan dia nyaman dengan gaya itu, penulis tersebut akan menciptakan sidik jarinya. Jadi ada orang yang akan menulis bagus saat dia marah, atau penulis bagus saat dia lucu, atau sedang dalam mood yang romantik. Sebetulnya saya merasa sudah menemukan suara saya di usia yang muda, tetapi pasti ada faktor keterpengaruhan di situ – saya ingin mencoba ini dan mencoba itu. Ketika percobaan itu gagal, suara itu akan muncul lagi.

H

Di sisi lain, banyak penulis yang sudah menemukan ‘gaya khasnya’ mereka justru seperti terjebak di gaya tersebut, dan membuat tulisannya tidak bagus…

Y

Kalau begitu, berarti gayanya yang jelek (tertawa). Setiap penulis mestinya berani menantang dirinya sendiri. Mungkin dia sudah menemukan trademark-nya, tetapi apakah dia kemudian mau untuk men-tackle hal-hal di luar zona nyamannya? Seorang penulis harus terus menantang dirinya sendiri dari waktu ke waktu. Kadang orang akan merasa tertantang kalau dia membaca tulisan atau buku lain yang luar biasa kualitasnya. Saya berani yakin bahwa orang yang berpuas diri itu kurang membaca, karena semakin banyak membaca, kita pasti akan merasa tertantang.

Sepanjang terus memperbarui referensi, analoginya seperti mengisi baterai, penulis tidak akan terjebak pada kemandekan gaya penulisan. Mungkin perubahan gaya tidak akan tampak nyata di keseharian seperti ketika kita melihat peralihan pelukis Picasso dari periode biru sampai ke kubisme, tetapi dengan banyaknya referensi dan pengembangan karya, akan ada kelokan kecil di sana-sini yang asyik.

H

Apakah penjelajahan ini yang membuat Mas Yusi di buku “Rumah Kopi Singa Tertawa” menggunakan berbagai teknik penceritaan?

Y

Memang ada banyak teknik penceritaan di situ. Tapi sebenarnya ada beberapa karya, dan ini bukan hanya membicarakan karya saya, yang akan bisa lebih dimengerti jika orang paham tentang rujukannya – tetapi tidak harus begitu. Kebetulan buku itu arahnya ke sana. Kalau paham syukur, kalau tidak karyanya seharusnya bisa berdiri sebagai bacaan tersendiri.

H

Saya pernah membaca di sebuah wawancara di mana mas Yusi berkata bahwa bahkan dalam menulis fiksi, penulis harus logis, padahal kalau dalam persepsi umum tentang cerita fiksi adalah cerita khayal yang bebas…

Y

Kenyataan boleh tidak logis. Kita bisa lihat bahwa wakil-wakil DPR itu, meskipun real, mewakili kita, itu tidak logis. Beberapa nama menjadi menteri dengan kinerja dan track record tidak logis, tetapi real. Fiksi ceritanya sendiri harus logis.

Paling gampang cerita superhero, Peter Parker terkena sengatan laba-laba radioaktif dan dia menjadi manusia laba-laba, tidak lantas menjadi manusia odong-odong. Premisnya boleh saja di luar yang real, tetapi dalam ceritanya sendiri harus logis.

H

Apakah menurut Mas Yusi ini adalah aturan yang saklek?

Y

Misalnya Metamorphosis Kafka, ia menyodorkan premis orang berubah menjadi serangga – dan ini dibilang orang sebagai alegori kepada banyak hal. Tetapi di dalam konteks cerita itu sendiri perilakunya adalah serangga, dia tidak tiba-tiba bertingkah seperti burung atau macan. Itu yang saya maksud saat berkata bahwa dalam dirinya sendiri fiksi harus logis. Ketika Kafka memilih mengubah karakternya menjadi serangga, gerak-geriknya si tokoh ini seperti kecoak – di dalam dunianya sendiri karya Kafka tersebut logis.

Misalkan ada tokoh dalam di sebuah cerpen yang tiba-tiba memotong lidahnya dan mencongkel matanya sendiri – apakah tidak boleh? Boleh, selama sepanjang narasi, dia bisa menghadirkan sebuah argumen yang kuat untuk pilihan ceritanya. Kalau ceritanya dibangun dengan semesta yang memungkinkan sebuah realita di luar kenyataan cerita itu sendiri, misalnya orang pergi kerja dan meninggalkan kepalanya di lemari rumah, dan orang-orang di tempat kerjanya tidak bereaksi terhadap dia yang tanpa kepala – semesta apa si penulis bangun? Saya rasa, penulis tidak bisa bercerita semau mereka sendiri dalam konteks logika cerita.

H

Menurut Mas Yusi, sebebas apa pun karya fiksi harus mengikuti fungsi otak?

Y

Gampangnya harus meyakinkan – cerita itu harus meyakinkan. Premisnya bisa seajaib apa pun, namun harus bisa meyakinkan nalar. Kita tahu bahwa cerita itu fiktif, tetapi pembaca akan senang bila cerita itu meyakinkan. Fiksi ribuan tahun masih dipercaya kan? Laut dibelah dan lain-lain – orang percaya karena dongengnya enak dan masuk di logika cerita.

H

Banyak yang bilang bahwa alasan sastra, terutama pada budaya tulisan, kurang diminati karena kita budayanya lebih ke budaya lisan. Padahal sebenarnya kedua aktivitas tersebut, baik lisan maupun tulisan, elemen utamanya adalah bahasa. Kenapa kita susah untuk mentranslasi budaya lisan tersebut ke aktivitas menulis atau membaca?

Y

Kebiasaan, baik itu yang sifatnya baik atau buruk itu akan melekat. Kalau memang tidak terbiasa dengan membaca, sampai kapan pun, bahkan bila dalam kondisi finansial yang mencukupi, ia tidak akan membaca. Mungkin kegiatan membaca atau menulis di kelembagaan itu bukan sesuatu yang dirancang untuk menarik minat anak-anak usia muda sebagai sesuatu yang menantang maupun ‘cool‘. Jadinya sebuah kewajiban, jadi kalau ketertarikan itu muncul bukan karena lembaganya, tetapi karena kemauan pribadi.

Mungkin memang harus “dipaksakan” bahwa di dalam kurikulum ada materi-materi mengajar yang memungkinkan, baik pengajar atau murid, melihat karya tulis sebagai hal yang asyik. Mereka tidak harus jadi penulis, tetapi kalau diperkenalkan bahwa orang-orang hebat itu membaca, pasti aktivitas membaca dan menulis akan menjadi lebih menarik. Ini balik lagi ke kebijakan – siapa yang menentukan buku yang bagus untuk murid? Itu persoalan yang mungkin terlalu besar untuk saya jawab, tetapi kalau posisi saya sebagai penerbit sebisa mungkin menyodorkan bacaan-bacaan yang memperkaya pilihan. Apakah itu berhasil atau tidak, itu bukan saya yang bisa menilai.

H

Banana cukup alternatif dalam hal seleksi bukunya yang diterbitkan, apakah dibuat untuk melawan dominasi publisher besar?

Y

Tidak melawan, karena kalau kami melawan kami pasti akan kalah. Kami ingin memberi pembaca karya yang mungkin selama ini belum sempat mereka lirik. Ini tawaran, dan tawaran ini bisa diterima tergantung juga dengan seberapa pintar kami bisa menawarkan alternatif ini. Kami juga masih belajar dalam hal ini, kalau saya pintar mungkin saya sudah kaya raya (tertawa).

Banana adalah pekerjaan yang memerlukan banyak pikiran, tenaga, dana, tetapi ini adalah sesuatu yang asyik bagi saya. Apakah suatu saat saya bisa tidak lagi aktif di Banana? Tentu saja, tetapi sekarang saya masih suka melakukan ini. Semoga masih lama, tetapi kalau saya sudah tidak suka, saya pasti akan tinggalkan.

H

Saya sempat baca bahwa Banana mau mulai membikin E-Book. Posisi Banana mengenai e-book dan buku fisik seperti apa?

Y

Saya terus terang belum bisa menjawab pertanyaan ini karena saya tidak terlalu paham dunia digital – ini bukan sesuatu yang membanggakan, ini justru malah menyedihkan (tertawa). Saya ingin karya-karya bagus bisa menemui pembaca dengan berbagai cara. Bisa dalam bentuk buku fisik , bisa e-book, atau mungkin dalam bentuk aplikasi – saya sedang belajar tentang kemungkinan seperti ini, karena terus-terang memang saya terlambat mempelajarinya. Suka tidak suka, pembaca-pembacanya mendapatkan informasi pertama di dunia digital, jadi saya sedang berpikir tentang bagaimana kami harus mengemas kontennya – medianya apa saja. Saya ingin melakukan ini tanpa harus berlebihan, menghindari model yang gimmick oriented.

Ke depan Banana akan banyak dibantu banyak teman-teman muda. Mereka kebetulan terhasut (tertawa) dan lillahi ta’ala mau membantu- saya hanya bisa bersyukur. Waktu saya sudah begitu banyak termakan untuk mengurusi isi dan hal-hal di luar Banana. Jadi ya sudahlah, monggo, saya yang matur nuwun. Syukur-syukur kalau ternyata kemudian kami bisa menjual dengan lebih baik.

H

Apakah ini berarti memang ada arah kecenderungan ke digital?

Y

Saya mengikuti saran tim saya. Kalau whiteboard ketemu saya sepuluh tahun yang lalu, saya tidak akan menjawab seperti ini, saya akan berkata ‘tetap buku fisik.’

H

Mengenai industri penerbit buku, Rain Chudori pernah bercerita bahwa penulis perempuan menghadapi banyak hambatan. Apakah kondisi industri sastra lokal memang male-dominated ataukah sebenarnya permasalahannya lebih luas, jadi memang ini karena sosial kita demikian?

Y

Ada yang bilang bahwa malah penulis perempuan mendapatkan kemudahan karena keperempuannya. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Untuk argumen seperti ini, apa pendukungnya? Mau membantah pun, apa data pendukungnya?

Misalkan seseorang berkata seperti itu, apakah dia punya data yang membuktikan argumennya tidak? Kalau tidak ada tidak bisa ditanggapi pernyataan itu.

H

Kalau secara personal, apakah menurut Mas Yusi posisi penulis perempuan sudah setara dengan penulis pria?

Y

Penulis perempuan di Indonesia lebih beruntung dibandingkan dengan penulis perempuan di beberapa negara lain. Penulis di sini bebas tanpa hambatan untuk menulis apa pun. Bahkan dalam beberapa hal – dan ini mungkin akan terdengar tidak terlalu pas – materi yang sama, saat ditulis perempuan bisa membuat pembaca merespons bahwa si penulis berani sekali, sementara materi yang sama jika ditulis oleh penulis laki-laki maka penulis tersebut akan dibilang eksploitatif sekali. Jadi hambatan karena keperempuanan tidak ada, malah membebaskan – mau karya cetak, film atau apa pun. Apalagi saat penulis perempuan mengeksplor tema-tema seperti seks, orang akan membedah relasi kuasa. Saya sendiri tidak melihat keperempuanan sebagai faktor perhambat.

H

Mas Yusi beraktivitas sebagai penulis, editor, dan penerbit – apakah ini menghambat kenikmatan dalam membaca?

Y

Tentu ada, apalagi setelah sekian lama menjadi editor. Ada beberapa orang yang berkata ‘ignorance is bliss‘ – tapi kalau gampang takjub juga menggelikan dan menyedihkan.

H

Apakah ada penulis muda yang menurut Mas Yusi karyanya bisa patut direkomendasikan?

Y

Dea Anugerah, Sabda Armandio – dua ini, beberapa yang lain kadang-kadang menghasilkan tulisan fiksi atau nonfiksi yang oke, tetapi belum konsisten… muda itu batas umurnya berapa ya? (tertawa).

H

Mungkin sekitar 35?

Y

Saya termasuk kalau begitu (tertawa). Mungkin di luar nama tadi ada Dias Novita Wuri.

H

Secara umum, bagaimana Mas Yusi melihat perkembangan sastra lokal seperti apa?

Y

Kalau melihat teman-teman muda saya optimistis. Anak-anak muda yang saya sebut tadi tahu yang bagus yang mana dan mereka mengejar titik excellence-nya – syukur-syukur melampaui. Tidak selalu hasilnya bagus, tetapi attitude bahwa yang dikejar yang bagus itu saya senang. Yang berat bagi penulis muda atau tua adalah berpuas diri.

H

Kalau opini Mas mengenai publisher-publisher yang baru?

Y

Sekarang yang menarik sebetulnya adalah – kalau dulu mau penerbit besar atau kecil ketergantungan mereka kepada toko buku sangat besar, sekarang penerbit-penerbit rumahan menjual melalui toko buku yang kecil dan online, dan mereka bisa jalan dengan metode yang seperti itu- ini yang membedakan zaman sekarang dengan zaman dulu. Kalau dulu berat. Sekarang teknologi cetak semakin maju dan orang tidak harus mencetak ribuan. Teman-teman di Jogjakarta sekali angkat cetak sekitar 300 – kalau dari sisi kapitalis itu jumlah kecil sebetulnya (tertawa)?

H

Mungkin di sisi lain ada kesadaran yang lebih tinggi untuk mem-publish karya?

Y

Mungkin memang seperti itu, mereka senang menerbitkan karya, meskipun pasti ada masalah, hal itu akan teratasi seiring waktu – baik masalah redaksional ataupun artistik. Saya pun melakukan banyak kesalahan, mungkin bukan pada materi naskahnya, tapi bagaimana bikin karya ini lebih dikenal.

H

Proyek mendatang Mas Yusi?

Y

Kami akan menerbitkan buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi dan buku Anak-anak Gerhana yang akan menceritakan pengalaman generasi saya yang tumbuh di bawah pemerintahan Orde Baru. Melalui buku ini pembaca bisa tahu ‘begini lo rasanya hidup di bawah Orde Baru’. Selain itu kami punya naskah yang semoga juga selesai, tetapi yang pasti Raden Mandasia akan terbit segera.

Semoga kami bisa menerbitkan buku bagus lebih banyak – sesimpel itu. Dan Banana akan lebih banyak mengangkat karya penulis lokal.whiteboardjournal, logo