Menyoal Bahasa Indonesia dengan Elizabeth Pisani

23.11.16

Menyoal Bahasa Indonesia dengan Elizabeth Pisani

Febrina Anindita (F) berbincang dengan Elizabeth Pisani (E).

by Febrina Anindita

 

F

Anda pernah tinggal di Indonesia selama bertahun-tahun dan berkesempatan untuk melihat langsung budayanya. Bagaimana Anda melihat budaya Indonesia sekarang?

E

Budaya yang mana? Itu pertanyaannya (tertawa). Karena konteks budaya Indonesia ini agak rancu. Sebenarnya budaya Indonesia merupakan suatu hal yang terdiri dari beragam elemen, dalam hal ini adalah budaya tiap suku. Jadi memang budaya Indonesia merupakan hal yang khusus, tapi tidak bisa berdiri jika dipisahkan dari budaya daerah yang membangunnya. Kalau saya melihat budaya Indonesia hari ini, mungkin sedikit lebih lemah daripada dulu kala. Saat ini budaya lokal lebih kuat dengan adanya otonomi daerah. Selain itu, adanya kesempatan untuk memakai bahasa daerah menjadi pendorong budaya daerah ke permukaan dan dari segi politik pun, kepala daerah mulai ikut andil dalam kegiatan lokal yang dapat menarik pariwisata.

Sekitar 25 tahun yang lalu, saya ke Sumba dan mendapat kesempatan untuk melihat Pasola – perang kuda ala daerah sana. Saat itu tidak ada satupun orang dari pemerintah yang hadir, karena hal tersebut dianggap kampungan. Sedangkan sekarang, hampir semua elemen pemerintahan daerah, seperti bupati hingga Kapolda datang ketika acara tersebut diselenggarakan dengan memakai baju tradisional. Dengan keadaan itu, saya merasa kebudayaan nasional agak lebih lemah.

huawesmall

F

Anda menulis rangkuman perjalanan Anda di “Indonesia Etc.” dalam Bahasa Indonesia, dan buku tersebut mampu memotret keunikan yang ada di negara ini sehingga kami dapat membayangkan apa yang Anda alami. Bagaimana Anda melihat Bahasa Indonesia sebagai bahasa? Apakah sebagai sesuatu yang membingungkan karena selalu berkembang dari waktu ke waktu?

E

Saya sendiri juga bingung. Tapi bisa jadi kebingungan saya disebabkan saya sekarang lebih sering menetap di negara lain atau karena saya sudah tua (tertawa). Dulu saya cukup hafal dengan bahasa gaul, sedangkan sekarang baca SMS saja saya suka bingung. Selain itu, ada pula bahasa yang muncul dalam konteks virtual dan di sana bahasanya jauh berbeda.

Kebetulan, banyak orang yang suka mengirim email ke saya. Terus terang, ada saja beberapa orang yang memakai bahasa Indonesia begitu kacau dalam menulis email, padahal ia ingin menulis kepada orang yang lebih dewasa, apalagi untuk meminta rekomendasi kuliah di Inggris. Saya melihatnya masih agak sebal jika mengalami kondisi seperti itu (tertawa).

Jika melihat dari segi bahasa, saya senang saja menemukan ragam bahasa baru. Tapi, tolong jangan mengaburkan konteks dan lawan bicara ketika berkomunikasi. Tidak mungkin kan Anda menulis email dengan; kasarnya bahasa gaul, ketika bicara kepada petinggi di pemerintah. Jadi, saya lihat hal-hal mendetail seperti itu dalam berbahasa Indonesia sudah mulai hilang hari ini, entah karena generasinya atau lingkungannya.

F

Adanya idiom dan singkatan dalam sebuah bahasa cenderung terbentuk untuk merespon budaya baru yang berkembang. Hal inipun juga terjadi di Indonesia dengan munculnya Bahasa Prokem maupun Bahasa Gaul. Selama Anda tinggal di Indonesia, apakah Anda merasa Bahasa Indonesia sangat rumit untuk diikuti, bersama dengan perkembangannya?

E

Saya rasa semua bahasa seperti itu, tapi mungkin Bahasa Indonesia lebih menonjol karena banyak singkatan yang bermunculan. Seperti kata “ember” yang artinya “emang benar.” Tapi yang dulu saya pikirkan mengenai singkatan Bahasa Indonesia tercipta adalah cara untuk menyembunyikan suatu hal bermakna negatif. Misalnya “Petrus” peristiwa yang terjadi pada tahun 80-an dan memiliki arti Penembakan Misterius. Jika disingkat menjadi “Petrus” operasi itu semacam dipoles dengan kesan “lebih manis.” This thing in Bahasa Indonesia is a way of cleaning things up.

F

Sesi Anda di Ubud Writers & Readers Festival 2016 yang berjudul “Dalam Bahasa Indonesia,” membicarakan kata dan frase yang hanya bisa dikatakan dalam Bahasa Indonesia. Apakah konsep demikian bisa mewakili karakter Bangsa Indonesia?

E

Saya rasa istilah khas Bahasa Indonesia itu sebenarnya merupakan cerminan dari apa yang terjadi di sekitar masyarakat Indonesia. Contohnya “obyek wisata.” Menurut saya, frase ini bisa dimaknai sebagai tempat yang bisa mendorong wisatawan untuk datang. Tempat yang berpagarkan warna norak dengan palang bertuliskan “Selamat datang di ….” Biasanya tempat ini masuk ke anggaran negara tapi tidak ada dana yang bisa menindaklanjuti keberlangsungan tempat ini, jadi cepat bocor atau rusak.

Menurut saya frase ini menggambarkan suatu pola pikir dimana untuk membangun ekonomi, memerlukan sebuah proyek, daripada pelayanan. Jadi walau obyek wisata tidak terlibat dengan budaya Indonesia, tapi menurut saya menggambarkan suatu frase yang hanya bisa disebut atau digunakan dalam Bahasa Indonesia. How do you translate it? Tourist destination? Tourist site? Tourist attraction?

F

Dengan adanya ratusan bahasa daerah, kemunculan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memiliki agenda untuk menyatukan segala etnik di negara ini. Anda pernah mengatakan pada suatu interview di NowJakarta bahwa “Bahasa Indonesia bukan bahasa pertama bagi 80% populasi Indonesia.” Apakah Bahasa Indonesia sudah cukup berhasil berkontribusi terhadap identitas nasional?

E

Malah menurut saya bahasa daerah lebih terpakai daripada dulu. Dulu zaman Orde Baru, orang-orang memakai Bahasa Indonesia di luar rumah. Sedangkan sekarang kondisinya terbalik. Jadi sekarang kalau saya mau duduk di warung, saya bisa jadi tidak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan. Masyarakat sekarang lebih percaya diri dengan identitasnya, sehingga mereka berani kembali ke identitas daerah.

huawesmall

F

Jadi agak eksotis ya? Jadi banyak “obyek wisata”.

E

Ya, mungkin saja (tertawa).

F

Dalam buku “Indonesia Etc.,” Anda berkata bahwa konservatisme di Indonesia telah lama ada dan jelas eksistensinya diantara masyarakat Indonesia. Sebagai Warga Negara Asing, apa harapan Anda akan isu/fenomena ini?

E

Saya masih percaya bahwa mayoritas masyarakat Indonesia itu berpikiran terbuka dan percaya serta mendukung pluralisme. Tapi saya rasa konservatisme juga berangkat dari situ. Kalau dana yang seharusnya disalurkan dapat tersalurkan dengan baik, saya rasa konservatisme dapat berkurang di Indonesia

F

Apa proyek menarik yang sedang Anda siapkan?

E

Saya kembali kerja di bidang kesehatan masyarakat. Selain itu, saya juga mengurus hubungan untuk kualitas obat dan antimicrobial resistance. Kemarin saya kaget ketika teman saya ke toko obat di Ubud untuk membeli Ciprofloxacin – antibiotik sangat kuat – dan langsung diberi begitu saja tanpa meminta resep obat. Jadi, resistensi antibiotik di sini merupakan sesuatu yang perlu diwaspadai.whiteboardjournal, logo