Tawa dan Tulisan bersama Soleh Solihun

28.12.16

Tawa dan Tulisan bersama Soleh Solihun

Amelia Vindy (V) berbincang dengan Soleh Solihun (S).

by Febrina Anindita

 

V

Bagaimana musik rock bisa menjadi motivasi bagi Mas Soleh menjadi seorang jurnalis?

S

Ada banyak faktor yang mendorong saya menjadi jurnalis, salah satunya adalah musik rock. Tapi hal utama yang membuat saya jadi jurnalis adalah karena begitu lulus UMPTN – sekarang apa sih? SMPB saya masuk llmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, di semester tiga kita harus memilih lagi penjurusan, antara manajemen komunikasi, hubungan masyarakat atau jurnalistik. Nah, dulu saya tak ada bayangan mau mengambil jurusan apa, tapi karena manajemen komunikasi terlalu teoritis – saya orang yang malas berhubungan dengan teori-teori, sedangkan jurusan humas bukan jiwa saya, dan saya kurang nyaman harus memakai baju-baju rapi. Pilihan terakhir adalah mengambil jurusan Jurnalistik, selain itu jurusan ini menarik karena jaket jurusannya keren, gagah dan maskulin. Apalagi mengingat banyak superhero adalah wartawan, ada Superman, dan Spiderman.

Saya baru menyadari bahwa saya memiliki bakat menulis, ketika mulai terbiasa melakukan tugas-tugas yang diberikan oleh satu satu dosen jurnalistik yang saya anggap cara mengajarnya bagus. Dari tugas-tugas tersebut, saya terlatih untuk bisa menulis dan melakukan wawancara. Dan disinilah saya mulai tahu setelah lulus saya mau melakukan apa, awalnya saya bingung punya bakat apa dan nantinya mau kerja sebagai apa, akhirnya karena kuliah jurnalistik ini membuat saya menemukan bakat saya, ya sudah memilih untuk menjadi wartawan saja. Karena saya juga suka musik dan suka baca majalahnya, saya bertekad, ketika menjadi wartawan, saya ingin menjadi wartawan musik, agar saya dibayar untuk melakukan apa yang saya senangi. Intinya bagi saya adalah untuk memfasilitasi hobi. Akhirnya terwujud, begitu lulus kuliah, saya mendapatkan pekerjaan itu.

Awalnya saat masuk kuliah, saya pernah kerja di jadi wartawan ekonomi di Bandung. Gajinya besar, tapi saya tidak bahagia. Batin saya berkata “Duh, tidak enak banget ini ya, apa sih ini?” Sejak itu saya bertekad, apapun nanti pekerjaannya, yang penting duitnya cukup. Jangan dulu memikirkan uang berlebih, yang penting cukup untuk hidup dan harus mengerjakan sesuatu yang saya suka. Nah, makanya saya pikir jadi wartawan musik saja. Meskipun waktu awal masuk gajinya pas-pasan, tapi saya senang. Kita dibayar untuk melakukan hobi. Maksudnya untuk bergelut di hobi yang kita suka. Jadi salah alasan kenapa saya bisa jadi jurnalis adalah karena itu, musik dan kuliah juga.

V

Jadi sebelumnya tidak memiliki background menulis?

S

Tidak. Saya sejak SD sampai SMA tidak pernah berpikir jauh-jauh tentang hidup saya. Tidak merencanakan setelah lulus SD harus masuk SMP ini, lalu nanti SMA harus disini. Kalau memang hasil NEM (nilai akhir ujian) cukup untuk masuk sekolah bagus ya sudah masuk. Pokoknya tergantung saja dari hasilnya. Sama seperti saat menentukan kuliah, jadi saat UMPTN, saya bisa pulih 2 pilihan IPA, dan 1 pilihan IPS atau sebaliknya. Saat saya memilih jurusan IPS sembari membuka buku kursus di angkot, saya menemukan jurusan Ilmu Komunikasi. Saat itu, saya berpikir sepertinya Ilmu Komunikasi seru, jadi saya pilih itu saja, dan ternyata diterima. Kerja pun begitu, waktu kuliah, saya belum tahu mau kerja apa dan bisa apa, karena saya merasa tidak punya bakat apapun. Tapi setelah kuliah ternyata bisa menulis dan ditawari kerja di majalah. Ya sudah saya kerja saja.

Jadi, semua yang saya kerjakan itu tidak pernah direnacanakan jauh-jauh. Saya mengikuti saja yang ada di depan dan mengambilnya, karena dulu saya pikir, hidup pun belum tentu panjang umurnya, belum tentu besok masih ada, buat apa membuat ribet hal yang belum tentu jadi. Semua yang saya kerjakan sekarang ini, bukan sesuatu yang sudah saya rencanakan baik-baik.

V

Sempat menjadi jurnalis pada majalah Trax, Playboy dan Rolling Stone, bisa ceritakan perjalanan karir Mas Soleh sebagai seorang jurnalis musik?

S

Saya pertama kali bekerja sebagai jurnalis musik pada tahun 2004 itu di majalah Trax. Dulu namanya masih MTV Trax, disana saya berkerja selama satu tahun lebih. Saat itu saya baru sampai Jakarta dengan penghasilan pas-pasan dan nge-kost di daerah Pancoran seharga Rp 550,000 per bulan. Jadi dulu waktu di MTV Trax, saya di-interview oleh Yoris Sebastian. Saya ingat sekali ketika selesai deal gaji, tiba-tiba Yoris bertanya, “Lo nggak mau ganti nama? Yang lebih keren gitu.” Dia bilang di MRA (grup media Trax) ada nama-nama keren. Sempat Arian memberi saya nama Double Soul, tapi karena belum jadi karyawan tetap, tidak masuklah dalam daftar nama redaksi. Hingga saya menjadi pegawai tetap, pertanyaan itu terlupakan (tertawa).

Melalui media ini saya lalu berkenalan dengan industri di Jakarta, di Indonesia. Saya juga banyak banget belajar, karena dulu saya masih jadi reporter. Satu edisi bisa menulis puluhan tulisan dan kadang-kadang beritanya cuma 5 baris, tapi usahanya sama saja dengan tulisan panjang. Saya banyak sekali datang, melihat dan meliput acara sepanjang malam yang jadinya cuma untuk 5 baris teks dengan foto kecil. Lewat pengalaman di MTV Trax ini saya digojlok.

Selain itu, disana saya jadi kenal scene indie Jakarta pada tahun 2005. Bolak-balik ke Parc, saya jadi kenal dengan teman-teman sekarang, seperti anak-anak White Shoes and the Couples Company dan Goodnight Electric disaat nama mereka belum besar. Jadi, ketika saya baru jadi wartawan, band-band indie Jakarta baru mulai naik daun. Karena aktivitas saya saat itu, orang jadi tahu “Oh ada si Soleh Solihun wartawan MTV Trax.”

Kalau MTV Trax adalah momen perkenalan, Majalah Playboy itu adalah saat transisi bagi saya. Saat itu beberapa dari kami di redaksi Trax tidak puas dengan keputusan manajemen, kami lantas memutuskan untuk cabut dan ditawari masuk ke Majalah Playboy. Saat di Playboy, saya sempat menghilang sebagai wartawan musik dan menjadi wartawan musik di Multiply. Hal ini dikarenakan saya tidak menulis musik di majalah Playboy, tapi saya selalu ingin menulis soal musik. Karena saya masih suka datang ke acara dan motret, saat itupun saya malah jadi fotografer panggung. Sempat juga menjadi fotografer Seringai, sebab kerjaan di Playboy yang relatif santai, saya menggunakan kamera kantor yang nganggur dan ikut Seringai berpergian. Bahkan sampai sempat buat pameran foto.

Tapi di Majalah Playboy itu, saya mendapat salah satu pencapaian terbaik saya sebagai jurnalis. Tulisan saya tentang kiprah label Aksara Records yang berjudul “(ak.’sa.ra): skrg” mendapat penghargaan. Buat saya, penghargaan itu semacam mendapat pengakuan. Jadi, kalau ada yang bertanya apakah Soleh Solihun wartawan yang bagus? Saya bisa bilang, setidaknya menurut Anugerah Adiwarta Sampoerna saya adalah wartawan terbaik. Kalau baik atau jelek kan relatif, tapi saya bisa bilang setidaknya saya pernah mendapat penghargaan. Tapi kalau ditanya apakah Soleh Solihun stand-up comedian yang lucu? Itu jawabannya relatif.

Penghargaan itu juga punya nilai lebih buat saya. Saya senang ada yang mengakui tulisan saya dan saya mendapat penghargaan sebagai wartawan dengan tulisan bagus saat saya kerja di Majalah Playboy, ketika semua orang mempertanyakan nilai jurnalistiknya Majalah Playboy – ada yang bilang Majalah Playboy itu bukan produk jurnalistik. Jadi, semacam ada dua kebanggaan.

Nah, Majalah Rolling Stone itu juga merupakan bagian dari masa transisi saya, dari wartawan ke stand-up comedian. Tapi di Rolling Stone, kemampuan menulis saya semakin berkembang lagi, karena disana saya banyak menulis feature panjang. Kalau di MTV Trax porsinya lebih sedikit. Di Trax itu bagi saya semacam kalau orang latihan bela diri, saya baru belajar kuda-kuda, di Playboy itu saya sudah mulai bisa memukul dan menendang sedikit. Nah waktu Rolling Stone, saya sudah mulai agak bisa menjatuhkan lawan – sudah mulai bisa membela diri kalau ditantang orang, karena di Rolling Stone saya banyak menulis feature panjang yang serius. Transisi juga, di Rolling Stone membuat orang mengenal saya sebagai MC dan pelawak.

V

Yang paling berkesan?

S

Semuanya berkesan. Di MTV Trax berkesan sekali karena saya baru pertama kali ke Jakarta. Sedangkan di Majalah Playboy berkesan, karena kapan lagi kantor dilempari oleh orang-orang. Saya yakin, seberat-beratnya kita kerja, atau seberat-beratnya siapapun kerja, jarang yang punya kantor dilempari oleh FPI (Forum Pembela Islam) kan? Nah, saya bisa bilang, seberat apa sih kerjaan kalian? Kantor saya pernah dilempari oleh FPI, mungkin saingan saya cuma klub-klub yang di Kemang, yang di-sweeping (tertawa). Kalau di Rolling Stone itu berkesan karena media ini merupakan majalah musik yang serius dengan pembaca yang lebih kritis sehingga membuat wartawannya harus lebih hati-hati dan lebih bagus lagi dalam menulis.

V

Dikenal dengan karakter seorang jurnalis yang vokal – mengkritik atau cukup berani memberikan opini, bagaimana pendapat Mas Soleh terhadap bentuk kritik pada sebuah tulisan?

S

Karena saya kuliah jurnalistik, memang ada dua bentuk tulisan dalam media massa, yakni news dan views. Kalau news itu tulisan berita yang berupa fakta dan data, kutipan narasumber dari orang. Dalam menulis news, kita sebagai wartawan diusahakan tidak boleh memasukkan opini, walaupun banyak opini wartawan di dalam tulisan. Tidak bisa dipungkiri sebuah berita pasti mencantumkan opini pribadi si penulisnya, tapi kan kalau yang namanya news, idealnya fakta, data dan wawancara dari narasumber. Kalau views itu opini, jadi bersifat subjektif. Makanya orang suka salah kaprah kalau bilang “Apaan nih kok review-nya subjektif banget?” Ya justru review itu subjektif, kalau review itu tidak subjektif, buat apa orang me-review?

Kalau berita itu sebaiknya tidak subjektif, kalo opini dan review atau kritik musik, kritik film dan kritik apapun itu memang harus subjektif. Tapi ini kembali bagaimana subjektivitas penulis itu meyakinkan pembaca – di situlah seninya. Apakah subjektivitas kita bisa diterima oleh orang lain? Itu lain hal, tantangannya adalah bagaimana cara kita menyampaikan argumen yang diterima orang sebab kita kan sedang menilai sesuatu. Bagaimana caranya agar pembaca percaya dengan penilaian kita? Itu kan pintar-pintar sang jurnalis dalam menulis opini dan kritiknya.

Prinsip saya adalah, selama menulis kritik, tak perlu memikirkan apa yang benar atau salah dalam menilai musik. Kalau ada yang bilang “Ah ini kritikusnya ga ngerti musik” atau “Ini sok tau nih,” ya tidak apa-apa, toh ini opini. Agama saja masih bisa diperdebatkan, apalagi cuma kualitas sebuah album? Kenapa mesti bingung? Kalau menurut saya sah-sah saja. Kalau ada yang bilang “Ah wartawannya ga ngerti bandnya nih,” ya biarkan saja, mungkin dia yang tidak mengerti. Kalau mengerti ya sudah, tidak perlu marah-marah, tulis saja sendiri.

Lagipula, menurut saya kritik itu tidak berpengaruh pada laku atau tidaknya sebuah album. Sejauh pengalaman saya ya, ada yang bilang albumnya jelek, tetap laku saja albumnya – tidak ada hubungannya. Jadi, kalau ada musisi yang marah karena dikritik albumnya jelek, menurut saya biarkan saya karena kritiknya tidak akan mempengaruhi hidup kamu kok. Setidaknya belum ada di Indonesia. Tidak tahu ya kalau di luar negeri, tapi di Indonesia, tak ada sebuah album yang dibilang jelek lantas jadi tidak laku, atau album dibilang bagus, ternyata laku sekali itu tidak ada.

Ya itulah kritik – bagaimana caranya supaya kritik enak dibaca oleh orang lain. Sebenarnya inti dari kritik musik itu hanya ingin menyampaikan penilaian bahwa album ini bagus atau jelek, seperti “Eh nih saya dengar album ini, dan menurut saya album ini begini lho.” Terserah mau percaya atau tidak. Yang tidak boleh dilakukan ketika memberi kritik adalah kalau kita bilang, “Oh ini si vokalisnya suka meniduri banyak perempuan.” Nah, itu baru kita boleh marah-marah “Apaan nih, kritik musik apa nih, tiba-tiba ngomongin yang di luar musik.” Kalau cuma bicara soal musik terus “Ah kok ini cetek ya,” berarti memang dangkal, namanya juga penilaian. Dan kadang-kadang kalau di media itu terbatas, apalagi di majalah. Dalam berapa baris harus menilai untuk satu album, lalu suka ada yang komentar “Ini kok dangkal banget,” ya mungkin si penulisnya belum punya kemampuan untuk memaparkan dalam satu kalimat atau tidak ada waktunya dan ruangnya, jadi susah. Ya, tapi intinya kalau menurut saya, kritik musik itu tidak ada yang benar atau salah.

V

Apa Mas Soleh pernah dapat masalah selama jadi jurnalis/kritikus musik?

S

Ya ada saja, tapi saya tidak memikirkannya. Biarkan saja, karena bukan dia yang menggaji saya. Prinsip saya, omongan yang harus saya dengarkan adalah keluarga inti dan orang-orang yang menggaji (tertawa). Kalau sebatas pembaca, biarkan saja. Atau misalnya ada band yang bilang, “Oh lo nggak ngerti album,” ya biarkan saja, sebab makian mereka tidak berpengaruh ke hidup saya, tidak bisa tiba-tiba membuat saya dipecat atau tidur tidak nyenyak. Kalau ada yang keberatan dengan tulisan saya dan mereka menganggap tulisan saya tidak bagus atau dangkal, ya biarlah, toh saya masih bahagia dan baik-baik saja. Kecuali tiba-tiba bos atau HRD dan Pemimpin Redaksi yang bilang, “kok tulisan lo jelek?” Nah, baru itu kita pikirkan. Hidup akan lebih tenang kalau kita tidak terlalu memikirkan omongan orang.

Menurut saya salah satu wawancara yang paling berkesan adalah saat mewawancarai Slank, saat itu mereka baru saja mengeluarkan album. Dari 5 personil yang saya wawancarai satu persatu, hasil percakapan saya dengan Kaka lah yang menjadi highlight-nya. Karena, dari wawancara tersebut, membuat Slank kehilangan banyak projek dan putus kontrak kerja dengan RCTI dalam rangka promosi album baru saat itu. Penyebabnya adalah saya menulis transkrip wawancara berisikan umpatan Kaka saat menceritakan penampilan Slank dengan Kaka yang bertelanjang dada di saat mempersembahkan Lifetime Achievement Award kepada God Bless, yang kemudian langsung diberikan jas oleh kru RCTI. Umpatan Kaka yang saya tulis inilah, yang membuat wawancara dengan Slank menjadi salah satu wawancara yang paling berpangaruh, khususnya untuk karir Slank saat itu. Alasan saya menulis itu juga karena saya juga tidak melihat itu sebagai masalah, jadi saya tulis saja. Ya, itu sih yang berkesan, satu tulisan saya yang paling berpengaruh.

V

Bagaimana tanggapan Mas Soleh mengenai jurnalisme musik di Indonesia?

S

Belum banyak wartawan yang bisa menulis dengan bagus, persoalannya antara terkadang ada yang memiliki referensi atau pengetahuan musiknya bagus, tapi tulisannya tidak terlalu bagus dan ada juga yang tulisannya bagus, tapi referensinya biasa saja. Selama ini saya malah menemukan banyak tulisan bagus di Majalah Pantau, yang salah satu petingginya adalah Andreas Harsono. Mereka concern sekali dengan jurnalisme di Indonesia. Di sana, feature-feature panjangnya banyak yang bagus. Contohnya seperti tulisan panjang mengenai Iwan Fals, saya suka dengan Iwan Fals dan saya selalu mengikuti setiap kali ada tulisan tentang Iwan Fals. Tulisan tentang Iwan Fals itu ditulis oleh Andreas Harsono di majalah Pantau, yang pada dasarnya bukan majalah musik. Tulisannya bagus sekali, menceritakan bagaimana cara beliau untuk mendeskripsikan kedatangannya ke rumah Iwan dan berbincang mengenai flashback tahun 90-an bersama Iwan ketika beliau pertama kali bertemu Iwan Fals. Pernah juga majalah Pantau menulis soal Jamrud, saya tidak terlalu menyukai Jamrud namun saat saya membaca tulisannya, saya kagum.

Seandainya kita bicara soal media mainstream, mungkin sedikit yang bisa menulis musik dengan bagus. Paling sekarang yang tersisa hanya Rolling Stone, karena orang-orang di redaksi Rolling Stone itu memiliki kombinasi yang pas antara pengetahuan musik dan kemampuan menulis yang bagus. Tapi secara garis besar sih, sekarang ini menurut saya; jika berbicara soal jurnalisme musik, belum ada tokoh baru di jurnalisme musik. Dulu, orang-orang mendengarkan Bens Leo. Salah satu alasan jurnalisme musik Indonesia belum berkembang karena orang-orang masih berkiblat pada Bens Leo dan Denny Sakrie yang sudah meninggal.

Setelah Bens Leo, tidak ada lagi yang disegani oleh kalangan mainstream. Orang-orang di Rolling Stone hanya akan diketahui oleh kalangan yang mengerti media saja. Namun secara umum, masyarakat belum ada yang menyimak seperti dulu ketika Bens Leo angkat bicara. Seandainya ada sesuatu, media mainstream pasti mengundang Bens Leo. Sekarang sih belum ada, bahkan dari majalah Rolling Stone pun belum ada yang; misalnya, jadi ikon kritikus musik buat mainstream. Orang awam kan tidak banyak yang tahu siapa Adib Hidayat, Wendi Putranto atau Ricky Siahaan – hanya segelintir orang saja yang tahu. Tapi, orang awam paham Bens Leo itu berkaitan dengan musik.

Begitupun dengan apresiasi orang-orangnya. Orang Indonesia itu apresiasi musiknya baru sekadar sampai menikmati aja, belum mau tahu. Itulah problema majalah musik dari dulu. Pembacanya sedikit, tidak ada yang mau tahu proses kreatif dibalik sebuah lagu atau bagaimana penilaian terhadap album. Orang awam hanya tahu kalau lagunya enak atau tidak enak didengar.

Mungkin benar apa yang dikatakan Frank Zappa “Rock journalism is about people who can’t write, interviewing people who can’t talk for people who can’t read”. Ya mungkin juga antara wartawan musiknya belum banyak yang bagus, atau band dan musisinya juga yang tidak menarik untuk di wawancara, lalu pembacanya pun tidak ada. Terkadang yang membuat berita musik menarik, karena narasumbernya pintar berbicara dan tidak semua band punya kemampuan tersebut. Salah satu band yang menurut saya pintar berbicara adalah The Changcuters, dan kelima personelnya bisa berbicara di depan umum dengan menarik. Tidak hanya didominasi oleh vokalis atau gitaris saja, namun semua personelnya menonjol. Sebagian besar band atau musisi yang saya tahu, hanya satu atau dua orang yang mendominasi sehingga yang lainnya merasa sudah terwakilkan.

V

Kalau mengenai band independen?

S

Band independen, nah itu, mereka belum menarik secara pemberitaan, karena media mainstream-nya juga tidak memberi ruang untuk musik-musik seperti itu. Seharusnya, media mainstream seperti TV dan radio, tidak perlu memikirin musik indie atau major. Pasang saja jika memang lagunya enak dan cocok dengan karakter siarannya. Tapi yang sekarang terjadi masih ada pembeda antara musik indie dan major. Ini jadi permasalahannya. Terutama radio, kalau TV kan memang sudah susah, karena acara TV sekarang ini, jarang yang punya acara musik. Menurut saya, radio-lah yang sangat tidak memberi ruang dan justru mengotak-ngotakkan.

Bahkan, tidak perlu bicara soal band indie yang ekstrim, sebut saja band indie yang nge-pop seperti White Shoes and the Couples Company atau Mocca, yang tidak sulit untuk didengar oleh khalayak umum. Itu aja yang mudah untuk didengarkan, jarang diputar. Coba seandainya semua radio sepakat untuk mengesampingkan musik indie dan major, orang jadi tahu musik baru.

Contohnya Barasuara. Menurut saya musiknya lumayan. Saya tidak tahu kenapa Music Director di seluruh Indonesia mendengarkannya. Sesungguhnya itu adalah salah satu peran Music Director juga, menurut saya salah satu orang yang bermain Tuhan adalah asosiasi Music Director. Mereka yang menentukan lagu mana yang bisa diputar atau tidak. Bisa dibilang 70% lagu di seluruh radio Indonesia isinya sama aja. Kalau di Jakarta, ini lagi, ini lagi, paling bedanya hanya sedikit.

V

Mas Soleh dulu adalah seorang jurnalis dan mewawancarai public figure. Sekarang Mas Soleh yang menjadi figur dan diwawancarai, apakah ini memperkaya perspektif Mas Soleh dalam menjawab pertanyaan?

S

Rasanya setiap diwawancarai , saya selalu menilai, “oh ini lumayan, oh yang ini tidak seru nih, ah ini nggak tahu saya nih, ah ini kok pertanyaannya begini” Karena biasa wawancara, jadi saat saya yang menjadi narasumber, saya suka menganalisa pertanyaannya. Sudah capai buat janji tapi pertanyaannya seperti itu. Tapi kan yang paling penting dalam wawancara adalah orang kan tahu siapa narasumbernya, tahu mau bahas apa. Orang kadang-kadang suka lupa kalau wawancara adalah tugas untuk mencari tahu narasumber. Dan kalau sudah tahu narasumbernya, harus dicari angle menarik.

Ya ketahuan kalau saya malas atau pertanyaan yang saya dapat kurang seru, saya pasti menjawabnya “Oh iya gitu”. Kalau tidak seru, jawabannya pendek-pendek kan? (tertawa) Makanya dulu saya suka bilang orang, kadang saya ditanya wartawan kenapa suka malas kalau menjawab pertanyaan yang sama. Ya banyak lah. Ya itu sekarang saya tahu rasanya.

V

Di era digital, fokus penulis kadang jadi terganggu dengan pace yang harus serba cepat, padahal untuk menghasilkan berita yang kaya, seorang penulis perlu waktu untuk mengumpulkan informasi selengkapnya, bagaimana Mas Soleh melihat dilema seperti ini?

S

Di era yang serba cepat ini banyak jurnalis yang melupakan cek dan recheck. Jadi timbul kebiasaan di antara wartawan-wartawan apalagi wartawan cetak online. Ketika mereka baru tahu satu kasus misalnya ada pria berantem dan dipukul, mereka akan segera merilisnya. Nanti kalau salah, tinggal diralat di berita berikutnya. Maka dari itu ada yang memudahkan ketika menulis berita karena ada kesempatan untuk meralat. Padahal harusnya bisa kroscek dulu. Jadi menurut saya, peran jurnalis ya jangan malas. Jangan menyamakan jurnalis dengan orang-orang yang suka me-retweet hal yang tidak jelas. Kalau jurnalisnya merilis tulisan seperti itu, nanti bisa menyebar ke yang lain dengan mudah. Misalnya wartawan online baru lihat 1 fakta atau baru wawancara 1 orang, sudah menulis sebuah berita. Nanti publik tahunya hanya dari 1 sudut pandang. Sudut pandang dari sumber lainnya baru dirilis di berita berikutnya. Harusnya kalau memang benar jurnalis, ada bedanya dengna netizen yang malas recheck fakta. Ya mungkin yang warga biasa juga banyak kerjaan, jadi mereka cuma emosi sesaat ketika melihat berita, lalu menyebarkannya.

Memang harusnya menjadi tugas jurnalis untuk menjaga penyebaran berita di tengah gampangnya berita hoax beredar. Jurnalis harusnya punya peranan menjaga tulisannya dengan baik. Kalau memang belum berimbang, jangan diberitakan segera, karena takutnnya justru memperkeruh situasi. Kalau ada yang komentar, “Oh netizen, di recheck dulu dong.” Ya itu memang bukan tugasnya. Namannya juga warga biasa, mudah emosi. Jangan sampai orang-orang yang bertugas menulis berita juga seperti itu – menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya.

Itu sih intinya, kalau warga kan agak susah dikontrol, apalagi di Twitter yang bebas menyebarkan berita, begitupun di Facebook atau media sosial lainnya. Kalau wartawan kan memang tugasnya begitu – memeriksa fakta dan data.

V

Apa tanggapan Mas Soleh terhadap pergeseran peran jurnalis tersebut?

S

Saya kemarin mengobrol dengan Pemimpin Redaksi salah satu media massa besar. Ia bilang, sepertinya sekarang ada kecenderungan untuk menghancurkan kepercayaan publik terhadap media-media yang kredibel dengan merilis berita-berita bohong. Sehingga orang semakin lama tidak percaya dengan media tersebut. Jadi media-media yang tadinya memang memiliki sumber terpercaya, jadi dipertanyakan. Sekarang orang mudah sekali membuat website, portal dan sebagainya.

Nah, makanya kalau menurut saya, jurnalis yang baik tidak usah memikirkan hal remeh seperti itu. Kalau semua jurnalis punya prinsip kerja berdasarkan fakta dan data benar, nanti orang juga tahu mana berita yang benar. Kalau semua jurnalis kerjanya baik dan benar, tidak merilis berita yang menyudutkan, pasti orang-orang juga akan mulai berpikir.

V

Mas Soleh membuat sebuah segmen rutin di kanal YouTube pribadi The Soleh Solihun Interview, apa alasan dibuatnya segmen itu? Apa karena adanya kerinduan menjadi seorang jurnalis?

S

Ya itulah, alasan yang utama karena kangen jadi wartawan. Karena kangen, saya jadi ingin wawancara orang. Dulu waktu jadi wartawan, wawancara itu enak, tapi nulis transkripnya males (tertawa). Saya biasanya kalau wawancara seru bisa menghabiskan waktu 2 jam, berarti kalau transkrip bisa makan waktu 4 jam (tertawa). Nah, ketika ada YouTube dan saya sudah bukan lagi wartawan, saya tidak ada kewajiban untuk melakukan transkrip. Jadi itulah solusi saya untuk melepas rindu terhadap dunia jurnalistik – membuat video wawancara di YouTube.

Kan enak tinggal wawancara dengan handphone, edit dengan iMovie, beri judul, depan, belakang. Kalau ada yang perlu dipotong bisa dipotong sedikit, lalu upload di YouTube. Tidak perlu lelah, wawancara selesai dan keinginan untuk wawancara orang tersampaikan.

V

Adakah kriteria khusus dalam pemilihan narasumber The Soleh Solihun Interview?

S

Oh iya, karena yang saya wawancara merupakan narasumber yang saya anggap menarik dan saya kenal. Kalau saya tidak tahu orangnya, saya malas (tertawa). Maksudnya, suka ada orang yang minta diwawancarai. Kalau menurut saya tidak menarik, ya buat apa. Ini kan bukan untuk kerja. Kalau saya wawancara untuk kerja, mau tidak mau saya harus mewawancarainya kalau menurut medianya ada nilai berita. Kalau “The Soleh Solihun Interview” kan untuk YouTube, kanal saya. Ya jadi saya cuma mau wawancara orang yang saya tahu dan menurut saya seru. Ya memang itu semua berdasarkan subjektivitas saya (tertawa).

V

Dari mana biasanya ide-ide pertanyaan yang Mas Soleh utarakan saat mewawancarai orang-orang? Karena sepengamatan saya, pertanyaan yang diberikan oleh Mas Soleh kebanyakan bukanlah pertanyaan pada umumnya.

S

Lewat menggali. Dari situ kita harus tau dulu siapa narasumbernya. Makanya kita harus mencari tahu dulu tentang narasumber dan temui hal menarik darinya. Intinya kenali dulu narasumber, baru bisa tahu pertanyaan yang menarik buat dia. Kalau kita tidak tahu siapa yang di wawancarai, kita tidak akan bisa buat pertanyaan.

Misalnya, kita atau saya bertemu orang di jalan dan disuruh wawancara dia, saya tidak tahu dan tidak bisa memberi pertanyaan yang bagus, karena saya tidak tahu siapa dia. Kalau tidak riset, minimal tahu dulu hal yang paling menarik dari diri narasumber – itu modalnya ketika ingin melakukan wawancara.

V

Bagaimana pandangan Mas Soleh terhadap fenomena vlogger?

S

Menurut saya fenomena vlogger itu kebangkitan kreativitas anak muda masa kini. Karena kalau saya lihat, kok mereka bisa membuat hal seperti itu. Saya selalu salut melihat vlogger atau YouTuber yang membuat konten lucu dan selalu menghibur karena energi dan kreativitas saya belum bisa ke arah sana. Selain itu saya salut dengan usaha dan niat mereka. Mereka adalah jutawan-jutawan muda (tertawa).

V

Apa yang mendorong akhirnya menyalurkan karya lewat YouTube, selain karena kerinduannya sebagai jurnalis?

S

Tidak kok, karena itu aja. Saya sempat membuat vlog sekali dan rasanya tidak enak. Makanya saya biasanya kalau buat vlog ada nilai beritanya. Kebanyakan vlog yang ada di internet tidak ada nilai berita kan, isinya kegiatan sehari-hari (tertawa). Nah, sekarang saya kalaupun membuat vlog di luar wawancara, saya buat vlog jalan-jalan, karena itu ada nilai beritanya. Minimal vlog yang saya buat ada hal yang bisa didapat oleh saya sendiri dan orang lain, sebab saya selalu merasa kalau sedang menonton vlog pada umumnya tidak menemukan sisi menarik. Isinya melihat rumah, jalan-jalan dan sebagainnya. Apa serunya? Di mana nilai beritanya? Apa manfaatnya buat publik, selain menjual mimpi? (tertawa)

Menurut saya, salah satu alasan mengapa vlogger laku adalah karena mereka menjual mimpi – sama seperti sinetron. Sinetron di Indonesia memperlihatkan figur orang kaya, kemudian penonton senang dan ingin memiliki rumah dan mobil seperti yang ada di dalam sinetron. Begitupun dengan vlogger. Lewat kesehariannya, terdapat mimpi yang dijual lewat tujuan wisata yang ditampilkan hingga isi rumah yang dipamerkan. Nah, belum lagi kebanyakan vlogger merupakan anak muda yang rata-rata awalnya bukan siapa-siapa – artis. Kalaupun sekarang jadi artis, berangkatnya dari orang biasa. Jadi ada semacam kedekatan atau relasi yang membuat penonton merasa “Oh mereka juga orang biasa, tapi kok hidupnya seru ya?” Kecuali vlog dengan konten-konten lucu ya, kalau itu kan memang menghibur (tertawa).

V

Jadi menurut Mas Soleh, sekarang vlog semacam sinetron versi millennial?

S

Ya iya lah. Apalagi coba? (tertawa) Kalau yang saya lihat, ini apa sih isinya cuma pacaran, lalu jalan-jalan ke mall, jemput pacar, dan sebagainya. Apa pentingnya untuk kehidupan saya. Kalau vlog yang traveling, saya masih terhibur karena seru ke tempat-tempat wisata. Begitupun dengan vlog yang review produk, menurut saya masih bermanfaat, meskipun berbentuk vlog, masih ada opininya. Apa juga vlogger otomotif yang memberi referensi. Kalau isinya hanya “Hai guys, gue jalan-jalan ke sini nih,” ah apa pentingnya buat kehidupan saya? (tertawa)

Saya tidak menonton vlog. Saya pernah mencoba dan berusaha menonton beberapa kali. Walaupun yang membuat Dian Sastrowardoyo sekalipun, saya tidak akan menontonnya. Saya itu bukan penonton YouTube. Saya menonton YouTube kalau lagi buang air besar saja (tertawa). Itupun biasanya trailer film atau review, misalnya ada orang menjatuhkan iPhone, itu kan seru, asik (tertawa). Nah itu bermanfaat, jadi kita tahu, wah handphone ini mahal tapi ada gunanya (tertawa). Saya bukan penonton vlog, makanya ketika saya mencoba buat vlog, “Wah kok geli begini” (tertawa). Saya saja yang melakukannya geli, tidak tahu ya kalau orang lain mungkin senang-senang saja (tertawa).

V

Sebagai stand-up comedian yang terjun tanpa latar belakang komedi, bagaimana adjustment dari profesi sebelumnya?

S

Sebelumnya ada kesamaan antara stand-up comedian dengan jurnalis. Apalagi ketika konteksnya review – memberikan opini. Stand-up comedian itu kan menyampaikan opini – jadi sebetulnya ketika saya menulis review atau melakukan stand-up comedy, saya mengomentari sesuatu. Tapi bedanya, ketika saya menulis review musik dengan tone serius, sedangkan yang satu lagi saya harus bisa membuat orang tertawa. Intinya kemampuan antara wartawan dan stand-up comedian itu sama-sama dituntut punya kemampuan menganalisa. Bedanya adalah hasil yang dikeluarkan.

Ya intinya sih sama saja dan pada dasarnya saya suka berada di depan umum dan dasar saya adalah MC, jadi ya… (tertawa). Sebenarnya modal stand-up comedian adalah public speaking dan melawak. Kadang-kadang ada orang yang lucu tapi tidak bisa bicara di depan umum. Adapula yang bisa bicara di depan umum tapi tidak bisa melawak. Ya itu tidak ada gunanya. Stand-up comedian harus bisa keduanya karena itulah kemampuannya.

Dasar saya akan public speaking sudah ada karena saya sering menjadi MC, jadi tinggal mencari bagaimana caranya agar omongan yang keluar dari mulut saya lucu di mata orang lain. Saya tidak mengerti teori-teori stand-up comedy, tapi saya hanya tahu kalau berdiri di panggung itu bisa membuat orang tertawa. Sudah itu saja, tidak perlu teori karena saya selalu menganggap kalau stand-up comedian yang paham teori itu ibarat band yang bisa membaca not balok, menguasai teori dan struktur lagu. Kalau saya ini termasuk yang asal saja, yang penting tidak fals dan bisa menghibur orang. The Ramones saja baru tahun 80-an mengetahui struktur lagu – reff, middle, intro – tapi mereka membuat lagu bagus.

V

Seorang komedian yang baik pada dasarnya adalah pengamat sosial yang baik, apakah sebagai komedian yang non-metodologis – dalam artian tidak menyiapkan materi dan punch line sebelum beraksi – sepakat dengan ini? Bisa dijelaskan proses Mas Soleh dalam mengolah materi jadi bahan komedi?

S

Iya sepakat, karena itulah yang membedakan jenis komedi dan stand-up comedian dengan comedian yang lain. Stand-up comedian pada dasarnya menyampaikan keresahan, kalau pelawak lain belum tentu ada keresahan. Misalnya lawak-lawak yang slapstick itu kan belum tentu ada keresahan yang disampaikan – sebatas membuat orang tertawa saja. Sedangkan stand-up comedian biasanya menyampaikan keresahan dengan kalimat “Gue nggak ngerti ya kenapa begini” atau “Kok ini begini sih?”

Pasti awalnya selalu ada angle yang mempertanyakan atau menggerutu berdasarkan pengamatan sosial, dengan harapan nanti di panggung penonton juga merasakan hal yang sama. Jadi, kalau materinya dimengerti orang, pasti dengan mudah membuat orang tertawa. Pada dasarnya pelawak itu pengamat sosial karena mereka menyampaikan hal yang diamati dan harus dimengerti oleh orang lain. Kalau misalnya saya cuma membahas Rolling Stone, orang tidak ada yang mengerti kan artinya tidak berhasil. Makanya, stand-up comedian sesungguhnya adalah pengamat sosial dan mengerti apa yang dirasakan atau dialami oleh masyarakat.

Nah, kalau soal mengolah materi menjadi bahan komedi, saya itu pada dasarnya tidak mengerti soal premis, set up, dan punch line. Yang saya tahu adalah “Ah saya mau bahas ini, sepertinya lucu.” Kalau ternyata di panggung lucu, ya Alhamdulillah. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Paling malu (tertawa). Saya cuma memikirkan itu, lalu saya tulis. Saya tidak menulis materi, cukup poin-poin. Jadi, begitulah cara saya mengolah materi. Contohnya, kalau mau buang air besar, menyeka dengan tisu rasanya kurang bersih – ya sudah itu saya sampaikan. Kalau ternyata ada juga yang tertawa, ya syukur. Tapi kalau tidak ada yang mengerti ya biar saja. Makanya kadang, materi saya tidak selalu bisa mengundang tawa di tiap tempat karena cara penyampaian saya berbeda. Kalau stand-up comedian yang lain kan jelas kalimatnya, lalu tiba-tiba memberi punch line. Jadi, dimanapun ia tampil, hasilnya sama. Kalau saya bisa lucu sekali, bisa juga tidak lucu karena saya lupa bagaimana cara menampilkannya – itulah jeleknya (tertawa).

V

Apakah itu menjadi dorongan Mas Soleh untuk mempelajari bagaimana menulis materi?

S

Saya tidak mengerti, biar sajalah. Saya pernah bertanya bagaimana caranya, tapi tetap tidak mengerti. Saya berusaha untuk belajar membuat set up, punch line dan diajari. Tapi, meskipun tahu, setelah saya praktekkan, saya tidak bisa. Mungkin karena saya biara menjadi MC, jadi saya melihat dan mengomentari. Secara tidak langsung terlatih atau mungkin saya yang terlalu malas belajar (tertawa).

Salah satu yang membuat saya tidak menulis materi karena saya pemalas dan cenderung mengalir saja. Saya adalah orang yang gampang atau cepat puas. Kalau sudah cukup, buat apa kerja keras, yang penting sudah bisa hidup senang, mampu membeli hal yang diidamkan. Tidak perlu kerja keras lagi atau berkarya. Pada dasarnya saya pemalas sih (tertawa).

V

Indonesia pada dasarnya adalah negara yang humoris, segala hal bisa jadi bahan candaan dalam sekejap mata, namun tak terlalu banyak film komedi yang berkualitas, bagaimana Mas Soleh melihat industri film komedi Indonesia yang cenderung bermain di satu genre saja?

S

Ya itu salah satu masalah terbesar di industri film Indonesia ini – skrip yang bagus. Kemampuan dalam menulis skenario – mau itu film komedi, action, horor, apapun jenisnya – pada dasarnya modal utamanya adalah cerita dan skenario yang bagus. Film-film komedi mungkin belum banyak yang bisa hadir dengan naskah bagus, itu saja. Jadi, antara belum banyak penulis skenario film komedi yang bagus, atau mungkin Production House (PH) bermain aman. Misalnya “Sudah nih orang jatuh pasti bisa buat orang tertawa.”

Penulis komedi yang belakangan muncul kan itu-itu saja. Kalau bukan Raditya Dika, Ernest Prakarsa atau Aditya Mulya. Pemainnya itu-itu saja, belum terlalu banyak. Mungkin, kalau lebih banyak penulis komedi atau lebih banyak yang memberi kesempatan ke penulis-penulis baru, akan banyak film-film komedi yang bagus. Ya tapi kalau saya rasa, bicara industri biasanya PH main aman. Kasarnya, “Ah budget 1 sampai 2 miliar, nanti untung beberapa ratus juta lumayan,” makanya tidak perlu buat film bagus, yang penting orang tertawa.

V

Kalau menurut Mas Soleh melihat fenomena vlog (video blog) sekarang ini, kira-kira bisa menjembatani orang-orang untuk membuat PH sendiri lewat YouTube atau tidak? Seperti contohnya, Raditya Dika.

S

Iya. Makanya tagline YouTube “Broadcast Yourself” dan memang benar seperti itu gunanya sebagai wadah. Orang-orang di YouTube bisa kreatif karena tidak pernah diatur oleh produser pada awalnya. Kecuali mereka ada video berbayar – itu pasti diatur. Tapi YouTube sendiri jadi punya konten beragam karena tidak pernah ada yang mengatur mereka harus melakukan apa.

Makanya benar adanya kalau ada lagu yang bilang kalau “YouTube lebih dari TV” dan memang terbukti, karena mereka tidak ada produser dan tidak terpengaruh rating. Saya yakin, dalam beberapa tahun ke depan, para YouTuber ini akan jadi artis di platform lain. Selain itu, YouTube bisa jadi ajang membuat PH dengan membuat karya dan upload di YouTube – misalnya serial.

Contohnya Ernest Prakasa. Sebelum jadi sutradara film, dia buat serial di YouTube dan belajar jadi sutradara dan bagaimana memproduksi serial lewat serial “2nd Chance.” Jadi, ya ketika dia ada tawaran jadi sutradara di layar lebar, dia sudah punya pengalaman dan orang pun bisa melihat karyanya yang dulu di YouTube. Saya pun jadi stand-up comedian karena YouTube. Kalau dimanfaatkan dengan baik, YouTube itu ya benar-benar lebih dari TV.

V

Selain jurnalis, Mas Soleh juga menekuni berbagai bidang seperti MC, penyiar, komedian dan aktor. Kalo harus memilih salah satu, apa yang lebih ingin ditekuni? Dan kenapa?

S

Saya selalu bingung kalau ditanya mengenai hal ini. Menjadi seorang wartawan itu enak, namun penghasilannya biasa saja. Sebenarnya yang sayang paling kuasai adalah profesi menjadi wartawan, namun di saat bersamaan itu juga yang paling sedikit memberikan penghasilan. Jadi seandainya saya ditanya demikian ya, skill saya sebagai wartawan nomor satu, lalu MC, kemudian pelawak. Tapi justru skill ketiga ini yang paling banyak memberikan penghasilan.

Saya adalah tipe orang yang menikmati hari ini dan menjalani apa yang sedang saya hadapi. Kalau sekarang saya sedang dipercaya menjadi seorang penyiar dan pelawak, ya itulah yang sedang saya tekuni saat ini. Tipikal saya itu tidak perlu terlalu ambil pusing soal kehidupan, apa yang sedang dipercayakan kepada saya sekarang ya, saya jalani sebaik-baiknya. Pekerjaan yang tertulis di KTP saya masih wartawan dan ini berlaku untuk seumur hidup. Saya lebih bangga rasanya ditulis sebagai wartawan, dibanding ditulis sebagai seniman.whiteboardjournal, logo