Titian Muhibah bersama Arif Ramly

07.06.17

Titian Muhibah bersama Arif Ramly

Anitha Silvia (T) berbincang dengan Arif Ramly (A)

by Muhammad Hilmi

 

T

Lahir dan besar di Malaysia, apa yang mempengaruhi karakter dan cara berpikir seorang Arif Ramly?

A

Saya lahir dan membesar di Kuantan, sebuah daerah di negeri Pahang, terletak di pantai timur semenanjung Malaysia. Seperti kebanyakan orang, faktor lingkungan internal dan eksternal berpengaruh pada karakter dan cara berpikir mereka.

Yang lain mungkin melakukan hal yang sama. Usia 6 tahun masuk ke pre-school (TK), usia 7-12 tahun masuk primary school (sekolah dasar), lalu secondary school (sekolah menengah) 13-17 tahun, 5 tingkat.

Bahasa pengantar resmi di sekolah kami adalah bahasa Melayu. Bahasa Inggris hanya subject di sekolah (pada waktu itu), dan seperti yang lain, saya juga banyak belajar bahasa Inggris dari keluarga, bahan bacaan, kartun dan TV. Saya membaca apa adanya di rumah, mostly koran, buku dan majalah kepunyaan kakak-kakak saya. Banyak bahan bacaan saya berubah setelah tahun 1998, terutamanya dari surat kabar.

Ada semacam satu gelombang politik yang melanda Malaysia waktu itu, selepas pemecatan mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia. Saat itu setahun selepas economic crisis, saya masih di primary school, tidak terlalu merasakan dampaknya karena di Kuantan, masih kecil dan tinggal bersama orang tua. Saya pun tidak tahu apa yang membuatkan orang tua saya mengambil sikap terhadap kasus Anwar. Akses Internet waktu itu cukup terbatas, hanya ada di cyber cafe, akses paling gampang untuk mencari berita selain TV pemerintah adalah lewat cable TV, Astro pada waktu itu, karena stasiun TV pro-pemerintah tidak akan menampilkan berita anti-pemerintah. Cable TV saat itu masih mahal, jadi harus ke rumah paman untuk tonton Astro, ada CNN dan Bloomberg yang menampilkan berita yang berbeda. Hampir setiap malam saya dan ibu ke rumah paman, karena boring juga sendirian di rumah, kakak-kakak saya di Kuala Lumpur (KL). Mungkin dari situ, secara tidak sengaja mempelajari hal-hal yang terjadi di sekeliling kita mempunyai sudut pandang berbeda dari sisi yang berbeda. Mungkin ya.

Yang banyak mengenalkan musik kepada saya adalah kakak-kakak saya dan sepupu-sepupu saya. Kakak-kakak saya belajar di KL jadi mereka sering bawa pulang kaset dan majalah. Kakak-kakak saya berteman juga anak-anak musik di Kuantan, saya secara tidak sengaja jadi teman mereka. Dan ada seorang lagi yang memperkenalkan saya kepada The Pixies, CAN, Superchunk, Husker Du, Lee Scratch Perry dan banyak lagi band keren. Namanya Ard, dan waktu itu dia hanya pembantu di warung menjual Nasi Ayam (Chicken Rice), tidak jauh dari pasar.

Penghujung 90-an hingga awal 2000-an ada studio di terminal bus Kuantan, Studio DEP, nama ini diambil dari sebuah band asal Kuantan, Dull Entertainment Program. Studio/terminal itu menjadi info centre untuk kami pada zaman itu dan amat menyenangkan sekali karena lokasinya tidak jauh dari pasar. Lewat mIRC juga banyak dapat info waktu itu. Juga dari Soulseek.

Saya masih berpikir, apakah saya menjawab pertanyaan Anda atau tidak? Dilahirkan dan dibesarkan di Malaysia atau di mana pun pasti banyak mempengaruhi diri dan hidup saya. Hal logika vs mistis itu semacam telah ada secara natural bagi saya. Dilema dan paradoks berjalan seiring. Tapi pada masa yang sama merasa beruntung kerana tinggal di lingkungan beragam yang membuatkan saya tidak merasa bosan.

T

Arif Ramly seorang Melayu?

A

Dilahirkan Melayu. Itu diluar pemikiran saya sebetulnya.

T

Area kesukaan di lingkungan rumah? Apa perubahan yang terjadi hingga sekarang?

A

Dulu saya tinggal di Taman Cahaya Timur, waktu itu rumah-rumah di sekitar masih belum menjamur, keluarga yang tinggal di situ sedikit, jadi kami saling kenal dan akrab. Kalau mau naik bus ke pasar bersama kakak saya, kami harus melewati rumah tetangga. Secara tidak langsung saya jadi tahu apakah ada tetangga punya anak perempuan sebaya saya atau tidak. Tapi langit tidak selalu cerah, ternyata mayoritas lelaki. Oh iya, di belakang rumah ada anak sungai atau longkang besar, berbatasan dengan taman perumahan Taman Tunas Jaya. Saya sering ke situ untuk bermain. Sekarang, sudah banyak rumah-rumah di situ. Tahun 1998, saya berpindah ke rumah baru di Taman Fairmont. Suasananya sama, rumah-rumahnya masih sedikit waktu itu, tidak seperti sekarang setelah hampir 20 tahun. Kalau perubahannya mungkin dari segi pertambahan jumlah rumah dan penduduk. Kurang hijau. Saya rasa perubahan yang sama juga berlaku di tempat lain karena “apa yang kekal hanyalah perubahan.” Dan saya juga tidak bisa pilih untuk tinggal di mana kan. Manut saja.

T

Kapan mulai keluar dari Kuantan?

A

Mungkin ketika waktu saya masih kecil, saya lalu pulang ke kampung bapak saya di Utara (tertawa). Tahun 2004 saya masuk sekolah matrikulasi (persediaan sebelum masuk universitas) di Sepang selama satu tahun, lalu tahun 2005 masuk Multimedia Universiti di Melaka, sebelum sambung kuliah di Multimedia Universiti (MMU) di Cyberjaya, Kuala Lumpur tahun 2006. Tahun 2004 lah saya mulai keluar atas urusan kuliah, kerja dan balik lagi for good ke Kuantan penghujung 2015.

T

Arif sempat menjadi manager beberapa band, bagaimana ceritanya?

A

Sebenarnya saya bukanlah seorang manager yang betul-betul “manager” karena peran saya terlalu kecil untuk menjadi “manager”. Saya cuma membantu apa yang saya mampu saja. Band pertama yang saya pernah bekerja sama adalah Deepset. Saya masuk selepas mereka merilis album perdana mereka. Lalu pada satu malam ada perbincangan mengenai apakah mereka perlu extra hands atau tidak selepas album mereka dirilis. Waktu itu banyak band di lingkungan saya bergerak sendiri, tidak ada keperluan untuk hire manager atau punya technician. Kemudian, mereka menawari saya untuk bekerja sama dengan mereka. Waktu yang sama saya bekerja di Ricecooker Shop. Saya juga tidak tahu apa-apa soal management, jadi kami sama-sama belajar. Selepas Deepset, saya pernah terlibat dengan Liyana Fizi, Tenderfist dan They Will Kill Us All.

T

Kenapa kamu bersedia menjadi manager mereka?

A

Karena mereka membuka pintu untuk saya belajar bersama dengan mereka.

T

Sebagai salah satu tim dari The Wknd, media musik Asia Tenggara yang signifikan, apa saja kerja-kerja yang sudah kalian lakukan? Apa rencana ke depan?

A

Ada banyak media musik di Asia Tenggara yang signifikan, kendaraannya mungkin beda tetapi destinasi tetap sama dan masing-masing melakukan sesuai dengan kapasitas masing-masing. The Wknd dibentuk tahun 2008 oleh Fikri, Ali Jo, Adely, Didi, Hardesh dan beberapa teman yang lain. Pada mulanya, niatnya hanyalah untuk mendokumentasikan band/musisi yang ada pada waktu itu – karena itulah ada ‘sessions’ di belakang The Wknd. 10 band untuk setiap season dan hingga sekarang sudah ada 9 season. Selepas beberapa tahun, The Wknd menambah artikel, interview, menulis tentang band-band lokal dan tetangga lewat situs www.the-wknd.com. Tahun 2013 adalah tahun di mana The Wknd Sessions Season 8 (Indonesian Special) direkam di Jakarta dengan kerja sama ruangrupa dan Whiteboard Journal.

Selepas season ke-9, The Wknd Sessions beralih kepada format The Wknd Sessions Live (2015) di mana proses rekaman dilakukan di hadapan audience di beberapa kota di Malaysia seperti Ipoh, Johor Bahru, Kuching, dan Kuala Lumpur. Ada juga satu segmen lain yang diberi nama Singgah Sekejap, sesi video rekaman versi akustik oleh band/musisi yang sedang tur di Malaysia. Selain itu, ada seri Cross Border Showcase yang menampilkan band-band dari Malaysia dan juga negara tetangga, yang ini cuma sempat bikin dua seri tahun 2014. Pernah juga merekam persembahan akustik lewat segmen Singgah Sekejap di luar Malaysia pas RRRec Fest In The Valley 2015 dan 2016 waktu The Wknd diundang menjadi media partner untuk festival tersebut. Dan tidak lupa konser Silampukau dan Kawan-kawan di Cak Durasim, Surabaya.

The Wknd juga turut terlibat untuk concert The SIGIT (2016) dan Payung Teduh (2016) sebagai tim produksi dan beberapa acara berskala komunitas seperti Kaunsel Tetangga, Mull; Debauch, dan Tun Deaf. Kami sering berkolaborasi dengan kolektif Not A Fest KL bikin acara untuk touring band seperti Lemuria, Vague, Elder Abuse dan RVIVR. Gak enak juga nih, saya rasa seperti menulis CV untuk The Wknd.

Terakhir kami meeting, The Wknd akan bergerak secara kolektif dan seperti sebelumnya, rencana kami adalah untuk menjalankan rencana kami yang tertunda.

T

Sejak tahun lalu Arif balik kampung ke Kuantan setelah bertahun-tahun berkarya di Kuala Lumpur. Ceritakan tentang Kuantan dan bagaimana hubungan Kuantan dengan Kuala Lumpur?

A

November 2015 saya memutuskan untuk pulang ke Kuantan karena ada keperluan untuk saya kembali di sini. Tapi sebelum ini pun, saya pasti akan pulang ke Kuantan minim sebulan sekali. Perjalanan dari KL ke Kuantan kalo naik mobil ditempuh kurang lebih selama 3 jam. Kalo pesawat cuma 45 menit. Banyak bedanya dari jumlah penduduk, jumlah kendaraan dan sudah pasti jumlah acaranya pun tak terlalu banyak. Di sini lebih woles. Mungkin “This is the coastal town, that they forgot to close down.”

T

Arif baru saja memulai kedai musik/buku di Kuantan, Coastal Store, bagaimana proses membuka kedai di Malaysia?

A

Bagaimana proses membuka kedai di Malaysia? Mungkin sama saja prosesnya dengan membuka kedai di mana pun ya? Atau tidak? Apakah di Indonesia perlu mendaftar dengan local council? Companies commission in your country?

Kalo dari pengalaman pribadi, Coastal Store masih baru, baru 1 tahun beberapa bulan, ini hasil kolaborasi saya dengan Waqi dan Aman. Kalo bayi, masih merangkak, berjalan, dan jatuh selepas beberapa langkah, begitulah juga kami. Masih banyak hal yang kami perlu pelajari dan perbaiki. Waktu saya memutuskan untuk pulang kampung, semua rilisan demajors di KL saya bawa pulang ke Kuantan. Waktu itu, Kuantan masih belum banyak outlet yang menjual rilisan indie. Jadi ide untuk membuka toko CD datang dari situ. Kebetulan Efek Rumah Kaca baru saja merilis single Pasar Bisa Diciptakan, jadi saya rasa ya sudah, jalani saja. Karena lokasi sudah ada, kami melakukan renovasi yang amat minimal, tinggal menambah sesuai keuangan kami. Layout sesuai dengan kreativitas Waqi, sesuai kebutuhan dengan konten di dalam kedai seperti CD, buku, space untuk acara kecil dan kenyamanan pengunjung. Saya banyak juga belajar secara langsung dan tidak langsung dengan teman-teman dari Tandang Store, Teenage Head Records, demajors, Basement Records, Hard Graft Records, dan juga hasil pembelajaran saya di Ricecooker Shop dan dari teman-teman lainnya.

Di sini kami punya listening area (dengan laptop dan headphone), jadi pengunjung tidak membeli kucing dalam karung. Layaknya zaman dulu yang selalu ada listening booth di setiap toko musik. Pernah ada kejadian seorang auditor dari Penang bertugas di Kuantan selama tiga hari. Selama tiga hari dia datang ke kedai saat lunch break dan malam, mendengarkan koleksi musik di listening booth, di hari ketiga dia beli 18 CD.

Coastal Store menempati old shophouse dua lantai. Saya di lantai dasar berbagi dengan perusahaan lain, terletak di Jalan Besar (dulu dikenal dengan nama Main Street) di pusat kota Kuantan. Saya dan Zul, seorang teman, pernah datang pertama kali ke shophouse ini pada tahun 2012. Waktu itu masih kosong, Waqi dan Aman ingin menyewa shophouse tersebut untuk dijadikan central kitchen Kula Cakes. Setelah mereka sewa, bagian depan masih kosong selama kurang lebih 2 tahun dan mungkin sudah jodoh ya, saya kembali ke sini lagi.

Coastal Store bisa dibilang sebagai sebuah distro kecil yang menjual CD, kaset, LP, buku dan band merchandise. Sekarang ada cafe kecil di dalam. Karena menurut kami buku dan musik sama pentingnya dalam proses pembelajaran seseorang, jadi kami ingin mengajak orang-orang yang memiliki minat yang sama untuk kesini. Ada juga buku amanah dari teman-teman untuk dibuat bahan bacaan pengunjung. Buku-buku itu ada di mini library kami.

Rencana ke depan adalah membikin acara di toko dengan mengundang teman-teman di Kuantan dan kota-kota lain untuk main di sini dan mendistribusikan titile-title yang ada di sini ke toko-toko lain. Itu saja yang realistis untuk kami buat masa sekarang. Kami tidak bisa merencanakan hingga ke bulan dan bintang, takut tidak terjangkau. Dan sepertinya disini saya menulis resume lagi nih.

T

Bagaimana dukungan pemerintah Malaysia atas aktivitas kreatif di Malaysia?

A

Menurut saya, mereka tergantung kepada aktivitas kreatif yang bagaimana, dan individu yang menjadi decision maker di pihak pemerintah. Jika kedua pihak bisa mencapai titik tengah, maka aktivitas yang dianggap kreatif itu akan mendapat dukungan pemerintah dan dijalankan sesuai dengan guidelines yang dibuat oleh mereka. Tergantung juga dukungan dalam bentuk apa. Mungkin dalam bentuk dana, pengurangan atau pembatalan pajak, atau minimal dalam bentuk pemberian surat ijin. Kalau tidak didukung, anak muda dalam konteks ini masih boleh bertindak kreatif dalam menjalankan aktivitas mereka tanpa dukungan pemerintah. Tak apa-apa juga kan? Tidak seharusnya aktivitas kreatif mendapat dukungan pemerintah. Mungkin hanya dengan dukungan orang yang percaya dan mencintainya, itu sudah cukup. Tapi resikonya, ya Allah.

T

Bagaimana dengan kebebasan ekspresi dan berpendapat di Malaysia dan pengaruhnya ke aktivitas berkesenian?

A

Lihat saja di Facebook dan Twitter, kita bebas berekspresi dan berpendapat seperti tiada hari esok (tertawa). Tergantung isu sih sebenarnya, dan kamu pasti tahu lah isunya apa. Isunya itu-itu lagi. Contohnya, ada beberapa kasus yang terjadi di sebelum ini, yang boleh saya katakan masih berputar sekitar isu kebebasan ekspresi dan berpendapat. Ada pihak yang menyentuh, ada pihak yang merasa disentuh atau digugat. Pihak yang merasa disentuh itu pastilah berusaha berbuat sesuatu untuk menyekat atau menghalang isu atau hal-hal tersebut disebarkan atau ditayangkan kepada masyarakat umum. Semestinya, kebebasan ekspresi dan berpendapat mempunyai pengaruh ke atas aktivitas berkesenian di Malaysia.

Tapi ya, namanya pun aktivitas berkeseniankan, pasti ada yang menjalankannya dalam kelompok yang kecil, apalagi jika ada isu-isu yang sensitive yang ingin disampaikan dan acara di lakukan secara tertutup atau by invitation only.

T

Kuala Lumpur adalah pusat pemujaan nasionalisme yang diperlengkapi dengan monumen nasional, masjid negara, museum nasional, parade nasional, apakah nuansa yang sama juga muncul di musik?

A

Yang pasti kami tidak punya Hari Musik Nasional. KL sebagai pemujaan nasionalisme gimana ya? Logiknya mungkin kerana capital city ya, semua tertumpu di situ. Tapi, di kota atau daerah kecil memang ada kolektif yang bikin acara musik seperti di Penang, Ipoh, Setiawan, Batu Pahat, Kuantan, dan Johor Bahru. Dan ada juga yang bikin konser/festival di tempat-tempat selain KL seperti di Kuching dan Penang. Jadi option sudah ada untuk manggung di luar KL. Meskipun tidak sering, tapi ada.

T

Etnis Melayu cukup mendominasi (band/grup) musik independent di Malaysia, bagaimana dalam infrastruktur lainnya (music media, studio rekaman, record label, music producer, ruang pertunjukan, event organizer, toko)?

A

Dominasi itu terdengar semacam bentuk penguasaan ya? Kalo di lingkungan saya dan teman-teman yang sana kenal, kami campur. Mungkin secara hubungan antara infrastruktur lainnya (music media, studio rekaman, record label, music producer, ruang pertunjukan, event organizer, toko) nya, – konteks pertanyaan kamu – interdependent sih, saling memerlukan antara satu dengan yang lain. Tidak ada yang mendominasi. Semua akan indah pada waktunya.

T

Bagaimana hubungan skena musik Malaysia dengan negara tetangga, Thailand, Singapore, Indonesia?

A

Agak tidak adil bagi saya untuk menjawab soalan ini karena kapasitas dan pengetahuan saya tentang skena musik Malaysia amat minin, masih banyak yang saya perlu pelajari. Musik itu luas. Apa yang saya tahu, kalau melihat dari sisi band tur, kalau tidak bisa dibilang banyak, memang ada band dari negara tetangga datang ke Malaysia dan band Malaysia main di negara tetangga. Saling berhubungan dan saling update lewat platform media, music streaming segala macam. Malahan dari jaman fanzine dan penpal mereka sudah berhubung untuk bertukar/membeli rilisan. Dan ini adalah hubungan yang sehat. A. Ramlie dari Singapura pun pernah berkolaborasi dengan The Commandos sekitar awal 70-an, dan ini adalah salah satu hubungan kerjasama. Pernah ada satu acara kerjasama TVRI dan Radio Televisyen Malaysia (RTM) pada tahun 80-an yang diberi nama “Titian Muhibah” bertujuan menguatkan hubungan bilateral Malaysia dan Indonesia lewat acara kebudayaan dan musik menjadi salah satu komponen penting dalam acara itu.

T

Bagaimana konsumsi musik di Malaysia?

A

Kalau menurut saya, konsumsi musik di Malaysia beragam. Punya banyak pilihan sekarang lewat pembelian rilisan fisik dan digital, online streaming services. Kalau harga tiket bisa mereka jangkau, mereka akan menonton acara band kesukaan mereka. Oh ya, online radio dan podcast juga. Sama kan seperti di sana?

T

Merespon cukup besarnya peminat musik Indonesia di Malaysia, apa potensi band/grup musik Indonesia di Malaysia?

A

Potensinya banyak, saya sendiri tidak hafal semua nama band dari Indonesia karena bandnya banyak sekali. Tapi dari respon yang saya terima (untuk pembelian CD dan mengelola acara), banyak peminat musik Indonesia di Malaysia. Walaupun band itu tidak terlalu terkenal di sini, permintaannya ada. Ada beberapa label yang merilis band Indonesia, dalam format CD, LP dan kaset. Antaranya Tandang Records dan Basement Records. Saya kira, permintaan untuk band Malaysia di Indonesia juga ada, band dari Singapore di Malaysia dan begitu juga sebaliknya. Sebagai contoh, KittyWu Records dari Singapore pernah merilis album Deepset dari Malaysia. Vanilla Thunder Records asal Singapura merilis EP terbaru Polyester Embassy dalam format vinyl. Atilia Haron di Indonesia sama demajors. Tidak hanya soal rilisan, tur DIY juga bisa dilakukan seperti apa yang dilakukan Matajiwa, Vague, Marjinal dll. Itu belum dihitung band2 metal, punk/harcore yang tur kecil-kecilan di sini. Tidak terkecuali band2 dari Malaysia menjalani tur di Indonesia. Saking dekatnya negara kita, band2 yang pernah manggung bisa datang lagi berbalas kunjungan.

T

Bagaimana seorang Arif Ramly melihat Indonesia?

A

Sejujurnya, pada awalnya saya banyak belajar dan melihat Indonesia dari kaca mata teman-teman yang pernah ke sana dan punya teman di sana, dari film dan musik yang secara tidak langsung efeknya terkena pada saya. Maksud saya, pengajaran dari pertemanan dan pengalaman yang dibina mereka, dari minat pada satu hal yang sama dan dalam hal ini, musik. Dan setelah mengalami beberapa pengalaman pribadi di sana, ternyata apa yang dikabarkan teman-teman saya itu benar. Indonesia yang saya lihat adalah Indonesia yang beragam dan dalam keberagamannya itulah yang membuat Indonesia menjadi Indonesia. Mungkin sama dengan apa yang saya alami di sini. Keberagaman dan toleransi yang menjadikan Malaysia itu, Malaysia. Nyambung apa gak sih? (tertawa)

T

Gigs yang dinikmati di Indonesia?

A

Yang paling saya ingat waktu saya pertama saya kali ke Jakarta, tahun 2009, Crooz Festival, antaranya ada The Upstairs dan Pee Wee Gaskins. Kickfest 2011 di Bandung juga seru. Ramai banget. Pure Saturday featuring Liyana Fizi membawakan lagu “Desire”. Pertama kali ke Borneo Beerhouse, waktu itu acaranya The Flowers, tahun 2013. RRRec Fest in the Valley tahun 2014 dan 2015 juga tidak dilupakan. Saya juga sempat nonton Blur dan Weezer di Jakarta. Pernah ke Rolling Stone juga nonton Seringai, Petaka, dan KPR main satu panggung, trip yang menjadi pertemuan terakhir saya dan Rully Annash. Konser Silampukau juga seru, dinikmati dari sisi seorang tenaga kerja. Semua acara dinikmati dengan senang hati.

T

Beri kami rekomendasi musik dari Malaysia.

A

Mungkin bisa direkomendasi rilisan yang dirilis oleh label-label di sini ya. Soundscape Records baru meriliskan album Dirgahayu dalam bentuk vinyl. Akan datang Tandang Records akan merilis split 7” Vague dan Killeur Calculateur. Apakah sudah dengar Lust dan Golden Mammoth? Mereka rilis album tahun lalu. The Aggrobeats, band dancehall/ragga juga kabarnya akan bikin split dengan The Garrissons. Ada banyak band yang rilis belakangan ini, Jaggfuzzbeats, Orang, Ramayan, Pitahati, The Otherside Orchestra, Monoloque. The Venopian Solitude juga.

T

Pertanyaan penutup, bagaimana cara terbaik menikmati one day trip di Kuantan?

A

Tergantung kalian sukanya apa? Saya pun jarang keluar kalau di Kuantan. Biasanya yang menjadi tumpuan di sini adalah pantai. Yang suka surfing every monsoon season, Pantai Cherating jadi tumpuan. Tapi pantai di sini banyak. Ada juga pantai yang sepi. Sungai Lembing juga lagi pada naik sekarang, banyak terima tamu. Kalau yang suka bangun pagi seawal 4 pagi lihat terbitnya matahari dari puncak Bukit Panorama, Sungai Lembing, dipersilahkan. Tambang Timah Sungai Lembing pernah menjadi salah satu tambang timah bawah tanah terbesar di dunia. Jualan nostalgia dan alam dipaket menjadi satu. Kalian harus coba makan di bawah Pohon Ceri, ada warung-warung jualan mi goreng, rujak, cendol, sup ayam. Comfort food kalo menurut saya. Di sini orangnya suka snacking, cemilan cepuluh.whiteboardjournal, logo

Tags