Sinema Kontemplatif bersama Yosep Anggi Noen

10.02.16

Sinema Kontemplatif bersama Yosep Anggi Noen

Muhammad Hilmi (H) berbincang dengan filmmaker Yosep Anggie Noen (Y).

by Ken Jenie

 

Sinema Kontemplatif bersama Yosep Anggi Noen

H

Bagaimana perkenalan Mas Anggi ke dunia film?

Y

Kecintaan terhadap dunia film berkembang alami pada diri saya. Sejak kecil, pada umur 7-8 tahun, di kampung saya, Kaliduren Sleman, itu jarang ada keluarga yang memiliki televisi. Kebetulan rumah saya adalah salah satu yang punya. Jadi setiap hari, tetangga saya berkumpul di rumah untuk nonton TV bareng. Dari situ, saya dalam kacamata anak-anak kemudian melihat bagaimana sebuah benda yang menampilkan moving images, sebuah pesawat televisi memiliki kekuatan untuk menarik dan mengundang orang-orang untuk menatapnya dalam-dalam. Pengamatan ini cukup membekas pada diri saya.

Di masa SMA, saya mulai belajar memotret dengan arahan yang sedikit lebih profesional dengan kamera pinjaman. Akhir SMA, saya mulai fokus menonton, membahas, dan mengkaji film. Juga mulai membuat film saya sendiri. Semuanya semakin berkembang ketika kuliah, semakin serius hingga sekarang dimana saya hidup dari dan menghidupi film itu sendiri.

H

Tumbuh pada era dimana film Indonesia sedang berada pada masa terpuruknya, apa yang membuat Mas Anggi tetap berkeinginan untuk terjun di situ?

Y

Saya mengawali karir saya di sini di luar konteks film sebagai dunia bisnis. Saya memposisikan film sebagai media untuk menyampaikan ekspresi. Saya melihat film sebagai tempat dimana saya bisa menceritakan kegelisahan yang saya alami. Murni seperti itu.

Film pertama saya ketika SMA membahas tentang hal yang benar-benar lugu, bercerita tentang fenomena sebuah lunchbox milik seorang murid SMP yang hilang, dan ditemukan kemudian diperebutkan oleh anak punk yang kelaparan, begitu saja. Pesannya mungkin saat itu adalah tentang isu kemiskinan dan moral dengan nada yang sangat naif.

Film kedua saya, “Ketemu Bapak” (2002) mengambil inspirasi dari kampung saya sendiri. Saat itu, pada sebuah malam ada beberapa tetangga saya menarik kabel listrik untuk mengadakan “pesta kecil” dengan musik dangdut di seberang jalan, pesta berlangsung semalaman. Paginya jalan diguyur hujan dan kabel listrik yang masih menjuntai di jalanan tersebut menjerat tetangga saya lainnya yang berprofesi sebagai polisi hingga meninggal. Empat tetangga saya tersebut kemudian ditangkap dan dipenjara. Dari cerita tersebut, saya lantas tergerak untuk mengangkat sebuah gagasan tentang penjara itu sendiri. Dimana pada film ini saya menceritakan kisah dimana seorang anak kampung justru melihat kesempatan mengunjungi bapaknya di penjara sebagai pengalaman yang menyenangkan, karena pada umumnya penjara selalu terletak di tengah kota, jadi menjenguk bapak di penjara sama dengan berwisata ke kota, peristiwa penuh gengsi bagi anak kampung, terlepas sama sekali dari apa itu definisi penjara dan kenapa bapaknya ditahan di penjara.

Dari dua contoh tadi seharusnya bisa dilihat bagaimana saya memaknai film. Yakni sebagai cara bagi saya untuk bercerita. Itu saja. Perkara kemudian bagaimana saya menampilkan pilihan estetika tertentu dalam pendekatan sinema dan penceritaan itu mungkin pengaruh referensi saya yang berkembang seiring waktu. Tidak ada pemikiran mengenai bisnis disitu. Toh dalam hal ini pun, film saya cukup berjarak dengan produk industri. Saya mengawali kiprah di film dengan mengabaikan apa yang terjadi di konteks film populer. Saya disini karena film memungkinkan saya untuk bertutur, murni itu saja.

H

Apakah visi yang demikian juga menjadi dasar pada Kelompok 56 yang Mas Anggi bentuk dulu?

Y

Kelompok 56, sekarang berubah menjadi 56 Films, didirikan untuk dan oleh kumpulan orang-orang yang melihat dan mengagumi film sebagai medium tutur. Awalnya, Kelompok 56 adalah komunitas teater di SMAN 3 Yogyakarta, tempat saya sekolah dulu. Tapi justru kami belok arah ke film karena terlalu banyak hal yang harus dipersiapkan untuk sebuah pementasan teater. Tapi bahkan hingga film ke sekian, kami, terutama saya masih belum tahu tata cara pembuatan film. Di “Ketemu Bapak” saya bahkan tidak paham tentang siapa yang harus bilang ‘rolling’, atau ‘action’. Tapi kami cuek saja. Yang penting terus bikin film.

Tentunya, dengan perjalanan waktu, saya juga terus belajar. Sampai sekarang, yah sudah bisa dibilang lumayan mapan lah secara teknis (tertawa).

Secara organisasi, mungkin 56 Films tidak memiliki struktur atau visi yang spesifik, tapi mungkin yang membuat kami bisa terus berjalan bersama adalah kami memiliki cara pandang yang sama dalam memaknai film. Sebuah medium ekspresi. Kami cenderung agak kurang paham kalau ditanyai mengenai bisnis film. Memang kami mencari uang melalui film. Tapi kami menempatkan film sebagai produk kebudayaan yang mencatat zaman di prioritas utama. Jika ada, mungkin ciri khas karya kami adalah bagaimana setiap film yang kami hasilkan memiliki pagar-pagar kejujuran sebagai prinsip utama. Kami membuat film berbasis pada sebuah hal yang nyata. Riset selalu menjadi dasar yang kuat pada setiap karya kami.

Sering, kami menolak tawaran dari pihak yang tidak sepakat dengan cara kerja kami. Istilahnya mungkin kami adalah filmmaker yang tahan lapar (tertawa). Tapi ketika akhirnya kami menghasilkan sebuah karya, banyak diantara mereka yang kemudian suka dan terbuka pikirannya.

Jadi sepertinya kalau dirangkum, visi kami dalam membuat film adalah membuat sebuah karya yang bisa mengabadikan sebuah era, dan sekaligus sebagai sebuah ekspresi seni. Kalau kemudian nantinya film yang kami hasilkan akan mendapat penghargaan atau dibeli oleh seseorang, itu urusan nanti. Meskipun sebenarnya, dengan mengemukakan pendapat yang demikian, saya tidak lantas mengabaikan semua aspek komersial dari film kami, karena di jaman sekarang ini, segala hal, termasuk dalam perencanaan berlangsung secara komprehensif. Jadi pada setiap proses pembuatan film saya sudah harus memikirkan bahwa harus ada penonton yang akan bertemu dengan karya saya. Tapi di dalamnya, saya sebisa mungkin menghindari pola-pola khas industri, seperti tentang siapa layaknya aktor atau aktrisnya, cerita, pembabakan, atau drama tertentu. Saya menolak untuk mengikuti template yang demikian. Karena bagi saya, film harus merupakan visualisasi temuan orisinil sang pembuat film. Sinema adalah sebuah bentuk invention, dimana pembuat film menemukan sesuatu dan memaparkan segala temuannya. Kalau yang ditampilkan hanya gagasan-gagasan lama, saya rasa itu bukan film, sekadar tontonan biasa saja.

H

Dengan pilihan yang seperti ini, jadi Mas Anggi sadar bahwa karya yang dihasilkan akan berjarak dengan masyarakat umum?

Y

Saya sepenuhnya sadar bahwa film yang saya buat adalah konsumsi market yang niche. Ini bukan karya untuk umum. Saya sadar bahwa saya tidak bisa memaksakan penonton film box office untuk menonton dan menyukai film saya. Bahkan bisa saja, penggemar film box office lokal akan membenci film saya. Itu pasti. Tapi dengan pemahaman bahwa saya menciptakan karya untuk niche market, saya tahu bahwa saya harus menjaga pasar kecil yang saya miliki. Bagaimana caranya? Bagi saya, cara yang bisa saya tempuh untuk tetap membuat market saya setia adalah dengan terus berani untuk menawarkan dan menunjukkan gagasan baru. Tentang temuan yang bisa lebih kontemplatif yang menyegarkan, yang bisa membuat ‘umat’ dari film saya bisa lebih mencintai sinema. Itu kuncinya.

Saya rasa pilihan untuk terus berkarya sembari terus mengangkat gagasan baru seperti ini belum bisa dilakukan kepada market yang lebih besar. Agak susah jadi seniman bagi khalayak yang demikian masif. Ini bukan masalah sebenarnya, tapi itu belum menjadi pilihan bagi saya. Setidaknya tidak untuk sekarang.

Tapi, sesedikit apapun penonton di niche market ini, pengalaman bertemu dengan mereka selalu menyenangkan. Sering justru sangat berarti buat saya pribadi. Karena bukan film namanya kalau tidak ketemu dengan penonton.

H

Jadi, meskipun mengakui bahwa karya Mas Anggi itu sangat niche, tapi aspek penonton itu juga masih penting bagi Mas Anggi?

Y

Oh iya. Sangat penting. Buat apa buat film kalau tidak ada yang mau nonton. Mending buat singkong goreng saja (tertawa).

H

Dari beberapa film yang saya tonton, terasa seperti Mas Anggi mengambil kejadian sehari-hari lalu mengolahnya menjadi sebuah adegan yang kontemplatif dan berjarak dengan realitas. Apa ide dibalik pendekatan yang demikian?

Y

Sebenarnya justru tidak berjarak dengan realitas. Jika kita melihat film saya, hampir semua adegan, dan detail di dalamnya itu berdasar pada realita. Seperti ketika pemeran film makan indomie, saya rasa semua orang pernah mengalaminya. Tapi tidak lantas berhenti disitu, saya lantas mengangkat bagaimana bahkan adegan makan indomie pun bisa jadi peristiwa penting. Seperti pada “Vakansi yang Janggal dan Penyakit-Penyakit Lainnya”, saya membawa adegan makan indomie menjadi sebuah kesepian yang mendalam. Ketika tokoh utamanya seorang laki-laki beristri makan indomie sendirian di rumah itu adalah potret sepi yang nyata, penting. Simbol masalah besar tapi sering diabaikan.

Sama halnya ketika saya melihat sebuah keluarga dimana semua furniturnya adalah barang bongkar-pasang knockdown berbahan kayu partikel atau triplek, ini seperti bercerita bahwa keluarga tersebut belum settle, karena mereka masih ingin kepraktisan ketika suatu hari harus pindah kontrakan dan semacamnya. Saya berupaya melihat kejadian seperti itu sebagai sebuah hal yang mendalam. Peristiwanya mungkin sangat biasa, dan cenderung terabaikan, tapi bisa saja ada sebuah hal besar dibaliknya yang tersembunyi dari ketidakacuhan kita.

Pendekatan ini bisa dilihat di semua film saya. Biasanya, untuk memancing renungan pada kejadian sepele itu saya menggunakan durasi yang lama dalam menggambarkan sebuah peristiwa sederhana. Kita tidak bisa buru-buru untuk mengajak penonton berpikir lagi tentang apa yang mereka lewatkan dari kejadian sehari-hari. Keseharian memiliki nilai mendalam ketika kita menceritakannya dengan rangkaian peristiwa atau jukstaposisi yang tepat. Saya yakin dengan bagaimana hal-hal yang biasa itu sebenarnya memiliki makna yang luar biasa.

H

Apakah cara pandang ini bisa dimaknai sebagai kritik Mas Anggi terhadap gaya hidup modern?

Y

Sepertinya agak kurang pas kalau dilihat sebagai kritik. Saya lebih suka kalau film saya diposisikan sebagai rekam zaman. Karena memang yang paling utama dari sinema, setidaknya menurut saya adalah kekuatannya dalam mendokumentasikan sebuah zaman. Jadi upaya saya sebenarnya ketika mendevelop sebuah cerita adalah untuk memasukkan gagasan mengenai manusia, tindakannya dan bagaimana keputusan yang mereka buat itu kemudian berdampak dalam sebuah narasi yang sederhana. Tema mengenai cinta, kesepian, atau pertentangan keluarga, saya tidak menggambarkannya dengan sebuah pertengkaran, tapi justru dengan aktivitas seperti kegiatan menjemur kasur dan menepuk-tepuk kasur yang dijemur dan segala detail dari aktivitas tersebut yang justru saya biarkan bercerita.

Inginnya, saya bisa membuka ruang kontemplasi di kepala penonton melalui film. Saya membayangkan sebuah fungsi baru sinema, yakni sebagai ruang untuk merenung. Karena sekarang hiburan sudah dimana-mana. Tak perlu ke bioskop untuk mencari hiburan, tinggal buka youtube, atau 9gag, kita bisa tertawa terbahak-bahak disana. Sinema, ruang gelap, dengan satu layar tunggal, ditatap bersama-sama dengan tata suara yang baik adalah sebuah tempat yang tepat untuk merenung sebenarnya, sebuah kesempatan bagi kita untuk melihat kembali diri kita dan mempertanyakan posisi kita pada situasi yang dipaparkan di layar. Saya rasa, begitulah seharusnya posisi sinema, sebagai jalan sepi untuk mendalami sebuah renungan.

H

Jadi sinema sebagai pengalaman spiritual, mungkin?

Y

Kalau mengiyakan, nanti saya dikira memproklamirkan diri sebagai nabi baru? (tertawa). Sepertinya bukan spiritual, tapi lebih ke kontemplasi tadi. Toh pendekatan yang seperti saya kemukakan tadi tidak menutup kemungkinan hanya dengan menggunakan teknik pengambilan shot dengan durasi lama, renungan bisa dipicu dari gambar, teks, dan berbagai macam hal lainnya, bahkan sebenarnya film action pun bisa juga kontemplatif.

H

Bagaimana Mas Anggi melihat film lokal yang sepertinya selalu macet dalam menggali tema cerita?

Y

Saya tidak paham tentang bagaimana proses kreatif teman-teman sutradara, terutama di film komersil, tapi di area itu, pertaruhannya selalu besar. Tentang besarnya investasi yang harus dikembalikan dan segala macam tetek-bengeknya. Tapi seharusnya itu tidak dijadikan excuse bagi filmmaker. Karena bahkan ketika membuat film arthouse pun juga ada pertanggungjawabannya. Masalahnya bukan disitu. Ini tentang keberanian saja sebenarnya. Apakah kita berani untuk membuat sesuatu yang memiliki makna lebih?

Dalam konteks film lokal, saya selalu mengajak untuk kita berpikir positif saja. Karena apapun yang terjadi di ranah komersial, sebenarnya tidak bisa dijadikan representasi tentang apa yang terjadi secara nasional. Tentang tema yang sepertinya itu-itu saja di bioskop, kalau kita melihat di film-film pendek, sebenarnya sudah sangat berkembang dan temanya sangat beragam. Kita juga harus menghargai upaya-upaya seperti yang dilakukan oleh Eddie Cahyono dan Ifa Isfansyah ketika mereka mengusahakan “Siti” ke bioskop komersial, upaya seperti ini bisa dipahami sebagai upaya untuk memperkenalkan bentuk baru sinema nasional ke khalayak luas. Atau juga misalnya inisiatif dari Dede Meiske dan Edwin dari Kolektif yang sering memutar filmnya ke kantong seni di daerah-daerah dengan cara independen itu juga sangat layak diapresiasi sebagai usaha untuk memamerkan ragam sinema.

Sedangkan yang terjadi di ranah komersial, yang diangkat adalah selalu tema-tema yang aman. Seperti ada ketakutan untuk memajang hal-hal baru. Dan ketakutan ini menjangkit secara sistemik pada ekosistem mereka.

Sebenarnya hal yang sama bisa dilihat pada penjualan buku laris di Indonesia. Dalam periode tiga sampai empat tahun terakhir, mayoritas buku yang laku di toko buku adalah buku yang menceritakan seseorang dengan segala kesulitan hidupnya di luar negeri, atau perjalanan orang pergi keluar negeri. Dan ini kemudian menjalar pada layar bioskop kita. Ada “Haji Backpacker”, “Assalamualaikum Beijing”, “99 Cahaya di Langit Eropa”, “Bintang Terbelah di Langit Amerika” dan semacamnya. Hampir semuanya bercerita tentang tema yang sama. Tentang pergi dari Indonesia dan pulang sebagai sosok yang mulia. Apakah sekarang orang kita pada pengen eksodus semua? (tertawa).

Walau sebenarnya masih ada juga harapan di ranah komersil. Film “Toba Dream” dan “Bulan di Atas Kuburan” adalah dua contohnya, mereka mampu mengangkat tema yang cukup berbeda dan hasilnya lumayan.

Selain masalah keberanian, ada juga masalah eksplorasi estetika. Dimana sejauh ini sepertinya tidak ada sama sekali sisanya di film komersil. Nol besar mereka kalau soal eksplorasi estetika. Seorang seniman biasanya akan melakukan pendalaman estetika ketika mereka merasakan krisis identitas dan krisis di seputar lingkungan dimana mereka hidup. Dalam hal ini saya sepakat dengan seorang teman dari Amerika yang sedang melakukan penelitian tentang film Indonesia. Teman saya tersebut menyatakan bahwa film Indonesia yang keluar sebelum ‘98 justru lebih eksploratif, beragam dan estetis dibanding dengan film post-reformasi.

Problemnya mungkin, di era Orde Baru, seorang filmmaker dihadapkan dengan berbagai batasan dalam berkarya, maka dengan itu mereka memutar otak supaya mereka bisa lebih kreatif, dan situasi yang demikian menghasilkan karya yang lebih estetis dan puitik, dalam artian banyak yang menyimpan makna yang berbeda dari apa yang ada di teks nyatanya. Kini, ketika semua orang dibebaskan berekspresi, ternyata yang dihasilkan adalah karya yang eksplorasinya hanya seputar teknis, bukan apa yang mereka harusnya jelajahi. Kita bisa lihat film Teguh Karya, hingga Garin Nugroho di era awal-awal itu sangat menarik. Sekarang semua film berbasis narasi melulu, dan tidak menyisakan ruang bagi estetika. Sayang sekali.

H

Sebagai filmmaker yang dibesarkan oleh festival film, bagaimana pendapat Mas Anggi mengenai posisi festival sebagai pasar ideal bagi film Arthouse?

Y

Sebenarnya festival film merupakan etalase untuk industri juga . Terutamanya mungkin bagi film yang memiliki kecenderungan estetik yang cukup spesifik. Tapi dalam festival film itu sendiri, ada beberapa dimensi utama. Ada banyak kepentingan dan aspek dalam sebuah festival, ada aspek industri, aspek kritik, aspek kepenontonan, hingga estetika. Sayangnya, beberapa orang disini cenderung melihat festival film sebagai acara perayaan red carpet semata. Bahwa mereka diundang untuk ikut lewat di red carpet, itu saja kemudian yang dibahas dan dipamerkan. Red carpet penting, tapi sebenarnya lebih esensial tentang apakah film mereka mampu mengangkat gagasan baru, dan bagaimana respon kritik terhadap film yang mereka bawakan, itu hal penting yang justru sering terlupakan.

Bagi saya, festival adalah sebuah acara dimana film-film yang ditayangkan telah terkurasi sedemikian rupa sehingga pengalaman menonton bisa lebih maksimal. Jadi penonton bisa lebih fokus dalam menikmati dan mendiskusikan gagasan yang diangkat oleh film. Ada yang bilang bahwa pola kurasi pada beberapa festival jadi terlalu subjektif dan menyempitkan ruang untuk film dengan selera berbeda, tapi dari pengalaman saya, bahkan pada Locarno Film Festival yang dibilang memuja film arthouse, saya masih bisa melihat film dengan bahasan populer disana. Jadi menurut saya, festival film pun memiliki upaya untuk memaparkan ragam sinema. Tapi kalau kembali ke pertanyaan apakah itu pasar tunggal bagi film arthouse, sepertinya tidak begitu. Ada banyak etalase lain yang masih bisa diusahakan, dari komersil hingga underground. Asal itu masih memberikan kemerdekaan bagi gagasan estetika yang ingin kita angkat, sepertinya itu harus dijelajahi.

H

Bagaimana dengan perkembangan festival film lokal?

Y

Festival film lokal selalu menarik, karena ini masih satu gagasan dengan upaya untuk mempertemukan film dengan penontonnya. Sekarang festival film lokal sedang pada puncaknya. Menjamur secara jumlah, dan bahkan kadang lebih banyak festival daripada filmnya sendiri (tertawa). Semua seperti berlomba untuk mengadakan festival film. Mulai dari bea cukai, departemen kesehatan, hingga ojek online pun bikin festival, saya sendiri sebenarnya lebih nyaman untuk menyebut acara seperti itu sebagai kontes film atau video pendek, daripada untuk menyebutnya sebagai festival, karena acara seperti itu mengkomando pesertanya untuk membuat video sesuai kebutuhan penyelenggaranya. Bukan untuk kepentingan si pembuat film itu sendiri.

Bagi saya, sebuah festival film yang baik adalah sebuah festival yang mau memfasilitasi energi, gagasan, kegelisahan dan originalitas sang pembuat film. Ketika sebuah festival sudah mengatur sedemikian rupa dan membatasi originalitas pembuat film, saya tidak melihat itu sebagai festival film yang baik. Kenapa kemerdekaan gagasan penting dalam sebuah festival film? Karena dalam sebuah festival film, karya yang ditayangkan akan dilihat oleh banyak penonton, dan orang-orang tersebut akan melihat keragaman gagasan. Jika sebuah festival menayangkan ide yang sama gara-gara peraturan dari penyelenggara, maka publik akan melihat keseragaman lagi. Lalu apa bedanya festival tersebut dengan konten bioskop komersil?

Belum lagi tentang durabilitas. Jangan sebut festival film bila hanya sekali mengadakan, lalu tak berlanjut di kemudian hari. Kalau begitu, itu namanya event saja, bukan festival. Adalah sebuah perjuangan yang berat untuk terus konsisten dalam mengadakan festival dari tahun ke tahun dengan terus memberikan kebebasan bagi pembuat film untuk berkarya.

Hampir sama beratnya dengan perjuangan seorang pembuat film untuk terus setia dalam mencari gagasan baru yang orisinil selama bertahun-tahun berkarya. Ini kondisi yang sangat ideal dimana dengan situasi yang demikian sebuah festival akan terus berkembang dan tidak akan dikuasai oleh nama-nama yang sama secara terus menerus. Jadi akan terus berkembang sinema dengan pilihan estetika yang spesial dari tahun ke tahun. Idealnya seperti ini, terutama untuk festival lokal. Daripada berlomba-lomba untuk membuat festival film, mendingan tidak usah bikin kalau hasilnya gitu-gitu mulu (tertawa).

H

Mas Anggi juga mengajar, bagaimana melihat pendidikan film di Indonesia?

Y

Sekarang cukup banyak kampus membuka jurusan film, ini menunjukkan bahwa ada minat yang cukup tinggi di sana. Banyak orang ingin belajar tentang perfilman. Ada banyak calon penonton, karena biasanya hanya 10% yang setia dengan latar belakang pendidikannya. Tapi tak apa-apa, itu cukup. Masalahnya, justru bagaimana posisi lulusan sekolah film ini kemudian di hadapan industri. Apakah industri mau membuka pintu bagi gagasan baru yang diangkat oleh alumni anyar ini?

Saya hanya takut bahwa dari sedemikian banyak sekolah film tersebut, jangan sampai lulusannya hanya menjadi perpanjangan tangan dari industri semata. Bagi saya, idealnya sekolah film adalah academic pot untuk menemukan gagasan yang baru, melakukan kritik terhadap apa yang ada sekarang, dan memunculkan pemikiran yang baru tentang perfilman Indonesia. Karena kalau hal tersebut tidak dikembangkan, ya seperti yang kamu bilang tadi, film kita akan mandeg dan tidak berkembang. Saat-saat seperti ini sebenarnya cukup critical bagi film nasional, minimnya keberanian pembuat film adalah salah satu pertandanya. Padahal ada banyak peluang eksplorasi di sini. Misalnya untuk mengulas tentang manusia, kemanusiaan, atau cerita mengenai tokoh yag biasa saja. Harusnya sekolah film menjadi tempat untuk mengembangkan cerita seperti itu. Jangan sampai sekolah film lokal hanya menjadi pabrik pekerja film untuk industri. Karena ada misi yang lebih mulia disana, yakni untuk melahirkan sinema baru Indonesia.

Saya sempat berdebat dengan salah seorang dosen senior di tempat saya mengajar. Dosen tersebut menyatakan bahwa yang paling penting adalah bagaimana setelah lulus mahasiswa kami bisa diserap langsung oleh industri. Saya mendebatnya dengan keinginan bahwa universitas kami bisa melahirkan pemikir baru bagi sinema Indonesia. Karena saya pikir, itu yang penting untuk diisi posisinya, ketimbang hanya melahirkan pekerja semata. Kita perlu generasi muda yang mau berpikir liar dan kritis. Karena potensinya sudah mengarah kesana. Dimana saya banyak menemukan gaya penceritaan yang baru, juga ide-ide segar dari kampus-kampus film ini. Memang belum bisa dikatakan bahwa kita sudah berkembang pesat, masih perlu durabilitas disana-sini. Tapi bahwa film sudah masuk kajian akademik, itu sebuah hal yang positif dan patut diapresiasi.

H

Apa rencana mendatang dari Mas Anggi?

Y

Saya sedang mempersiapkan film biopic untuk Wiji Thukul, shooting akan mulai pada bulan April 2016 ini. Berikutnya mungkin ada satu lagi, film bertema sci-fi, tentang seorang astronot dari Bantul, tapi ini jelas bukan kisah motivasi seperti kisah sukses a la Merry Riana ya (tertawa). whiteboardjournal, logo