Membongkar Sastra bersama Seno Gumira Ajidarma

05.10.16

Membongkar Sastra bersama Seno Gumira Ajidarma

Febrina Anindita (F) berbincang dengan Seno Gumira Ajidarma (S).

by Febrina Anindita

 

F

Mas Seno giat menyampaikan idealisme lewat tulisan. Bagaimana awal mula Mas menggoreskan pena?

S

Saat remaja orang akan mencari identitas, ada yang berkelahi, ngebut, menjadi modis dan lain-lain sebagainya. Pencarian identitas saya berhenti ketika saya menonton Rendra. Seketika itu, entah kenapa saya langsung saya ingin jadi seperti beliau. Waktu itu tahun 1973, saya masih SMP dan melihat di koran kalau Rendra dilarang tampil, lalu diizinkan tampil lagi tapi hanya di tempat-tempat tertentu. Banyak yang melarang, tapi ia tetap tampil di Stadion Kridosono, Yogyakarta. Lalu saya berpikir, drama kok dilarang? (tertawa).

Waktu itu, teater asing buat saya. Dan drama saat itu kita tahu hanya hadir saat perayaan 17-an saja (tertawa). Salah satu drama Rendra yang saya tonton adalah, “Mastodon dan Burung Kondor”, karena judulnya yang unik (tertawa). Sejak itu, nama Rendra itu semakin sering terdengar oleh saya dan publik.

Ada beberapa sepupu saya ada juga yang lantas ikut Bengkel Teater Rendra. Meski sempat ada pertentangan dari pakde dan bude saya yang apa itu Bengkel? Mereka bingung dan berasumsi itu adalah sekte baru yang berbahaya. Begitu saya dapat kesempatan untuk berkunjung ke Bengkel, memang ada pesona sekte di sana. Isinya pria berambut putih gondrong, tubuh ramping dan waktu itu sedang zaman hippies, jadi kebersamaannya seru. Hal tersebut meyakinkan saya untuk jadi bagian dari mereka dan langkah awal yang saya lakukan adalah untuk memanjangkan rambut (tertawa). Setelah rambut, tahapan selanjutnya adalah membuat karya sebagai pertanggungjawabannya (tertawa). Jadi mulailah saya menulis.

Waktu itu, teladannya adalah Majalah Horison. Saat saya mencoba membacanya, ternyata agak susah juga gaya bahasanya, karena tulisan yang dimuat menggunakan kalimat seperti “dunia menggelepar” (tertawa). Tiba-tiba muncul Majalah Aktuil, dan saat itu semua anak muda lalu langganan majalah tersebut, mungkin fenomenanya seperti YouTube di era sekarang. Nah, ada rubrik Puisi Mbeling yang diasuh Remy Sylado. Semua tulisan yang ada di rubrik tersebut melawan semua yang mapan, semua yang dilarang boleh dilakukan di situ. Nah, kalau begitu, saya bisa, seperti main-main, meledek semaunya (tertawa). Tapi orang tidak bisa membuat hal seperti itu jika tidak cerdas. Jadi, untuk bisa terus menulis hal seperti itu, kita harus pamer kecerdasan.

Dari situ saya mulai menulis puisi-puisi eksperimental. Misalnya seperti ini, saya menulis kata-kata yang digunakan untuk puisi di secarik kertas, seperti cinta, bulan, lembut, sendu, biru, sungai. Kata tersebut saya tulis dalam kotak. Lalu saya buat lingkaran, semua yang kena lingkaran saya tulis kembali, seperti puisi (tertawa). Kemudian saya buat lagi segi empat, semua yang kena garis, saya tulis lagi kata-katanya. Lalu saya buat segitiga dan begitu seterusnya. Lantas saya kirim semuanya ke redaksi Majalah Aktuil, ternyata dimuat dan honornya besar (tertawa).

Lalu di saat yang bersamaan saya ikut teater. Di teater, saya kerap diejek dan dipanggil penyair kontemporer (tertawa). Ini membuat saya tertantang, kalau mereka maunya tulisan seperti Majalah Horison, saya akan buat (tertawa). Akhirnya saya benar-benar mempelajari tulisan sastra, salah satunya saya membaca puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul, “Mata Pisau”. Disitu saya menemukan bahwa tulisan beliau tidak seperti puisi pada umumnya, lebih pada imajinasi. Nah, kalau menulis seperti itu, saya bisa (tertawa). Sejak itu saya rajin menulis, semalam bisa 20-25 puisi, lalu saya kirim terus, dan ternyata tembus (tertawa). Masih SMA sudah tembus Majalah Horison. Lalu saya sudah buat kumpulan puisi juga, walau saya seperti orang nekat. Ini membuat orang-orang keki kepada saya (tertawa). Kalau saya menulis, konsentrasi saya tinggi. Meskipun hanya menulis pengumuman, saya harus bisa memberi tulisan terbaik.

Ketika saya harus cari kerja; karena saya kawin muda, pilihan utamanya adalah jadi wartawan. Waktu itu, seolah-olah jadi wartawan itu gampang, karena hanya tulis berita, sedangkan saya sudah biasa tulis puisi, cerpen dan essay yang lebih berat (tertawa). Tapi ternyata tantangannya berbeda. Yang susah itu mendapat narasumber dan banyak hal lainnya. Tapi lewat pekerjaan wartawan, membuat saya berhubungan dengan dunia “nyata” hingga saat ini.

F

Apa latar belakang Mas untuk mendalami jurnalis sejak muda?

S

Saya tidak mendalami, saya merasa romantik saja.

F

Apa yang romantik?

S

Investigasi. Membongkar kasus. Deadline. Sumber eksklusif. Wah, romantik kan? (tertawa). Saya baca Tempo dan media lain, dan hampir semua sastrawan itu adalah jurnalis. Wartawan di film selalu dicitrakan romantis dan bergaya. Nah saya juga mau seperti itu, meskipun prakteknya, jadi wartawan itu tidak enak, apalagi saat Orde Baru. Wah, itu menyebalkan sekali. Bisa sembarangan dipecat sampai diteror.

Romantik itu begini, melihat sesuatu sebagai hal yang eksotik – suatu hal jadi menarik karena kita tidak tahu. Tapi begitu jadi wartawan memang lelah. Kami naik vespa dan harus menempuh jarak jauh untuk bertemu narasumber, belum lagi harus menunggu lama. Adapula kadang harus menghadapi orang yang mau menyogok. Kalau jadi penulis enak, tidak mengalami hal seperti itu (tertawa).

F

Mas Seno hidup melewati masa Orde Baru yang mengekang kebebasan orang untuk melakukan hak-hak manusiawi, bahkan untuk mendapat kebenaran lewat jurnalisme. Sastra kemudian jadi alat untuk mengkritik dan menyampaikan berita yang dibungkam. Seperti apa respon publik terhadap kritik dalam sastra?

S

Pada umumnya, mereka bisa memahaminya. Misalnya pada “Saksi Mata,” kumpulan cerpen saya tentang Timor Timur. Ketika saya membocorkan berita itu, saya dilarang menulis. Saya membalasnya dengan menulis terus. Jika mereka ingin berita tentang Dili berhenti, saya akan membuatnya abadi. Nah, yang abadi itu bukan jurnalistik kan? Yang abadi itu sastra. Mitosnya seperti itu.

Tapi saat itu saya harus yakin, tulisan saya tentang Timor Timur akan dimuat media dan para redaktur akan memuatnya karena kualitas, serta tulisan saya tidak bisa disensor. Jadi, saya tidak boleh menyebut Timor Timur, tapi bagaimana caranya pembaca bisa tahu apa yang saya maksud. Saya tidak merasa itu karya sastra, saya hanya ingin melawan dengan seluruh kemampuan yang saya punya.

Tidak ada teori atau ilmu yang bisa dijabarkan untuk mempelajari bagaimana saya bisa menulis seperti itu, karena dasar tulisannya adalah amarah saya. “Mereka” kurang ajar dengan saya, ya saya balas. Tapi “mereka” di sini tidak jelas siapa, karena isinya teman-teman redaktur sendiri (tertawa). Tapi “mereka” ini menyebalkan, karena seolah-olah mengatakan kita bodoh dan saya tidak suka dibilang seperti itu. Jadi urusan saya personal sekali, tidak heroik sama sekali. Lalu saya tanya Arief Budiman, apakah tidak apa alasan saya menulis karena marah? Jawabnya tidak apa, karena yang penting hasilnya.

F

Setelah reformasi, kebebasan justru membuat orang jadi kurang berhati-hati dalam mengambil sikap, sehingga kritisisme yang disampaikan dalam tulisan menjadi sangat subjektif. Bagaimana Mas melihat fase ini? Apakah hari ini kritisisme semakin ambigu?

S

Tergantung apa pemahaman kritisisme ya. Yang ada itu bukan kritisisme, tapi lebih mengenai bagaimana katup yang dulu menyumbat itu lepas. Jadi seperti bendungan jebol, ada banjir bandang. Nah, pertama banjir ini belum berhenti, dan berhenti atau tidaknya banjir ini, tergantung pada pendidikan. Kedua, kita hidup dalam era di mana media sosial berperan besar dan dimanfaatkan oleh siapapun yang cukup pandai menggunakannya. Misalnya, untuk memancing dalam kekeruhan, bisa bisnis hingga politik. Kepentingan apapun yang akan teruntungkan oleh suatu situasi chaos itu disebabkan oleh media sosial.

Nah, faktor ini begitu kuat, sehingga pendalaman sepertinya tidak ada, padahal sebenarnya ada di sana. Peneliti, laboratorium dan orang-orang yang bergelut di dalamnya itu masih ada. Tapi itu semua tertutup karena realitas hanya kita ketahui lewat media. Nah, media ini merupakan primadona kebudayaan masa kini. Kebetulan, yang mementingkan dirinya sendiri lebih kuat ketimbang yang sosial. Sehingga hal tersebut menutupi realitas dan sedikit banyak memanipulasi kita akan realitas, sehingga kita melihat realitas itu kacau. Padahal sebenarnya tidak. Kalau kita tidak berhubungan dengan media sosial, dunia baik-baik saja (tertawa). Kalau tidak punya Facebook atau Twitter, dunia sebenarnya tidak terlalu banyak masalah. Kalau kita ada di dunia itu, ya akan terbawa arus. Makanya kita harus pandai memilih dunia.

F

Bicara kebebasan berbicara, adanya internet membuat orang bisa beraksi dan berkelit sekaligus. Apakah banyaknya media sosial membuat orang bisa menciptakan dan mengedarkan kebenaran baru?

S

Sebetulnya, apakah ada kebenaran yang tidak baru? Kebenaran itu sesuatu yang sulit. Mungkin memang ada kebenaran di dunia, tapi kita tidak pernah bisa tahu dan mungkin tidak bisa mendapatkan kebenaran. Makanya dalam ilmu pengetahuan sosial atau humaniora, berkembang ilmu kritis, karena kebenaran itu dikuasai oleh rezim-rezim kebenaran juga. Baik itu agama atau negara. Misalnya apapun yang dibilang agama atau negara itu pasti benar. Nah itu rezim. “Yang umum sajalah” atau “yang normal sajalah,” nah itu bentuk ungkapan rezim dan itu berbahaya.

Misalnya nasib LBGT. Klaim normal dicabut dari mereka, bahkan sekarang, mending kalau mereka semata terlihat abnormal. Padahal itu konsep normalitas yang sangat keliru, yang berpihak dan dimanipulasi. Begitupun dengan semua kebenaran lain. Jadi kata-kata kebenaran itu tidak perlu ada, karena mengandung klaim-klaim yang menguntungkan pihak yang mengeluarkan klaim maupun orang-orang yang mendukungnya.

Semua yang ada di media sosial adalah pertarungan, makanya kacau balau. Orang perlu mundur dan ambil jarak untuk belajar. Selain itu, tulisan di media sosial hanyalah bentuk lain dari tradisi lisan, tidak ada hubungannya dengan budaya menulis atau membaca. Ibarat bentuk cetak dari mulut saja (tertawa). Jadi, level kecerdasannya gawat.

F

Apa fungsi sastra bagi Mas Seno?

S

Saya menulis untuk apa ya? Sudah lupa. Ya, saya bisanya cuma itu (tertawa). Fungsi sastra masih sama seperti waktu ada di dunia ini, cuma menurut saya ada 3 mitos sastra yang harus dihancurkan. Pertama, sastra itu curhat. Kedua, bahasa sastra itu mendayu-dayu. Ketiga, sastra isinya nasihat. Itu semua harus dihancurkan.

Kalau orang bisa merdeka dari itu, mereka akan menemukan sesuatu, baik sebagai penulis maupun pembaca. Mitos-mitos tersebut membuat orang malu untuk menulis atau membaca sastra. Lagipula bahasa mendayu-dayu itu milik siapa sih? Di saat semua orang bicara dengan bahasa gaul, apakah mereka paham dengan kata-kata seperti itu? Yang ada justru mereka alergi membaca sastra.

Dulu mungkin ada taktik kritik menggunakan bahasa sezaman. Tapi sekarang sudah berubah situasinya, kalau orang sekarang masih pakai bahasa seperti zaman dulu, pasti lelah. Sastra itu harus membongkar pedoman yang ada, maka dari itu bisa disebut kreasi. Kalau mengukuhkan hal yang lama, buat apa lahir? Fungsi sastra itu untuk mencerahkan dan membongkar bahwa apa yang dianggap benar itu sebenarnya hanya buatan dan konstruksi belaka. Mau fakta atau fiksi, ideologi apapun itu, sebenarnya hanya konstruksi.

Nah, lewat sastra, semuanya setara. Rap dan musik klasik setara. High art dan pop art setara. Itu menjadi bentuk kritik yang benar. Kalau dalam mengkritik, kita menyamaratakan standar pada bentuk seni yang berbeda, itu berarti kita sedang menghina. Bukan mengkritik.

F

Apa elemen dalam sastra yang bisa membuatnya jadi salah satu alat, bahkan senjata untuk menyampaikan unek-unek terhadap apapun dan siapapun?

S

Elemennya ya, pencerahannya itu. Sastra punya alat-alat yang sudah dikenal orang, bahasa, alur, plot, dan lain-lain yang memiliki literary effect atau critical effect. Tapi selama sastra hanya mengukuhkan apa yang sudah ada, ia tidak akan sama posisinya dengan yang membongkar dan menyambung kebudayaan. Kebudayaan yang berjalan di tempat, dengan yang tumbuh terus itu kan sangat berbeda. Kita harus ingat kalau pemberontakan itu hanya bertolak dari tradisi.

F

Sastra terus berkembang konteksnya hingga gaya penulisannya. Apakah hari ini sastra Indonesia masih terpaku pada romantisisme dan estetika?

S

Ya kalau baca pencapaian mutakhir, pasti tidak demikian. Parameter terus berubah, tapi segala hal yang mengubah itu pasti datang dari orang yang menolak romantisisme dalam sastra. Nah, romantisisme sendiri itu kan sebetulnya memberontak fungsi sastra untuk membenarkan agama atau kekuasaan, sehingga sastra saat itu hadir untuk mewakili suara Tuhan. Sekarang sastra itu individual, dikembalikan kepada manusia dan hal tersebut terus berlangsung, terutama aliran modernisme yang menolak standar dalam seni.

Dengan resiko menjadi standar baru, maka di dalam sastra selalu terjadi pembongkaran. Misalnya Amir Hamzah dianggap sebagai puncak pencapaian puisi Melayu, tapi sebetulnya ia berbeda dengan para pujangga Melayu, karena perspektifnya sangat individual. Jadi, ketika ia menggambarkan Tuhan, ia tidak memuja, melainkan melihatnya seperti pergulatan dan persoalan. Apa yang ia buat saat itu sangat berbeda dengan tradisi pantun lama, karena ia seorang modernis dan ia terkena dampak Revolusi Sosial.

Lalu ada Chairil Anwar yang jelas menolak keteraturan puisi 4 baris dan membuka jalan baru. Sutardji Calzoum Bachri menolak makna dalam kata. Jadi, beliau bilang puisi itu membebaskan kata dari maknanya. Jadi bagi beliau, kursi itu bukan tempat duduk, kursi hanya bunyi. Itu kurang berontak apa pada tahun 70-an? (tertawa). Jadi, puisi Sutardji itu hanya bunyi yang kita nikmati. Orang memikirkan artinya, tapi ia tidak peduli dengan makna, meskipun pada akhirnya ia kembali pada makna ya.

Kemudian ada Afrizal Malna yang menciptakan alam dalam kota. Semua hal urban disusun olehnya, jadi dunia yang semakin jauh dari manusia atau manusia sudah akrab dengan hal seperti itu. Kata-kata seperti stop kontak dan kulkas, bisa masuk ke dalam puisi Afrizal dalam bentuk yang tampak seperti kalimat biasa, tapi paradigmanya berubah sama sekali. Misalnya, “Sapi itu memakan steak di atas lautan.” Sebelumnya tidak ada hal seperti itu kan?

Nah, apalagi bentuk yang ada di tahun 2000-an? Perkara kalau karya-karya unik seperti itu dianggap aneh, karena yang ada di pasaran itu adalah karya yang berbeda dari karya yang kebanyakan, sedangkan kita sedang membicarakan pencapaian mutakhir. Tapi saya tidak menganggap orang yang mencapai eksperimen seperti itu lebih tinggi dari yang lain ya. Karena ada orang yang tidak menempatkan inovasi bahasa sebagai prioritas. Ada orang yang menulis untuk mengingatkan orang atau menghibur saja. Jadi Marga T. itu setara dengan Afrizal Malna, dan siapapun yang tulisannya mudah dibaca bukan berarti merendahkan sastra.

Tiap komunitas memiliki sastra, film dan seninya sendiri kan. Nah, lain dengan seniman yang sibuk dengan estetika dan pemberontakan. Tapi hal tersebut bukan standar yang harus diikuti dalam berkarya.

F

Bahasa bisa melambangkan dan menjadi alat kekuasaan. Melihat situasi dunia; atau Indonesia, yang kacau dan selalu dipolitisasi, di mana posisi sastra hari ini?

S

Posisinya baik-baik saja (tertawa). Seperti ada perlawanan dalam dunia yang berantakan ini. Adanya relativitas nilai yang tadinya mapan, tenang tanpa kegelisahan. Sebelumnya orang menerima tradisi, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Kekuasaan pakde dan bude yang dulu itu sudah hilang (tertawa). Ketentuan manusia yang awalnya harus selesai sekolah, berkantor, harus nikah sebelum umur 30 itu, kini hancur berkat perelatifan nilai-nilai.

Perelatifan itu memang mengalami perlawanan. Misalnya radikalisme. Bagi mereka yang menganut radikalisme, ia tidak akan dapat tempat jika tidak beriman sesuai kepercayaan mereka. Begitupun dengan orang-orang lain yang memiliki ideologi berbeda. Nah, hal ini menggelisahkan kemapanan. Padahal yang berlangsung adalah hilangnya ketenangan yang merupakan produk kemapanan. Kalau nilai tersebut hilang, lantas apa yang bisa dipegang?

Tapi, kalau ada orang yang seenaknya dan banyak yang mengikuti, pasti dunia akan gelisah. Padahal orang yang seenaknya itu bertindak karena beralasan. Buat apa saya antri daftar jadi pegawai negeri dengan ribuan orang dan sekolah tinggi untuk rebutan kursi kantor? Padahal saya bisa hidup dengan 1 blok dengan 2 asisten saja kok (tertawa). Orang-orang seperti itu yang menggelisahkan bisnis dinosaurus hari ini. Begitupun dengan kemapanan sastra. Kok seperti itu sih puisi sekarang? (tertawa). Ya biar saja, asal ada yang menyukainya, meskipun hanya satu orang. Sejauh sang penulis tidak mengganggu orang lain, biarlah. Pada akhirnya, apalagi yang lebih penting dari kebahagiaan?

F

Apakah dengan munculnya inisiatif seperti Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), membuat orang semakin terpapar dengan referensi dan sudut pandang menarik dari negara lain guna memperkaya Sastra Indonesia?

S

Pasti. Selama penyampai beritanya bekerja benar, (tertawa), di UWRF orang Indonesianya agak minoritas ya. Tapi menurut saya festival ini bagus, karena biaya yang dikeluarkan untuk mengalami programnya murah. Saya lebih melihat festival ini sebagai fenomena turisme ketimbang sastra, apalagi Sastra Indonesia. Tapi cara melihat ini sempit, karena dalam konteks global sudah tidak perlu ada pembeda mana yang lokal dan global. Begitupun dengan turisme, yang seakan-akan memposisikan budaya lebih tinggi dari turisme. Di Bali, justru turisme jadi salah satu faktor penting selain agama.

Nah, UWRF telah membawa turisme ke tingkat yang sangat unik. Kalau cek kota lain, belum tentu ada festival sastra, apalagi yang seperti UWRF yang kelas dan keragamannya dibahas dengan ringan, tidak seperti simposium atau acara sok sastra. Di sini orang bisa rileks meskipun membahas hal yang serius. Jadi, UWRF ini kalau diminta rileks bisa, menghibur bisa, serius bisa. Jadi menurut saya unik sekali di Indonesia, begitupun di dunia.

F

Apa proyek yang sedang Mas Seno siapkan?

S

Saya sangat ingin menyelesaikan menulis Nagabumi III, tapi selalu terganggu mengajar dan diundang ke berbagai acara-acara. Kumpulan cerpen mau saya buat, tapi tetap saja, orang yang ini belum rampung, padahal sudah 1000 halaman lebih (tertawa).whiteboardjournal, logo